
Setelah pertemuan tak terduga di pesta di museum, Jason dan Maya merasa semakin tertarik satu sama lain. Mereka terus bertukar cerita dan berbicara tentang legenda Negeri Antah Berantah di bawah cahaya rembulan yang memancar di tepi sungai yang sama tempat Jason biasa duduk setiap malam.
Maya menarik Jason dengan pengetahuannya tentang sejarah dan penelitian mendalamnya tentang legenda-legenda kuno. Ia berbicara dengan penuh semangat tentang kemungkinan-kemungkinan yang menanti mereka di Negeri Antah Berantah. Meskipun begitu, Maya juga berbicara dengan kehati-hatian, mengingat bahwa perjalanan ke negeri misterius itu penuh dengan tantangan dan bahaya.
"Tapi itulah bagian yang paling menarik, bukan? Petualangan yang sesungguhnya ada di tengah-tengah bahaya dan ketidakpastian," kata Jason dengan wajah berbinar-binar.
Maya tersenyum dan mengangguk setuju. Ia merasa koneksi ini semakin kuat dengan Jason, seolah-olah mereka saling melengkapi satu sama lain. Di dalam hatinya, Maya merasa bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang harta karun, tetapi juga tentang menemukan diri mereka sendiri di tengah-tengah petualangan ini.
Malam itu, mereka membicarakan rencana mereka untuk mencari petunjuk tentang Negeri Antah Berantah. Maya menyebutkan bahwa dalam legenda, ada tulisan kuno yang menyebutkan tentang "Batu Cahaya," sebuah batu berkilau yang diyakini sebagai kunci untuk membuka gerbang ke Negeri Antah Berantah.
__ADS_1
"Jika kita dapat menemukan Batu Cahaya itu, mungkin itu akan membawa kita pada petunjuk lebih lanjut untuk mencapai negeri misterius tersebut," kata Maya.
Jason menyetujui dan mereka berjanji untuk mencari petunjuk tentang Batu Cahaya. Ia menyarankan bahwa mereka harus memulai perjalanan segera, tidak ingin lagi menunda impian petualangannya.
"Kita harus mengumpulkan semua informasi dan barang yang kita butuhkan untuk perjalanan ini. Jangan khawatir, Maya, aku akan melindungi kamu," kata Jason dengan tulus.
Mendengar kata-kata itu, Maya merasa nyaman dan aman. Ia percaya bahwa di balik keberanian Jason, ada hati yang lembut dan penuh perhatian.
Akhirnya, tiba saat yang dinanti-nantikan. Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang, mereka berdua berdiri di tepi sungai, siap untuk memulai petualangan mereka. Dengan sekop dan tas ransel di pundak, mereka berangkat menuju gurun pasir yang tak berujung, menuju Negeri Antah Berantah.
__ADS_1
Perjalanan mereka dipenuhi dengan pemandangan yang menakjubkan dan ujian yang menegangkan. Mereka melewati hutan belantara yang lebat, menyeberangi sungai-sungai yang mengalir deras, dan berjalan di tengah gurun yang tandus. Namun, semangat petualangan mereka tak pernah padam.
Setiap malam, di bawah cahaya rembulan yang sama, mereka bertukar cerita tentang perjalanan mereka. Mereka tertawa, mereka menangis, dan mereka menguatkan satu sama lain dalam momen-momen sulit.
Begitu juga dengan hati mereka, semakin dekat mereka melangkah satu sama lain, semakin mereka merasakan bahwa koneksi di antara mereka semakin kuat. Terkadang, di bawah bintang-bintang yang bersinar terang, Jason dan Maya merasa bahwa mereka telah saling menemukan, seolah-olah mereka adalah dua bagian dari satu kesatuan yang indah.
Tak lama kemudian, mereka menemukan petunjuk tentang lokasi Batu Cahaya. Mereka berjalan melewati hutan belantara yang penuh misteri dan menemukan gua tempat batu itu disembunyikan. Dalam cahaya obor yang lemah, mereka menemukan Batu Cahaya yang berkilau dan memancarkan sinar keemasan.
"Kita berhasil, Maya! Inilah petunjuk yang kita cari!" seru Jason dengan gembira.
__ADS_1
Mereka berdua merasa kemenangan yang luar biasa, tetapi mereka juga menyadari bahwa perjalanan sebenarn
ya baru saja dimulai. Dalam genggaman Batu Cahaya, mereka berdiri bersiap untuk menghadapi tantangan dan bahaya yang menanti di Negeri Antah Berantah.