"Mafia Dan Dokter" Area

"Mafia Dan Dokter" Area
Undangan


__ADS_3

Pov Viollet:>


Mata indah ku terbuka setelah tidur singkat semalam. Ku rasa aku baru tidur lima menit dan kemudian matahari telah bersinar. Hufff...


Aku terduduk di ranjang ku. Ku lihat pantulan diriku di cermin besar itu, lalu meraba bibir ku sendiri. Si*l! aku ingat dengan jelas apa yang terjadi di kamar Damian tadi malam.


"Kau harus melupakan nya Viollet! itu hanya kesalahpahaman. Damian mungkin bahkan tidak peduli sama sekali" batin ku.


Sore ini aku di panggil lagi ke kediaman keluarga Salazar untuk memantau kesehatan Lee, salah seorang asisten Damian. Sangat jauh dari perkiraan ku di awal kontrak kerja, ku kira aku akan menganggur sepanjang hari tanpa pekerjaan dan hanya memakan gaji buta. Tapi ternyata aku kerja setiap hari. Not bad but not good.


Aku memakai pakaian kasual dan tas selempang biasa. Tidak ada yang istimewa dari pakaian ku. Sampai di pintu utama kediaman Salazar, aku bertemu dengan Athie. Dia memberi ku tatapan datar.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Athie sinis.


Dari nada nya, dia terlihat sangat tidak menyukai ku bukan? harus kah aku menyombongkan diri?


"Ya... tuan Damian memanggilku, aku juga tidak tau kenapa" jawab ku santai.


Mendengar jawaban ku, air wajah Athie mengeras. Pahatan rahang nya terlihat jelas. Namun itu tidak membuat ku takut. Auranya tidak terlalu mengintimidasi.


"Oh ya?" Athie bertanya seolah tidak percaya pada jawaban ku tadi.


"Tentu nona! lalu untuk apa aku ke mari jika tidak di panggil?" Ujar ku datar.


"Baguslah kalau begitu. Ku kira kau wanita yang hebat tapi ternyata kau hanya wanita panggilan" Athie tersenyum menyebalkan.


Si*l!!!


Baru saja aku ingin mengeluarkan suara, deru mobil mengalihkan perhatian kami berdua. Itu mobil Damian. Tunggu! Aku belum siap menatap wajah nya sekarang. Ingatan tadi malam masih membekas.


Ku rasa wajahku memerah, udara di sini pun terasa lebih panas dari sebelum nya. Langkah kaki Damian mendekat.

__ADS_1


"Kenapa kamu hanya berdiri di sini seperti orang idi*t?" Suara datar itu membuat ku menoleh.


Damian dengan wajah datar nya yang tampan membuat ku mematung. Dia tampak biasa saja, kenapa hanya aku yang merasa aneh? Jantung ku berdetak kencang. Apa aku benar-benar menyukai pria kejam ini? Doa ku terkabul, tapi aku merasa tidak nyaman.


"Apa kamu sakit?" Tanya Damian lagi.


Deg...


Tangan besar nya menyentuh kening ku.


YA TUHAN.....


Apa ini mimpi???


"A-aku tidak apa-apa" jawab ku menunduk.


"Mari masuk" Damian melangkah duluan. Di iringi oleh beberapa bodyguard nya.


"Trik yang kau pakai sangat kampung dokter" Ujar Athie. "Mencari perhatian dengan cara yang menjijikkan, apa kau haus kasih sayang?"


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bisa mendapatkan Damian" Tangan Athie menggepal. Dia merasa terancam sekarang.


"Bersainglah secara sehat nona, Anda tidak lebih baik dari saya"


Athie masuk ke dalam. Tuan Lou memanggilnya untuk sebuah urusan. Sedangkan aku langsung pergi ke basement. Di sana ku lihat bawahan Damian tengah sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Damian hanya duduk sambil memperhatikan. Aku pun ikut duduk di kursi sebelahnya.


"Berhenti Arnold!" seru Damian.


Arnold dan Lee berhenti, lalu mendekat pada sang tuan.


"Saya sudah berlatih dengan giat tuan" Ujar Lee membungkuk. Aku melotot melihat tubuh nya. Ada banyak goresan di punggung, dada dan lengan nya.

__ADS_1


"Kerja bagus Arnold, Lee sangat terbantu berkat dirimu" Damian tersenyum tipis.


"Terima kasih tuan" jawab Arnold bangga.


"Nona dokter! obati luka pada tubuh Lee"


"Oh anda yang terbaik tuan, badan saya hampir hancur saat ini" Lee langsung berbaring di bankar.


"Tolong tahan sebentar, ini akan sedikit sakit karena luka mu masih basah" Ujar ku pelan.


Tanpa rasa jijik atau pun ngeri, aku mengobati Lee dengan telaten lalu membungkus lukanya dengan perban. Aku tidak tau, ini hanya perasaan ku atau memang benar adanya. Aku merasa di perhatikan.


Benar saja...


Damian memperhatikan ku sedari tadi. Dan itu membuat ku gugup. Aku tidak bisa berkonsentrasi lagi. Pikiran ku penuh dengan bayang-bayang Damian.


"Akhhh... tolong lakukan dengan pelan!" seru Lee.


"Oh maaf" ujar ku makin gugup.


Setelah aku mengobati Lee, Damian masih saja memperhatikan ku. Ini benar-benar tidak nyaman.


"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya ku mencoba untuk tenang.


"Sudah ku duga! ku kira kamu hanya makhluk lambat, tapi kamu punya insting yang kuat" jawab Damian.


Mata abu-abunya terasa menusuk mata ku. Kenapa lagi dengan orang gila ini?


"Besok malam aku punya undangan antar pebisnis, mau pergi dengan ku?"


Damian mengerjap kan matanya. Astaga....

__ADS_1


Dia mirip anak anjing yang sedang minta di elus!!!!


Aku terdiam. Roh ku terasa tervabut dari jasadku. Apa ini benar-benar seorang Damian????


__ADS_2