
Setelah dokter keluar dengan wajah yang agak sedih dia menyatakan kalau kak Miranda benar-benar kehilangan banyak sekali darah dan penyakit kangkernya terus- terusan muncul berulang kali. Aku yang selalu menjaga dan merawat kak Miranda tak menyadari kalau dia juga menderita penyakit kangker paru-paru bahkan presedir pun tak tau apa-apa tentang penyakit kangker kak Miranda, jadi di sana aku hanya bisa menyesali perbuatan ku dan menangis di pelukan presedir (maap ya buat para jomblo yang baca) "huhu... ba...bagaimana ini?" kataku presedir mengelus kepala ku sambil bilang "SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA" aku terkejut dan mendorong presedir (anyway temen-temen aku lupa kasih tau kalo nama presedirnya itu "Gu Yuichi" artinya "berlimpah / kaya putra pertama dan berani untuk putra pertama" nama "Gu" ini adalah marga orang itu, yap dia berani dan dia kaya OwO LANJUT) presedir terkejut sampai air mata di matanya hilang sekejap "ma... maaf pak saya hanya kaget presedir mengatakan itu seperti yang di katakan kakak" (yap maap lagi aku sela di sini aku sebenernya Monika bilang itu tapi malah semua berakhir mati)
__ADS_1
"maaf pak..." kataku sambil menundukan kepala "hah... sudah lah ayo kita siapkan untuk mengubur Miranda" kata pak presedir sambil tersenyum pada ku. Sambil berjalan kami diam tapi aku memecah keheningan dengan bertanya "kak Miranada bekerja berapa lama di perusahaan?" presedir menghentikan langkahnya di belakang ku dan berkata "sejak..." situasi hening seketika semakin lama aku jadi semakin khawatir pada pak presedir "sejak ayahku yang masih memegang dan menguasai perusahaan" katanya sambil perlahan mengeluarkan air mata tapi... hanya setetes air yang keluar dari matanya, dan kami kembali berjalan. Sesampainya di luar kami naik ke mobil dan kembali ke perusahaan, aku kembali bekerja dan di tengah pekerjaan ada beberapa orang yang menyuruh ku untuk membelikan beberapa minuman "seketaris, bisakah anda membelikan kami beberapa minuman kopi? tolong..." kata mereka dengan ramah "baiklah" kata ku sambil mengambil kertas yang bertuliskan beberapa menu kopi dan beberapa uang 100¥ aku berlari ke tangga dan turun dengan perlahan sesampainya di tempat kopi aku menunggu sangat lama menunggu kopi jadi setelah 15 menit aku mengambil kopi yang sudah di pesan dan kembali ke lift "aduh capek turun tangga mending naik lift" kata ku dalam hati sambil memegang kopi yang di pesan. Aku mencoba untuk tenang tapi nafas ku terasa sangat berat sesampainya di lantai 16 aku langsung memberikan kopinya kepada si pemesan dan kembali bekerja dengan santai aku berkerja dan tak ingat waktu menujukan pukul berapa selama beberapa saat aku kira itu masih siang dan ternya sudah jam 10 malam aku terkejut dan membereskan meja ku "untung ada yang sifth malam hari ini" aku melihat beberapa pekerja yang sedang bekerja di sifth malam aku mengingatkan mereka untuk jangan lupa mengunci pintu saat selesai aku tiba di depan lift dan ternyata di lift itu ada presedir "h...hai pak..." kata ku dengan gugup dan berdiam diri di depan lift tanpa mau masuk "sedang apa kau di sana?" kata pak presedir dengan tatapan dingin yang suram "masuk lah" sambungnya aku masuk ke lift dan menekan tombol lantai dasar. Sesampainya di bawah aku bertatap muka dengan William dan melewatinya begitu saja
__ADS_1
"TUNGGU"
__ADS_1