
mbah Krasa lantas kembali duduk, ia menatap wajah Sri, mereka saling menantang satu sama lain.
"tau krungu gak Sri, pribahasa, gak eroh iku ngunu berkah tekan pangeran" (kamu pernah dengar, pribahasa, ketidaktahuan adalah berkah dari tuhan)
Sri yg mendengarnya, menegang
"Kuncoro, opo iku keluarga sing njenengan babat, sampe meniko wani gawe awake dewe nganggo mbales keluarga njenengan" (Kuncoro, apakah itu nama keluarga yg semuaya sudah anda habisi, dan untuk membalasnya, ia sampai rela menggadaikan nyawanya biar keluarga anda menerima balasan)
mbah Krasa menatap Sri, ia tersenyum, sudut bibirnya seakan memuji dan memberi pujian betapa Sri pintar dalam menghubungkan semua ini, hanya dengan, mengikat batin, antara Sri dan Kuncoro, Sri langsung tahu semuanya.
"teros" (lalu?) kata mbah Krasa menunggu, kejutan lain..
"Sengarturih lan Banarogoh iku ngunu ingu-inguan njenengan, sing njenengan gawe mbabat nyowo keluarga Kuncoro, tapi, keturunane sing ragil, nyekel Banarogoh ben Sengarturih isok nyikso Dela, gantine, dee sing nerimo duso iki"
(Sengarturih dan Banarogoh adalah peliharaan anda, yang anda jadikan alat untuk menghabisi semua keluarga Kuncoro, tapi rupanya, keturunan terakhirnya, bisa menangkap Banarogoh, menggunakanya, agar Sengarturih bisa menyiksa Dela, sebagai gantinya, ia yg menerima semua dosanya)
__ADS_1
mbah Krasa tersenyum, lalu tertawa, ia terhibur dengan semua ucapan Sri, lantas, ia bertanya.
"mati nang kene, opo nang omah ndok?"
(kamu mau mati disini, apa kalau sudah sampai di rumah)
Sri hanya diam, ia tidak mengatakan apapun lagi
"koen bakal tetep urip kok nduk, mbah wes yakin, koen iku sing paling bedo ambek liyane, nyowomu gak onok regane gawe aku, nanging, ojok sampe onok sing eroh sak durunge mbah sedo, ngerti ndok"
"kabeh menungso iku ra isok di tebak yo nduk, jahat gak jahat, menungso nduwe dalapatur, sing gak isok rumongso mok gerabak sak enake, sak iki, awakmu, jek melok aku opo igak?"
(semua manusia itu sama, tidak tertebak, berkata ia jahat atau tidak, tetap saja manusia punya tujuanya sendiri yang tidak akan bisa kamu jangkau seenaknya saja, sekarang, saya tanya, kamu, masih mau ikut saya atau tidak?) tanya mbah Krasa, ia menunggu jawaban
"mboten, kulo pamit mantok mawon mbah"
__ADS_1
(tidak, saya mau pamit pulang saja)
mbah Krasa tampak mengerti, lantas, ia memanggil Sugik, membopong badan Sri yg masih lemas, membawanya menuju ke mobil, sekilas, ia melihat sorot mata mbah Tamin, ia tersenyum, seakan tahu apa yg terjadi
sebelum masuk ke mobil, Dela menghentikanya, meminta agar Sri tetap bekerja disini, berapapun bayaranya, namun, Sri menolak, ia menatap mbah Krasa tajam, membuat ia mengatakanya
"wes ta lah, engkok golek maneh sing luwih pinter"
(sudahlah, nanti cari lagi, yg lebih pintar)
Sri juga melihat Dini, ia hanya duduk memandangnya, seakan menegaskan bahwa ia akan bertahan disini, Sri tidak punya hak memintanya keluar, terlepas apakah ia juga tahu apa yg sebenarnya terjadi dibalik semua peristiwa ini
Sugik, menutup pintu mobil, membiarkan Sri beristirahat
mobil perlahan meninggalkan kediaman Atmojo, Sugik terus membawa Sri menuju perjalanan pulang, namun, tiba-tiba, ia menghentikan mobil, disamping sebuah tebing,
__ADS_1