[[Love To Life]]

[[Love To Life]]
LTL Part 9


__ADS_3

Raka mengantongi kertas foto yang tidak sengaja dia temukan di kotak P3K.


Raka menatap nyalang kepada Valenzi yang sudah tertidur pulas di atas kasur. Mau tak mau Raka harus pergi dari kamar itu. Sekedar meredakan emosinya yang hampir saja memberontak.


Raka tak habis pikir dengan apa yang istrinya lakukan. Saat ini Raka masih menenangkan emosinya di dalam ruang kerjanya. Dadanya bergemuruh. Tak bisa dipungkiri, air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, mulai jatuh satu persatu. Ada rasa bersalah yang menjalar di seluruh tubuhnya. Seperti nadi yang terus berdetak tanpa henti.


Jantungnya berdenyut. Raka menghantamkan kepalanya ke dinding. Berusaha menguasai emosinya. Namun kenyataannya, emosilah yang kali ini berhasil menguasai dirinya.


Raka entah tertidur pukul berapa. Yang jelas, tidak ada bagian dari ruangan ini yang masih terlihat rapi.


Valenzi mengerang di dalam selimut tebalnya. Segera beranjak duduk dan mengumpulkan semua kesadarannya.


Dia sedikit merasa terkejut dengan keberadaannya sekarang, bukankah tadi malam dia tertidur di dalam mobil Raka? Apa Raka membawanya ke kamar?


Valenzi tersenyum, dan beranjak untuk membersihkan dirinya, dan mempersiapkan sarapan untuk Raka.


Sarapan sudah siap di atas meja makan, Valenzi pun sudah menunggu suaminya cukup lama. Namun,  tidak ada tanda-tanda jika suaminya akan segera turun.


Dengan senyum yang masih merekah, membuat wajahnya merona setiap kali memikirkan Raka yang menggendongnya ke dalam kamar.


Valenzi masuk ke dalam ruang kerja Raka setelah mengetuk pintu perlahan.


Matanya membulat menatap seluruh penjuru ruangan. Ruangan yang tak lepas dari ukuran 12x12 meter persegi ini, tak menyisakan satu tempat pun yang tidak berantakan.


Sontak Valenzi menutup mulutnya, melihat kemeja Raka yang terdapat bercak darah. Matanya tidak sengaja melihat tangan Raka yang tidak terbalut selimut itu berwarna merah.


Valenzi menggelengkan kepalanya. Dan memberanikan diri untuk melihat tangan Raka secara dekat.


Valenzi melihat luka di buku tangan Raka. Cermin di ruangan Raka juga pecah, kacanya berserakan di atas lantai.


Raka mengerang perlahan, tangannya sedikit terasa perih.


Matanya terbuka, meskipun belum sepenuhnya. Dia bangun dan duduk bersandar di sofa, dengan mata yang masih mengerjap berulang kali.


Valenzi berlutut di depan Raka, memperhatikan tangan Raka yang masih dia pegang.


Raka dengan kuat mendorong tubuh Valenzi hingga terhempas di atas lantai dengan keras.


"A-aku liat tangan kamu berdarah," cicitnya.


"Jangan pegang-pegang!"


"Ka-kamu, kenapa?" tanya Valenzi dengan rasa takut yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya.


Apalagi saat Raka berdiri dan berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam yang menusuk. "Apa yang kamu lakukan?"


Valenzi memundurkan langkahnya perlahan, saat Raka terus berjalan maju.


"Bukan gini caranya, kalo lo mau siksa gue," ucapnya dengan nada lembut yang mengerikan.


"BUNUH GUE!!!" bentaknya.

__ADS_1


Punggung Valenzi sudah beradu dengan dinding ruangan. Dadanya bergemuruh, degup jantungnya terlihat sangat jelas. Dan napasnya semakin memburu.


Dengan mata merah menahan amarah, Raka mendekati Valenzi. Sangat dekat, dan hanya menyisakan jarak 10 centimeter diantara keduanya.


Valenzi tidak berani menatap mata Raka yang terlihat begitu menakutkan. Semarah-marahnya Raka kepada dirinya, Valenzi tidak pernah melihat kemarahan seorang Raka yang sebenarnya. Amat sangat menakutkan.


Raka semakin mendekat, dan mengunci Valenzi di dinding. Raka mengepalkan kedua tangannya yang bersandar di dinding kuat-kuat. Matanya menatap Valenzi dengan penuh amarah.


Valenzi menutup matanya erat. Berharap agar tidak terjadi apa-apa dengannya. Tubuhnya bergetar hebat, pertanda jika dirinya benar-benar merasa takut.


Raka mengangkat tangan kanannya ke udara. Dan melayangkan kepalan tangannya.


"ARGH!!!" Raka berteriak mengiringi kepalan tangannya yang menghantam dinding dengan keras.


Valenzi terlonjak dengan mata yang masih menutup erat.


Valenzi meluruh, setelah Raka keluar dan membanting pintu dengan keras. Valenzi tak kuasa menahan air matanya.


Kali ini, kemarahan Raka benar-benar terlihat sangat mengerikan. Valenzi tidak pernah menduga suaminya akan sekasar ini kepadanya.


Valenzi menangis sejadi-jadinya di ruangan Raka. Bertepatan dengan deru mobil yang meninggalkan halaman rumah.


"Apa yang gue lakuin sampe buat Raka marah! Kenapa dia selalu nyalahin gue! Tanpa gue tau kesalahan gue dimana! Gue selalu nurutin perkataan papa sama mama! Tapi kenapa Raka gak bisa ngehargain gue sebagai istrinya? Kenapa Raka bertingkah seolah gue gak ada? Dia bertingkah seolah gue penjahat yang selalu dia hakimi! Apa gue sejelek itu?!Sampai-sampai dia gak pernah nyentuh gue sama sekali! Dan gak mau gue sentuh! Gue capek! Capek sama hidup yang buat gue tersiksa kayak gini! Mama, Papa, Zizi pengen pulang sama kalian."


Valenzi berteriak, meluapkan semua yang dia rasakan. Meski rasa itu akan terus bertambah di setiap harinya. Valenzi hanya membutuhkan waktu sejenak untuknya melupakan kejadian tadi.


Valenzi rasa ada sesuatu yang membuat Raka marah. Tapi apa? Sejauh ini ia tidak membuat kesalahan yang mengakibatkan suaminya marah besar kepadanya.


Hampir setengah jam, Valenzi tertahan dengan lamunannya di ruangan Raka. Matanya menatap lurus keadaan ruangan. Tubuhnya nyaris tidak bertenaga. Rasanya dia tidak mau melihat mata menyeramkan Raka lagi. Dia ingin mengakhirinya. Mengakhiri hidup yang menyiksa batinnya sampai saat ini.


Janji tetap akan menjadi janji. Tidak akan ada satupun janji sebelum ia menikah, yang akan ia lewatkan.


"Apapun kondisinya, gue gak bakalan tinggalin suami gue," ucapnya seperti mengulang janjinya kepada Reno--papanya.


Valenzi berdiri, menarik nafas panjang, dan menghembuskannya secara perlahan.


Dengan hati yang kuat dan langkah yang mantap, Valenzi membereskan ruangan Raka yang amat berantakan. Dan tidak lupa dengan pecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Ashh." Valenzi melihat darah menetes dari telapak tangannya.


Rasa dingin bercampur perih membuatnya menjeda pekerjaannya. Dia segera membersihkan telapak tangannya dan membalut telapak tangannya dengan perban.


Setelahnya, dia kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat ia tunda.


Butuh waktu cukup lama untuk membereskan kekacauan yang Raka buat. Cukup pula untuk menguras tenaga Valenzi.


Keringat mulai bercucuran di dahinya. Suhu pendingin ruangan sudah dia turunkan, tapi hal itu tidak bisa mengurangi lelah di tubuhnya.


Valenzi menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Masih di ruangan yang sama, Valenzi menyatu nafasnya yang tidak teratur. Dan meluruskan kakinya.


...🍁...

__ADS_1


Malam semakin larut, seharusnya jam segini, Raka sudah pulang. Valenzi terlihat mondar-mandir di dekat meja makan.


Makanan yang masih tersedia di atas meja pun sudah dingin sejak tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Sudah hampir pagi, tapi Raka tidak kunjung pulang.


Valenzi memutuskan untuk pergi ke kamar. Dia meraih ponselnya, dan mencari nama Raka di kontaknya.


"Lah, kan gapunya nomornya," ucapnya seraya menepuk pelan dahinya.


Valenzi berinisiatif pergi menuju ruangan kerja suaminya. Mencari nomor sekretarisnya. Dan, dapat.


Valenzi segera menyalin nomor dan mendialnya.


"Halo, selamat malam. Raka's company."


"Ah, halo. Ini saya, Valenzi."


"Ah, ada apa, Bu?"


"Apa hari ini ada lembur?"


"Ah ..., tidak, Bu."


"Apa suami saya masih ada di kantor?"


"Sepertinya tidak, Bu. Tadi saat saya pulang, saya melihat Pak Raka juga pulang dari kantor, Bu."


"Oh ..., begitu, ya? Yasudah, maaf mengganggu malam-malam. Terimakasih, ya"


"Tidak apa, Bu. Sama-sama."


Panggilan Valenzi terputus.


Jika suaminya sudah pulang, kenapa dia belum sampai rumah?


Sadar akan lamunannya, Valenzi kembali ke kamarnya, dan mengganti perban di telapak tangannya.


Selesai mengganti perban, tangannya sibuk mencari sesuatu. Dia masih ingat dengan jelas, jika dirinya meletakkan kertas itu di dalam kotak ini.


Valenzi mengeluarkan semua isi dari kotak P3K yang dia pegang. Raut wajahnya terlihat panik. Tidak mungkin kertas itu menghilang begitu saja.


Valenzi mengingat sesuatu. Tiba-tiba dia menutup mulutnya dan membulatkan kedua matanya.


"Apa jangan-jangan-- gak mungkin," putusnya.


"Tapi di sini gak ada," keluhnya. Tangan dan matanya masih sibuk mencari kertas yang dia letakkan di dalam kotak P3K itu.


Sudah setengah jam, tapi tidak membuahkan hasil apa-apa.


Valenzi menggeleng. "Gak mungkin foto itu ada sama Raka."


...🍁...

__ADS_1


...salam,...


...Ika & Anggitya...


__ADS_2