
"iyo, cara ngedusine, pancen onok tata carane, salah sijine, kembang pitung rupo" (iya, cara memandikanya, memang berbeda, ada tata caranya, salah satunya, bunga 7 rupa)
mbah Tamin menunjuk sebuah tempat khusus, dimana, ada bunga dengan rupa berbeda, di letakkan di atas tempeh
dengan cekatan, mbah Tamin mengisi baskom dengan air, mencampurinya dengan bebungaan itu, membawanya ke kamar tempat Dela tertidur
lalu, ia melihat Sri, memanggilnya, Dini dan Erna hanya mengamati saja
ia diminta mengikat tangan dan kaki Dela, Sri menuruti apa kata mbah Tamin
walau sebenarnya ia bingung, kenapa Dela harus diikat, setelah Sri menyelesaikan tugasnya, mbah Tamin baru membuka keranda bambu kuning itu, ia mulai membasuh badan Dela, Sri ikut membantu, dan disana, Sri menemukan fakta mengejutkan lain
perut Dela, membesar seperti mengandung
Sri yg membasuhnya, menatap mbah Tamin dengan tatapan bingung dan kaget, namun mbah Tamin tampak mengerti apa yg ingin Sri tanyakan, setelah selesai dengan semua itu, Keranda kembali di tutup, dan kain yg mengikat Dela di lepas satu persatu.
__ADS_1
mbah Tamin melangkah pergi.
"mbah" kata Sri, mengejar mbah Tamin, di belakangnya ada Dini dan Erna yg tidak tahu apa yg baru Sri lihat
"engkok, tak ceritani, nek awakmu wes siap" (nanti saya ceritakan kalau kamu sudah siap saja) kata mbah Tamin, "tugasmu kabeh, ngurus Dela" (tugas kalian mengurus Dela)
sudah 3 hari berlalu, Sri, Dini dan Erna, bergantian mengurus Dela, mulai memandikanya, memberinya minuman, gadis itu, lebih seperti gadis yg tengah koma di bandingkan gadis yg di santet entah oleh siapa dan bagaimana latar ceritanya, masih terlalu awam untuk tahu, pikir Sri
entah sudah keberapa kali, Sri mendengar Erna dan Dini berbicara tentang Dela, berbicara tentang bau busuk yg keluar dari tubuhnya, sampai kalimat tidak menyenangkan lainya saat mereka tinggal di tempat ini, dan betapa misteriusnya lelaki tua bernama Tamin itu, Sri memilih diam
suatu sore, mbah Tamin pamit, ia akan pergi
ia berpesan kepada Sri dan yg lainya, untuk tetap menjalankan tugasnya, dan tidak melupakan pantangan yg sudah ia ucapkan, salah satunya, untuk tidak lupa mengikat Dela saat membuka keranda itu.
tidak lupa, mbah Tamin juga berpesan, untuk tidak membukakan pintu, pada malam ini.
__ADS_1
siapapun dan bagaimanapun, jangan membuka pintu, ucap mbah Tamin, sebelum ia pergi, melangkah menembus pepohonan hutan.
Sri yg mendengarnya, merasa merinding setiap ingat pesan orang tua itu.
hari sudah gelap, Sri menutup pintu dan jendela, lalu pergi ke kamar, disana ia melihat Dini sudah tidur, di sampingnya Erna tengah meringis menahan sakit,
"koen kenek opo Er?" (kamu kenapa Er) tanya Sri,
"Sri, aku oleh jaluk tulung" (Sri, aku boleh minta tolong tidak)
"jalok tolong opo?" (minta tolong apa?)
"engkok bengi, wayahku ngadusi Dela, isok mok ganteni, mene, wayahmu tak ganteni" (malam ini giliranku memandikan Dela, bisa kamu gantikan, besok, ganti aku yg gantikan kamu)
awalnya, Sri keberatan, namun, melihat kondisi Erna, Sri setuju
__ADS_1
setelah menerima permintaan Erna, Sri bersiap mengambil air, ia lupa, bahwa air di gentong dapur sudah habis, terpaksa ia membuka pintu, bersiap untuk menimba air dari sumur.