1000 Hari

1000 Hari
Chapter 25


__ADS_3

hening..


sesuatu baru saja membasahi tubuh Sri, baunya amis, darah


darah kental itu, membuat Sri merasa tidak nyaman, tanpa sadar, ketakutan sudah merasukinya, ia tersenggal, karena di dalam lubang itu, Sri kesulitan untuk bernafas,


tiba-tiba, Dini berteriak lagi, kali ini, ia meronta dari suaranya, seperti ia tengah disiksa


suara Dini, lalu, suara Dela, suara mereka saling bersahutan satu sama lain, Sri yg tidak bisa melihat apa yg terjadi, hanya bisa gemetar, menahan ketakutan yg semakin menguasainya, mbah Tamin, sedang membalas perbuatan si pengirim santet,


lalu, Sri merasakan tubuhnya mati rasa


rasanya, seperti terjebak dalam keadaan tidak sadar, seakan Sri tidak lagi bisa merasakan apapun, namun, rupanya, itu hanya awalnya saja, sebelum, rasa sakit seakan merobek-robek daging di tubuhnya


Sri berkelakar, itu adalah rasa sakit terhebat yg pernah ia rasakan

__ADS_1


suara Sri menggelegar, mereka sama-sama berteriak, namun, ada suara lain yg ia dengar, suara seorang lelaki, ia tidak hanya berteriak, ia mencaci maki dengan suaranya yg gemetaran, suara asing yg tidak di ketahui darimana datangnya


suara si pengirim santet


kesakitan itu benar, membuat Sri tidak tahu seperti apa ia harus menggambarkanya, karena setelah sentakan itu, nyawanya seperti di tarik, saat itulah, Sri yakin melihatnya, Dela, selama ini, menggendong seorang wanita, ia memiliki perut buncit, hanya saja, sosok itu, tak berkaki


selama itu juga, Sri melihatnya lagi, selama Dela dikurung dalam keranda bambu kuning, sosok wanita itu, mendampinginya, menjilati borok dan luka biru Dela dengan lidah panjangnya yg selama ini Sri lihat seperti penyakit menjijikkan, dan sosok itu, melotot melihat Sri


lalu, Sri melihatnya, sosok yg datang bertamu pada malam itu rupanya, adalah seorang lelaki, Sri tidak mengenal siapa lelaki itu, hanya saja, si lelaki mengacak-acak kamar si mbah, namun tampaknya ia tidak mendapatkan benda yg ia cari, lalu ia mengambil kain hitam itu, menukarnya


ia hanya meninggalkan sebuah patek "peti mati" bertuliskan Atmojo, lalu pergi begitu saja


nyawa dibayar nyawa


lelaki itu, ia memiliki sesuatu yg sama seperti Dela, kembar, hanya saja, ia senantiasa berjalan di belakangnya, kakinya panjang nyaris 2 kali tinggi si lelaki, ia terus menerus mengikutinya,

__ADS_1


"Banarogo"


Sri terbangun, dengan kaki lumpuh, ia melihat mbah Tamin, menatapnya


didepanya, Dela berdiri, meski berlumuran darah yg sama seperti Sri, Dela menatapnya, ia membungkuk berterimakasih, Dini, hanya duduk, matanya kosong, mereka semua sama, berbagi rasa sakit, namun tidak bagi si pengirim santet, mungkin ia, sudah tewas saat ini.


mbah Krasa mendekati Sri, memberinya handuk untuk membersihkan badannya, iya ikut menuntun Sri, membasuhnya dengan air, lalu mengantarkanya ke kamar, ia butuh istirahat, sampai tubuhnya, pulih kembali


Sri hanya diam saja, ia terus mendengar mbah Krasa bahwa si pengirim pantas mendapatkanya, atas perbuatanya selama ini terhadap keluarganya,


bahkan, mbah Krasa sudah berjanji, Sri akan mendapatkan sesuatu yg pantas, uang, bukan masalah baginya


setelah, mbah Krasa selesai memandikan Sri, ia mengantarkanya di kamar, untuk terakhir kalinya, mereka saling melihat satu sama lain, sebelum akhirnya, mbah Krasa bersiap untuk pamit pergi, namun Sri, mengatakanya


"sing asline jahat, iku dee opo njenengan mbah"

__ADS_1


(yang sebenarnya jahat disini, dia apa anda mbah?)


ucapan itu, membuat mbah Krasa menghentikan langkahnya, tanganya yg tengah membuka pintu, kembali menutupnya, senyuman yg tadi terpancar di wajahnya, kini, kian pudar menatap wajah Sri yg penasaran


__ADS_2