
"Semua cowok itu sama aja!" Ucapan Aizka menggema di sebuah cafe hingga sahabatnya Winda hanya bisa menutup wajahnya dengan buku yang sedang ia baca, memiliki sahabat setengah gila seperti Aizka sepertinya itu adalah hal yang wajar hanya saja tatapan cowok tampan di dekat jendela membuat Winda gengsi.
"Aku kesel! Kesel! Kesel!" Suara Aizka kembali mengudara, cewek cantik itu menggerutu hingga memukul pelan meja untuk menyalur rasa kesalnya, seperti dunia ini hanya milik dirinya.
"Nih minum, otak lo lagi gesrek ya?" Winda menyodorkan minuman, kegilaan Aizka wajib di hentikan karena sepertinya cowok tampan di ujung sana mulai terganggu. Terlihat jelas saat Aizka berucap, pria itu menoleh dan memberikan tatapan heran.
Aizka meminum air jeruk itu hingga tandas sehingga menimbulkan bunyi pergesekan es batu dan air yang mendorong naik ke dalam pipet.
Winda mengambil gelas panjang dari tangan Aizka "lu gila?"
"Gimana dong" Aizka mulai meneteskan airmata nya yang super lebay.
"Kenapa?" Winda terlihat kebingungan ketika cewek super gila ini memulai keributan.
"Joko selingkuh!"
"Joko siapa?" Winda menegakkan punggungnya, seingatnya tak ada laki-laki bernama joko di kehidupan Aizka.
"Joe?"
"Johan elah!" Jawab Aizka semakin kesal, apa Winda harus sebodoh ini?
"Kenapa lu jadi Joko, sarap!" Ucap Winda yang kesal sembari menatap kedepan kearah cowok di depan jendela. Memberikan senyum getir memohon pengertian untuk kondisi otak sahabatnya.
"Ai ga kuat nyebut namanya, hati Ai terlanjur sakit" Aizka menyentuh dadanya seolah benar-benar ada luka perih disana.
"Sakit-sakit gigi lu rontok"
Aizka mengambil tisu di atas meja, untuk memberikan airmatanya, lalu sekuat tenaga membersihkan hidungnya.
"Lu kok jorok banget!" Ucap Winda geli melihat tingkah sahabatnya.
"Bodo, Ai ga peduli. Ai sedih"
"Lu bisa liat gak sih cowok tampan itu dari tadi ngeliatin lu" Winda mendekatkan wajahnya di depan Aizka lalu berbisik pelan. Dan Aizka menoleh ke arah yang di bicarakan Winda.
Terlihat seorang cowok tampan berpakaian serba hitam fokus pada Macbooknya di atas meja, dia seperti pahatan patung dewa yunani, terlalu tampan untuk ukuran manusia yang pernah Aizka temui. Kaos oblong hitam dan kulitnya yang putih menjadi penunjang utama ketampanannya.
Aizka terpesona pada sosok itu sampai jam digital di atas dinding menarik perhatiannya. Hingga buru-buru Aizka mengecek ponselnya.
"Jam berapa?" Tanya Aizka
"Lima"
"Astagfirullah mati aku, ih gimana ini" Aizka menepuk jidatnya, menyesali segala yang sudah terjadi.
"Kenapa?"
"Ibu di warung gak ada yang bantu, gimana?"
"Ya gimana apanya?
"Kamu sih gak bilangin, Ai kira masih jam 1"
"Kebiasaan nih nyalahin orang, lu yang nangis--"
"Ai pulang dulu" tanpa menunggu perkataan Winda selesai Aizka sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Hingga kecerobohan Aizka membuatnya terjatuh tepat di depan cowok tampan itu.
Bruk!!!
__ADS_1
"Aduh..." Aizka mengaduh saat tubuhhnya menyeruduk menyentuh lantai.
"Kamu gapapa?" Seketika cowok tampan itu menghampiri Aizka berniat memberikan pertolongan.
"Eh..." jangan di tanya bagaimana malunya Aizka saat ini, Aizka menengadahkan kepalanya melihat cowok itu lalu beralih pada Winda yang sudah menutup wajahnya dengan buku karena terlalu malu.
"Winda..." Aizka hampir menangis karena malu.
"Ayo..." cowok tampan itu mengulurkan tangan untuk membantu Aizka.
"Maaf" Aizka tak tahu harus bagaimana, yang bisa ia ucapkan satu kata ini.
"Untuk?" Tanya cowok itu penasaran.
"Dari tadi Sampai sekarang pasti aku gangguin kamu bangetkan?"
Cowok tampan itu menggeleng dan tersenyum simpul "tidak"
"Putra" ucap cowok itu sembari mengulurkan tangan.
"Siapa?"
"Namaku Putra, kalau kamu?"
"Ha... Ai eh maksudku namaku Aizka bisa di panggil Ai" kemudian Aizka membalas tautan tangan cowok tampan itu.
"Kamu baik-baik aja?"
"Baik-baik aja, aduh" Aizka baru menyadari ketika sikunya berdarah.
"Sini duduk sini dulu" Putra menarik tubuh Aizka untuk duduk di kursi tak jauh dari sana sekaligus meminta kotak p3k pada seorang pelayan.
"Kamu berdarah gini malah di bilang gapapa" pria itu tersenyum sembari terus menatap luka itu.
"Kamu kenal sama pelayan itu?" Tanya Aizka begitu penasaran, karena hanya di perintah satu kali pelayan itu langsung masuk kebelakang.
"Hmm" pria itu bergumam.
"Kamu sering kesini? Kok Ai gak pernah liat?"
"Jarang"
"Kok kenal?"
"Emang harus sering datang biar kenal?" Pria itu menatap Aizka dengan senyum yang membuat jantung Aizka berdetak kencang.
"Ih kamu jangan senyum-senyum terus"
"Kenapa?" Tanya Cowok itu penasaran
"Aku malu"
Putra hanya bisa tergelak melihat keunikkan Aizka"Kamu lucu"
"Emang Ai badut"
"Makasih" ucap Putra ketika seorang pelayan memberikan kotak p3K.
"Kok kamu kenal?" Ucap Aizka lagi setengah berbisik saat pelayan itu pergi
__ADS_1
"Aku owner Cafe ini"
"Serius?"
"Iya"
Aizka hanya bisa melihat Winda di seberang meja, yàng sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
Setelah selesai mengobati siku Aizka yang berdarah, lalu Putra mengajak Aizka mengobrol dan tanpa di sadari Aizka, ada Winda yang di seberang sana komat kamit karena merasa bete di tinggal sendiri.
Satu jam lamanya percakapan antara Aizka dan Putra. Sehingga Winda menghampiri meja mereka.
"Lu mau pulang atau mau tidur sini?? "
dari tadi jugaa katanya mau pulang elaah malah nangkring disini.
"Astaga iya Ai lupa!! Ai harus kewarung Ibu. Maaf ya Putra , Ai tinggal dulu.
Aizka langsung berlari menuju pintu keluar dan lagi-lagi dia meninggalkan sahabatnya itu.
“Dasar tuh anak emang nyebelin!!!!!” gerutu Winda dalam hati.
Lalu Winda pun turut berlari mengikuti Aizka tanpa pamit ke cowok tampan itu.
“Lu emang bener-bener gila tau gak!!!!”
“Apaan??!!! Lu aja yang lama . Jawab Aizka dengan santainya sementara Winda udah ngos-ngosan berlari.
“Elu mau ke warung apa ke pasar loak ???!! tanya Winda lagi karena melihat Aizka yang lurus berjalan sementara seharusnya belok.
“Eh ... iya, Ai baru sadar kalau Warung Ibu dekat dari sini, berasa kayak mau kepasar.
“Ya amplop codet, ngidam apa sih Ibu lu pas hamil lu??!!”
“Pohon pisang”ucap Aizka Asal
“Pantes gesrek, lugu dan gilanya gak ketulungan.”
“Elu komen aje kayak di Facebook. Diem ngapa sih ndot”
Setelah sampai di warung, Aizka melihat warung Ibunya sudah tutup.
“Aduh mati aku!!!!”Aizka kembali menepuk jidatnya.
“Lah lu kenapa lagi codet???!!” tanya Winda bingung.
“Warung udah tutup, lu gak liat ?? atau mata lu pindah ke punggung ??” ucap Aizka karena merasa sahabatnya itu sangat telmi alias telat mikir.
“Terus???! Tanya Winda lagi
“Bakal kenal Sambalado lah nih dari Ibu.” Jawab Aizka dengan nada lemes
“Enak lah Sambalado di makan codet” timpal Winda lagi.
Aizka tidak menggubris perkataan dari sahabatnya itu, menurutnya Winda sedikit telmi . Lebih baik dia sekarang pulang.
TBC~
Akhirnya setelah pemikiran panjang untuk pembuatan Novel ini, aku yang hanya sekedar menyalurkan hobby sangat berterimakasih kepada Ayraa95 yang sudah berkenan membantu dan mengarahkan serta memotivasi aku, tanpa arahan dan bimbingannya aku bukan lah apa-apa.
__ADS_1
Salam Sayang dari Aku.. semogaa kalian suka baca Story aku yang gajelass inii 😂🤗👍👍