1000 Hari

1000 Hari
Chapter 15


__ADS_3

sejauh mata memandang, hanya bayangan pohon, dan kabut tebal, yg Sri seringkali temui, sisanya, hanya suara gemeresak kakinya menembus semak belukar yg terkadang menggores kulitnya.


selain itu, hembusan nafas Sri lebih berat, karena ketakutan sudah menemaninya semenjak keluar


sudah tidak terhitung, berapa banyak ia melintasi pohon besar, mata Sri awas melihat sekeliling, sementara tangan dan kakinya meraba apapun yg bisa ia pegang hanya agar ia tidak terjerembab pada tanah yg tidak rata, namun, Sri masih belum menemukan tanda keberadaan Dela.


bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami, mencari Dela di tengah kegelapan hutan seperti ini, berjalan dari satu tempat ke tempat lain rasanya mustahil, mustahil ia bisa menyisir keseluruhan hutan, sampai, Sri merasa ia tahu dimana keberadaan gadis itu, semoga itu benar


Sri bisa melihat tempat itu bahkan dari jauh.


bayangan hitam besar, rimbun itu, seakan tidak kehilangan kengerianya sedikitpun, meski kaki Sri letih, menempuh jarak sejauh itu, ia mendekati pohon beringin itu, tempat dimana ia menemukan boneka itu.


terdengar suara langkah kaki Sri yg menembus semak, kini, ia berdiri tepat di bawah pohon itu, melihat Dela yg seperti sudah menunggunya, ia hanya duduk, menggoyangkan kakinya, seakan tahu, Sri akan menemukanya.


gerak tubuh Dela, membuat Sri tidak nyaman, terkadang, ia menggedek kepalanya, seakan tulang lehernya tidak dapat menyangga isi kepalanya.


"wong tuwek iku, rupane gak goblok yo" (orang tua itu, rupanya tidak bodoh ya) kata Dela, "percuma, aku ra isok metu tekan alas iki"

__ADS_1


(percuma saja, ternyata, aku tetap tidak dapat keluar dari hutan ini)


Sri hanya diam, ia, juga bingung harus melakukan apa. 


"wes cidek waktune, diluk engkas" (sudah dekat waktunya, sebentar lagi)


kalimat terakhir Dela seperti memberi isyarat tentang sesuatu.


"jek rong ngerti" (masih belum ngerti) "rambut sing di culi kancamu iku, mbok pikir opo" (rambut yg di lepas temanmu kamu pikir apa)


sosok itu mengangguk, "teros"


mata Sri terbelalak mendengarnya.


"mbok pikir aku sengojo mbujuk awakmu to" (kamu pikir saya sengaja menipumu kan) jek rong ngerti pisan (masih belum mengerti juga)


"Erna" kata Sri, 

__ADS_1


seketika itu, Dela tertawa, ia tidak pernah melihat suara tertawa semengerikan itu


Sri kmbali ke rumah tanpa Dela, langkah kakinya berat memikirkan kemungkinan yg Sri pikirkan dari tadi, dan saat ia masuk ke rumah, ia bisa melihat genangan darah


Sri mengikuti jejak darah itu, yg berakhir di kamar mereka, disana, ia melihat Dini, menutupi wajah Erna dengan kain


"Erna mati Sri, muntah getih" (Erna meninggal Sri, dia muntah darah)


Sri bisa melihat wajah Erna, hidung dan bibirnya, bersimbah darah, sama seperti patung yg Erna banting, dimana di bagian kepala si patung. hancur, sekarang ia tahu penyebab sebenarnya santet ini.


Sri akhirnya menjelaskan semua kepada Dini, apa yg terjadi kepada Erna, apa yg terjadi kepada Dela, apa yg di sembunyikan orang tua itu, apa yg tidak dikatakan tentang pekerjaan ini.


semuanya, berujung pada pemindahan santet saja, karena mereka yg memiliki garis weton sama


Sri mengambil boneka itu, menunjukkanya kepada Dini.


"boneka iki, media kanggo nyantet Dela, dibulet rambute Dela ket awal, sopo sing wani mbukak rambut iki, kudu siap konsekuensi nompo santet'e Dela, masalahe, nek wong biasa seng bukak, mek nekakno nyowo dados"

__ADS_1


__ADS_2