![[[Love To Life]]](https://asset.asean.biz.id/--love-to-life--.webp)
Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah di jendela sang pemilik kamar. Juga suara kicauan burung yang tanpa sengaja membuatnya terbangun dari tidur lelapnya. Matanya menjadi amat berat, dan sedikit terasa karena akibat bengkak. Akibat dia menangis semalaman.
Hanya terdengar lenguhan dari mulut Valenzi. Dia segera bangun dan membuka pintu balkon yang terhubung dengan kamarnya. Dia menghirup udara segar di pagi hari yang menenangkan.
"Pusing banget kepala gue," ucapnya bermonolog. Sembari menutup kembali pintu balkon, dirinya berjalan mengarah menuju kamar mandi.
Dia terus berjalan ke arah kamar mandi, dengan sesekali memegangi kepalanya yang sakit.
Saat Valenzi membuka pintu kamarnya, di sana sudah terlihat Diana yang berdiri ragu di depan pintu. Keduanya terkejut, dan saling menatap beberapa detik.
"Sarapannya udah siap, Sayang," ucap Diana. Valenzi mengangguk, dan berjalan mengekorinya.
Di meja makan, tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring. Kedua orang tua Valenzi lebih memilih untuk diam, membiarkan putrinya berdamai dengan takdirnya dulu.
Valenzi mendongak menatap kedua orang tuanya sekilas. Hatinya remuk kala harus mengingat kejadian kemarin malam.
Daripada terus bergelut dengan keheningan semakin lama, Valenzi mempercepat makannya dan segera pergi dari meja makan.
"Nasib gue gini amat, ya. Dijodohin sama orang yang bahkan gak gue kenal, tau mukanya aja enggak," gumamnya.
Valenzi menghembuskan nafasnya kasar. Dia tahu yang sedang dialami kedua orang tuanya. Perusahaan sudah diambang kebangkrutan, atau malah sekarang sudah bangkrut. Dia berjalan meraih kursi beroda di depan meja belajarnya, mendorongnya sampai ke depan jendela.
Valenzi kembali merenungi takdirnya. Takdir yang sudah digariskan yang Kuasa sedemikian rupa untuknya. Mencoba menerima semua pemberian yang Kuasa dengan perantara semesta. Sulit, tapi dia selalu memiliki kesempatan untuk menjalaninya. Dia tidak harus membenci semesta ataupun orang tuanya. Dia amat tahu jika orang tuanya jelas memikirkan nasibnya akan bagaimana.
"Pa ..., Zizi bahkan tidak bicara apa-apa sama kita, Papa masih yakin?" kata Diana dengan suara yang sudah bergetar. Setelah kepergian Valenzi yang tanpa mengucap sepatah katapun itu, membuat hati Diana perih. Tidak pernah Valenzi mendiamkannya seperti ini.
"Tidak ada cara lain, Ma. Papa seperti ini juga untuk kebaikan kalian, kebaikan kita, Ma."
"Zizi ... bangun, Sayang. Udah sore," ucap Diana.
Valenzi menngerang pelan, dan membuka matanya sedikit demi sedikit. Dia semakin merasa kepalanya benar-benar sakit, pun matanya yang semakin terasa berat. Rasanya dia tidak menangis sebelum ia tertidur di kasur ini, tapi kenapa matanya semakin bengkak?
"Bangun, Nak. Mandi, setelah itu dandan yang cantik. Mama tunggu di bawah, ya."
Valenzi menatap Diana dengan tatapan tidak mengerti.
"Acara makan malam sama calon suami kamu, Nak."
Diana mengusap bahu Valenzi sejenak, sebelum ia memutuskan untuk pergi. "Sayang, ngertiin papa, ya?"
Diana mati-matian menahan desakan air mata yang sudah di pelupuk. Dia tetap memaksakan senyum di wajahnya, agar putrinya juga merasa kuat menanggung beban yang seharusnya bukan untuk dirinya.
Valenzi menatap punggung Diana yang semakin menjauh darinya.
"Apa gue harus ikut, ya?" gumamnya.
Valenzi pergi ke kamar mandi, seperti yang disuruh Diana. Dia bersiap dan berdandan sewajarnya. Setelah memandang pantulan dirinya di dalam cermin untuk yang kesekian kalinya, dia memutuskan untuk turun dan menemui kedua orang tuanya.
"Pa ... Papa bener mau jodohin Zizi?" tanya Valenzi saat dia masih berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya.
"Ah ... anak Papa cantik banget," jawab Reno.
"Pa, jawab ucapan Zizi."
"Papa masih tetap pada pendirian Papa. Dan kamu, buktinya turun dan sudah berdandan rapi seperti ini. Jadi, kamu menerima perjodohan ini, kan?" tanya Reno.
"Tapi Zizi gak mau, Pa!" Suara Valenzi bergetar. Diana segera menghampiri putrinya, dan menenangkannya.
__ADS_1
"Zi ... Papa minta, kali ini aja turutin permintaan Papa. Semua yang kamu mau, yang kamu inginkan, sudah Papa turuti semuanya. Kali ini aja Zi, turutin permintaan Papa. Papa mohon sama kamu, Zi," mohon Reno. Dia juga tidak bisa melihat putrinya menangis. Namun, di sisi lain, dia juga tidak bisa mengorbankan perusahaan juga keluarganya. Semuanya akan baik-baik saja, saat Valenzi bersedia menikah dengan putra dari rekan bisnisnya, dia akan hidup bahagia, pikirnya.
Sungguh Valenzi tidak berdaya, pemberontakannya tidak akan dianggap serius oleh Reno. Kali ini, hatinya ada di ambang kebingungan. Entah harus bertahan dengan egonya, atau meluruhkannya semua kedua orang tuanya.
"Jangan lupa senyum, Sayang," perintah Diana.
Ketiganya berjalan memasuki restauran yang diberitahukan sebelumnya.
Valenzi pun, dengan susah payah terus menahan senyumnya. Seolah-olah memberitahukan jika dia senang dengan perjodohan ini.
"Ah ... Reno!"
Reno yang mendengar sapaan itu, berjalan mendahului putri dan istrinya dengan senyum lebar. Keduanya memeluk satu sama lain, dan akhirnya mempersilakan Valenzi juga Diana untuk bergabung.
Valenzi mengamati orang-orang yang duduk di depannya. Tiga orang asing yang sebentar lagi akan menjadi keluarganya. Matanya tak sengaja menangkap seorang pemuda yang selalu diam, bahkan dia jarang berekspresi. Hanya jika salah satu orang tuanya menatapnya, lalu dia akan tersenyum.
Apa cowok ini, calon suami gue? batin Valenzi.
"Oh, sebelumnya. Ini putraku, Raka." Pemuda yang kali ini menjadi pusat perhatian itu, tersenyum dan mengangguk pelan.
"Oh, ini putriku, Valenzi." Valenzi tersenyum dan mengangguk pelan.
"Cantiknya ...."
Valenzi kembali tersenyum.
"Baiklah. Reno, Diana. Agar tidak mengulur waktu terlalu lama. Kita percepat pernikahan Valenzi dengan Raka. Bagaimana untuk tiga hari lagi?" tanya Bagas--Papa Raka.
Valenzi membulatkan matanya sejenak. Matanya menatap kosong. Kenapa hatinya jadi gelisah seperti ini? Dia menuruti kemauan orang tuanya karena semesta membuatnya yakin, tapi kali ini semesta justru membuatnya bimbang, dan meruntuhkan keyakinannya.
Diana yang duduk di sebelah Reno tersenyum getir dan melihat ke arah putrinya.
"Raka besok akan menjemput Zizi untuk fitting baju, selebihnya kita akan lakukan yang terbaik, agar pernikahan ini lancar," ujar Riri--Mama Raka.
Kemudian diberi anggukan oleh orang tua Valenzi, juga Bagas.
Valenzi dan Raka semakin bungkam. Nasibnya kali ini tengah dikendalikan orang tuanya sebagai ladang bisnis. Apa semiris itu nasib mereka?
"Ma. Dia ngantuk," adunya setelah sampai di rumah.
Diana mengangguk, dan mengusap puncak kepala Valenzi dengan sayang.
"Apa ini tidak terlalu cepat, Pa?"
"Papa rasa juga seperti itu, tapi mereka sudah memutuskan, Ma. Mama tenang aja. Valenzi pasti bahagia bersama mereka. Rasa khawatir Mama ini cuma rasa sayang Mama ke Valenzi," papar Reno.
Diana hanya diam, tidak menjawab ucapan suaminya. Dirinya masih gelisah. Memikirkan bagaimana kehidupan Valenzi selanjutnya, saat dirinya tidak lagi di samping Valenzi.
Valenzi mengganti pakaiannya, dan menjatuhkan diri di atas kasur. Dia menatap langit-langit dengan perasaan yang entah bagaimana, dengan rasa yang juga sudah hambar. Valenzi bahkan tidak pernah menduga sebelum-sebelumnya.
Perjodohan yang tidak pernah dia kira atau bahkan terlintas di pikirannya.
Valenzi terlalu larut dalam pikirannya, kemudian dia tertidur lelap. Mengistirahatkan hati dan otaknya yang sudah bekerja terlalu keras hari ini.
"Eughh ... ini masih jam berapa, sih?" gumamnya. Tangannya sibuk meraba ponselnya yang tergeletak asal di atas kasur.
Dia kembali berdiam diri, menatap langit-langit. Tidak-tidak. Semesta pasti memiliki alasan untuk membuatnya seyakin ini dengan keputusan papanya. Pikir Valenzi.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ...
"Siapa?"
"Ini Bibi, Non."
"Masuk aja, Bi. Gak dikunci, kok."
"Ada apa, Bi?" tanya Valenzi.
"Dipanggil nyonya, Non."
Valenzi mengangguk. "Makasih, Bi."
"Sama-sama, Non. Bibi ke bawah ya, Non."
Valenzi mengangguk. Beranjak dari kasurnya dan sedikit merapikan penampilannya.
Langkahnya terhenti di pertengahan anak tangga. Matanya dengan cepat menangkap sosok pria yang tengah duduk berbincang dengan orang tuanya.
"Eh Zizi. Sini Nak," ucap Diana. Valenzi berjalan perlahan menuju ruang tamu.
"Mama kira kamu udah dandan, tuh liat Raka. Dia udah ganteng masa kamu masih pake baju tidur?"
Valenzi menatap Diana. Yang dihadiahi kekehan olehnya.
"Hari ini kamu fitting baju pengantin, gak lupa, kan?" tanya Reno.
Valenzi mengangguk. "Yaudah, Zizi ganti baju dulu, Ma."
Valenzi meninggalkan tiga orang di ruang tamu. Berjalan perlahan memasuki kamarnya.
"Baru aja kemarin lulus, eh udah mau fitting baju," gumamnya.
"Raka. Ini bagus, gak?" tanya Riri.
Raka hanya mengangguk sekilas, lalu kembali membaca koran yang ada di meja tunggu.
Valenzi sudah bolak-balik ke dalam ruang ganti.
"Kalian pulang dulu aja, ini biar Mama yang urus. Raka, kamu antar Zizi pulang, ya?"
Raka mengangguk, dan berjalan mendahului Valenzi.
"Zizi sama Raka pamit ya, Ma," kata Valenzi. Riri mengangguk dan memeluk Valenzi dengan sayang.
"Hati-hati, Nak!"
Valenzi menoleh dan mengangguk.
Di mobil, Valenzi dan Raka tidak berbicara sepatah kata pun. Valenzi hanya melirik Raka sesekali, mengamati setiap inci wajahnya. Wajah calon suaminya, teman hidupnya.
...🍁...
...Salam,...
...Ika & Anggitya...
__ADS_1