
...Happy Reading...
...*...
...*...
...*...
Emely sedang menunggu adiknya yang masih setia didalam kamarnya, Emely hanya menyuruh adiknya untuk menyisir rambut tapi lamanya minta ampun deh. Dia melihat jam tangannya dan kamar adiknya secara bergantian. Sekarang dia menyesal dengan kata-katanya yang mengucapkan
'aku akan menunggu'
karena tadi aku ngomong begitu sepertinya Yura menangkap maksud lain dari perkataan itu. Emely mengartikan katanya sebagai dia akan menunggu jadi cepatlah karena aku sedang menunggumu. Mungkin saja Yura mengartikan yang lain yaitu dia akan menungguku jadi selama apapun aku dalam bersiap dia akan menungguku.
"Yura" Panggil Emely lebih tepatnya dia berteriak memanggil nama Yura.
"Apa? " Terdengar sahutan dari kamar Yura yang memang pintunya tidak ditutup rapat.
"Sebentar lagi aku akan mati jamuran" Ucap Emely kesal dia bangkit dari duduk lalu berjalan menuju kamar adiknya.
"His katanya akan menunggu" Ucap Yura dia menoleh kearah pintu disana Emely sudah berada di pintu kamarnya sedang bersender sambil menatap dia kesal.
"Lihatlah jam nya. Kita akan terlambat jika kau terus terusan berada di depan cermin" Ucap Emely kesal.
"Iya iya bentar lagi" Ucap Yura dia langsung memakai pelembab bibir berwarna pink alami .
"Jangan pakai lipstick" Ucap Emely mengingatkan saat Yura akan mengambil lipstik. Yura menoleh kearah Emely lalu memasukkan lipstiknya kedalam totebag nya, dan mengambil ponsel serta airpods nya lalu menyemprotkan parfum yang jika disemprotkan akan beraroma buah segar dan ketika sudah lama disemprotkan akan beraroma campuran wangi bunga dan buah segar. Setelah selesai dia memakai sepatu socks boots yang berwarna senada dengan long skrit yang dia pakai. Lalu menyusul kakanya yang sudah berada di lantai basement atau lantai untuk tempat parkir.
*
*
*
Mobil melaju dengan kecepatan sedang ditengah jalan yang ramai kendaraan pribadi maupun angkutan umum karena ini memang jam dimulainya aktivitas manusia seperti bekerja, sekolah, kuliah dan lain-lain.
"Bisakah kita putar balik? " Tanya Yura. Emely menoleh sekilas lalu fokus kedepan lagi.
"Aku turunin disini mau?" Ancam Emely .
Yura mendengus mendengarnya dia kesal seharusnya hari ini dia ambil cuti tapi kakaknya malah membangunkannya dan menyuruhnya berangkat kuliah. Tadi di parkiran sempat berdebat karena Yura tidak mau kuliah.
"Yura" Panggil Emely . Yura hanya diam malas menjawab.
"Hei" Panggilnya lagi. Yura malah memlingkan pandangannya ke jendela.
"Yak"panggil Emely kali ini suaranya meninggi tapi tidak sampai membentak. Berhasil Yura menatap dia.
" Dengerin jika kita dirumah bukannya tenang malah makin kecewa ,dengan kita menyibukkan diri dengan kegiatan kaya kerja atau kuliah kita bisa mengalihkan pikiran kita dari kejadian semalam dengan fokus pada kegiatan yang kita lakukan " Ucap Emely.
Mobil berhenti didepan gerbang utama kampus favorit di kota B dan termasuk universitas terbaik di negara A.
Bukannya turun Yura tetap diam didalam mobil sambil memegang seatbelt seolah dia mengatakan tidak akan mau turun. Sungguh Yura saat ini seperti anak kecil sangat menggemaskan. Emely hanya menatap Yura lalu turun dari mobil dia berjalan mengitari mobil dan berhenti didepan pintu mobil tempat Yura duduk.
Dia membuka pintu.
__ADS_1
"Turun" Ucap Emely dingin yang membuat Yura merinding.
Lalu melepaskan seatbelt Yura dan mencoba menarik tangan Yura dengan perlahan. Yura mau tak mau hanya menurut dia turun dengan ogah-ogahan. Setiap orang yang melihatnya pasti akan tau kalo Yura sedang menahan kesal.
"Aku pulang aja ya" Ucap Yura memelas tidak lupa pupy eyes-nya .
"Yura" Ucap Emely memperingati.
Lalu Yura pergi tanpa mengucapkan salam dia berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya ke tanah.
"Yura" Panggil Emely. Yura menghentikan langkahnya dan membalik badan menghadap Emely.
"Kamu tidak mau membawa tasmu? " Tanya Emely geli dia tersenyum meledek sambil mengangkat totebag Yura.
Yura mendekat lalu mengambil tasnya dengan kasar sambil menatap garang Emely lalu pergi lagi tanpa pamit. Tapi baru beberapa langkah dia terhenti lagi karena Emely memanggil lagi.
"Ada uang? Kayanya nggak deh " Ucap Emely memberi kode. Yura langsung mengecek dompetnya, tempat pensilnya, dan totebag nya siapa tau ada uangnya, tapi ternyata tidak bahkan kartu didompet Yura tidak ada dia salah mengambil dompet. 'Oh ****' umpat Yura dalam hati.
"Ga ada yah" Emely meledek lalu berjalan mendekat ke arah Yura karena sepertinya Yura enggan mendekat.
"Makanya lain kali dicek dulu sebelum berangkat ada barang tertinggal tidak? " Ucap Emely sambil memberi 4 lembar uang merah dan satu kartu debit miliknya. Lagi-lagi Yura mengambil dengan kasar lalu memasukkan uang kedalam dompetnya, lalu pergi tanpa pamit bahkan dia tidak mengucapkan terimakasih.
"Sister" Panggil Yura lagi.
"What else!!! " Ucap Yura kesal menatap tajam kakaknya. Emely yang ditatap tajam malah tertawa .
"Fighting" Setelah mengucapkan itu Emely langsung pergi. Yura menatap kepergian mobil Emely dengan tajam seolah tatapan tajamnya dapat menembus mobil.
Kejadian tadi dilihat oleh orang-orang yang baru saja datang kekampus ada yang menertawakan karena geli dengan sifat Yura yang sangat menggemaskan. Darren yang kebetulan juga baru sampai tepat setelah Yura turun dari mobil. Dia mengurungkan niatnya masuk kedalam kampus guna untuk melihat interaksi kedua kakak beradik itu.
"His boleh nggak sih karungin terus bawa pulang" Ucapnya lagi .
Darren jadi salting sendiri , hanya melihat saja sudah salting begini bagaimana jika Yura menunjukkan sifatnya yang itu didepannya langsung. Sudah bisa dipastikan Darren akan pingsan dengan keimutan Yura.
"Aku iri sama Emely" Lalu setelah mengatakan itu dia masuk kedalam kampus saat Yura juga masuk kedalam kampus.
Tin
Dia menyalakan Klakson karena Yura berjalan di tengah yang mengganggu dia lewat. Terlihat Yura langsung menyingkir dan sedikit membungkuk untuk meminta maaf. Yura tidak bisa melihat siapa yang ada didalam mobil karena kaca mobil Darren yang berwarna hitam jika dilihat dari luar maka tidak akan nampak apa-apa didalam.
*
*
*
Makan siang bersama dikantin utama Yura dkk memilih meja panjang yang muat banyak orang yang berada di pojok kanan paling belakang. Menu makanan kantin hari ini sangat hijau atau vegetarian ,banyak sayur bahkan lauknya bayam yang digoreng dengan tepung. Sungguh menu makanan yang sehat.
Mereka berlima duduk berhadapan dengan Yura berada paling kanan kursi depan Yura kosong. Edward sedang membeli minuman bersama Gaby.
"Vegetarian" Ucap Stella lesu.
"Emang kenapa bukannya kau vegetarian" Ucap Bara dia mengatakan fakta.
"Aku pemakan segala tau" Bantah Stella dia tidak Terima dikatain vegetarian padahal dia lebih suka chicken daripada sayur segar.
__ADS_1
"Masa sih. Kayanya setiap kita main kerumahmu kita selalu melihat kamu lagi makan sayur " Ucap Yura.
"Nah kan" Bara.
"Ini Gaby sama Edward mana sih lama banget ngambil minumnya" Ucap Stella mengalihkan topik. Yura dan Bara menatap Stella tak percaya.
"Kau pikir ambil minum dikantin utama sama kaya ngambil minum dirumahmu" Ucap Bara.
"His tapi ini udah lama banget tau" Balas Stella.
"Baru lima menit Yura sayangku cintaku " Ucap Bara jengkel.
"Apa sih siapa yang mau jadi ayangmu ih jijik tau" Ucap Stella pura-pura jijik padahal aslinya dia senang bukan main.
"Aku nggak tanya kamu mau atau tidak ya " Sanggah Bara berniat meledek.
"Ck pernyataanmu tadi itu mengkode aku mau atau nggak jadi ayangmu" Ucap Stella pede.
"His kau percaya diri sekali" Ucap Bara.
Yura tertawa melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu dia tidak mau ikut campur. Yura menoleh ke sekitar dan melihat Edward dan Gaby telah selesai mengambil minuman. Yura melambaikan tangannya dan dibalas senyuman oleh dua orang itu.
"Mereka kenapa? " Tanya Edward setelah dia duduk dan melihat Stella dan Bara terlihat berdebat.
"Biasalah" Ucap Yura lalu membuka kaleng soda yang tadi diambilkan oleh Gaby.
Mereka makan siang dengan berbincang ringan . Keributan terdengar dipintu masuk kantin banyak teriakan cewek-cewek bahkan ada beberapa cowok. Teriakan itu membuat kelima orang itu menoleh ke sumber suara lalu kompak mereka memutar bola mata malas.
"Senior terpopuler" Ucap Edward.
"Lama-lama bosan mendengar nama mereka dan juga dengar teriakan orang-orang itu" Ucap Yura.
"Aku lebih bosan harus satu rumah dengan salah satu dari mereka" Ucap Gaby lesu.
"Terimalah nasibmu" Ucap Bara meledak.
"Mereka makin hari makin tampan aja " Ucap Stella yang membuat semua menoleh padanya.
"Apa? Mereka memang tampan" Ucap Stella kesal.
"Yah akupun tidak bisa menyangkalnya" Ucap Yura membenarkan ucap Stella.
Mereka kembali makan dengan khidmat . Lagi-lagi acara makan mereka terganggu lagi saat seseorang yang tadi diteriaki namanya ada disamping meja mereka.
"Boleh kami duduk disini? " Tanya Darren kepada semua yang ada dimeja itu tapi sebenarnya ucapan itu ditunjukkan oleh Yura bahkan tatapannya tak lepas dari Yura.
Mereka berlima terdiam lalu saling pandang seolah bicara dengan isyarat mata izinkan tidak? Kalo tidak diizinkan takut diserbu fans karena mengabaikan idolanya tapi kalo menolak lebih parah lagi.
Darren menatap Gaby meminta persetujuan, Gaby sangat paham tatapan itu karena dia kasihan akhirnya dia menjawab .
"silakan" Teman-temannya terkejut mendengar ucapan Gaby padahal tadi mereka berniat menolak. Tapi akhirnya mereka mengalah mereka berpikir karena kakaknya mungkin jadi Gaby mengizinkan.
*******************************************
Jangan lupa like and comment
__ADS_1