
Satu bulan kemudian...
"Dokter Vio, anda akan segera di pindahkan ke bangsal operasi unit 1 di kawasan ***"
Suara monitor membuyarkan lamunan Viollet. Wanita muda itu sekarang amat sangat berubah setelah kejadian kolam renang di kediaman keluarga Salazar. Ia benar-benar kecewa pada Damian. Satu-satunya hal positif yang di pikirkan oleh Viollet adalah, Damian tidak sungguh mencintainya.
Viollet merebahkan kepala ke meja. Entah kenapa perasaan itu selalu muncul bagaikan kaset rusak.
"Pergilah dari ingatan ku pri menjijikkan! Biarkan aku hidup dengan tenang" Umpat Viollet kesal.
Selama sebulan ini pula, Damian bahkan tidak menghubungi nya dan memberikan penjelasan. Viollet tersenyum miris. Kisah cinta yang selalu ia dambakan dengan seorang pria berkarakter fiksi tidak terwujud.
"Seharusnya aku tidak perlu berharap lebih, yang di inginkan nya hanya lah tubuh ku, bukan cintaku" Viollet kembali menangis.
⚖️⚖️⚖️
"Kau sudah menemukannya?" Tanya Damian dingin pada Arnold.
Lagi-lagi ada tikus kecil yang mengusik bisnis nya. Damian sekarang jadi lebih pemarah dari biasanya. ia akan menghancurkan apa saja yang membuatnya terganggu. baik itu manusia ataupun benda.
Flashback on :>
Damian Pov :3
Mata ku bertemu dengan mata wanita cantik itu. Wajahnya yang terkejut serta pandangannya yang kosong. Air matanya perlahan turun.
"D-damian?" Ucap nya lirih.
__ADS_1
Aku pun sangat terkejut pula melihatnya. Bagaimana bisa wanita yang ku suka ini sampai datang dan memergoki ku tengah berbuat sesuatu yang tidak senonoh.
Aku melirik tajam Lee yang berada di belakangan Viollet.
"Menjijikkan!" Umpat Viollet geram padaku.
Kakinya melangkah pergi, menjauhi dari pandangan ku.
"Si*l!!!"
Aku menendang kursi pantai tempat ku duduk tadi. Tiba-tiba perasaan sesak menghampiri ku. Aku mulai merasa takut yang tidak beralasan. Rasanya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri.
Dengan amarah, aku langsung menyuruh Lee dan Arnold membawa para wanita jal*ng itu ke basement rumah. Mereka semua habis ku bantai dengan penuh emosi dan kebencian.
Flashback off :>
⚖️⚖️⚖️
"Hei... bagaimana jika kalian berdua berlibur ke villa. Anggap saja ini hadiah karena membereskan para tikus kecil kemarin" Ujar Luis kegirangan.
Ia sudah memberi tahu Damian bahwa ibunya itu akan menjodohkan Athie dengan nya.
"Tidak perlu!" Jawa Damian singkat.
Ia tidak suka menghabiskan waktu untuk hal tidak penting ini.
"Kenapa? bukan kah kalian harus ada pendekatan? " Luis tidak mengerti jalan pikir anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan nya" Datar Damian.
Lou melirik anak nya itu. Wajah datar nya tidak membuat Lou kesusahan membaca raut wajah anak nya. Lou sangat yakin bahwa Damian sudah punya masa depan nya sendiri.
"Sayang, biarkan dia sendiri" Kata Lou menengahi perdebatan antara istri dan anak nya itu.
"Kenapa kau selalu bilang begitu? Damian ini sudah tua, dia bahkan tidak dekat dengan wanita mana pun" Luis menatap tajam Damian. "Dan kemana perginya Viollet? Apa kau mengucilkan nya? kau bilang pada semua orang bahwa dia kekasih mu, tapi mana???" Tanya Luis beruntun.
Damian menggerakkan tangan nya ketika nama Viollet masuk ke dalam telinga nya.
"Aku sudah selesai makan"
Derit kursi memecahkan keheningan. Damian berjalan menaiki tangga menuju kamar nya. Luis dan Athie saling pandang.
"Kau lihat!?" Tuntut Luis.
"Dia sudah punya pasangan nya sendiri, aku yakin Damian sedang berusaha memperbaiki hubungan nya dengan Viollet. Jangan tergesa-gesa menjodohkan nya pada orang lain" Setelah berkata demikian, Lou ikut menyusul Damian.
"Kurasa kehadiran ku tidak di perlu kan di sini" Athie tertunduk lesu.
"Kau harus terus berusaha sayang" Luis mengelus bahu Athie. "aku mendukung mu"
Athie tersenyum. setidaknya ia punya satu dukungan di rumah ini.
"Viollet... "
Gumam Athie geram.
__ADS_1