
Rey sudah berada dibawah saat kedua orang tuanya terlihat memasuki ruang tamu. Ia tersenyum ketika mereka menyadari keberadaannya
"Ini dia dokter kebanggaan ayah" Theo memeluk Rey dengan bangga "Baru pulang, nak?" Tanya ayah theo, kemudian laki-laki itu menggandeng tangan Rey untuk duduk disofa.
"Dari tadi yah" Sahut Rey sekenanya karena melihat Raisha yang baru saja datang dari dapurpun nampak membawa 2 gelas minuman lalu menyimpannya di atas meja
"Gimana kerjaan kamu, Rey?"
"Seperti biasanya Bu, tapi nambah sibuk soalnya harus nanganin 1 pasien special" Sahut Rey yang mana membuat Theo dan raisha penasaran.
"Special?"
"Karena dia anak dari pemilik rumah sakit tempat aku kerja, Bu" Ujar Rey pada raisha. raisha hanya menganggukan kepalanya paham
"Ayah yakin pasti perempuan?" Tebak ayah Theo, ia melihat wajah putra nya tersenyum berarti tebakannya tepat.
"Cantik dong?"
Tanpa sadar Rey jadi membayangkan kembali wajah gadis itu, meskipun perjumpaan mereka saat gadis itu pingsan tapi Rey begitu terpesona melihat kecantikan nya "Banget!"
Theo dan raisha hanya saling tatap lalu tersenyum melihat anak pertamanya itu yang terlihat sedang jatuh cinta
🌻
Setelah mandi dan menggunakan piyama tidurnya, Nayla pergi ke balkon kamar lalu nongkrong disana. Ia mengingat kembali saat mengantarkan rayyan, laki-laki yang mampu membuatnya tertarik
Kemudian ia membuka buku diary yang sudah ia ketakan di meja dekat dengan pintu, ia duduk disana menceritakan semua kejadian tadi siang
Saat sedang asyik menulis tiba-tiba setetes darah jatuh menimpa buku, Nayla yang sadar segera menyentuh hidungnya dan ternyata hidungnya mengeluarkan darah kembali
"Darah lagi?"
Setelah membersihkan hidungnya, ia turun untuk mencari ibu Aiko yang sedang membuat sesuatu di dapur dengan beberapa maid yang membantu
"Ibu"
"Apa sayang, ibu didapur!"
Nayla menghampiri Aiko lalu memeluknya, Nayla menangis dipelukan Aiko dan membuat wanita itu panik
"Hey kenapa sayang, ko nangis?" Aiko semakin cemas melihat Nayla mengeluarkan air mata nya
"Bu aku takut"
Aiko berusaha melepaskan pelukan Nayla, ia menangkup kedua pipi putrinya dan menatapnya lekat, "Takut kenapa?"
"Aku mimisan lagi, Bu"
"Aku takut"
Aiko langsung membawa Nayla kedalam pelukannya, ia juga sama takutnya dengannya apalagi ia sudah mengetahui jika anaknya sedang tidak baik-baik saja
__ADS_1
Aiko mengelus punggung putrinya dengan lembut, ia berusaha bersikap sewajarnya, menenangkan gadis yang sedang dipeluknya
"Ay, Dengerin ibu" Ucap Aiko menenangkan putrinya yang masih terisak "Janji satu hal sama ibu, mau?"
Nayla menghentikan isakannya, ia melihat ibu nya terlihat sangat serius "Apa?"
Aiko menghela nafas panjang, ia harus mengatakan semuanya besok agar Nayla mulai menjalani pengobatannya sebelum penyakitnya semakin parah
"Apapun yang terjadi kamu jangan pernah putus asa, okey. 약속 해" (Berjanjilah) Aiko menghapus jejak air mata Nayla lalu mengecup kedua pipi gadis itu dengan rasa yang entah tidak bisa ia jabarkan
Nayla hanya menganggukan kepalanya, lalu kembali memeluk Aiko
"Besok kita ke rumah sakit lagi, jangan bawa mobil biar ibu antar"
🌻
Billy menghampiri papa nya yang sedang di ruang kerja nya, profesi sebagai dokter ahli onkologi membuat Ben selalu sibuk. Meskipun berada dirumah tetap saja ia harus mengecek kembali hasil laporan tentang kesehatan pasiennya
"Pah, boleh Billy masuk?"
"Ada apa bil, tumben?"
"Aku mau tanya sesuatu sama papa"
"Apa itu sayang?"
Billy mengeluarkan satu tablet obat bulat berwarna oranye tua lalu memberikannya pada Ben
"Dapet dari mana kamu?" Tanya Ben kaget karena ia tau jenis apa obat yang ditunjukan oleh putra nya itu
"Udah papa jawab aja, itu obat apa?"
"Kamu tau, itu obat untuk orang yang sedang menjalani pengobatan kanker darah"
Deg!
Apa, kanker darah?
Berarti Nayla?
Engga, engga mungkin!
Billy segera berlari keluar ruangan papa nya, ia mengambil jaket lalu pergi untuk menemui Nayla. ia tidak percaya dengan ucapan papa nya sebelum ia menanyakan langsung pada Nayla
Mobil mewah itu sudah memasuki pekarangan rumah Nayla, Billy langsung keluar dan menekan bel beberapa kali. Nayla yang membuka pintu tersentak kaget saat melihat Billy langsung memeluknya tanpa mengucapkan sepatah katapun
Nayla bingung dengan laki-laki itu, nafasnya terdengar tak beraturan. entah apa yang terjadi dengannya, Nayla tidak mengerti
Ia hanya diam saja saat Billy mempererat pelukannya
Setelah dirasa cukup tenang, perlahan Billy melonggarkan pelukannya ia menatap lekat wajah Nayla yang kebingungan oleh kelakuannya
__ADS_1
"Ay"
"Loe kenapa sih bill?" Tanya Nayla aneh, tidak biasanya Billy seperti itu "Masuk dulu yuk!" Ajak Nayla menarik tangan Billy yang masih terdiam.
Kini mereka sudah duduk di taman samping ruang keluarga, Nayla sengaja mengajak Billy ke sini agar laki-laki itu bisa leluasa menceritakan apa yang membuatnya seperti ketakutan
"Ada apa, hemm?" Tanya Nayla lagi, ia menatap Billy yang masih diam. laki-laki itu bingung harus bertanya dari mana dulu, ia takut akan menyinggung perasaan gadis itu
"Ay, loe gak apa-apa?" Sahut Billy yang terdengar ambigu bagi Nayla. Gadis itu terlihat bingung
"Gue?" Tunjuknya pada diri sendiri.
Billy mengangguk
"Gue kenapa emangnya, gue baik-baik aja. emangnya gue kenapa?"
Billy hanya menggeleng, ia mengurungkan niat nya untuk bertanya lebih jauh lagi. Sepertinya Nayla pun tidak mengetahui keadaanya.
Yang ia tuju sekarang adalah kedua orang tua Nayla
"Loe kenapa sih, aneh tau gak!" Ucap Nayla sebal
"Sorry, gue mimpi buruk tadi makanya gue langsung kesini" Kilah Billy tidak mau membuat Nayla curiga
"Dasar loe ya, makanya kalau sore itu jangan tidur, gila nanti" Seloroh Nayla mencairkan suasana yang sempat tegang. Ia menyenderkan kepalanya pada pundak laki-laki itu
Billy terkekeh lucu menanggapi gadis yang sedang menyender di pundaknya itu. Kemudian hening
"Bill"
"Hem?"
"Kalau gue gak ada, loe gimana?" Mendongkakan kepalanya, tatapan mereka bertemu "Loe mau nikah sama siapa?"
"Emangnya loe mau kemana, loe mau kabur dari gue?" Menatap lekat wajah Nayla yang tersenyum, "Gue bakal ikut loe pergi"
Nayla tertawa mendengar jawaban laki-laki yang sejak kecil terus merengek ingin menikah dengannya itu
"Ay"
Billy mendekatkan wajahnya namun dengan cepat Nayla mendorong wajah Billy yang akan menciumnya, ia belum bisa melakukannya. entah kenapa sampai saat ini hatinya masih belum bisa menerima Billy, padahal mereka sudah bersama sejak kecil.
Ia sayang dengan Billy tapi rasa sayang sebagai sahabat, bukan yang lain. Mungkin ini terdengar tidak adil bagi Billy yang selalu ada di samping Nayla dan menjaganya, tapi perasaan memang sulit untuk di paksakan.
"Sorry" Ucap Billy karena telah lancang ingin mencium gadis itu. Billy membawa Nayla ke dalam pelukannya, Billy paham Nayla belum bisa membuka hati untuknya jadi ia tidak akan memaksa.
🌻
Billy davidson
__ADS_1