30 Days Chance

30 Days Chance
Senior Juga Terluka


__ADS_3

...HAPPY READING ALL...


...*...


...*...


...*...


"S-se-senior bisa turunkan aku" bukannya marah Yura malah gugup karena terkejut.dengan perlakuan senior padanya serta perkataan seniornya yang mengatakan kata-kata yang hanya diucapkan oleh pasangan.


"Diamlah sayang kamu sedang terluka" ucap Darren lagi tanpa sadar sungguh dia khawatir dengan gadisnya itu. Darren menurunkan Yura disofa tempat dia duduk tadi, lalu matanya berkeliling berusaha mencari kotak P3K .


"Dimana kotak P3K" tanya Darren datar bahkan nadanya bukan seprti pertanyaan tapi berbanding terbalik dengan raut muka khawatir.


"Di Atas lemari es didapur sana" ucap yura menunjuk dapur. Darren berjalan menuju lemari es yang di tunnjuk Yura lalu mengambil kotak P3K yang berada didalam sebuat lemari yang berada diatas lemari es. Setelahnya dia berjaaln menuju dapur dan mengisi baskom dengan air untuk mengompres luka nya Yura.


"Maaf ya sayang , kalo sakit kamu boleh menarik rambutku atau memegang lenganku" ucap Darren sambal berjongkok didepan yura dan membersihkan luka menggunakan air baru diolesi antibiotik dan diperban menggunakan kain kasa. Yura hanya diam saja karena dia dibuat makin bingung dengan tingkah seniornya itu.


"Terima kasih" ucap Yura pada akhirnya, biar bagai manapun seniornya itu telah membantu dia membalut luka.


"Apakah sangat sakit?"tanya darren lembut dan dibalas gelengan dari Yura dan Darren terus mengelus kaki Yura yang diperban berharap elusan yang dia berikan bisa mengurangi rasa sakit gadisnya walaupun tadi gadisnya berkata jika tidak sakit lagi tapi tetap saja pasti sakit.


"Senior" panggil Yura dia merasa tidak enak karena sikap seniornya itu.


"Senior juga terluka" ucap Yura memberitahu. Darren melihat kakinya yang terluka lalu menatap Yura dan tersenyum, tangannya terangkat mengelus rambut yura sebanyak tiga kali dan berdiri setelah membersihkan barang-barang yang tadi dia pakai.


"Tidak apa-apa, ini bisa nanti, aku akan membersihkan pecahannya " ucap Darren.


"Eh jangan biar aku aja" ucap Yura melarang.


"Kamu duduk dengan patuh atau aku akan marah" ucap Darren tajam saat melihat Yura akan berdiri dari dari sofa.


Akhirnya Yura hanya diam dan memperhatikan setiap kegiatan seniornya itu ,setelah selesai membersihkan dia melihat Darren yang mengobati lukanya sendiri , Yura sudah menawari bantuan tapi Darren malah menolak dengan keras dan dengan terpaksa Yura hanya menurut disisi lain dia juga takut dengan seniornya itu.


"Maaf senior ini dompet senior maaf baru mengemabalikan dan maaf sekali lagi aku harus pergi sekarang jadi maaf tidak bisa menjamu senior terlalu lama " ucap yura.


"Kamu akan pergi kemana? Aku akan mengantarmu" ucap Darren.


"Eh jangan bukankah senior sibuk ?" Yura mencoba memberi alasan.


"Tidak ada kata sibuk untuk mu" ucap Darren yang lagi-lagi membuat Yura bingung.


"Aku sangat mengharagai niat baik senior ,terimakasih tapi maaf jika nanti aku diantar senior nanti kami tidak bisa pulang lagian aku akan menjemput kakakku maaf ya senior" ucap Yura sambil bersiap-siap untuk pergi dan diikuti seniornya.


"Beneran gpp?bisa sendiri? Jika tidak bisa aku telfon bodyguard ku untuk mengantar jemput mu" tawar Darren.


"Terima kasih senior aku menghargai tawaran senior tapi maaf ya sekali lagi"ucap Yura bersalah.


"Huft!! baiklah tapi kami harus hati-hati ya" pesan Darren dan diangguki oleh Yura mereka akhirnya berpisah di pintu lift.


"Tentu , sekali lagi terimakasih senior juga hati-hati dijalan sampai jumpa lagi" ucap Yura dan sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat.

__ADS_1


Didalam lift Yura terus memikirkan semua tingkah laku seniornya itu saat di apartemennya tadi . sungguh itu sangat mengganggu pikirannya ditambah kata 'sayang' berulang kali terucap dari seniornya itu.


'Apakah senior pikir aku ini kekasihnya ? ya mungkin saja si ' Yura menatap pantulan dirinya dipintu lift .


'Eh emang senior udah punya kekasih ? eh tapi pasti sudah masa orang seperti senior belum punya pacar pasti udahlah' Yura Kembali menatap pantulan dirinya dipintu lift .


'Eh tunggu ngapain aku mikirin itu si udah woy jangan dipikirin' rutuk Yura pada dirinya sendiri.


'Sekarang yang harus kamu pikirin bukan seniormu Yura tapi kakakmu yang harus kamu khawatirkan' rutuk Yura lagi.


Ting


Pintu lift terbuka Yura langsung berlari mencari mobilnya dan langsung tancap gas kerumah kinara.


*


*


*


Emely sampai dirumah kinara dan meneken bel tanpa menunggu lama pintu terbuka sedikit pertanda dia boleh langsung masuk.


Cklek


Emely menutup Kembali pintunya. Dan berjalan menuju ruang keluarga.


"Kinara" panggil Emely lirih dan berdiri dibelakang sofa yang terdapat Kinara yang sedang menonton drama korea ditemani snack dan minuman kemasan.


"Emely!!!"Kinara langsung berlari dan memeluk tubuh sahabatnya itu dan membawanya menuju sofa dan tanpa menunggu lama Emely langsung menangis meraung-raung dan menyembunyikan kepalanya di dekapan hangat sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja . tenangkan dirimu dulu dan menangislah setelahnya kau tidak boleh menangis" ucap Kinara membiarkan sahabatnya menangis di dekapannya.


"Setelah tenang jika kamu mau kamu langsung cerita tapi jika belum siap tidak usah cerita" nasihat Kinara. Dibalas anggukan oleh Emely.


Tidak terasa satu jam Emely menangis walaupun sempat tenang tapi dia kembali menangis sampai suara bel rumah Kinara berbunyi , Kinara membiarkannya tak lama kemudian ponselnya mendapat telfon dari Yura.


Cute sister


"Halo kak Kinar" sapaan dari seberang.


"Ya masuk aja ra pintunya tidak dikunci " ucap Kinar lalu tanpa basa-basi lagi telfonnya sudah dimatikan oleh Yura.


Ckelek


"Kunci pintunya ra" Kinara sedikit berteriak.


Yura mengunci pintu lalu langsung berjalan cepat menuju ruang keluarga dan langsung terlihat Emely yang masih menangis di dekapan Kinara. Tanpa basa-basi Yura langsung duduk dan bergantian memeluk kakaknya itu.


"Maaf" kata Emely lirih masih terisak.


"Tidak apa-apa" Yura menenangkan.

__ADS_1


"Maaf" lagi-lagi hanya kata itu yang terucap dari mulut Emely, dan terus berulang.


Yura mengangguk walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa kesalahan Emely sampai dia mengucapkan kata maaf berulang kali , yang terpenting sekarang menennangkan kakaknya dulu. Setelah stu setengah jam lamanya akhirnya Emely menghentikan tangisnya dan menghembuskan nafas berkali-kali .


"Ada apa?" tanya yura pelan.


"Yura"


"Iya kak , kenapa? Ayo katakan" ucap Yura.


"Kinara"


"Iya" ucap Kinara.


"Yura, Kinara"


"Iya?" jawab keduanya kompak.


"aku mohon kalian jangan kecewa walaupun aku tahu kalian pasti kecewa" Emely mendudukkan kepala. Sementara kedua orang di depannya hanya diam menunggu dan siap mendengarkan apa yang akan diucapkan Emely.


"Aku-" Emely menggantungkan ucapannya.


'Haruskah? ' batinnya meragu. Emely diam lagi mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.


"Aku Resign dari pekerjaan" finalnya .


Menunggu reaksi kedua orang yang duduk disampingnya, tapi yang dia dapat hanya tatapan tidak percaya dan jengah terhadap dirinya.


"Kenapa" Kinara mewakili dia ikut kedalam permainan kata dari Emely, sebenarnya dia tahu jika Emely berbohong saat ini.


"Aku kan pernah mengatakan aku akan mengundurkan diri" ucap Emely , memang benar si Emely pernah mengatakannya tapi kenapa tiba-tiba dan kenapa harus menangis.


"Apakah dia mengganggumu lagi?" tanya Yura dan dibalas gelengan. Akhirnya Yura dan Kinara pasrah karena mereka tahu tidak akan bisa memaksa Emely mengatakannya.


"Hem terserah kamu itu keputusanmu" ucap Yura mendukung.


"Terus kamu akan bekerja dimana?" tanya Kinara penasaran.


"Aku ingin menikmati hasil kerja kerasku dulu, entahlah kapan aku akan kembali bekerja lagian jika aku tidak bekerja uang kami masih cukup ditambah kita dapat jatah bulanan dari bunda dan ayah " ucap Emely.


"Kamu beneran gapapa kan?" ucap Yura masih khawatir.


"Aku beneran gapapa hanya saja berat karena harus Resign" dan tidak bisa bertemu dengnnya lagi walaupun dia yang membuatku seperti ini tapi aku tidak munafik aku sedih tidak bertemu dia lagi lanjut Emely dalam hati.


Mereka mengobrol sambil menghibur Emely tanpa terasa jam menunjukan pukul setengah Sembilan malam , Emely dan Yura memutuskan untuk pulang .


*******************************************


Jangan lupa vote dan comment


Mohon dukungannya Teman-teman

__ADS_1


__ADS_2