[M] EGALODON

[M] EGALODON
[M] egalodon 4


__ADS_3

Gotcha!! Ara dapat tempat duduk yang kosong.


Tapi...


mata ara tak sengaja bertubrukan dengan megan. ara pun menggandeng Devin dan menariknya ke tempat megan yang bersama tiga kurcaci nya.


"Hay sayang" Sapa ara.


Henry, jay dan rega sangat terkejut saat kedatangan ara dan seorang cowo? Bergandengan? Umm...


"Ngapain lo?" Tanya jay bingung.


"Mau jual diri, ya nongkrong lah onyon!" Ara menoyor kepala jay.


"Gua boleh duduk di sini ga? Soalnya udah pada rame" Tanyanya.


"Boleh-boleh"


Ara pun langsung duduk di samping jay dan adiknya di samping megan.


"Di samping megan siapa ra?" Tanya henry, mata dia dari tadi tak lepas dari cowo yang bareng ara.


"Oh itu devin" Jawab ara memperkenalkan adiknya.


Henry, jay dan rega menganggukan kepalanya mengerti, kecuali megan yang hanya diam.


"Oh ya, yang kemarin komen di IG lo, itu pacar lo ra?" Celetuk rega.


Apa? Mereka mengira itu pacaranya?


Ara tertawa terbahak-bahak sampai membuat pengunjung lain melihat ara heran.


Perlahan-lahan ara meredakan tawanya. Mereka bertiga meminta jawaban dari ara, tapi ara hanya mengangkat bahunya.


Mereka bertiga menghela nafas kecewa, padahal mereka sangat kepo. Megan pun kepo, pikiran ia dipenuhi oleh pertanyaan tentang ara.


"Pesen sono, kayak biasa ya" Ujar ara, Devin pun bangun dan pergi memesan.


"Meg minggu lu lomba basket ya?" Tanya rega.


Megan menganggukkan kepalanya, "iya"


Ara pun menengok, "lomba dimana?" Tanya ara kepo. Dia ingin menonton pertandingan basket. 


Ya, siapa tau ada yang kecantol gitu.


"Kepo" Jawab megan singkat.


Ara mengerucutkan bibirnya lucu. Mereka tertawa melihat kelakuan ara yang menurut mereka lucu.


"Nah gitu dong jadi cewe tuh feminim, lucu, jangan bar-bar" Ucap jay.


"Ga bar-bar ga enak nyet" Bales ara. Dia sudah dari SMP memiliki sifat bar-bar.


Bahkan dia bingung, dia dapat gen bar-bar dari mana? Ibunya sangat feminim dan papanya sangat tegas.


Ara saat kecil pernah berpikir kalau dia adalah anak pungut. Dia dulu sempat frustasi karna memikirkan hal ituitu.


tapi pikiran negatifnya dia buang jauh-jauh karna dia mendapatkan foto saat dia baru lahir dan di gendong oleh ibunya.


Akhirnya Devin kembali dengan membawa cake stroberi dan jus stroberi sedangkan Devin hanya meminum teh macha.


Dengan semangat ara memakan cake stroberi tersebut sampai belepotan. Devin pun berinisiatif mengelap cream di ujung bibi ara.

__ADS_1


Perhatian Devin terhadap ara tak luput dari mereka berempat. Mereka mengklaim kalau Devin adalah pacar ara dan orang yang komen di instagram ara.


"Wah anjir ara dah punya pacar" Ucap jay heboh.


"Anjir ada yang mau sama anak kecil ini" Celetuk Henry.


Plak!


Ara menepak paha Henry kencang, "Lu kata gua gak laku?" Tanyanya.


"Cuma mau bilang, dia itu adek gua woy!! Ya kali gua sister complex" Jelas ara mencoba meluruskan pikiran temannya.


Mereka berempat terkejut saat mengetahui kenyataannya. Kirain mereka Devin adalah pacar ara, karna perhatian Devin layaknya seorang pacar.


"Jangan-jangan lo yang komen di Instagram ara ya bro?" Tanya rega memicingkan matanya.


Devin mengangguk, "iya" Jawab Devin singkat.


Henry, jay dan rega mendesah kecewa, kirain mereka bertiga ara dan Devin benar-benar pacaran kan kalo itu bisa minta teraktiran.


Berbeda dengan seseorang, dia menghela nafas tenang. Dia juga sangat senang, mungkin kalau benar otak dia akan stress.


Coba tebak sendiri siapa.


Mereka ber-enam pun sesekali bercanda, tertawa hingga larut malam.


❀❀


Ara dan Devin sedang berjalan pulang kerumahnya, mereka berdua sesekali tertawa karna guyonan dari Devin yang menurut ara sangat kaku dan lucu.


Angin malam yang dingin menerpa kulit wajah mereka berdua. Menurut ara, malam ini adiknya sangat tampan saat cahaya bulan meneranginya.


Ara sangat tidak sabar, dia ingin melihat siapa yang akan mendapatkan hati adiknya yang dingin dan cuek.


Ara terkekeh, adiknya sama persis dengan megan. Dingin, tegas, omongannya pedas dan cuek. 11/12 lah.


Akhirnya mereka berdua sampai rumah dengan selamat. Tapi saat masuk, ara dan Devin melihat mobil papa dan mama mereka dan ada satu mobil yang mereka berdua tak kenal.


'Mungkin tamu' pikir mereka.


Ara turun dari motor dan berjalan masuk ke rumah sedangkan devin memarkirkan vespa nya di bagasi.


Saat ara ingin menaiki tangga, bibi num selaku pembantu rumah memanggil ara.


"Non ara sebentar" Panggil bibi num.


Ara pun menengok, "ada apa bi num?" Tanya ara.


"Umm itu Non ara di suruh tuan reza ke ruang kerjanya" Ucap bi num.


Ara pun mengangguk mengerti, "ok makasih bi num, ara permisi dulu"


"Iya sama-sama Non, silahkan"


Ara langsung berjalan ke ruang kerja ayahnya yang tak jauh dari tangga.


Saat sampai di depan ruang kerja ayahnya, ara mendengar suara tawa papanya dan tawa orang lain?


Tok tok


Ara mengetuk pintu ruang kerja ayahnya lalu ia membukanya. Dia bingung dengan cowo seumuran yang sama dengan papanya dan satu lagi cowo yang seumuran dengannya.


"Sini" Panggil papanya.

__ADS_1


Ara pun nurut, dia duduk di samping papanya.


"Ini rak anak perempuan gua, namanya ara" Papa mengenalkan ara kepada temannya.


"Kenalin saya raka temen ayah kamu" Ucap Raka sambil mengulurkan tangannya.


Ara pun menjabat tangan raka dengan gugup, "i-iya om raka salam kenal juga"


"Oh ya reza, ara ini anak saya fikri"


Cowo yang bernama fikri menjabat tangan papa ara dan ara.


"Papa panggil ara kesini ada apa?" Tanya ara.


Tak menjawab pertanyaan ara, reza malah menatap raka seperti memberi kode.


"Ekhem ara jadi begini, papa manggil kamu mau-"


"Ngasih duit kan?! Uwah papa terbaik lah!"


Baru saja reza ingin menjelaskan, tapi ara langsung memotongnya.


Raka dan fikri terkekeh melihat tingkah ara.


"Bukan papa bukan mau ngasih duit kamu, tapi papa sama om Raka mau jodohin kamu sama fikri" Jelas reza.


Ara terdiam, apa menjodohkannya? Dengan orang yang tidak dia cintai?


"Ara gak suka kalo papa ngucapin hal yang gak masuk akal" Ucap ara dengan nada dingin.


"Tapi ini menyangkut masa depan kamu ara!" Reza membentak ara, ia sangat tidak suka jika anaknya tidak menurut padanya.


"Ara gak peduli! Meskipun papa orangtua aku, tapi ara punya hak" Ara ikut membentak papanya.


"Ini hak ara!! Papa gak bisa ngatur hak milik ara" Lanjutnya.


Reza yang marah pun menampar pipi ara kencang. Raka langsung menahan reza agar tidak melakukannya lagi.


Ini benar-benar di luar dugaan ara, dia mengusap bekas tamparan papanya.


Dia sangat terkejut saat tangan papanya mengenai kulit wajahnya. Mungkin di pipinya ada bekas tangan dan berwarna merah.


"Ara kecewa sama papa" Setelah mengucapkan kata-kata itu, ara langsung berlari keluar dari ruang kerja dan terus sampai dia keluar dari rumah.


Devin yang sedang duduk di bangku taman rumahnya, dia terkejut melihat ara yang menangis.


Devin langsung menarik kakanya dan membawanya kedalam pelukannya.


"Kenapa?" Tanya Devin khawatir.


"Lepas vin!" Ara memberontak dalam pelukan devin. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya.


"Lo mau kemana?! Udah malem kak" Tanya devin lagi.


"Gua mau kerumah nadin vin, please lepasin gua mau nenangin diri dulu, kalo mama nanya bilang aja gua nginep di rumah nadin" Jawab ara dengan nada pelan.


Perlahan-lahan devin melepaskan kakanya, "jangan jauh-jauh"


"Iya"


Ara langsung lari mencari taxi, tujuan dia saat ini adalah club malam.


'Sorry vin gua bohong'

__ADS_1



__ADS_2