
Di balik gerbang besar, Jason dan Maya memasuki Wilayah Ketulusan Hati dengan hati-hati. Mereka tiba di ladang yang luas dengan bunga-bunga indah yang berwarna-warni. Di tengah-tengah ladang, ada seorang wanita tua yang berpakaian serba putih dengan rambut putihnya yang panjang terurai.
"Wahai para petualang, selamat datang di Wilayah Ketulusan Hati," sambut wanita tua itu dengan suara lembut.
"Terima kasih," kata Jason dengan sopan.
"Saya Ratu Anthea, penjaga Wilayah Ketulusan Hati. Hanya mereka yang memiliki hati yang tulus dan murni yang bisa melewati wilayah ini," kata Ratu Anthea.
Jason dan Maya saling pandang, tahu bahwa ujian terberat mereka ada di hadapan mereka. Ratu Anthea melanjutkan, "Kalian harus melewati ladang ini menuju Istana Ketulusan Hati. Namun, di tengah ladang, terdapat pohon yang sangat besar bernama Pohon Kebenaran. Pohon ini akan mengungkapkan kebenaran yang paling dalam dari hati kalian. Kalian harus berbicara jujur dan tulus di depan Pohon Kebenaran, jika tidak, kalian akan terjebak dalam ladang ini selamanya."
__ADS_1
Jason dan Maya merasa tegang. Ujian ini bukanlah ujian fisik atau intelektual, tetapi ujian kejujuran dan ketulusan hati. Mereka berdua berjalan melewati ladang dengan hati-hati, menuju Pohon Kebenaran yang menjulang tinggi di tengah ladang.
Saat mereka berdiri di depan Pohon Kebenaran, mereka merasa energi magis mengelilingi mereka. Pohon ini seakan bisa membaca hati dan pikiran mereka. Dengan perasaan gemetar, mereka berbicara dengan hati-hati dan jujur tentang impian dan motivasi mereka untuk mencari harta karun Negeri Antah Berantah.
Pohon Kebenaran bergoyang dan mengeluarkan sinar cahaya yang cerah. Ratu Anthea tersenyum, mengetahui bahwa Jason dan Maya telah lulus ujian ini dengan baik.
"Kalian berdua memiliki hati yang tulus dan murni. Kalian telah lulus ujian di Wilayah Ketulusan Hati," kata Ratu Anthea dengan bangga.
Di sana, mereka menemukan buku kuno yang berisi petunjuk tentang lokasi harta karun yang sebenarnya. Harta karun tersebut tidak berupa kekayaan material, tetapi lebih kepada pengetahuan, kedamaian, dan kebijaksanaan yang akan membawa kesejahteraan bagi seluruh Negeri Antah Berantah.
__ADS_1
Setelah berhari-hari tinggal di Istana Ketulusan Hati, Jason dan Maya merasa hati mereka telah dipenuhi dengan kedamaian dan kebijaksanaan. Mereka merasa telah menemukan harta karun sesungguhnya di dalam diri mereka sendiri.
Namun, ada satu ujian terakhir yang harus mereka lalui sebelum mereka dapat kembali ke dunia mereka. Mereka harus memilih antara mengambil Batu Cahaya dengan harta karun yang mereka temukan, atau meninggalkan Batu Cahaya di Negeri Antah Berantah dan membawa kembali harta karun rohaniah ke dunia mereka.
"Dunia kita membutuhkan kedamaian dan kebijaksanaan ini," kata Maya dengan tulus.
Jason mengangguk setuju, "Ya, Batu Cahaya mungkin adalah harta karun fisik yang berharga, tetapi harta karun rohaniah ini jauh lebih berarti bagi kita dan dunia kita."
Dengan keputusan yang tulus dan hati yang bahagia, Jason dan Maya meninggalkan Batu Cahaya di Negeri Antah Berantah dan membawa kembali harta karun rohaniah ke dunia mereka. Ketika mereka melangkah melalui gerbang Negeri Antah Berantah, suasana ajaib seketika menghilang, dan mereka kembali ke dunia nyata.
__ADS_1
Dengan hati penuh kedamaian dan kebijaksanaan, Jason dan Maya kembali ke kota besar mereka. Mereka tidak pernah melupakan petualangan yang ajaib di Negeri Antah Berantah, dan keduanya merasa bahwa mereka telah menemukan harta karun sejati dalam diri mereka sendiri.
Dalam bab ini, Jason dan Maya berhasil melewati Wilayah Ketulusan Hati dan menemukan harta karun rohaniah di Negeri Antah Berantah. Mereka memilih kebijaksanaan dan kedamaian daripada harta karun fisik, dan perjalanan mereka belum berakhir. Di bab-bab berikutnya, pembaca akan melihat bagaimana petualangan mereka berlanjut dan bagaimana pilihan mereka akan mempengaruhi takdir mereka dan dunia di sekitar mereka.