~SIN~

~SIN~
~10~


__ADS_3

Putra mengusap wajahnya kasar, entah mengapa semua rasa cinta dan sayang nya untuk Ayra menghilang setelah ia bertemu dengan Aizka.Untuk saat ini, hanya Aizka yang bisa membuatnya tenang setelah berdebat dengan Lala.


"Temuin aku di tempat biasa"


~Putra~


Putra mengirim pesan singkat kepada Aizka berharap cewek itu meresponnya dengan cepat.


"Kenapa? apa kamu gak sibuk? "


~Aizka~


"Datang saja, ada yang ingin aku katakan padamu"


~Putra~


Aizka mengerenyitkan keningnya, ia bingung liat sikap Putra hari ini. "Kenapa ia begitu dingin?" bathin Aizka.


Aizka mulai bersiap-siap untuk menemui Putra di tempat biasa mereka bertemu, Aizka melihat dirinya di dalam cermin sebuah dress berwarna biru muda telah melekat di tubuhnya dengan apik.


Disinilah Aizka sekarang dibalik kursi kemudi setelah tadi ia berpamitan dengan Liza, Aizka ingin menyetir mobil sendiri rasanya terlalu bosan selalu diantar


supir, apalagi ini kencan.


~


Sementara Putra tengah menyiapkan dan mendekorasi ruangan tersebut sambil menunggu kedatangan Aizka.


setelah selesai semuanya, tetapi Aizka belum juga sampai. Putra menelpon Aizka namun tidak ada jawaban dari gadis itu.


"Dimana Aizka? " kata Putra dalam hati.


Sementara di perjalanan menuju ketempat Putra, Aizka terkena macet karena ada perbaikan jalan. Sudah hampir 1 jam ia di dalam mobil dan karena macet ia melupakan Putra dan tidak mengabarin cowok itu sedari tadi.


Aizka mengambil ponselnya didalam Tas, dan ternyata ponselnya itu mati. Aizka berusaha menghidupkan ponselnya untuk segera memberitahukan kepada Putra bahwa ia datang terlambat.


"Akhirnya idup juga nih ponsel, kenapa bisa mati disaat genting begini sihh" kesal Aizka dalam hati


"Put, maaf. Ai telat, karena macet banget. "


~Aizka~


Putra seketika langsung mengambil ponselnya yang hanya mode begetar itu.


Putra langsung membaca pesan singkat dari Aizka dan rasa khawatirnya pun hilang seketika.


"Oke"


~Putra~


Aizka melihat layar ponselnya dan melihat ada pesan dari Putra.


"ihhhh.. apaan sih, cuma Oke doang. singkat banget, balas apa kek, ini kek, " gerutu Aizka

__ADS_1


~


Ayra sedang memikirkan rencana apa yang cocok untuk menghancurkan Aizka, apakah melalui teman kantornya yaitu Santi atau melalui Putra. Ia tampak bingung sendiri sehingga tanpa sadar ia memakan bungkusan plastik yang dianggapnya adalah Roti.


"*******!!! kenapa gua jadi makan plastik!! " Ayra merutuki dirinya sendiri, nih karena anak tengik itu buat pala gua puyeng aje.


Sonya yang sempat melihat putrinya itu makan plastik merasa heran dan takut putrinya itu akan mengalami gangguan kejiwaan. Ia pun turun kebawah menemui suaminya dan membicarakan soal Ayra yang tiba-tiba jadi aneh menurutnya.


~


"Ai kok belum ngabarin ya Pa? " ucap Liza yang khawatir dengan Aizka karena baru kali ini Aizka menyetir mobil sendiri.


"Telpon Ma, jangan jalan-jalan gitu. Papa pusing liat Mama keruang tamu lalu ke dapur dan kembali lagi keruang tamu. " ucap Apshal sambil mengambil koran yang berada di atas meja.


Sudah 2 jam Liza mondar-mandir kayak setrikaan, akhirnya ia memutuskan untuk menelfon Putri kesayangannya itu.


"Hallo Ma, " jawab Aizka sambil mengemudikan mobilnya


"Hallo Sayang, udah sampai belum?? " tanya Liza dengan nada Khawatir.


"Belum Ma, karena tadi Ai terkena macet mungkin 10 menit lagi sampai. " balas Aizka


"Kabarin Mama kalau udah sampai ya?" ucap Liza


"Siap Bos" kata Aizka lagi


"Dari tadi kek telpon kan gak kayak setrikaan mondar mandir gajelas" sindir Apshal sambil membaca koran.


**


"Berdosakah Aku jika menyukai seseorang menganut kepercayaan yang berbeda dengan ku? "ucap Putra dalam hati. Ia duduk sambil menatap kelangit menantikan gadis yang entah kapan mulai masuk kedalam pikirannya.


Putra yang semulanya menatap langit kini beranjak berdiri setelah seseorang menghampiri dan menepuk pundaknya.


Entah apa yang menghipnotisnya hingga ia hanya berdiri mematung melihat seseorang yang kini di hadapannya seolah aliran darahnya itu tersengat listrik.


Aizka yang merasa bingung di tatap Putra seperti itu hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya. Ia terlalu takut kalau lelaki dihadapannya ini akan menerkamnya.


Seketika Putra tersadar bahwasanya Aizka telah sampai dan ia pun mempersilahkan Aizka untuk duduk dengan menarikkan kursi untuknya.


10 menit Putra dan Aizka tidak ada pembicaraan sedikitpun. Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing.


"Cantik! " ucapnya yang masih dapat terdengar oleh Aizka.


"Biasa aja! " balas Aizka lagi


"Apanya biasa aja?? " ucap Putra yang tak mengerti arah pembicaraan Aizka


"Itu, baju kamu biasa aja. " ucap Aizka gelagapan.


"Oh"


Aizka mengerenyitkan keningnya, di undang kesini hanya untuk melihat sikap Putra yang dingin kayak idung kucing. " Oh tidak bisa, Ai harus mencairkan suasana ini, tapi dengan apa?? " kompor kah?? oh, engaa engga dengan api saja. Aduh Ai kenapa ****** banget sih. " Aizka merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


"KAMU! " ucap mereka berbarengan.


"Kamu aja duluan" ucap Aizka


"Kamu aja! " balas Putra yang tak ingin mendahului Aizka karena notabennya cewek selalu harus duluan dan tak pernah salah.


Aizka tidak menjawab lagi. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling mencari pelayan di sana. Tapi ia tak menemuinya sama sekali.


Aizka beranjak dari tempat duduknya, dan melangkah pergi tetapi saat tangannya di pegang oleh Putra maka langkah itu berhenti. "Ada apa? " tanya Aizka.


"Kamu mau kemana?? " balas Putra yang melihat Aizka ingin pergi meninggalkannya.


"Ai mo ketoilet! mo ikut???"


Putra tidak menjawab ia melepaskan pergelangan tangan Aizka yang sempat ia pegang.


"Kenapa gadis itu begitu lugu dan polos, sangat berbeda dengan Ayra." bathinnya. Dan tanpa sadar ia mengukir seulas senyuman dibibirnya.


Aizka yang sedang bingung mencari pelayan kesana kemari pun merasa kesal. "restoran apa sebenarnya ini? kenapa tak ada satupun pelayan. Ini restoran atau taman sih?? " Aizka menggerutu sendiri karena memang restoran itu bernuansa seperti taman yang disuguhkan dengan bunga-bunga dan untuk memanggil para pelayan harus ada yang bertepuk tangan terlebih dahulu. Tetapi Aizka tidak membaca pengumuman di pintu masuk. jadi, ia tidak tau sama sekali bagaimana aturan restoran ini. Dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ketempat Putra.


Aizka melihat Putra menyesap Air jeruk dingin itu, ia pun memegangi tenggorokan nya yang kemarau.


"Kamu dimana pesan itu?" tanya Aizka


"Sama Pelayan lah Ai, masa ama Dokter? " balas Putra santai.


"Tetapi dari tadi Ai tidak melihat pelayan disekitar sini. "


"Itu karena kamu seorang bidadari, jadi mereka takut"


"Ceh, rayuan kamu tidak mempan. Ai lagi haus ini " Ucap Aizka sambil memegangi tenggorokannya.


Putra yang melihat itu pun langsung bertepuk tangan, dan benar saja. Datang lah pelayan satu orang kemeja mereka.


"Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?? " ucap Pelayan itu dengan senyum manisnya.


Aizka yang bengong aja dari tadi pun terkejut oleh suara pelayan yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya.


Setelah memesan makanan dan minuman, Aizka berfikir. "Tempat apa sebenarnya ini? kemaren waktu Ai terakhir kesini ama Putra ini tempat masih bagus, masih indah dan cocok banget untuk berkencan. Tapi kenapa sekarang berubah jadi horror?? " kata Aizka dalam hati.


"Jangan sering melamun Ai, tempat ini sudah berubah seminggu yang lalu. Dan disini dilarang melamun. Karena bisa kemasukan Jin" ucap Putra berbohong karena ia melihat raut wajah Aizka seperti orang yang sedang menerka-nerka.


Mendengar itu, yang semulanya gadis itu duduk berhadapan deng Putra, kini ia beranjak dan berpindah tempat disamping Putra.


~TBC ~>


hayooo.. Mau tunangan masih sempet nemuin Aizka.. Mau Putra yang mana seeehh.. Aizka apa Ayra??


Siapa nee Team nya Aizka???


Happy Reading guys...


Peluk jauh dari akuu 🤗🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2