
mbah Tamin pergi, sementara Dini, tersungkur pingsan, di dahinya, ia terus berkeringat, berkali-kali, ia tampak seperti orang yg meracau, mengatakan sesuatu seperti "peteng" (gelap)
namun, Sri telaten, membersihkan keringat Dini, ia juga membantu Dini agar bisa tidur dengan posisi yg benar. ia terus menjaga Dini sepanjang malam, si mbah, tidak juga kembali, semakin malam, Dini semakin kacau, ia menjerit, seperti tengah berlari, nafasnya terengah-engah.
yg membuat Sri tersentak ketika Dini mengatakan "Pak' e ndelok, pak 'e ndelok!! aku dikejar, aku dikejar!!" (bapaknya melihat saya, bapaknya sudah melihat, saya dikejar, saya dikejar)
badan Dini, tiba-tiba panas, panas sekali. Sri mulai khawatir, namun ia bingung, harus apa
tidak beberapa lama, mbah Tamin kembali, ia hanya menepuk bahu Dini, dan ia langsung bangun, wajahnya tampak kaget, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia urungkan saat melihat mbah Tamin melotot, seakan menahan bahwa ia tidak boleh mengatakanya disini.
mbh Tamin dan Dini keluar, Sri tidak mengerti, kenapa si mbah seakan menghindarinya
setelah menunggu, si mbah memanggil Sri, menyuruhnya agar kembali ke kamar, perjalanan ke kamar Sri, melewati sebuah kamar tanpa pintu, disana, ada Dela melihatnya, ia hanya tersenyum menatap Sri
hal terakhir yg Sri ingat saat melihat Dela adalah, ia seakan memberitahu, bahwa akhir dari semuanya, adalah rumah ini.
Rumah, yg akan Sri ingat sampai akhir nanti.
__ADS_1
Sri menutup pintu, menguncinya, ia terlalu lelah malam ini. apa yg ia lihat, ingin ia lupakan dalam tidurnya.
saat Sri memejamkan mata.
seseorang membelai rambutnya. memakasanya untuk melihat sesiapa yg tengah menganggu tidurnya.
"Dela" kata Sri saat melihatnya.
"kok isok" (bagaimana bisa)
(aku dari tadi sebenarnya ada di dalam kamarmu loh Sri, tepatnya di bawah ranjangmu, apa orang tua itu masih mencari saya)
"aku jalok tolong, sak iki, nyowomu nang tangane wong tuwek iku, nek awakmu nuruti aku, awakmu isok selamet, lan tak duduhi perkara masalahe, awakmu percoyo ambek aku ndok"
(aku minta tolong, sekarang, nyawamu ada di tangan si mbah, kalau kamu menuruti apa kata saya-
-kamu akan selamat, dan tak kasih tahu sumber masalahnya, kamu percaya sama saya kan)
__ADS_1
mbah Tamin pergi, sementara Dini, tersungkur pingsan, di dahinya, ia terus berkeringat, berkali-kali, ia tampak seperti orang yg meracau, mengatakan sesuatu seperti "peteng" (gelap)
namun, Sri telaten, membersihkan keringat Dini, ia juga membantu Dini agar bisa tidur dengan posisi yg benar. ia terus menjaga Dini sepanjang malam, si mbah, tidak juga kembali, semakin malam, Dini semakin kacau, ia menjerit, seperti tengah berlari, nafasnya terengah-engah.
yg membuat Sri tersentak ketika Dini mengatakan "Pak' e ndelok, pak 'e ndelok!! aku dikejar, aku dikejar!!" (bapaknya melihat saya, bapaknya sudah melihat, saya dikejar, saya dikejar)
badan Dini, tiba-tiba panas, panas sekali. Sri mulai khawatir, namun ia bingung, harus apa
tidak beberapa lama, mbah Tamin kembali, ia hanya menepuk bahu Dini, dan ia langsung bangun, wajahnya tampak kaget, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia urungkan saat melihat mbah Tamin melotot, seakan menahan bahwa ia tidak boleh mengatakanya disini.
mbh Tamin dan Dini keluar, Sri tidak mengerti, kenapa si mbah seakan menghindarinya
setelah menunggu, si mbah memanggil Sri, menyuruhnya agar kembali ke kamar, perjalanan ke kamar Sri, melewati sebuah kamar tanpa pintu, disana, ada Dela melihatnya, ia hanya tersenyum menatap Sri
hal terakhir yg Sri ingat saat melihat Dela adalah, ia seakan memberitahu, bahwa akhir dari semuanya, adalah rumah ini.
Rumah, yg akan Sri ingat sampai akhir nanti.
__ADS_1