
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang berasal dari Allah SWT. Ada dua sisi yang dapat di gunakan untuk memahami pengertian agama islam, yaitu dari sisi perbahasaan dan dari sisi peristilahan.
Menurut ilmu bahasa (etimologi), islam berasal dari bahasa Arab yaitu salima yang artinya selamat, sentosa, dan damai. Dan dari kata ini lah dibentuk kata aslama, yuslimu dan islaman yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Seseorang yang bersikap sebagaimana yang di maksud dalam pengertian islam tersebut di namakan muslim, yaitu seseorang yang telah menyatakan bahwa dirinya taat, berserah diri, tunduk dan patuh pada Allah SWT. (Drs. Muhammad Alim M. Ag 2011).
Secara istilah (terminologi), islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-ajaran nya di wahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul. Atau lebih tegasnya lagi, islam adalah ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada masyarakat melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. (Drs. Muhammad Alim M. Ag 2011)
Islam datang ke tanah Melayu ketika pengaruh Hindu dan Buddha masih kuat. Kala itu, Sriwijaya (Budha) dan Majapahit (Hindu) masih menguasai sebagian besar wilayah yang kini termasuk wilayah Melayu. Masyarakat Melayu berkenalan dengan agama dan kebudayaan Islam melalui jalur perdagangan, sama seperti ketika berkenalan dengan agama Hindu dan Buddha. Islam masuk ke tanah Melayu pada abad ke 7. (Marzali, Amri. 2012).
Penyebaran agama islam di melayu pun melalui ulama-ulama yang ahli masalah islam. Perjuangan para ulama-ulama tersebut tercatat dalam sejarah peradaban islam di melayu. Dalam makalah ini kita akan membahas siapa saja para ulama-ulama penyebar agama islam dan apa saja karya-karya nya di kawasan melayu.
Ulama merupakan figur yang memiliki peranan khusus dalam kehidupan masyarakat. Ulama memiliki posisi tersendiri dalam masyarakat islam. Meskipun telah terjadi beberapa perubahan dalam bidang penekanan dan bidang garapannya, mereka memiliki posisi penting sampai sekarang. (Nor Huda 2007).
Ulama dalam ajaran islam berkedudukan sebagai waratsah al-anbiya' (pewaris para nabi) yang secara historis sosiologis memiliki otoritas dalam keagamaan.
Maka dari itu ulama sangat di hormati dan di segani baik gagasan maupun pemikiran nya. Dalam berbagai dimensi, gagasan maupun pemikirannya dipandang sebagai kebenaran, di pegang dan di akui secara ketat dan mengikat, dengan kata lain ulama merupakan kelompok elite keagamaan yang sangat penting. (Zulkifli 1999).
A. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan ini, yaitu :
1. Apa sejarah Ulama nusantara?
2. Metode apa yang di gunakan para ulama dalam penyebaran islam di kawasan melayu?
3. Apa saja bentuk karya-karya para ulama di kawasan melayu?
A. Tujuan
Adapun tujuan dalam pembahasan ini, yaitu :
1. Mengetahui tentang sejarah ulama nusantara
2. Mengetahui metode apa saja yang di gunakan para ulama dalam penyebaran islam di kawasan melayu
3. Mengetahui apa saja bentuk karya-karya para ulama di kawasan melayu
A. Sejarah Ulama Nusantara
Dari segi bahasa, kata ulama adalah bentuk kara pelaku plural (jama') dari kata alim (dalam bentuk tunggal) yang arti dasar nya adalah “orang yang mengetahui” atau “orang yang berpengetahuan “. (Dikutip dari pernyataan H. Abu Hurairah Abd Salam LC, MA)
Islam masuk ke Nusantara tak luput dari peran ulama yang telah menyebarkan dakwah islamnya kepada masyarakat yang ada di Nusantara. Kearifan lokal yang tidak ketinggalan tetap berjalan bersama dengan islam. Adapun beberapa para ulama tersebut akan kita bahas pada pembahasan kali ini.
1. Abdul Qadir bin Abdul Muthalib
Abdul Qadir bin Abdul Muthalib adalah seorang ulama nusantara yang terkenal di kalangan Melayu. (Majalah al-kisah bag. 1). Dilahirkan pada tahun 1329 H di Sigalapang, kecamatan Panyabungan, kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Nama nya adalah Abdul Qadir bin Abdul Muthalib bin Hassan Al-Andunisi Al-Mandili Al-Makki Asy-Syafi’i. Sebenarnya nama bapaknya masih di perselisihan oleh kalangan sejarahwan. Ada yang menyebut Thalib dan ada pula yang menyebut Abdul Muthalib.
a. Pendidikan
Beliau mendapat pendidikan awal nya di Belanda pada tahun 1927 dan lulus kelas lima pada tahun 1923. Pada tahun 1924, ia hijrah ke Kedah untuk ilmu agama. Saat ia hijrah ke Kedah, Malaysia pada tahun 1924, awalnya Syaikh Abdul Qadir muda berguru kepada Tuan Guru Haji Bakar Tobiar, di Pondok Penyarum, Pendang, selanjutnya ia melanjutkannya ke Pondok Air Hitam di bawah bimbingan Tuan Guru Haji Idris dan Lebai Dukun. Pada 1926, Syaikh Abdul Qadir bersekolah di Madrasah Darul Sa’adah Al-Islamiyah atau Pondok Titi Gajah, Dikisahkan pula bahwa di saat ia masih nyantri di Darul Sa’adah Al-Islamiyyah, ia biasa memanfaatkan masa liburan untuk bekerja sebagai pemukul padi karena memang lokasi madrasah terletak di lingkungan persawahan. Meski sebagai seorang santri, ia tidak canggung menjalani pekerjaannya itu. Dalam pikirannya, yang penting itu halal tidak perlu malu dijalani. Meski harus bekerja, ia tidak lantas melupakan tujuan utamanya melawat.
3
4
Sambil bekerja memukul padi, ia terlihat tampak sembari menghafalkan sesuatu. Mungkin matan kitab atau semacamnya. Berkat karunia Allah, kemudian berkat ketekunannya belajar ini tidak heran jika ia sampai berhasil menguasai banyak bidang keilmuan.
Selain terkenal tekun belajar, ‘Abdul Qadir Al-Mandili juga terkenal dengan ketekunannya beribadah pada Allah. Tidak hanya ibadah wajib yang ia kerjakan, namun ibadah-ibadah sunnah pun banyak yang ditekuninya. Maka tidak sekadar belajar, tetapi ia juga mengamalkannya.
b. Berguru di tanah Haram
Pada tahun 1355 H, Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muththalib al-Mandili bertolak ke Mekkah Al-Mukkaramah, suatu negeri yang selalu menjadi dambaan semua orang, apatah lagi penuntut ilmu. Adalah suatu kebiasaan yang lazim menjadi ‘sunnah’ penuntut ilmu di Nusantara, terasa belum sempurna jika tidak mengambil bagian belajar di kota kelahiran Rasulullah tersebut. Maka pada waktu tersebut ‘Abdul Qadir tidak lagi kuat menahan hasratnya untuk segera berangkat menujunya. Sesampainya di Mekkah dan setelah menyempurnakan ibadah haji pada tahun tersebut, ia bertekad untuk lebih lama tinggal di sana, tidak lain untuk menimba ilmu dari para ulamanya walaupun keilmuannya sudah bisa dibilang dalam dan matang. Akan tetapi karena dahaganya pada ilmu yang masih belum terobati, ia merasa harus lebih lanjut mendalaminya.
Setelah sekian lama berguru kepada banyak ulama Tanah Suci, ia mendapatkan izin mengajar di Masjidil Haram. Ia mengajar selama hampir 30 tahun, dalam berbagai cabang keilmuan.
__ADS_1
2. Abdul Somad
Abdul Somad lahir pada 18 Mei 1977 Sumatra Utara. Beliau adalah seorang da'i atau penceramah agama islam dari Indonesia yang terutama terfokus dalam bidang ilmu Hadits dan Fiqih. Beliau juga berprofesi sebagai dosen dan pernah mengajar di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau pada tahun 2009-2019. (Situs resmi UIN Sultan Syarif Kasim).
Abdul Somad adalah anak dari pasangan Bakhtiar dan Rohana. Dari pihak ibu, garis keturunan nya tersambung pada syekh Abdurrahman atau Tuan Syekh Silau Laut I.
a. Pendidikan
5
Sejak Dari bangku sekolah dasar, Abdul Somad dididik melalui sekolah berbasis tahfidz qur'an. Tamat pada sekolah dasar pada tahun 1990, beliau melanjutkan pendidikannya di madrasah tsanawiyah mu'allimin al-washliyah Medan. Lulus pada tahun 1993, beliau melanjutkan pendidikan ke pesantren Darularafah Sumatra Utara selama satu tahun. Pada tahun 1994, beliau pindah ke Riau untuk melanjutkan pendidikan di madrasah aliyah Nurul Falah dan menyelesaikan nya pada tahun 1996. Tahun-tahun berikutnya antara tahun 1996-1998, beliau sempat berkuliah di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Pada tahun 1998, ketika pemerintah Mesir membuka beasiswa kepada 100 orang Indonesia untuk belajar di Universitas Al-Azhar, beliau pun mengikuti tes dan menjadi salah satu dari 100 orang yang berhak menerima beasiswa, mengalahkan 900-an orang yang juga mengikuti tes tersebut. Dan pada pertengahan 2002, Abdul Somad berhasil mendapat gelar LC nya dalam kurung waktu 3 tahun 10 bulan.
3. Shofwan Karim Elha
Terlahir dengan nama Shofwan Karim Elha, ia berasal dari Desa Sirih Sekapur, Junjuhan, Bungo, Jambi pada tanggal 12 Desember 1952. Meski demikian, tercatat pada akte kelahiran miliknya bahwa dirinya lahir di Sijunjung, Semata tengah. Beliau merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara dari pasangan Haji Abdul Karim (1927–2003) dan Hajjah Rahana (1936–1995) yang berdarah Minangkabau. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius, manakala ayahnya bekerja sebagai guru agama di Sungai Limau, Koto baru, Sijunjung.
a. Pendidikan
Shofwan mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Rantau Ikil dan Madrasah Ibtidaiah Al-Hidayatul Islamiah pada 1965, Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Jambi pada 1968, dan Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol saat ini Madrasah Aliah Negeri 1 Padang Panjang pada 1971.
Setelah menamatkan pendidikan menengahnya, Shofwan melanjutkan jenjang perguruan tinggi di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol saat ini Universitas Islam Negeri Imam Bonjol
Dan meraih gelar sarjana muda pada 1976, serta sarjana lengkap dengan gelar Doktorandus di kampus yang sama pada 1982. Kemudian, ia kembali meneruskan pendidikannya di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah saat ini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan mendapat gelar Magister Ulama Program Pascasarjana pada 1991. Dan adapun pada 2008, beliau berhasil meraih gelar Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dengan membedah disertasi terkait Nasionalisme, ideologi Pancasila, dan hubungannya dengan Islam sebagai dasar negara Indonesia.
1. Buya Yahya
Buya Yahya memiliki nama lengkap Yahya Zainul Ma’arif Jamzuri. Beliau lahir di Blitar, Jawa timur pada hari Rabu Legi tanggal 16 Rojab tahun 1393 Hijriyah atau 10 Agustus 1973 Masehi. Saat ini Buya Yahya bertempat tinggal di lingkungan Lembaga Pengembangan Da’wah (LPD) Al-Bahjah Kel. Sendang Kec.Sumber kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
a. Pendidikan
Buya Yahya melalui latar pendidikan. Adapun pendidikan yang lalui oleh beliau yaitu pendidikan non-formal dan formal. Berikut adalah latar pendidikan beliau.
Pendidikan non-formal
a) Belajar di Madrasah Diniah Al-Falah di Blitar selama 8 tahun di bawah asuhan Al-Murobbi KH. Imron Mahbub.
c) Belajar di ponpes Darullughoh Wadda’wah Bangil – Pasuruan selama 8 tahun di bawah asuhan Al-Murobbi Al-Habib Hasan Bin Ahmad Baharun
d) Belajar 9 (sembilan) tahun di Hadhramaut kepada para ulama di Tarim dan Mukalla – Hadhramaut-Yaman di bawah asuhan Al-Murobbi Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun dan Al-Murobbi Al-Habib Idrus bin Umar Al-Kaf
7
Pendidikan Formal
a) SD - SMP diselesaikan di tempat kelahirannya
b) SMA diselesaikan di Pondok Pesantren Darullughoh Wadda’wah di Bangil, Pasuruhan, Jawa timur
c) Kemudian melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Al-Ahgaf, Hadramaut, Yaman
d) Kemudian menyelesaikan program Ph.D di American University for Human Sciences California, Amerika Serikat
e) Dikukuhkan sebagai guru besar kehormatan bidang Hukum Islam di Universitas Sulthan Agung, Semarang, Jawa tengah.
2. AbuBakar Ayyub
Abubakar Ayyub adalah seorang ulama Minangkabau yang mempolopori masuknya ajaran Ahmadiyah Qadian ke Nusantara (sebelum adanya Indonesia). Pada awal abad ke 20,bersama dengan kedua orang sejawatnya, yaitu Ahmad Nuruddin dan zaini Dahlan. Awalnya, Abubakar Ayyub dan kedua sejawatnya itu merupakan pelajar dari Sumatera Thawalib Padangpanjang. Suatu sekolah islam modern pertama di indonesia yang di dirikan oleh tokoh-tokoh ulama Minangkabau, seperti Abdul Karim Amrullah, Zainuddin Labai el-Yunusiyah dan beberapa tokoh ulama lainnya.
Pada mulanya, Abubakar Ayyub dan sejawatnya hendak melanjutkan pendidikan agamanya ke Kairo, Mesir, namun oleh gurunya ia disarankan menuntut ilmu agama ke India, karena pada masa itu India juga tengah berkembang menjadi pusat pemikiran modernisasi islam. Sesampainya di Lahore, India, mereka-pun terkesan dengan ajaran Ahmadiyah yang dikembangkan oleh Anjuman Isyaati Islam (Ahmadiyah Lahore) karena banyak mengubah pemahaman serta aspek keimanan mereka akan Islam.
__ADS_1
Setelah mereka tahu bahwa sumber dari ajaran Ahmadiyah sesungguhnya adalah dari Qadian yang didirikan oleh Hadiah Mirza Ghulam Ahmad, mereka-pun pergi ke Qadian, walaupun dilarang oleh Anjuman Isyaati Islam (Ahmadiyah Lahore). Setelah melalui pembelajaran beberapa lama, akhirnya di Qadian inilah Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, Zaini Dahlan beserta 23 orang pelajar dari Sumatra Thawalib yang datang belakangan di baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah (Ahmadiyah Qadian).
A. Metode-metode Ulama dalam Penyebaran Islam
8
Masuknya agama islam ke Indonesia tak lepas dari perjuangan tokoh pendakwah yang menyiarkannya dengan berbagai strategi dan metode, sehingga bisa diterima oleh penduduk pribumi. Penyampaian ajaran Islam di Indonesia umumnya dilakukan dengan strategi kedamaian. Melansir buku Sejarah Islam Nusantara oleh Rizem Aizid, ada beberapa strategi yang digunakan para pendakwah dalam menyebarkan syariat Islam.8
1) Metode Perdagangan
Indonesia termasuk dalam jalur perdagangan internasional pada abad 7 M-16 M, sehingga para pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India turut berdatangan untuk berniaga. Selain berdagang, mereka turut menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang waktu itu masih menganut Hindu dan Budha. Para pedagang mengambil jalur laut untuk datang ke Indonesia, sehingga perniagaan yang terjadi antara Jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara. Perdagangan bukan satu-satunya jalur masuknya Islam ke Indonesia. Tetapi dengan berniaga inilah Islam mulai dikenal dan diikuti penduduk pribumi. Sehingga para pedagang memiliki peranan penting dalam menyiarkan Islam di Indonesia.
2) Metode Perkawinan
Para pedagang muslim yang singgah kemudian banyak yang menetap di Indonesia. Sehingga dari mereka ada yang menikah dengan putri bangsawan dari kerajaan pribumi. Perkawinan yang dilakukan pun telah berlangsung secara islami. Yang mana para kala itu masyarakat pribumi sudah banyak yang mengucapkan kalimat syahadat. Dari pernikahan itu, banyak dari keturunan mereka yang menjadi ulama dan penyebar Islam di Nusantara. Salah satu contohnya, perkawinan antara Maulana Ishaq dan putri Raja Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri. Sunan Giri merupakan salah satu wali songo yang memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.
3) Metode Tingkatkan Sosial
Para pendakwah Islam lebih dahulu mengislamkan para raja dan bangsawan yang memiliki tingkatan sosial tertinggi. Dengan islamnya mereka, banyak dari penduduk kerajaan yang tingkatannya berada di bawah mengikuti raja mereka. Strategi ini juga efektif dalam penyebaran Islam di Indonesia.
4) Metode Pendidikan
Setelah banyaknya pengikut Islam di Indonesia, para pendakwah membangun pondok pesantren dan masjid-masjid. Yang mana digunakan sebagai tempat berkumpul untuk belajar syariat Islam dan pembinaan calon ulama. Para murid benar-benar diajarkan berbagai macam ilmu, hingga menjadi ahli dalam bidang agama Islam. Setelahnya mereka pun menyiarkan Islam ke masyarakat pribumi lainnya. Meluas ke berbagai daerah di Nusantara. Pada saat itu pondok pesantren ini didirikan oleh guru, ulama, juga kiai. Misalnya Sunan Gresik yang diyakini sebagai orang yang pertama kali membangun pesantren di tanah Jawa.
Islam ke masyarakat pribumi lainnya. Meluas ke berbagai daerah di Nusantara. Pada saat itu pondok pesantren ini didirikan oleh guru, ulama, juga kiai. Misalnya Sunan Gresik yang diyakini sebagai orang yang pertama kali membangun pesantren di tanah Jawa.
Memperbincangkan ideologi kapitalisme, sosialisme, dan komunisme. Tulisan-tulisan tersebut masih terus dicetak dan dipelajari di berbagai lembaga pendidikan formal maupun non formal. Pada tulisan-tulisannya itu dapat dengan jelas kita rasakan nuansa dakwah kepada tauhid yang dia prioritaskan.
Di antara karya-karya dia adalah: Al-Khaza‘in as-Saniyyah min Masyahir al-Kutub al-Fiqhiyyah Li A‘immatina al-Fuqaha‘ asy-Syafi’iyyah. Risalah Pokok Qadiani, Senjata Tok Haji dan Tok Labai, Tuhfah al-Qari‘ al-Muslim fi al-Ahadits al-Muttafaq ‘Alaiha Bayn al-Imam al-Bukhari wa al-Imam Muslim. Hukm al-Ihram min Jaddah, Penawar bagi Hati, Perisai bagi Sekalian Mukallaf, Pendirian bagi agama Islam, Penawar Bagi Hati. Dan lain sebagainya.
a) Abdul Somad
Abdul Somad menulis beberapa karya. Diantara nya ada karya ilmiah dan karya nya sendiri. Berikut adalah daftar karya tersebut.
Karya ilmiah yang di tulis oleh Abdul Somad :
i. Perbuatan Maksiat Penyebab Kerusakan Rumah Tangga (Judul Asli: Al-Ma’ashi Tu’addi ila Al-Faqri wa Kharab Al-Buyut), Penulis: Majdi Fathi As-Sayyid. Diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2008.
ii. 55 Nasihat Perkawinan Untuk Perempuan, (Judul Asli: 55 Nashihat li al-banat qabla az-zawaj), Penulis: DR. Akram Thal’at, Dar at-Ta’if, Cairo. Diterbitkan oleh Penerbit Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, April-2004.
iii. 101 Kisah Orang-Orang Yang Dikabulkan Doanya (Judul Asli: 101 Qishash wa Qishah li Alladzina Istajaba Allah Lahum Ad-Du’a’, Majdi Fathi As-Sayyid. Diterbitkan oleh Pustaka Azzam – Jakarta, Desember 2004.
iv. 30 Orang Dijamin Masuk Surga (Judul Asli: 30 al-mubasysyarun bi al-jannah), DR.Mustafa Murad, Dar al-Fajr li at-Turats,Cairo. Diterbitkan oleh Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, Juli-2004.
v. 15 Sebab Dicabutnya Berkah (Judul Asli: 15 sabab min asbab naz’ al-barakah), Penulis: Abu Al-Hamd Abdul Fadhil, Dar ar-Raudhah-Cairo. Diterbitkan oleh Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, Agustus-2004
Adapun karya nya yaitu : Semua Ada Saatnya, 35 kisah saat maut menjemput, 30 mutiara Ramadhan, 15 sebab dicabutnya berkah, 32 naskah khotbah, Ustadz Abdul Somad Menjawab, 77 tanya jawab seputar shalat, 40 hadits zikir dan doa menurut sunnah, Amalan yang paling dicintai Allah. Dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam datang ke tanah Melayu ketika pengaruh Hindu dan Buddha masih kuat. Kala itu, Sriwijaya (Budha) dan Majapahit (Hindu) masih menguasai sebagian besar wilayah yang kini termasuk wilayah Melayu. Masyarakat Melayu berkenalan dengan agama dan kebudayaan Islam melalui jalur perdagangan, sama seperti ketika berkenalan dengan agama Hindu dan Buddha. Islam masuk ke tanah Melayu pada abad ke 7. (Marzali, Amri. 2012).
Penyebaran agama islam di melayu pun melalui ulama-ulama yang ahli masalah islam. Perjuangan para ulama-ulama tersebut tercatat dalam sejarah peradaban islam di melayu. Dalam makalah ini kita akan membahas siapa saja para ulama-ulama penyebar agama islam dan apa saja karya-karya nya di kawasan melayu.
Ulama merupakan figur yang memiliki peranan khusus dalam kehidupan masyarakat. Ulama memiliki posisi tersendiri dalam masyarakat islam. Meskipun telah terjadi beberapa perubahan dalam bidang penekanan dan bidang garapannya, mereka memiliki posisi penting sampai sekarang.
B. Saran
Peradaban dan kebudayaan islam di tanah air perlahan luntur seiring perkembangan jaman dan teknologi. Oleh sebab itu kita sebagai masa depan negeri Indonesia harus mempertahankan apa yang telah di perjuangkan oleh para leluhur terdahulu. Seperti yang telah di jelaskan di atas, banyak metode penyebaran islam yang dapat di gunakan. Kesadaran diri pun sangat penting untuk mengevaluasi lingkungan. Karena perubahan yang paling baik adalah perubahan diri sendiri menjadi pribadi yang baik bagi diri sendiri dan lingkungan.
__ADS_1
Makalah tugas islam dan peradaban melayu ini masih jauh dari kata lengkap dan sempurna. Ada banyak ulama-ulama serta karya-karya nya di kawasan melayu. Mohon di maklumin apabila kurangnya informasi. Semoga kita dapat mempertahankan budaya agama islam yang mulia ini.
Sekian Terima kasih banyak 🙏