
"Keluar!!Keluar dari rumah ku!!"ucap Amanda yang begitu marahnya.
"Bibi maafkan aku telah membohongi mu"
Darren keluar dari rumah Amanda,karena melihat Amanda yang begitu marah.Dia tidak bisa membujuk Amanda,Darren kembali ke dalam mobilnya.
"Kenapa dia begitu marah setelah mendengar nama Tuan Morgan?Begitu benci nya engkau dengan Tuan Morgan?"ucap Darren.
Melihat Amanda yang begitu marah,Darren takut Amanda akan berpindah tempat lagi.Jadi dia mengurungkaan niat nya untuk pulang.Hari mulai pagi,Darren tertidur di dalam mobilnya.Darren melihat Amanda yang keluar dari rumahnya dengan membawa tas.
Darren mengikuti nya dengan mobilnya, tiba-tiba Amanda berhenti untuk menunggu bis yang akan membawa nya.Darren keluar dari mobil akan mendekati Amanda,melihat Darren dari belakang nya dia yang seharusnya menunggu bis yang belum datang,dia menghindari Darren yang hendak menyebrang.
Dari jauh terlihat sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan cepat,Darren melihat mobil itu akan menabrak Amanda yang akan menyebrang.Darren berlari menghampiri Amanda dan mendorong nya hingga dia terjatuh,sedangkan tubuh Darren terpental, tertabrak mobil.Mobil tetap melaju meninggalkan tubuh Darren yang tergeletak.
Semua orang berkerumun melihat tubuh Darren yang tergeletak di jalan dengan penuh darah segar yang bercucuran.Amanda melihat Darren yang tergeletak, berteriak,menangis meminta tolong untuk di panggil kan Ambulance.
"Pitter... Pitter... jangan pergi...."ucap Amanda
Darren mendengar suara Amanda yang lirih di telinganya,mata nya mulai buram melihat orang-orang yang berkerumun.Seluruh badannya dia tidak bisa ia gerakan,hingga matanya sedikit mulai menutup.
Tubuh Darren yang sudah tidak berdaya di bawa oleh Ambulance,detak jantungnya semakin melemah.Amanda mengikuti Darren yang di bawa ke rumah sakit dengan rasa sesal,dan menangis.
"Darren.... Putraku...Darren..."
"Ibu...ibu...dimana engkau?"
Di bawah alam sadarnya dia mendengar suara seorang wanita yang memanggilnya.Darren di bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan operasi.Darren bisa di selamatkan,salah satunya kaki nya mengalami patah tulang.Darren sudah di pindah kan di ruangan kamar inap.Amanda menunggu Darren yang masih belum sadarkan diri.
8Jam sudah
8Jam sudah Darren baru membuka mata nya,dia merasakan sekujur tubuhnya terasa begitu sakit.Darren melihat Amanda yang sedang tertidur di sofa,dia mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya.Akan tetapi dia merasakan sakit pada kakinya yang mana dia tidak bisa berjalan.
Brakkkkkkk
Suara bantal yang jatuh mengagetkan Amanda dari tidurnya,Amanda melihat Darren yang sudah duduk akan turun dari tempat tidurnya.
"Kamu jangan turun dulu"ucap Amanda.
"Kenapa kamu ku sangat sakit sekali bibi?"
"Kaki kamu patah,jadi kemarin Dokter malakukan operasi pada kaki kamu.Jadi untuk sementara kamu tidak boleh bergerak dulu"
"Tidak mungkin aku harus pulang"
"Pitter... terima kasih"
"Untuk apa?"
"Karena kamu mengorbankan diri kamu untuk menyelamatkan ku "
"Aku yakin mobil itu sengaja ingin menabrak kamu bibi"
__ADS_1
"Benarkah?"
Darren merasa sangat curiga dengan mobil yang akan mencelakai Amanda.
"Apakah dia Morgan?"ucap Amanda
"Tidak mungkin bibi,dia sangat mencintai mu.Bagaimana mungkin dia menyuruh ku untuk mencari mu tetapi dia ingin membunuh mu?"
"Mungkin saja itu hanya alasan untuk menemukan ku,setelah itu dia ingin membunuhku"
"Tidak mungkin bibi"
Darren sangat yakin jika ada orang yang ingin mencelakai Amanda, tetapi bukan Tuan Morgan.Darren bersikeras untuk pergi dari Rumah Sakit karena dia sangat takut dengan Rumah Sakit.
"Bibi,bisakah kita pulang sekarang?"
"Pitter keadaan mu belum begitu pulih,mana mungkin dokter mengizinkan kamu untuk pulang?"
"Aku mohon bibi bawa aku pulang ke hotel atau ke mana saja asalkan tidak di rumah Sakit!"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mohon bibi?"ucap Darren sambil memohon.
Akhirnya Amanda memutuskan untuk menemui Dokter,agar Darren melakukan rawat jalan di rumah.Amanda bersedia merawatnya dengan baik.Meski Dokter masih belum memperbolehkan Darren untuk pulang,tetapi dengan usaha Amanda membujuk Dokter membuat Darren di perbolehkan pulang.
"Baiklah sekarang kita bersiap untuk pulang"ucap Amanda
Amanda memesan taxi,untuk menuju rumahnya.Dia ingin merawat Darren di rumahnya,agar dia juga bisa memantau kesehatan Darren.
"Kenapa kamu tidak menunggu tubuh mu lebih baik di Rumah Sakit?"
"Aku sangat takut dengan Rumah Sakit?"
"Hemmmm...Kenapa?"
"Dulu saat aku berada di Panti Asuhan aku pernah terjatuh yang membuat dahi ku berdarah tanpa henti,Suster membawaku ke Rumah Sakit.Dahiku di jahit dengan jarum yang menurut ku sangat besar,jeritan dan tangisan ku tak mereka perdulikan saat itu aku sangat takut dengan Rumah Sakit"
"Jadi kamu pernah berada di Panti Asuhan?Dimana orang tua mu?"
"Aku tidak tahu mungkin mereka tidak menginginkan ku,itu mengapa mereka membuang ku"ucap Darren
Mendengar cerita Darren,mengingatkan Amanda dengan putranya yang hilang.Seakan nasib nyaa di masa lalu sama seperti Darren.
"Bibi,apa Samuel sudah pulang?"
"Bi..."
"I-iya...maaf Pitter,ada apa?"
"Bibi kenapa?"
__ADS_1
"Tidak...aku tidak apa-apa.Kamu tadi menanyakan apa?"
"Apa Samuel sudah pulang?"
"Tidak tahu,dia sering seperti itu.Tapi tiba-tiba dia sudah di rumah"
"Jadi dia sering pergi seperti itu?"
"Iya,mungkin dia salah dalam pergaulan.Itu mengapa dia usianya yang masih labil terkadang cepat emosi"
Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Amanda.Darren di bawa ke dalam Apartemen Amanda.Terlihat rumah yang begitu berantakan karena sudah 5 hari ini Amanda menunggu Darren di Rumah Sakit.Tas ransel milik Samuel tergeletak di depan pintu kamarnya.Amanda membuka kamar Samuel yang terlihat masih tertidur di atas tempat tidurnya.
"Nak....kamu sudah pulang?Apa kamu hari ini tidak berangkat sekolah?"
Samuel tidak menjawab pertanyaan dari ibunya,dia masih terlelap tidur.Amanda keluar dari kamar Samuel,dan membersihkan kamar nya untuk Istirahat Darren.
"Lebih baik kamu tidur di kamar ku, Pitter?"
"Bagaimana dengan mu?"
"Aku bisa tidur di sofa ini"
"Tidak,biar aku tidur di sofa seperti biasa?"
"Sudah,tidak usah bandel"ucap Amanda menuntun Darren menuju kamarnya
Darren tidur diatas tempat tidur Amanda,dengan nuansa kamar yang di penuhi foto-foto Amanda saat dia masih muda.Di dinding kamarnya terlihat foto pernikahan Amanda dengan Tuan Morgan,bahkan foto Amanda yang mengenakan kalung liontin berpermata biru seperti milik Darren.Darren melihat dengan seksama foto liontin tersebut, menyamakan dengan liontin miliknya.
Ternyata benar-benar mirip,akan tetapi dia menampik semua prasangka nya jika Amanda adalah ibunya.Karena menurut Darren putra Amanda dan Tuan Morgan adalah Samuel,bahkan dia juga tidak merasa kehilangan seorang putra.
Amanda masuk kedalam kamar membawakan sebuah air putih dan beberapa obat untuk Darren.
"Bibi apakah itu foto Anda?"
"Iya,foto semasa muda ku"
"Anda memang begitu cantik"
"Terima kasih"
"Bibi,apa kalung liontin itu milik mu?"
Amanda terdiam,dan memandangi fotonya yang sedang mengenakan kalung liontin tersebut.
"Iya,kalung liontin itu milikku,itu pemberian dari Morgan"
"Apa Anda masih memiliki nya?"
"Aku sudah kehilangan kalung tersebut,bersama orang yang paling berharga dalam hidupku.Sudahlah...minum obat kamu,lalu istirahat"
Darren tidak mengerti dengan ucapan Amanda,dia tidak tahu yang dimaksud dengan orang yang berharga dalam hidupnya.
__ADS_1
..."Bersambung"...