
Ponsel Viollet berdering lagi.
Wanita muda itu mengehela napas kesal. Ini sudah panggilan ke tiga dari perusahaan penggusuran.
Yahhh...
Apartemen Viollet yang sekarang akan di bangun menjadi gedung entertainment. Mereka menteror setiap penghuni yang tidak mau bekerjasama dan menjual rumah mereka. Viollet salah satu orang keras kepala yang tidak mau menjual apartemen nya.
Triririringgg...
Tangan mulus Viollet mengambil ponsel, lalu meluapkan emosinya.
"Dengar bajing*n! aku sudah muak dengan mu! dan aku tidak akan menuruti mu!!! Dasar brengs*k!!!!" maki Viollet.
"Oh... " Sahut suara dari seberang telepon.
Tunggu!!!
Viollet kenal suara ini!
"Aku tidak tau kalau kau sangat muak dengan ku" Ujar Damian lesu. "Aku akan tutup telpon nya"
Viollet melotot.
"T-tidak! Tidak Damian, kau salah paham. Tung-"
Tut... tut... tut...
__ADS_1
"Aish si*l" umpat Viollet keras.
⚖️⚖️⚖️
Darah segar mengalir dari kepala seorang pria tua. Luka tebasan sabit dari Damian itu membuat nya kehilangan nyawa dalam sekali tebas. Napas Damian memburu. Ia menatap semua tahanan yang menggigil ketakutan. Satu korban baginya tidaklah cukup untuk mengganti mood nya yang rusak.
Damian melempar sabit di tangan nya sembarangan. Tubuh kekarnya di penuhi bercak darah. Arnold hanya diam mematung di pojok ruangan. Ia baru saja melihat kemarahan tuan nya itu.
"Panggil sepuluh wanita perawan untuk ku, Lee! Bawa mereka semua ke kolam renang nanti malam" Ujar Damian dingin.
"B-baik tuan" Lee melangkah kan kaki nya yang kaku ke luar markas. Baru pertama kali baginya melihat secara langsung sisi gelap Damian.
"Anda ingin minum tuan?" Tawar Arnold.
"Berikan alkohol" Jawab Damian.
"Viollet!" Damian meremas sebuah poto Viollet di tangan nya. "Kau yang membangun kan monster dalam diriku"
BRAKKK!!!
Damian meninju lemari kayu.
Sekuat apapun usaha nya untuk meredam emosi, sekuat itu pula ego nya menentang berbaikan.
"Akhhh akan ku hancurkan semua yang membuat ku marah" Teriak Damian begitu emosi.
⚖️⚖️⚖️
__ADS_1
"Maaf kan saya Nona, tapi anda tidak di perlukan saat ini" ujar Lee sopan pada Viollet yang memaksa masuk ke kediaman Salazar.
"Aku mohon, biarkan aku masuk! aku ingin bicara dengan Damian" Pujuk Viollet.
Rasanya ingin menangis sekarang. Ia tidak tau bahwa yang menelpon nya adalah Damian. Viollet sudah terlanjur emosi lalu melampiaskan nya begitu saja.
"Maaf, silahkan nona pergi"
Lee membuka pintu mobil. berniat menyuruh Viollet masuk dan pulang. Tapi bukan Viollet namanya jika langsung menyerah. Wanita muda itu berlari kencang ketika Lee sedang membuka pintu mobil.
"Nona!!!" Dengan secepat kilat, Lee mengejar Viollet.
Viollet terus berlari meski tidak tau arah. ia mengelilingi rumah besar itu sambil memperhatikan dimana tempat Damian berada.
"Akhhhh... yeahhhh!" Damian memejamkan mata merasakan sensasi nikmat.
"Ahhh terus jal*ng! hisap dengan benar"
Sekitar sepuluh orang wanita tanpa busana mengelilingi Damian yang berbaring nyaman pada kursi pantai. Mereka menggosok badan Damian dengan air dari kolam renang. Beberapa di antara mereka pula ada yang menghisap benda pusaka milik Damian itu.
Damian melenguh nikmat.
"D-Damian?"
Damian menoleh. Matanya seketika bertemu pandang dengan mata sendu Viollet. Tanpa di sadari nya, air mata wanita itu mengalir deras.
"Menjijikkan" kata Viollet kecewa.
__ADS_1
Setelah itu, Viollet langsung berlari keluar rumah. Ia sangat kecewa dengan apa yang di lihat nya malam ini.