1000 Hari

1000 Hari
Chapter 10


__ADS_3

"Sedo bengi mangkuk nang rogo iku ngunu undangan gawe lelembut"


(raga yang di buat mati adalah sebuah undangan bagi makhluk seperti mereka) kata mbah Tamin, 


"awakmu lali, perintahku Sri, iku ngunu bahaya, isok mateni Dela, ojok sampe lali maneh yo Sri" (kamu lupa dengan perintahku, itu sangat berbahaya, bisa membunuh Dela, jangan ulangi ya)


Erna yg sedari diam saja,a ikut berbicara. "mbah, enten nopo sami Dela, kok isok Dela kate mateni kulo kaleh Sri" (Mbah tolong kasih tahu, apa yg terjadi sama Dela, kok bisa bisanya, dia mau bunuh saya dan Sri)


mbah Tamin duduk lagi, lalu mengatakan "berarti wes ndelok"


(berarti kamu sudah lihat)


"iku ngunu Cayajati, sing kepingin mateni Dela, tapi ra isok, mergane cayajati butuh singgarahane, koyok sak bojo, Santet sewu dino, mek di nduwei ambek wong pados sing wes podo siap mati"


(itu adalah Cayajati, yang ingin membunuh Dela, tapi tidak bisa karena ia butuh Singgarahane, seperti sepasang suami isteri, santet seribu hari, hanya di miliki oleh orang yang siap menanggung dosa, dan siap mati bersama)


Sri dan Erna masih terlihat bingung, ia tidak mengerti

__ADS_1


mbah Tamin menerawang jauh, menatap sisi hutan tergelap yang Sri saksikan dengan mata kepala sendiri, mereka tidak sendirian di hutan ini.


dengan suara berat, mbah Tamin mengatakanya.


"terlalu awam, kango ngerti iki" (terlalu awal untuk mengerti ini)


"intine, ilmu santet sewu dino, iku pembuka ritual, kanggo mateni sak keluarga sampe sekabehe keturunan iku entek" (intinya, ilmu santet seribu hari, adalah pembuka ritual, untuk menghabisi satu garis keluarga sampai habis keseluruhanya)


setelah percakapan itu, mbah Tamin melangkah masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya, membiarkan semua kejadian itu, meluap, begitu saja.


dengan pertanyaan besar, yg masih menggantung di atas pikiran Sri dan Erna?!


sampai, terdengar langkah kaki


Sri yg pertama mendengarnya.


ia berdiri untuk melihat, dari jauh, sosok hitam muncul dari balik kabut. perawakanya familiar.

__ADS_1


denah pondok rumah, memang sederhana, dari teras maupun kamar mandi, bisa melihat keseluruhan area sekitar, sehingga, sosok mendekat itu, terlihat jelas


semakin dekat sosok itu, Sri semakin yakin, dan benar saja, ia mematung sesaat, sebelum Dini ikut berdiri dan melihat apa yg membuat Sri tampak tercekat dalam ekspresi wajahnya, manakala, ia melihat, mbah Tamin mendekat ke arah mereka dengan wajah yg letih.


ketika, mbah Tamin berdiri di depan Sri, ia seraya bertanya, apakah petuah beliau sudah di jalankan.


Sri hanya diam, bibirnya gemetar, Dini lah yg berinisiatif mengambil situasi, ia berucap lirih.


"mbah, sampeyan mambengi mboten mantok ta" (mbah, bukanya semalam, anda pulang)


mbah Tamin yg mendengar itu, tiba-tiba mengejang, otot wajahnya mengeras, lantas memandang Sri dengan ekspresi tidak percaya, ada kemarahan dalam tatapanya.


"awakmu gak wes tak kandani ta, ojok MBUKAK LAWANG"


(bukanya, kamu sudah tak kasih tau, jangan BUKA PINTUNYA)


terjadi ketegangan dalam situasi itu, sampai, tiba2, mbah Tamin mencengkram leher Sri, Dini yg melihat itu, panik.

__ADS_1


"SOPO SING MOK OLEHI MELBU OMAH, NANG NDI MAKHLUK IKU!!" (SIAPA YG KAMU IJINKAN MASUK, DIMANA SEKARANG DIA BERADA)


__ADS_2