
...Happy Reading...
...*...
...*...
...*...
Didalam lift Yura terdiam melamun . Entahlah apa yang sedang dia pikirkan sampai pintu lift terbuka dia masih melamun .
"Mba " Ucap seorang yang ada disamping Yura sambil menepuk bahu Yura agar tersadar.
"Eeh iya?" Ucap Yura setelah sadar dari lamunannya yang tidak berguna.
"Permisi saya mau menekan tombolnya" Ucap orang itu.
"Eh iya silakan " Ucap Yura canggung.
"Mba bukankah mba sudah sampai" Ucapnya lagi.
" Eh astaga maaf permisi " Ucap Yura malu.
Dia keluar dari lift menahan malu dan berlari sampai didepan pintu apartemennya , menempelkan sidik jari dan masuk.
"Kau sudah pulang" Sapa Emely dari dapur.
"Iya" Ucap Yura sambil melepaskan Senekers nya dan menggantinya dengan sandal rumahan.
"Kenapa wajahmu kayak ketakutan gitu apa kau habis dikejar hantu" Ucap Emely saat Yura mendekat kulkas untuk mengambil air dingin dan meminumnya sampai habis.
"Tumben jam segini sudah pulang" Ucap Yura mengabaikan pertanyaan kakaknya.
"Aku memang pulang jam segini" Ucap Emely aneh menatap Yura.
"Iya kah? Seingatku kau selalu pulang pukul 10" Ucap Yura bercanda. Yura berjalan menuju meja makan setelah mencuci tangan dan memakan buah anggur di meja.
"Itu salah bos gila, bukan aku" Ucap Emely santai.
"Bagaimana kuliahmu hari ini? " Tanya Emely.
"Luar biasa" Ucap Yura.
"Luar biasa menyenangkan? " Tebak Emely.
"Luar biasa membosankan " Ucap Yura malas.
"Menyesal aku bertanya" Gumam Emely yang masih didengar Yura.
"Aku tidak memintamu bertanya" Tanggap Yura.
" Terserah mu aja. Mandi sana "
"Masak apa? " Tanya Yura.
" Buchujeon dan aglio olio" Ucap Emely.
"Tumben ga ada sayur" Ucap Yura.
"Buah aja" Jawab Emely.
"Bunda sama ayah kapan datang? " Tanya Yura.
"17.30 katanya. Udah sana mandi" Ucap Emely dan langsung diturutin oleh Yura.
*
*
*
17.35 bel unit apartemen mereka berbunyi.
"Yura tolong bukakan pintu" Ucap Emely dari dapur. Yura berada di ruang tamu sedang menyapu menggunakan penyedot debu .
"Bunda masuk" Ucap Yura melihat monitor dan menekan tombol agar pintu terbuka otomatis.
"Sore sayang" Sapa Elly bundanya Yura dan Emely.
"Sore juga bun, mana ayah? " Jawab Yura sambil menyalami tangan bundanya.
"Itu ayah" Tunjuk Elly pada Daniel yang baru masuk.
"Ayah" Sapa Yura mendekati ayahnya dan mengalami tangan ayahnya.
__ADS_1
"Hei putri ayah makin cantik" Ucap Daniel sambil mengusap kepala putrinya.
"Apa ini? " Tanya Yura sambil membantu ayahnya membawa barang bawaannya.
"Ayah membawakan makanan favorit kalian Ganjang Chicken sama Angma Chicken. Dimana kakak" Ucap Daniel.
"Ada di dapur, terimakasih ayah " Ucap Yura lalu menyusul keluarganya yang berada di dapur.
"Wah bunda juga bawa makanan" Yura selalu antusias soal makanan.
"Kami juga masak. Kita akan makan besar, bunda bawa pizza sama kentang goreng" Ucap Emely memberitahu.
"Kakak masak apa? " Tanya Daniel.
"Buchujeon dan aglio olio" Jawab Emely sambil menyajikan masakan dimeja makan dibantu dengan Yura.
"Kulkas kalian penuh? " Tanya Elly sambil membuka kulkas.
"Astaga" Ucap Elly terkejut.
"Ada apa? " Tanya Daniel santai.
"Lihatlah" Elly membuka pintu kulkas lebih lebar.
Kulkas berpintu dua itu terbuka menampilkan banyak sekali minuman kaleng dan berbagai jenis soda dipintu kulkas bahkan ada juga didalam. Daniel dan Elly kompak melihat anaknya mereka menatap tajam kedua putrinya. Yang ditatap pura-pura sibuk menata piring yang sebenarnya sudah rapi.
"Kalian tau minuman itu tidak sehat? " Tanya Elly tajam sambil menujuk minuman didalam kulkas.
"Haruskah ayah buang semuanya" Daniel.
"Maaf " Ucap Yura dan Emely kompak menundukkan kepalanya.
"Alkohol? Bir? Wine? Wiski? Soju? Sake? " Tanya Elly. Maksud dari pertanyaan itu adalah apakah alkohol dan bir pernah masuk ke perut kalian atau pernah berasa dikulkas kalian.
"Jawab" Ucapan Daniel terdengar sangat emosi walaupun suaranya sangat tenang.
"Ti-tidak kami tidak pernah meminum itu " Ucap Emely bergetar.
"Ayah haruskah kita siapkan satu art disini untuk mengatur isi kulkas dan mengamati kegiatan mereka" Ucap Elly tenang tatapannya masih menajam.
"No" Teriak Yura dan Emely bersamaan.
"Nanti ayah siapkan" Ucap Daniel.
Orang tuanya hanya menghela nafas, mereka tahu tidak akan bisa membantah ucapan Emely ini.
"Mulai bulan depan Bunda akan mengirim makanan dan minuman untuk isi kulkas kalian" Ucap Elly yang hanya mendapat anggukan pasrah dari kedua putrinya.
"Sudahlah. Kalian tidak lapar? Ayah sudah lapar" Ucap Daniel mengalihkan topik.
"Terimakasih makanannya selamat makan" Ucap Yura dan Emely bebarengan.
Elly duduk disebelah Daniel setelah dia menyiapkan minuman yang dia ambil dari dalam kulkas.
"Karena malam ini makan besar minumnya boleh soda" Ucap Elly.
" Buchujeon dan aglio olio enak ayah suka, kakak ada kemajuan " Ucap Daniel memuji makanan buatan Emely.
"Adek juga bantu tau yah " Ucap Yura tak terima.
"Ya ya adek bantu makanya nambah enak" Ucap Daniel meledek.
"Makanlah sepuas kalian" Ucap Elly.
Mereka makan dengan lahap sesekali diselingi dengan candaan. Setelah puas bercanda mereka fokus pada makanan masing-masing sampai deheman dari kedua orang tuanya mengalihkan perhatian Yura dan Emely.
"Ehem" Yura dan Emely menunggu orang tuanya berbicara.
"Kami sudah resmi bercerai" Ucap Daniel.
Lihatlah mereka sudah bercerai tanpa persetujuan anak mereka. Jika biasanya orang tua lain memberi tahu terlebih dahulu kalo mereka akan bercerai dan meminta persetujuan dari anaknya. Tapi ini? Mereka bahkan tidak bertanya anaknya setuju atau tidak , mereka tidak meminta pendapat dari anak dulu, tapi mereka langsung bilang sudah resmi bercerai . Setidaknya mereka harus memebeitahu anaknya saat surat gugatan cerai dikeluarkan.
Yura dan Emely terdiam pikiran mereka kosong mencoba mencerna empat kata yang diucapkan oleh ayah mereka. Mereka terkejut tapi tetap bersikap biasa saja . Sebenarnya mereka sudah menduga ayah dan bundanya pasti akan bercerai , mereka kira tidak aakan terlalu terkejut . Diluar ekpetasi mendengarnya langsung membuat mereka bingung harus ber reaksi seperti apa. Ini terlalu mengejutkan dan terlalu cepat.
"Sekitar dua bulan yang lalu kita resmi bercerai " Ucap Elly memecahkan keheningan.
"Apa kalian marah? " Tanya Daniel memastikan.
Sesungguhnya dia khawatir dengan kedua putrinya. Yura dan Emely tidak merespon mereka hanya memandang kedua orang tuanya dengan pandangan sulit diartikan.
"Sepertinya kalian terlalu kecawa. Maafkan kami nak" Ucap Elly tidak mendapatkan respon.
Mereka terdiam cukup lama saling memandang hawa dingin tercipta diantara mereka kedua orang tuanya terlihat canggung.
__ADS_1
"Ayah punya perempuan lain? " Tanya Emely memecahkan kecanggungan.
"Ayah tidak punya perempuan lain selain kalian" Ucap Daniel sambil menggelengkan kepalanya.
"Bunda ada laki-laki lain? " Tanya Yura.
"Tidak" Ucap Elly sambil menggelengkan kepalanya.
"Kami bercerai karena tidak cocok satu sama lain" Ucap Daniel seolah mengerti dengan pertanyaan kedua putrinya.
"Main fisik? " Tanya Yura memastikan.
"Setiap bunda sama ayah bertengkar hebat ayah tidak pernah main fisik sama bunda, bunda juga sama " Ucap Elly mengatakan yang sebenarnya.
"Ayah masih mempunyai dua putri yang ayah harus jaga fisiknya dan penglihatannya" Ucap Daniel.
"Ada pertanyaan? " Tanya Elly selembut mungkin.
"Kami? " Tanya Emely.
"Yura ikut dengan ayah sementara Emely ikut dengan bunda. Apakah kalian keberatan? " Tanya Daniel. Mereka berucap selembut mungkin.
"Kalian tidak menanyakan pendapat kami?" Tanya Yura . Kedua orang tuanya hanya diam menundukkan pandang.
Mereka tahu Bunda dan ayah mereka enggan menjawab kalo bahasa halusnya mereka terlalu merasa bersalah sehingga tidak berani menjawab.
"Sepertinya kita memang tidak seberharga itu" Ucap Emely sendu.
Lagi-lagi Bunda dan ayah mereka hanya diam. Sebenarnya Elly merasakan sakit hati yang luar biasa sebagai seorang ibu yang melahirkan anak tentu hatinya sangat sakit mendengar ucapan kedua putrinya. Daniel merasakan hal yang sama itu sebabnya mereka hanya diam dan menunduk terlalu menyakitkan melihat tatapan kedua putrinya yang sangat kecewa.
Lagi dan lagi hanya ada keheningan bahkan mengabaikan makanan didepan mereka yang sangat lezat.
"Apa kalian ingin pindah kerumah. Disana kosong tidak ada yang menempati. Jika kalian mau kalian bisa pindah atau mau direnovasi dulu seperti rumah impian kalian" Ucap Daniel mengalihkan topik.
"Pindah" Ucap Emely mencoba mengalihkan pikirannya dari pembicaraan tadi.
"Kita akan merenovasi agar kalian nyaman tinggal disana karena kalian tidak suka ada art kita tidak akan menyiapkan art " Ucap Elly dia tersenyum menyembunyikan luka hatinya.
"Seluruh kebutuhan kalian kami akan menanggungnya tidak akan peduli dengan penolakan kalian setiap bulan kami akan mentransfer ke rekening kalian" Daniel.
"Atau kalian mau setiap minggu?" Tanya Elly.
"Tidak perlu lagian aku sudah kerja gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai kuliahnya Yura" Tolak Emely.
"Tidak bisa untuk biaya hidup kalian kita yang akan menanggungnya. Kita bekerja untuk kalian" Tolak Daniel tegas.
"Terserah kalian mau kerja atau tidak itu terserah kalian. Uang yang kalian kumpulkan gunakan untuk diri kalian sendiri" Ucap Elly menekankan.
Yura dan Emely terdiam mendengarkan semuanya mereka seperti sudah pasrah kepada kedua orang tua mereka.
"Perceraian kita masih dirahasiakan dimata semua orang bunda masih keluarga Steven bunda juga masih bekerja dikantor" Ucap Daniel menceritakan.
"Apakah kalian akan rujuk kembali?" Tanya Yura.
"Biar nanti waktu yang menjawab " Jawab Daniel.
*****************************************
Jangan lupa like and Comment
...Ganjang Chicken ...
...Angma Chicken...
...Buchujeon...
...Aglio olio...
...Pizza...
...French frice
__ADS_1
...