
Setelah berpindah tempat, Aizka melihat lagi kesekelilingnya. Lalu ia menggidikan bahunya serasa tempat ini begitu serem baginya.
"Kamu mau ngomong apa?? " tanya Aizka yang ingat dengan percakapan Putra di telpon untuk mengundangnya ketempat ini.
"Kamu udah punya Pacar? " tanya Putra tegas.
"Pa.. Pacar??? "Aizka bukan menjawab ia malah balik bertanya.
"Aku tidak suka mengulangi pertanyaan yang sama Ai"
Aizka diam, ini jauh dari Putra yang ia kenal sebelumnya. Ia tak mengenal sosok Putra sekarang.
"Jawan Ai" ucap Putra dengan nada yang lebih lembut.
"Belum" balas Aizka singkat, ntah dari mana jawaban itu ia dapatkan. yang pasti ia ingin menjawabnya belum.
"Bagus! mulai sekarang kita pacaran" ucap Putra dengan santainya.
Sontal Aizka melototkan matanya dengan penyataan yang Putra buat tanpa persetujuan darinya.
"Maksud kamu? "balas Aizka. Ia berusaha menormalkan detak jantung dan hirupan udara yang keluar dari hidungnya.
"Mulai sekarang kita Pacaran, kamu jadi pacar aku Ai, karena dari awal aku ngeliat kamu, aku udah langsung suka sama kamu. " ucap Putra sambil berlutut di kaki Aizka
Melihat tingkah Putra seperti itu, membuat semua orang menyita perhatiannya ke meja mereka dan menunggu jawaban dari Aizka.
Aizka melihat kekanan dan kekiri. Ia merasa ngeri dengan tatapan-tatapan yang melihat Putra dan dirinya. Ia berusaha menyuruh Putra untuk kembali ketempat duduknya. Namun usahanya itu sia-sia. Putra semakin meyakinkannya dan memegang tangan kiri Aizka lalu menyematkan cincin bermata ungu di jari manis Aizka.
Aizka tidak bisa berkata-kata lagi. Ini terlalu cepat menurutnya, perkenalan yang singkat dan pertemuan hanya beberapa kali tetapi membuat lelaki ini sangat berani menyatakan perasaannya di depan banyak orang. Bahkan di restoran yang serem ini. Menurutnya, Putra adalah lelaki yang dingin dan tegas. Tetapi dibalik itu semua, Putra mempunyai sisi romantis dan kasih sayang yang begitu dalam untuk dirinya tanpa ia ketahui.
"Put, udah dong. Malu diliat orang" ucap Aizka berbisik ditelinga Putra
"Biarkan Ai, biar mereka menjadi saksi bahwa aku sangat menyukai dan menyayangi seseorang yang sangat sederhana dan baik hati seperti mu" ucap Putra lembut namun tangannya tak lepas dari tangan Aizka.
Aizka hanya mampu menganggukan kepalanya tanpa berkata-kata lagi. Seketika ia meneteskan kembali airmatanya mengingat bagaimana ia keluar dari masalah dan bebannya dahulu waktu di tinggalkan Joe. Ia menyadari kebahagiaan akan datang tepat pada waktunya, dan ini lah hasil kesabarannya selama ini. Sekarang ia bersama Putra. Bersama Lelaki yang tidak sengaja bertemu dengan nya dan kini menjadi Pacarnya. Ia berharap Putra yang terakhir untuknya.
Setelah semuanya selesai, Putra pun mengantarkan Aizka pulang kerumahnya. Kali ini Aizka tidak pulang kerumah Ibunya, ia akan kerumah Mamanya. Tentu membuat Putra bingung, karena arah yang ditunjukkan Aizka berbeda dengan arah jalan pulang yang kemarin ia mengantarkan Aizka.
"Ini kan bukan jalan kerumah mu Ai? " tanya Putra
"Tentu aja ini jalan kerumah Ai, mana mungkin Ai tiba-tiba amnesia setelah menjadi pacar lelaki tampan seperti mu Put. " ucap Aizka.
"Tapi....." Putra tidak meneruskan ucapannya. karena disuruh berhenti oleh Aizka tepat di depan rumah megah yang berhalaman luas itu.
__ADS_1
"Ini rumah Ai, yang kemarin juga rumah Ai. Ai punya dua rumah. " ucap Aizka yang mengerti akan kebingungan Putra.
"Karena ini malam, kamu masuk gih. Ntar lain hari kamu bisa cerita. " balas Putra
"Oke, makasih ya Put"
Aizka melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, namun beberapa langkah ia pergi Putra memanggilnya dan......
'Cup' 😘
Putra mencium kening Aizka dan berlari masuk kedalam mobilnya.
**
Setelah kejadian itu, Aizka tidak langsung pergi kekamarnya. Ia terpaku sambil memegangi kening yang tiba-tiba dicium oleh Putra.
"Kesambet Woi!!!! " sapa Winda yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Ya ampon Ndot, Ai kira kamu **** guling tadi" Ucap Aizka dengan tawanya yang bisa membuat telinga Winda tuli seketika.
"Diam!!!!!!! berisik banget sih lu Ai" Celoteh Winda yang langsung ditinggal Aizka naik keatas dan masuk ke kamarnya.
"Ceh!! kebiasaan tuh anak kalau sedang jatuh cinta!! otak nya overdosis!! " bathin Winda dan langsung mengikuti Aizka.
Putra memasuki rumahnya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
"Dari mana saja kamu!!! " ucap Lala teriak sambil menghempaskan majalah yang berada di tangan kirinya.
"Dari tempat temen Ma. " jawab Putra Singkat
"Alasan aja kamu! bilang saja kamu berduaan sama gadis miskin yang keluarganya gak jelas! " balas Lala yang masih meninggikan suaranya.
"Dia jelas! bahkan sangat jelas! bukan seperti gadis pilihan mama itu! " balas Putra
"Oh, jadi seperti ini kamu sekarang ya! sudah berani kamu melawan Orang tua. Sangat hebat gadis itu mempengaruhi otak mu! " ucap Lala semakin emosi.
"TERSERAH MAMA! " balas Putra dan pergi meninggalkan Lala yang belum selesai berbicara dengan nya.
Lala yang melihat anaknya begitu, ia merasa gagal menjadi Ibu dan ia tidak menyangka Putra sangat berani berbicara kasar dan sakartis kepadanya.
*
Putra menghempaskan tubuhnya di sofa, ia merasa tidak habis pikir dengan kelakuan dan tingkah mamanya. Ia begitu frustasi dengan semua masalah yang di hadapinya. Hanya dengan mendengar suara Aizka bisa membuatnya lebih baik dari ini.
__ADS_1
Putra mengambil ponsel dari dalam sakunya, ternyata ada notifikasi setelah ia membuka kunci pada layar. Ternyata Aizka mengirimlan sebuah pesan singkat kepadanya berupa ucapan terimakasih. Ia pun membalas pesan dari Aizka.
*
Sementara Winda yang melihat sahabatnya semakin gesrek hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Winda mendekati Aizka dan langsung memeriksa kening sahabatnya itu.
"Lu masih waras?? " cerocos Winda karena melihat Aizka tidak berhenti tersenyum setelah ia pulang tadi.
"Sakit Ndot" balas Aizka singkat
"Apaan sakit? kan gua cuma meriksa kening lu sih Ai"ucap Winda
"Hati Ay yang sakit Ndot, karena baru beberapa jam tidak bertemu dengan Putra rasanya Sakit banget menahan Rindu" balas Aizka lagi dengan bibirnya yang masih mengulas senyuman.
Winda yang mendengar ucapan Aizka langsung melototkan matanya. Ia tidak menyangka Putra membawa pengaruh besar dengan Aizka.
"kenapa sekarang Aizka jadi bucin?? Ah bodo amat, yang penting dia bahagia. Semoga Putra cowok yang terakhir buat Aizka" bathin winda.
"Gua ke toilet dulu! " Kata Winda sambil berlalu dan keluar dari kamar sahabatnya itu
Aizka tidak menggubris perkataan Winda, ia sibuk mengutak-atik ponselnya.
Mama Aizka yang melihat Winda menuruni anak tangga sendirian merasa aneh, karena biasanya Winda dan Aizka selalu bersama-sama bahkan ketoilet saja berdua dalam 1 toilet.
"Aizka mana Win? " Tanya Mamanya Aizka
"Dikamar Tan, lagi telponan" ucap Winda berbohong. Karena sangat tidak mungkin ia mengatakan bahwa Aizka lagi bucin.
"Oh, kamu mau kemana? " tanya Liza lagi
"Ketoilet Tan"
"Loh, bukannya dikamar Aizka ada toilet ya?? kenapa kamu turun kebawah?? " balas Liza lagi
Winda diam, ia bingung mau menjawab pertanyaan dari Liza.
"Tan, itu di sana ada kapal laut" ucap Winda lagi dan langsung berlari kedapur karena memang ia sesak pipis.
TBC
Hay Guys, Gadis recehan balik lagi nih, kali ini Story nya agak gajelas banget yakk.. wkwkwwk.. maaf keun kalau banyak yang ganyambung yak 😁🙏🙏
__ADS_1
Untuk kedepannya Aku bakalan Slow Update Guys.. mohon pengertiannya yaa 🤗❤