
Hinata berdiam diri di teras rumahnya. Memandang langit biru nan cerah,membuatnya teringat dengan seseorang yang bermata biru langit itu.
Ya,kini ia merindukan sang kekasih tercintanya, Namikaze Naruto.
Sepasang mata lavender miliknya kini menatap kearah layar telepon miliknya. Dia melihat sosok yang ia bayangkan tadi,kini berada di layar telepon miliknya.
"Hah..aku merindukanmu." ucap lembut Hinata
Neji melihat adiknya yang tengah duduk di teras rumah. Dia sangat menyayangi Hinata. Meskipun Hinata sangat manja dalam diamnya kepada kakaknya itu.
Neji mendekati Hinata dan duduk di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Neji
"Ah.. Nii-can,kau mengagetkanku." ucap Hinata kaget
"Kau seharusnya permisi dulu jika ingin duduk di sini!" lanjut Hinata sebal sambil menatap Neji kesal
Neji hanya tertawa saat dimarahi oleh adik kesayangannya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan? kenapa kau terus menatap ke layar telepon?" tanya Neji
Hinata hanya diam karena malu bercampur sebal.
Neji mengintip sedikit kearah layar telepon milik Hinata itu. Dia tersenyum saat melihat sosok Naruto di smartphone Hinata.
"Ahh..kau merindukannya ya?" tanya Neji menggoda
Kata-kata itu seketika membuat rona merah di pipi Hinata terlihat jelas. Hinata membuang muka.
"Tidak!" jawab singkat Hinata
"Kenapa kau tidak menemuinya?" tanya Neji
"Hah.." Hinata hanya menghela nafas dalam-dalam.
"...Em, Nii-can. A-aku ingin bertanya sesuatu padamu.." lanjut Hinata
"Em? tanya apa?" tanya Neji sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kau pernah merasakan rindu?" tanya Hinata
Neji menatap aneh Hinata. Tapi dia hanya menghela nafas. Tak bisa di pungkiri,dia juga pernah merasakan rindu mendalam kepada seseorang.
"Ya..aku pernah. Tapi,..ya.. seperti yang kau lihat sekarang! kami tidak berjodoh." jawab Neji sambil menatap langit biru.
Hinata tercengang dengan perkataan kakaknya. Dia berpikir,akankan seorang Neji pernah jatuh cinta?
"Si-siapa orangnya? apa aku mengenalnya?" tanya Hinata
Neji kembali menatap sang adik,lalu mengacak-acak rambut milik Hinata dan tersenyum.
"Kau mungkin mengenalnya. Dan mungkin juga tidak." jawab Neji
"Nii-can, kalau memberikan informasi itu yang jelas donk!" ucap Hinata kesal
"Hihi..maaf. Tapi,apa kau bisa menjaga rahasia? jika tidak bisa,aku tidak akan menceritakan semua tentang aku." ucap Neji
"Aku janji!" sahut Hinata sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji?" tanya Neji
"Janji!" jawab Hinata
Mereka menyatukan kedua jari kelingking mereka sambil mengucapkan kata 'Janji'.
"Jadi, bagaimana?" tanya Hinata
NEJI POV~
Aku berteman dengan seorang anak gadis dari aku umur 8 tahun. Aku dan dia sudah sangat dekat,hingga dirinya selalu ingin ikut denganku.
__ADS_1
Saat aku menduduki kelas 7 SMP,aku merasa sedih karena harus berpisah dengannya. Begitupun dengannya.
Namanya adalah Tenten. Dia itu memang terlihat tak bisa apa-apa. Tapi dibalik kelemahannya itu,ada kelebihannya yang tertutupi.
"Apa kau akan pergi Neji?" tanya Tenten lesu
"Kita memang harus berpisah,tapi akan kau pastikan tidak akan berhenti bermain denganmu." jawabku lalu mengacak-acak rambutnya.
"Kau janji kan?" tanyanya lagi
"Aku janji!" jawabku
Aku selalu bermain dengannya di taman hampir setiap hari. Aku selalu gemas dengan kedua pirangnya yang di Gelung sisi kanan dan kiri. Itu yang buatku selalu ingin dekat dengannya.
Sampai suatu ketika,aku berada di bangku kelas 9,dia masuk kelas 7. Aku senang bisa satu sekolah lagi dengannya. Begitupun dengan dia,sangat senang sampai-sampai memelukku di depan umum.
Dia memang asal-asalan jika melakukan tindakan,tapi aku suka dengan itu. Hingga saat kelulusan ku tiba,air mata terus dia teteskan. Aku memeluknya,dia membalasnya dengan erat. Kami memang belum tau apa itu 'Cinta'. Tapi dalam benakku selalu berkata, kalau aku cukup nyaman dengannya.
Aku memulai hari dengan kebosanan selama berada di SMA KONOHA HIGH SCHOOL. Aku jarang meluangkan waktu bersama dengannya. Itu membuat dia sedih, pasalnya dia sangat ingin bertemu dengan ku.
Hingga saat aku berusaha mengungkapkan perasaan ku padanya. Saat itu,dia baru kelas 8. Tapi rasa yang ia pendam memang sama halnya denganku. Aku menembaknya. Dia menerimaku. Itu adalah hari jadian kami.
Kami menikmati hari pacaran kami dengan hari-hari yang menyenangkan. Hingga saat dia mulai ujian kelulusan,aku harus sabar menunggunya selesai ujian dan ikut denganku.
Hari yang aku tunggu tiba,kami bisa bersama lagi di satu sekolahan. Tentu saja dia seperti biasanya, memeluk secara tiba-tiba.
"Neji-kunnn....aku benar-benar merindukan mu!" ucapnya sambil memeluk diriku.
"Aku juga!" aku menjawabnya sambil memeluknya balik.
"Neji-kun,apa kau tidak merindukan ku?" tanyanya
"Siapa bilang?"
"Buktinya,kau tidak menemui ku bukan? kau tidak sayang lagi padaku?"
"Jika aku tidak sayang,pasti aku tidak akan melakukan ini di tempat umum!"
"Tentu saja!"
Kami duduk di bangku taman sekolah. Aku merasa sangat merindukan dia. Hingga pertanyaan yang tidak pernah ku bayangkan terlontar dari bibirnya.
"Neji.." lirihnya
"Hm?"
"Apa kau pernah berpikir jika selama ini aku tidak pernah fokus belajar?"
Pertanyaan itu seketika langsung membuat benakku sangat tidak nyaman.
"Apa semua itu karena aku?" tanya ku
Dia hanya diam sambil cemberut. Air matanya kini menetes tanpa perintah darinya.
"Aku selalu berpikir,apakah kita bisa bersama? kau tau, betapa aku sangat mencintaimu?" lirihnya
Seketika,aku teringat sesuatu. Aku pernah tak acuh padanya. Aku saat itu sedang banyak beban karena tugas. Aku pikir itu penyebabnya. Tapi jauh dari pemikiran ku. Dia mengucapkan hal yang kurang..atau mungkin tidak masuk akal.
"Apa kau mulai berpaling dariku selama kau berada di HIGH SCHOOL ini?" tanyanya
Seketika aku langsung menatapnya intens. Dia hanya tertunduk lemas tanpa kata-kata.
"Siapa yang mengatakan hal itu padamu?" tanya ku tegas
"Aku hanya mencintaimu. Aku selalu setia menunggumu disini. Dan lagi,apa kau mulai mencurigai ku?" lanjut ku
Dia hanya menangis dalam diamnya. Seketika aku langsung merasa bersalah. Apa mungkin aku terlalu tegas padanya? mungkin tidak juga. Aku tau persis apa yang aku tanyakan padanya. Dia menatapku dengan tegas. Oke,ini seperti bukan dia yang biasanya. Agak sedikit lebih keras daripada Tenten yang aku kenal cukup lunak.
"Kau sudah punya pacar baru bukan? jawab saja!" ucapannya tiba-tiba.
"Aku melihat semuanya. Kau seperti orang yang selalu memcintaiku,tapi ada untuk orang lain. Kau tidak tau Betapa aku sangat mencintaimu. Mereka selalu aku tolak demi dirimu. Tapi kau selalu mengkhianati kepercayaan ku." lanjutnya
__ADS_1
Bagai disambar petir,aku benar-benar terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Siapa yang mengatakan hal bodoh itu padamu?" tanyaku geram
Dia hanya diam membisu. Dai memalingkan wajahnya dari ku. Aku tau dia sedang menangis. Aku menuntunnya agar bisa berhadapan dengan ku.
"Tenten,kau tau? selama ini,hanya kau yang sangat aku cintai selama ini. Aku selalu ingin dekat dengan mu. Tapi,melihat kau yang harus menghadapi ujian kelulusan,aku tidak tega jika kau harus mendapatkan nilai buruk. Jadi,aku tidak pernah bisa jika melupakanmu walau hanya untuk sesaat." lanjut ku mencoba bersikap tenang. Walau dalam batinku,aku merasa sangat sedih.
"Lalu,apa maksudmu dengan pergi dengan perempuan itu?" lirihnya
"Perempuan? siapa?" tanyaku
"Gadis berambut panjang berwarna hitam yang pernah kau ajak jalan. Siapa dia?" tanyanya mulai tegas
aku mencoba berpikir keras dan mengingat-ingat perempuan yang dia maksud.
"Oo..Maksudmu, perempuan yang menemaniku di Cafe waktu itu?" tanyaku
Dia hanya diam dan terlihat kesal. Mungkin dalam hatinya berkata,'Menemani katanya?'.
"Dia itu adalah Sizhuka. Dia teman satu kelasku. Dulu,kami sempat satu kelompok. Tapi,kami beda ruangan saat masuk semester baru. Dan saat kau melihat kami di Cafe waktu itu,kami sedang mengerjakan tugas." jelas ku
Dia menatap tak percaya padaku. Dia menatap ku dengan mata membulat. Akhir dari emosinya, kini tertutupi oleh rona merah di pipinya.
"Hihi..apa kau cemburu?" tanyaku menggoda
"Ti-tidak! siapa bilang!" jawabnya sambil membuang muka.
Aku senang, kesalahpahaman itu akhirnya bisa kami selesaikan.
Tapi,saat kelulusan ku,dia jadi sering menyendiri. Aku memang harus melanjutkan kuliah di luar kota bukan? jadi,demi menjaga hatinya,dia mencoba tidak bergaul dengan laki-laki.
NEJI POV END~
Hinata benar-benar tersentuh saat kakaknya menceritakan hal itu padanya. Neji mengakhiri ceritanya dengan mata mengarah keatas.
"Nii-can, jadi.. pacarmu itu,adalah Tenten?" tanya Hinata.
"Em? kau tau?" tanya Neji
"Em..dia dulu satu kelas dengan Sakura dan Ino, serta menjadi ketua kelas. Tapi, sepertinya dia pindah kelas." jawab Hinata
"Begitu? aku sangat merindukan dia. Tapi,aku belum siap untuk bertemu lagi dengannya." ucap Neji
Hinata menatap sang kakak bingung
"Kenapa?" tanya Hinata
"Aku takut, kembalinya aku,akan membuat dia sakit hati lagi karena kepergian ku nanti." jawab Neji
Hinata tersenyum
"Nii-can, justru karena kau tidak menemuinya,dia akan merasa tidak kau hargai. Perempuan itu,butuh yang namanya kasih sayang. Apa lagi seseorang yang sedang jatuh cinta. Mungkin,itu yang sedang dia rasakan saat ini." ucap Hinata
Neji memiringkan kepalanya tak mengerti. Hinata menatap Kakaknya lagi.
"Nii-can,kau lihat saat aku melihat foto Naruto tadi? aku sangat merindukannya saat ini. Mungkin, seperti itulah yang sedang dia rasakan. Kami sebagai wanita,hanya bisa menunggu pengakuan dari laki-laki. Mana mungkin ada wanita yang mengakui duluan kan?" jelas Hinata
Neji kini mengerti dengan apa yang Hinata katakan. Mungkin benar,Tenten juga merasakan hal yang sama. Mungkin,ini juga salahnya juga,karena selalu menunggu dan menghubungi Tenten dari telepon saja.
"Terimakasih Hinata. Sekarang aku mengerti, tentang dia sekarang." ucap Neji
"Aku hanya memberikan gambaran tentang hati perempuan Nii-can. Aku pikir,tidak hanya aku saja yang seperti ini." jawab Hinata
Kini,teras itu dipenuhi oleh tawa dan ria dari seorang kakak beradik keluarga Hyuga.
***Author Up lagi nih😁
Mksh yang udah mau nunggu ya😚
Jan lupa Like 👍🏻 Komen 💬 and Vote 😉
__ADS_1
Sampai jumpa di ep selanjutnya 😁👏🏻***