
Sri menutup pintu, menguncinya, ia terlalu lelah malam ini. apa yg ia lihat, ingin ia lupakan dalam tidurnya.
saat Sri memejamkan mata.
seseorang membelai rambutnya. memakasanya untuk melihat sesiapa yg tengah menganggu tidurnya.
"Dela" kata Sri saat melihatnya.
"kok isok" (bagaimana bisa)
"aku, ket mau nang jeroh kamarmu loh Sri, nang nisor bayangmu, wong tuwek iku, gak goleki aku kan"
(aku dari tadi sebenarnya ada di dalam kamarmu loh Sri, tepatnya di bawah ranjangmu, apa orang tua itu masih mencari saya)
"aku jalok tolong, sak iki, nyowomu nang tangane wong tuwek iku, nek awakmu nuruti aku, awakmu isok selamet, lan tak duduhi perkara masalahe, awakmu percoyo ambek aku ndok"
(aku minta tolong, sekarang, nyawamu ada di tangan si mbah, kalau kamu menuruti apa kata saya-
-kamu akan selamat, dan tak kasih tahu sumber masalahnya, kamu percaya sama saya kan)
"tolong opo" tanya Sri ragu. ia masih ingat bagaimana ia melakukan kesalahan fatal itu.
__ADS_1
"obongen payung pendusan iku gawe aku" (bakar payung orang meninggal itu, untuk saya)
Dela melangkah pergi, ia memberikan tatapan terakhir kepada Sri, seakan yakin, Sri akan melakukannya
Malam, semakin larut, Sri melihat sebuah mobil datang, Sugik. ucap Sri mengawasi dari jendela, mbah Tamin dan Dini, melangkah masuk ke dalam mobil, mereka pergi dari kediaman ini
Sri hanya membatin, kemana mereka pergi, dan kenapa ia tidak diajak pergi, semua ini tiba-tiba mengingatkannya pada pesan Dela, nyawanya ada di tangan, si mbah
meski ragu, Sri membuka pintu, ia melihat Dela, tersenyum, berdiri didepan kamar, seakan, sudah menungguinya.
Sri dan Dela menyusuri rumah, ia pergi ke dapur, mencari korek dan minyak tanah, kemudian, mulai berjalan ditengah kegelapan malam
Bulan sedang tidak menampakkan diri, Sri berdiri, disudut sebuah pagar, disana, ada sebuah payung kecil berwarna hijau, "payung penduso" ucap Sri
Sri menyiram payung itu, membakarnya, setiap kobaran api yang menyala-nyala, Dela tertawa melihatnya, ia seperti menari-nari
Sri seperti ikut dalam setiap bisikan Dela ketika ia menunjuk dimana saja, payung itu disembunyikan, dan setiap satu payung terbakar, Dela menari-nari, merentangkan tangan, tertawa begitu senang, sampai, Sri menatap, payung terakhir
payung itu, terletak tepat didepan lukisan itu
Sri berhenti, ia melihat lagi lukisan itu, memperhatikan setiap detail siapa yang dilukis dalam balutan palet warna yg seakan familiar di mata Sri, apa maksud lukisan itu, seakan ia, mengenal siapa yg ada dalam lukisan
__ADS_1
sampai, Sri baru memahami sesuatu, namun Dela tiba2 berbisik
"kok ragu Sri"
Dela melihat Sri, mengawasinya, dari ujung kaki hingga ujung kepala, tatapannya, membuat Sri merinding, ia masih tersenyum, memaksa Sri melakukannya
"wes sadar yo, sopo aku" (sudah sadar ya, siapa saya)
Sri beringsut mundur, namun, Dela terus mendekatinya
Sri langsung berlari, sementara Dela hanya melihatnya begitu saja, ia tidak tahu apa2, tidak sampai ia yakin sekarang, ia mengerti semuanya
kenapa ia bisa sampai ada disini, siapa Sengarturih dan Banarogo yg sebenarnya, dan tempat ini, semua ini adalah?!
Sri tersandung, jatuh
Sri merangkak, lantas, ia kemudian bersembunyi
Dela barusaja datang, suara langkah kakinya, bayanganya ketika melewatinya, seakan membuat Sri hampir kehilangan akalnya, Sri terus diam, Dela tidak akan tahu dimana ia berada
sebelum, "SRI"
__ADS_1
Dela menarik rambut Sri, mencengkramnya
Sri melawan sebisanya, namun, ia tidak bisa menghadapi bala kekuatan yg entah darimana datangnya, Dela seperti orang kesurupan, caranya menghantam wajah Sri dengan telapak tanganya, membuat wajah Sri babak belur, bahkan, ia menginjak wajah Sri dengan kakinya