30 Days Chance

30 Days Chance
lier (so crazy)


__ADS_3

...Happy Reading...


...*...


...*...


...*...


"Perceraian kita masih dirahasiakan dimata semua orang bunda masih keluarga Steven bunda juga masih bekerja dikantor" Ucap Daniel menceritakan.


"Apakah kalian akan rujuk kembali?" Tanya Yura.


"Biar nanti waktu yang menjawab " Jawab Daniel.


Setelah Daniel mengatakan itu terjadi keheningan yang cukup lama. Daniel menatap kedua putrinya yang juga sedang menatap dirinya. Dia tahu dari mata putrinya tersirat harapan orangtuanya bakal rujuk kemabli. Daniel merasa sedikit bersalah karena itu.


"Kalian masih ingin makan?" Tanya Elly mengalihkan topik.


"Hahaha kalian tidak ingin melanjutkan makan? Agak mubazir jika dibuang" Ucap Daniel canggung.


"Hehe kami akan menghabiskannya . Biarlah malam ini makan sepuasnya tanpa pedulikan kalori yang berlebih. Pokoknya malam ini mau nambah lemak sebelum diet yang menyiksa" Ucap Emely seolah percakapan tadi hanya percakapan biasa.


"Ayo!!!! " Jawab Yura tak kalah semangat .


"Bunda kupas kan buah ya " Ucap Elly sambil berjalan menuju kulkas dan membukanya. Dia mengambil beberapa buah apel dan pir .


"Aaaa bunda g mau makan buah " Keluh Yura melanjutkan makan pizza.


"Walaupun kita sedang pesta lemak-" Ucapan Daniel terpotong oleh Yura.


"Ayah apaan sih pesta lemak g like banget tau. Ayah sedang mengejekku kan? " Ucap Yura pura-pura ngambek.


"Hahahaha kau kan emang gendut dan banyak lemak" Emely semakin gencar menggoda adiknya.


"Ck hais bundaaaa " Rengek Yura setelah bundanya selesai mengucapkan apel dan pir.


"Apa mereka benar kamu itu nambah gendut lihat pipimu makin gemesin tau" Ucap Elly sambil mencubit pipi gendut Yura lalu memasukkan potongan apel kedalam mulut Yura.


"Ihh buanuda kuanapa ikut-ikutan" Ucap Yura dengan mulut penuh apel dan pizza.


"Ululululu putri ayah yang satu ini makin gemesin" Ucap Daniel sambil mencubit pipi Yura yang membuat sang empu semakin kesal.


"Adek kecilku yang selalu jadi adik kecil" Ucap Emely semakin semangat menggoda adiknya.


"Udahlah aku ga mau makan lagi. Aku dah kenyang" Ucap Yura lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Baguslah kalo dah kenyang. Bun makan hotpot yuk, katanya Yura dah kenyang aku belum nih cari hotpot yuk" Selalu Emely tak pernah berhenti menjahili adiknya.


"Hahahaha" Kedua orangtuanya hanya tertawa.


"Sudah sini duduk " Ucap Daniel kepada Yura yang sudah selesai mencuci tangan.


Yura mendekati meja makan dengan muka yang sangat menggemaskan bagaimana tidak liha pipinya yang mengembang dan bibirnya yang maju lima cm terus satu lagi tatapan matanya yang bulat membuat kesan menggemaskan yang meningkat.


"Kamu itu kenapa sih imut banget " Ucap Elly pada Yura.

__ADS_1


"Ga tau kalian yang bikin" Ucap Yura blak blakan karena masih kesal. Orangtuanya memandang Yura tak percaya , putri kecil mereka sudah tumbuh dewasa dan memiliki pemikiran tentang dunia dewasa.


"Berapa lama? " Tanya Emely tiba-tiba.


"Apanya? " Tanya Daniel tak mengerti.


"Pergi" Jawab Emely.


"Entahlah 3 bulan maybe" Ucap Daniel.


"Kami akan healing untuk menenangkan pikiran mungkin bisa lebih dari tiga bulan" Lanjut Elly.


"Berangkat jam berapa? " Tanya Yura.


"Setelah makan siang. Apakah kalian akan mengantar kami? " Tanya Daniel hati-hati.


"Tidak" Jawab Yura dan Emely bersamaan.


"Aku harus mempersiapkan presentasi untuk meeting besok setelah makan siang" Ucap Emely.


"Ada kelas dari pagi sampai sore" Ucap Yura.


Pukul setengah dua belas malam mereka baru selesai membersihkan meja makan, piring gelas dan peralatan makan lain yang tadi digunakan sudah tersusun rapi di lemari peralatan makanan. Daniel dan Elly pamit pulang .


"Kami akan pulang . Jaga diri kalian " Ucap Elly sambil mengelus puncak kepala kedua putrinya.


"Ayah berpaesan pada kalian. Jangan sekalipun kalian menyentuh minuman beralkohol dan jangan pernah mendekati tempat hiburan malam tanpa terkecuali termasuk pesta ulang tahun" Daniel berpesan dan mengesahkan bahwa itu sebuah larangan keras.


"Kami akan mengingatnya" Ucap Emely mewakili.


"Satu lagi. Bunda sama ayah sangat memohon agar kalian tidak meniru sifat kami ya. Hormatilah seseorang yang lebih tua dari kalian dan berusahalah ramah kepada semua orang walaupun kalian terkesan cuek" Ucap Elly menambahkan.


"No promise" Ucap Yura.


Kedua orang tuanya memandang mereka lalu mengecup kening kedua putrinya dan pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mereka hanya memandangi kedua orangtuanya yang berjalan menuju lift.


*


*


*


Yura dan Emely sedang berada di kamar Emely. Karena Yura meminta tidur dikamar Emely. Bukannya tidur mereka malah duduk di lantai beralaskan karpet berbulu ditemani sepuluh kaleng soda. Bahkan enam kaleng sudah kosong mereka hanya minum soda tanpa ada yang mengatakan apa-apa. Sampai Emely membuka suara bersamaan dengan tangan nya membuka kaleng soda ketujuh.


"So Crazy" Geram Emely dan meminum soda sekali teguk. Yura melakukan hal yang sama.


"Two months, really? without notice and without thinking about their child" Ucap Emely setelah menghabiskan sekaleng soda.


"Lier" Ucap Yura setelah menghabiskan kaleng soda kedelapan. Suara gertakan gigi terdengar setelahnya.


"Mereka ga punya anak" Ucap Emely.


"Masing-masing selingkuh" Ucap Yura membuat Emely menatapnya.


"Diponsel mereka masing-masing terdapat pesan dari seseorang yang sudah pasti mereka selingkuhan Bunda sama ayah jangan lupakan wallpaper ponsel mereka foto mesra dengan masing-masing selingkuhan yang terlihat sangat intim" Ucap Yura datar.

__ADS_1


"Kapan? " Tanya Emely pasalnya dia sama sekali tidak tahu.


"Saat aku meen bersihkan ruang keluarga" Ucap Yura.


"Kamu membencinya? " Tanya Emely. Yura hanya menatap Emely yang juga sedang menatapnya mencoba mencari jawaban dari tatapan mata adiknya.


"Kamu sendiri"Tanya Yura balik.


" 80 % aku ga munafik aku membencinya. 10% percaya mereka hanya melaksanakan kewajiban sebagai orang tua. 7% mereka menyayangi kami dan 3% mereka tulus melakukannya " Ucap Emely.


"Mereka hanya menjaga image didepan masyarakat" Ucap Yura.


Yura dan Emely hanya diam dan menghabiskan kaleng soda terakhir setelah itu mereka mentap foto keluarga yang berada dibingkai kecil yang terpajang di sudut kamar dekat lampu tidur.


"Mimpinya sangat indah berbanding terbalik dengan aslinya" Ucap Yura. Difoto itu terlihat dia, bunda, ayah dan kakaknya berfoto bersama disebuah tempat piknik tersenyum bahagia. Saat itu Yura masih berusia 3 tahun dan kakanya berusia 8 tahun.


"Mereka tidak mau bangun karena takut menghadapi dunia nyata" Ucap Emely membenarkan ucapan yang indah.


"Terlihat sangat indah sampai membuat mataku sakit jika terus melihatnya" Ucap Yura sendu dan setetes air mata jatuh dari matanya.


"Lihatlah banyak orang ketiga tapi tak terlihat yang menghancurkan mimpinya" Ucap Emely. Emely tampak lebih emosional daripada Yura.


"Don't cry" Ucap Yura menyemangati sekaligus memperingati dirinya dan juga kakanya.


"Anggap saja air mata yang tumpah saat ini karena kita menahan ngantuk " Ucap Emely juga menyemangati sambil tersenyum sangat manis tapi tidak dengan arti senyumannya.


"Sebaiknya kita tidur" Ucap Emely lalu merebahkan badannya di atas karpet berbulu dan memejamkan mata hal yang sama dilakukan oleh Yura.


*


*


*


Keesokan paginya Emely tebangun lebih awal . Dia merenggangkan ototnya yang kaku karena tidur dilantai dan dilanjutkan dengan membersihkan sampah yang berada dikamarnya. Lalu dia masuk ke kamar mandi untuk memulai aktivitas paginya dengan mandi sebelum memasak didapur.


Setelah dia rapi dengan setelan kantornya Emely membangunkan Yura karena Yura ada kelas pagi.


"Yak bangun sekarang jam tujuh lebih jika kamu tidak bangun sekarang kamu akan terlambat masuk kuliah aku akan berangkat kerja " Ucap Emely sambil terus menggoyangkan badan Yura kekanan dan kiri .


"Apa jam tujuh? Kanapa baru dibangunin" Ucap Yura langsung sadar karena dia ingat akan ada kelas pukul 7. Dia langsung keluar kamar Emely dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Emely hanya geleng-geleng kepala melihat melakukan adiknya lalu beranjak kedapur untuk membuat salad sayur.


10 menit berlalu terlihat Yura keluar dari kamar dengan pakaian rapi seperti hari kemarin sweeter dan long skrit dan rambutnya ia biarkan terurai terlihat dia tidak menyisir rambutnya. Raut mukanya terlihat sangat kesal tatapan tajam ia arahkan kepada kakanya yang sedang menuang minyak zaitun dan sedikit garam kedalam salad yang dia buat, Emely yang ditatap tajam hanya diam acuh tak peduli.


"Sejak kapan jam tujuh bisa dilambatkan menjadi jam enam" Ucap Yura geram. Mengambil gelas dengan kasar dan mengisinya dengan air putih.


"Sejak seseorang sulit dibangunkan" Ucap Emely santai sambil menaruh salad kepada dua mangkuk yang sudah ia siapkan.


"Crazy" Ucap Yura lalu duduk dimeja makan.


"Setidaknya sisir rambut kusutmu kamu terlihat seperti gembel dengan rambut kusut dan lepek mu. Kau tidak keramas berapa hari" Ucap Emely meletakan mangkuk berisi salad kedepan Yura dan dia duduk didepan Yura lalu memakan salad sayurnya.


"I don't Fu**ing care" Ucap Yura lalu memakan salad nya.


"Motor mu habis bensin hari ini kamu berangkat bersama ku" Ucap Emely memberitahu yang hanya dijawab deheman singkat oleh Yura.

__ADS_1


*********************************************


Jangan lupa like and comment.


__ADS_2