
Viollet berdiri di hadapan Damian. Pria tampan itu tidak menyadarinya karena bisingnya musik dan ramainya orang. Apalagi Viollet memakai masker dan topi.
"Siapa kau?" tanya seorang wanita di samping Damian yang risih dengan kedatangan Viollet.
Damian menoleh. Ia menyipitkan mata ketika mendapat tatapan tajam dari wanita di hadapan nya ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Damian datar.
ia sangat tau siapa wajah di balik masker itu. Mata indah yang beberapa hari lalu sangat ia kagumi.
"Aku yang seharusnya bertanya Tuan Damian yang terhormat! Apa menyenangkan di gerayangi oleh para wanita siap*n ini?" tunjuk Viollet geram.
"Siapa kau!? beraninya memarahi tuan) kami" Seru wanita di rangkulan Damian.
"Menyingkirlah dari pria ku jal*ng" Viollet menarik tangan wanita itu dengan kasar hingga membuatnya bangun dari duduk nya.
"Tuannn...." Rengek nya mengadu pada Damian. Damian hanya diam. Hanya Viollet yang berani melakukan hal itu pada nya.
"Pergilah!" Damian meneguk alkoholnya lagi.
Para wanita di sekitarnya berpandangan, tuan nya ini berbicara pada mereka atau pada Viollet?
"Dia bilang pergi. Apa telinga mu bermasalah?" Teriak Viollet. ia benar-benar marah sekarang.
"Kau yang pergi" potong Damian. "Aku tidak ada urusan dengan mu" lanjutnya membuat Viollet terkejut. Damian baru saja mengusir nya.
__ADS_1
Viollet berdecak.
Matanya lalu menyapu lantai dansa bagian atas. Dengan cepat targetnya terdeteksi. Ia melihat seorang pria muda yang duduk sendiri.
"Baik! Aku juga ke sini bukan karena ingin bertemu dengan mu. Aku akan pergi menghampiri kekasih ku" Kata Viollet angkuh.
Damian mengetatkan rahang nya. Ia tidak suka Viollet memancing amarah nya dengan menyebutkan kata kekasih.
Viollet yang sadar ekspresi Damian berubah tegang, langsung bersorak gembira dalam hati. Kaki jenjang nya mulai melangkah menjauh.
Viollet pov :>
Aku benar-benar menghampiri pria yang ku lihat sekilas itu. Wajahnya tampak lelah namun masih terlihat tampan. Huhhh....
Tentu saja tidak setampan Damian-ku.
"iya?" pria itu menoleh.
Hal pertama yang di lakukan nya ketika melihatku adalah menatap ku dari ujung kaki sampai ujung rambut. ? Membuat ku merasa di telanjangi.
"Wahhh kau sangat cantik" puji pria itu. Aku yakin dia salah satu pria hidung belang berdompet tebal.
"Aku melihat mu duduk sendiri, apa aku boleh bergabung dengan mu?" ujar ku di tengah kebisingan ini.
"Tentu, kau ingin minum apa?" tawar nya semangat.
__ADS_1
"Pesan kan apa saja" aku tersenyum menis sambil menyelipkan anak rambut ku di belakang telinga.
Respon pria ini sangat natural. Ia kadang meneguk saliva nya ketika aku menyilangkan kaki ku atau pun memamerkan leher ku yang indah. Ck! Damian cepat lah terbakar emosi!!!
Ku intip Damian.
Benar dugaan ku, dia sedang melihat ke sini. Berani macam-macam dengan ku tuan Mafia?
Pria di hadapan ku ini terus mengoceh, dan yang pikirkan hanya lah Damian. Apa aku sudah terlanjur mencintai nya? Kenapa aku takut dan marah ketika dia di sentuh wanita lain padahal status hubungan kita masih belum jelas.
Brak!!!!
Tatapan tajam ini.
Tatapan membunuh yang ingin merobek isi perut.
"Berani menyentuh wanita ku, akan ku pastikan kau akan menjadi mayat besok pagi" ancam Damian.
Hei???
Kapan dia datang? aku tidak sadar karena melamun. Lalu kejadian selanjutnya adalah aku yang di angkut seperti karung beras.
"Turunkan aku pria brengs*k!" Teriak ku memberontak.
Plakkk!!!!
__ADS_1
Damian menampar bok*ng ku lalu meremas ny.
"Diam sayang! Akan ku buat mulut mu meneriaki namaku semalam" Senyum miring nya membuat ku merinding. Membayangkan benda besar itu masuk ke diri ku.