
Sri melawan sebisanya, namun, ia tidak bisa menghadapi bala kekuatan yg entah darimana datangnya, Dela seperti orang kesurupan, caranya menghantam wajah Sri dengan telapak tanganya, membuat wajah Sri babak belur, bahkan, ia menginjak wajah Sri dengan kakinya
Dela terus berteriak meminta Sri menyelesaikan tugasnya, ia harus menyelesaikannya, tidak boleh tidak, disini, Sri menyadari sesuatu, lagi
Sewu dino sudah semakin dekat,
artinya, tidak ada kesempatan lagi untuk membuang-buang waktu,
sampai, terdengar suara mobil datang, Dela dan Sri terdiam, manakala, ada seseorang datang mendekat
langkahnya pelan, ia menyusuri ruangan, kemudian, menampakkan dirinya didepan Sri dan Dela
mbah Krasa melihat Sri, tatapannya kecewa, lalu, ia mendelik melihat Dela, yang entah bagaimana, langsung duduk bersimpuh di depan mbah Krasa,
ia, membelai rambut Dela, seakan dia adalah binatang peliharaannya,
"wes ngerti yo nduk awakmu" (rupannya kamu sudah mengerti ya)
"terno Sri nang kamare" (antarkan Sri ke kamarnya) kata mbah Krasa, orang yg berdiri dibelakangnya, membawa ikut Sri,
ia hanya bisa melihat, mbah Krasa yg masih menatapnya, Dela, hanya melirik Sri dengan tatapan penuh ancaman, seakan ia, belum selesai dengan semuanya
__ADS_1
seseorang mengetuk pintu kamar, lalu membukanya, Sri melihat wanita tua anggun itu, tidak ada segan lagi untuknya, Sri justru merasa kesal setiap melihat tatapan matanya yg terbungkus kaca mata tebal menggerikan itu,
"Sri, bantu mbah nggih" (Sri, tolong, bantu saya)
"jumat kliwon, guk lahir e Dela ta mbah, tapi weton lahire sing nyantet putune njenengan, opo aku salah mbah"
(Jumat kliwon, bukanlah hari lahir Dela, tetapi hari lahir dari orang yg menyantet cucu anda, apa saya salah mbah)
mbah Krasa mengangguk, ia mengakuinya
"njenengan pingin tiange sedo, ngelalon kulo ambek Dini" (anda ingin mengakhiri nyawa dia melalui saya dan Dini)
mbah Krasa mengangguk lagi,
"tolong" lalu pergi
pagi itu, mbah Tamin dan Dini sudah kembali,
seseorang memanggil Sri dari dalam kamar, ia melihat mbah Krasa duduk bersama Dela, ditengah meja, Sri melihat kotak itu, lagi
lantas, Dini mulai membukanya, dari dalam, Dini mengeluarkannya, "Pasak jagor"
__ADS_1
semua orang menatap Sri
pasak Jagor, boneka yg Sri lihat, nyaris sama persis, jadi, mbah Tamin dan Dini, semalaman mencari benda ini, di badan boneka, ada lilitan rambut kusut yang sama persis seperti Sri lihat, mengingatkannya pada Erna.
"engkok bengi, kabeh mari nang kene"
(nanti malam, kita akhiri)
Dela mendekati Sri, ia menatap Sri seakan ingin tahu, tatapanya lebih lembut, ia berucap dengan suara lirih
"matur nuwun nggih mbak, gak bakal tak lalino jasane sampeyan" (terimakasih ya kak, saya gak akan pernah lupa jasa kamu)
Sri hanya mengangguk, ia sudah tidak perduli
setelah memotong rambut Sri dan Dini, mbah Tamin, mengikat rambut itu pada boneka, di belakang rumah, ia sudah memutari 3 lubang galian itu, tempat Dela, Sri dan Dini terduduk didalamnya
mbah Tamin, duduk, menyirami boneka itu dengan air, sementara bau kemenyan semakin menyengat
tangan dan kaki mereka diikat dengan ranting muda daun kelor, sehingga ketiga-tiganya, tidak ada yg bisa bergerak, hanya pasrah di dalam setiap lubang yg sudah di gali untuk mereka semuanya,
mbah Tamin, perlahan, mencabut satu persatu rambut itu.
__ADS_1
terdengar sebuah suara yg tidak asing, sebuah kerbau meraung, Sri yg sudah terjebak dalam lubang, tidak tahu apa yg terjadi, karena setelah suara itu hilang, ia mendengar Dela dan Dini menjerit, lalu, hening..