
setelah melihat Sri dengan tatapan sumringahnya, Dela beralih pada Dini, ia melakukan hal yg sama, Sri hanya bingung, ia tidak pernah melihat ini sebelumnya, apa yg membuat Dela yang ini, sangat berbeda dengan Dela yg selama ini, Sri lihat.
mbah Tamin, hanya mengamati saja.
setelah berbasa-basi, mbah Tamin mempersilahkan Sri dan Dini masuk, didalam, Sri langsung bisa merasakan bahwa rumah ini, jauh berbeda dari rumah gubuk itu, rumah disini, berkali2 lipat lebih besar, tentu dengan nuansa jawanya yg kental, meski begitu, Sri merasa ngeri memasukinya
setiap ruangan di rumah, besarnya bukan maen, banyak lukisan dengan corak kental adat budaya jawa yg bisa Sri saksikan langsung, namun, dari semua itu, ada satu lukisan yg menarik perhatian Sri, sebuah lukisan yg familiar.
Sri menatap lekat-lekat foto itu.
seorang wanita tengah berpose dengan sanggul, mengenakan kebaya, menatap lurus, ia tengah memegang jabang bayik.
yg membuat Sri tidak bisa mengalihkan perhatianya adalah, jabang bayik di lukisan itu, memiliki 2 kepala.
"Sri, kamarmu nang mburi, ayok tak terna" (Sri kamarmu ada di belakang, sini, aku antar) kata mbah Tamin
__ADS_1
Sri baru menyadari, Dini tidak ada di belakangnya, entah kemana, ia mengikuti mbah Tamin, menelusuri setapak demi setapak dan melihat banyak ruangan tanpa pintu.
Kamar Sri hanya ruangan kecil, dengan beberapa perabot tua, ia tidak lagi sekamar dengan Dini, hanya ada jendela yg di tutup oleh Gorden, disana, mbah Tamin mengatakanya.
"nek wes jam 12, lawang kamarmu ojok lali di tutup, ojok sampe mok bukak yo, pesenku iku tok"
(kalau sudah jam 12, pintu kamarmu jangan di buka, jangan sampai kamu membukanya, ingat pesanku ini) tegas mbah Tamin, lalu ia pergi.
Sri membuka gorden di jendelanya, ia bisa merasakan, bahwa keberadaanya disini, tidak ada bedanya dengan keberadaanya di alas itu, entah kenapa, tempat ini sama saja, seperti memintanya menguak apa yg ada disini.
lalu menghilang, dengan senyuman yg memancing keingintahuan.
Sri sudah mengunci pintu kamar dan jendelanya, kini, ia berbaring di atas kasur tua, yg setiap ia bergerak mengeluarkan suara tidak mengenakan.
hanya dengan menatap cahaya lilin di meja, Sri merasa ia aman, selebihnya, ia terjaga, tidak bisa tidur dengan pertanyaan dipikiranya
__ADS_1
waktu terasa begitu lambat, setiap ketukan detik yg Sri bayangkan terasa mengambang dalam sepi di kamar itu, lalu, terdengar suara lirih,
suara yg membuat Sri merasa tidak sendiri lagi, suara itu, terdengar dari luar kamar.
"Mbaaak Sriii, mbaaak, iki aku Dela"
mendengar itu, Sri langsung tercekat, entah apa itu, suara itu seakan mengancamnya
"Mbak sampun tilem, niki aku Dela mbak, di bukak lawange mbak" (Mbaknya sudah tidur, ini aku Dela mbak, di buka dulu pntunya mbak)
Sri masih diam, ia mencoba menahan diri, suara itu, menganggunya
"Mbak Srii, aku loh eroh nek sampean jek melek, di bukak dilek nggih mbak, engkok, tak keki'i panuturan" (Mbak Sri, saya tau kamu masih terjaga, dibuka dulu pintunya, nanti, saya kasih tahu rahasia)
kaki Sri, mulai melangkah turun, ia bernjak dari tempatnya, namun, ia masih ragu
__ADS_1
Sri belum menjawab, ia masih diam, membiarkanya ditelan sunyi, di obrak-abrik sepi, sampai, keheningan itu menguasai.