A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
The Devil And Sleeping Beauty


__ADS_3

Mentari pagi


bersinar hangat menerobos celah-celah jendela kamar. Gadis berambut ikal


sepunggung itu menggeliat dan  meregangkan


otot-otot tangannya yang kaku. Ia melirik jam weker , menunjukkan pukul enam


pagi. Buru-buru ia bangun dan merapikan rambutnya


yang berantakan. Ia pergi ke kamar mandi dan bergegas


menjalani rutinitasnya setiap pagi . Raina Putri Maharani, gadis berusia 17


tahun sudah terbiasa bangun pagi kemudian menyiapkan sarapan untuk adik dan sang ayah. Ibunya sudah lama


meninggal dunia ketika melahirkan sang adik, otomatis Raina- lah yang mengurus.


“Pagi, Ayah. Sarapan


sudah siap di meja makan.” Ia menyapa sang ayah yang tengah membaca koran di


teras sambil menikmati hawa sejuk di pagi hari.


“Raina,


bangunkan Reza ya, nanti telat ke sekolah,” ujar sang Ayah sambil beranjak dari


kursi menuju meja makan. Raina sudah tahu kebiasaan Reza yang malas bangun pagi,


hingga harus beberapa kali harus dibangunkan. Kini Raina berdiri di depan pintu


bercat cokelat muda dengan tulisan Reza di depannya, ia mengetuk pintu Reza


beberapa kali tidak ada sahutan. Terpaksa Raina masuk dan mendapati Reza masih betah dengan


piyama tidur dan guling kesayangan. Ia membuka gorden hingga cahaya matahari


masuk dan menimpa wajah Reza, bocah berumur 7 tahun itu .merasa terganggu dan


mengeluh lalu menutup wajah dengan selimut tebal.


“Bangun, Reza.  Ini hari Senin kita harus segera sampai di


sekolah, kita harus  upacara.” Rainamembangunkan Reza.


Reza menggeliat lalu menggosok mata, ia mengerjap dan berkata, “Aku benci


Senin!” Raina tertawa dan membantu adiknya turun dari tempat tidur.


“Mandi dan


bergegaslah sarapan, Ayah


sudah menunggumu.” Raina mengacak rambut sang


adik sementara Reza memanyunkan bibir dan pergi ke kamar


mandi dengan kesal. Sepeninggal Reza,Raina membereskan tempat tidur dan bergegas menemui ayahnya di


meja makan.


“Raina, hari ini


ada les apa? Pulangnya mau Ayah jemput?” tanya sang ayah sambil memakan nasi


goreng .


“Mau les tata


boga, Ayah. Nanti biar naik busway saja,”


ujar Raina tersenyum. Sebenarnya sang ayah khawatir karena Raina


punya kebiasaan buruk, alias


nempel molor. Dia akan tidur di mana saja ketika mengantuk, pernah satu kali Raina


tidur di kopaja hingga arah yang ditujunya terlewat dan terpaksa menunggu sang


ayah menjemput kembali dengan motor,  karena selain Raina juga panikan.


“Jangan


khawatir, aku tidak akan tidur di busway.”


Raina seperti sudah tahu isi


pikiran ayahnya yang sejak tadi terdiam cukup lama. Reza sudah siap dengan


seragam merah putih dan tas di punggung, Raina memasukkan bekal ke dalam tas


Reza kemudian mengacak rambut  yang ikal


menggemaskan. Kebiasaan Raina yang tidak pernah hilang jika dia bertemu Reza


adalah mengacak rambut adiknya. Setelah selesai sarapan, mereka bersiap menuju


tempat tujuan masing-masing, Raina ke sekolah dengan busway sedangkan Reza diantar Ayah karena tempat kerja Ayah satu


arah dengan sekolah Reza. Raina


tekantuk-kantuk dalam busway dia berusaha keras agar jangan sampai tertidur di busway. Ini hari Senin dia harus segera sampai di sekolah, karena


harus mengikuti upcara bendera. Raina memijat telapak tangannya kata guru


olahraga itu juga merupakan cara agar membuat terjaga dan tidak mengantuk . Raina bisa melewati masa


sulit menahan rasa kantuk, dia sampai di sekolah tepat waktu. Dia bergegas menuju


kelas dan menyimpan tas lalu bergabung bersama teman lainnya mengikuti upacara


bendera, hari itu dia bertugas menjadi pembawa bendera.


“Hm, ngeri ya Rai


dengar pidato kepala sekolah tadi.”


Wiwi—teman sebangkunya Raina bergidik ngeri


dengan pidato yang disampaikan kepala sekolah saat upacara bendera. Mereka berjalan


beriringan menuju kelas sambil membawa buku paket matematika, Raina hanya


mengangguk, dia pun merasa ngeri dengan pidato kepala sekolah tentang anak-anak


yang terlibat pergaulan bebas. Memakai narkoba; meninum alkohol ; hingga hamil


di luar nikah dan melakukan aborsi.


“Kasihan dia,” ujar Raina sambil


menyimpan buku-buku itu di meja guru, kemudian duduk di bangkunya diikuti Wiwi.


“Siapa?”


“Yang


aborsi tadi.”


“Kasihan kenapa?


Dia bodoh terlalu percaya dengan pacaranya, itulah kenapa aku tidak mau


pacaran.” Wiwi membusungkan dada, Raina tertawa.


“Itu sih karena


kamu enggak laku, Wi. “ Ledek Raina. Wiwi mencubit pipi sahabatnya gemas.


“Enak saja,


banyak loh adik kelas yang ngantri pengen jadiin aku pacarnya,” ujar Wiwi


menggembungkan pipi, pura-pura marah.


“Ih, masa sama


adik kelas sih , Wi.” Raina tertawa kemudian mereka saling cubit, suara guru


matematika berdehem dan membuat keduanya berhenti lalu fokus belajar dengan


guru yang terkenal galak itu.


“Hari ini kita


ulangan.” Sang guru memberi informasi yang membuat seluruh kelas tertunduk lesu


kecuali Raina. Meski dia ***** tapi untuk prestasi membuat decak kagum seluruh


guru di sekolahnya dan juga teman-temannya, Raina pandai dan juga murah hati.


***


Bel  berbunyi tanda berakhirnya sekolah, Raina dan


teman-temannya berdoa terlebih dahulu sebelum pulang. Wiwi melambaikan tangan,


dia merasa tidak tega meninggalkan Raina sendirian tapi dia harus bergegas


karena ada acara keluarga. Harusnya hari ini dia dan Raina pergi ke ruang tata


boga untuk mengikuti les yang rutin dikerjakan setiap hari Senin.


“Kamu enggak


apa-apa, Rai sendirian?” tanya Wiwi dengan wajah cemas, dia tahu kebiasaan


buruk sahabatnya ini, bagaimana jika di busway dia mengantuk dan tertidur lalu salah arah lagi.


“Kamu tenang


aja, Wi.  Aku enggak bakalan tidur di busway. Jangan khawatir.” Raina


tersenyum, dia bahagia memiliki sahabat seperti Wiwi yang sayang padanya


seperti saudara sendiri.


“Ingat kalau


ngantuk ....”


“Kalau ngantuk


pijit telapak tangan, makan permen yang asem dan mendengarkan musik rock.” Raina


memotong perkataan Wiwi.


“Hm, syukurlah


kalau kamu ingat. Lihat! Ayahku sudah datang menjemput, kamu baik-baik ya, Raina


jangan sampai molor di busway , loh.”


Wiwi menepuk pundak sahabatnya kemudian menghampiri ayahnya yang sudah menunggu


di gerbang sekolah.


Raina menarik


napas panjang kemudian pergi ke ruang tata boga di mana guru dan teman-teman lainnya


sudah bersiap untuk mengikuti les. Raina sangat senang memasak, itu merupakan


hobi tersendiri untuknya. Seorang wanita harus pandai masak untuk menyenangkan


suaminya kelak, ah suami pacar pun dia tidak punya. Tidak ada waktu untuk


mencari pacar, baginya nomor satu di hidupnya adalah ayah dan Reza. Sudah


banyak ribuan surat cinta untuknya atau pesan-pesan yang mengajaknya berkenalan


dan ingin menjadikan dia kekasih hati tapi, Raina tidak berminat.


“Raina, kamu


pulang sendiri?” tanya Bu Lina, guru tata boga Raina saat muridnya berdiri di halte busway.


“Iya, Bu. Aku


pulang sendiri. Ibu sendiri tumben tidak dijemput suaminya?” tanya Raina yang

__ADS_1


sudah akrab dengan sang guru.


“Tidak. Dia sedang


sibuk di kantor jadi Ibu naik busway tapi Ibu tidak bisa menemanimu sampai rumah, tidak apa-apa ‘kan , Raina?” tanya


Bu Lina khawatir.


“Tidak apa-apa,


Bu. Aku mau ke supermarket dulu membeli beberapa bahan untuk membuat kue, Ibu


tidak usah khawatir ya,  percaya padaku.”


Raina


mengacungkan jempolnya. Busway yang


ditunggu pun tiba mereka berdua masuk dan duduk di kursi. Sepanjang perjalanan


mereka mengobrol, itu salah satu cara agar Raina tidak tertidur. Namun, di


pemberhentian berikutnya Bu Lina turun dan tinggalah Raina sendirian, rasa


kantuk mulai menyerang Raina. Dia menutup matanya dan berkali-kali terbentur


kaca busway, dia ingin bertahan tapi


rasanya sulit hingga tidak berapa lama terdengar dengkuran halus dari mulut


gadis cantik berambut ikal itu. Dia tidak peduli sedang berada di mana, pun saat


seseorang duduk di samping dan dia merebahkan kepala di pundaknya. Raina tidak tahu puluhan mata melihat mereka sambil bergidik ngeri, saat melihat pemuda


berkantung mata di sebelah Rainayang sejak tadi menatap horor gadis imut yang seenaknya menaruh kepala di


pundaknya.


“Ck, santai


banget nih cewek.” Pemuda itu berdecak kesal. Busway berhenti, beberapa remaja putri naik dan terdengar berisik.


“Eh, lo semua


lihat deh itu bukannya si ....”


“Astaga bener


dia ... eh siapa cewek yang tidur di sebelahnya?”


“Apa dia


ceweknya?”


“Heh! Kalian


berisik tahu nanti cewek gue bangun.” Sang pemuda berkata sambil menatap tajam


kumpulan gadis-gadis yang tengah bergosip ria membicarakannya. Seketika para


gadis itu diam membisu dan menelan ludah mereka dengan paksa melihat sosok di


depannya. Raina melenguh dan malah memeluk lengan sang pemuda tanpa rasa


bersalah, dia menjadikan lengan itu bantal guling. Dalam alam mimpi Raina tengah


memeluk guling kesayanan di kamar dengan iringan musik lulaby.


Awalnya pemuda itu kesal karena gadis di sebelah begitu santai dan tidak bangun


mendengar suara berisik,


dia malah memeluk lengannya, padahal seumur hidup tidak ada gadis yang mau


mendekati apalagi tidur di bahunya. Pemuda itu menyunggingkan senyum yang


pertama kali dia perlihatkan di depan umum dan bagi mereka yang melihat itu


bukanlah sebuah senyuman tapi seringai malaikat pencabut nyawa.


***


Lima orang


terkapar di tanah, wajah mereka babak belur mungkin sebagian dari mereka patah


tulang atau gegar otak. Pemuda berkantung mata yang berhasil membuat lawannya


roboh hanya berdecak kesal dan mengelap darah yang ada di sudut bibirnya, dia melangkah


mengambil tas yang tergeletak di tanah dan pergi. Seseorang berjas hitam tampak tergopoh-gopoh


menyambut dan segera mengajaknya masuk ke  mobil.


“Lima orang lagi,Nyonya.”


“Apa? Lima orang


katamu? Astaga, anak itu mau bikin Mamanya bangkrut! Ya, sudah bawa dia ke


rumah sekarang. Apa dia bersama Erik?”


“Tidak, Nyonya. Den


Erik tidak ada di TKP hanya Den Djiwha saja.”


“Ya, sudah bawa


dia ke rumah biar nanti anak buahku yang mengurus korbannya.” Sang sopir


menutup telepon laporan pada sang majikan—Ibu


dari si pembuat onar,Djiwha Mahardika.


“Apa katanya?” Djiwha


mengambil beberapa lembar tisu dan menyeka darah , dalam hati dia mengutuk


lawannya tadi yang berhasil  bibir sensual miliknya terluka.


“Pulang, Den.


meninggalkan lapangan.


***


Djiwha


Mahardika, sang pembuat onar. Berkelahi sudah menjadi santapan setiap hari, tidak


hanya dia sang kakak—Erik


Mahardika juga tidak segan-segan menelepon dan mengajak adiknya ikut tawuran


dengan sekolah lain. Padahal


mereka beda sekolah, sengaja mama memisahkan sekolah


mereka karena pasti dua-duanya membuat pusing. Mama bisa jantungan kapan saja, mendengar telepon dari


pihak sekolah atau orang tua murid untuk mengganti rugi biaya rumah sakit.


Beberapa kali bahkan Mama harus berurusan dengan polisi karena Djiwha


bolak-balik ditahan, membuat ribut dengan sekolah lain atau preman-preman


terminal. Mama sudah bingung menangani anak laki-laki itu, setiap hari dia harus migrain dengan telepon tidak


mengenakan. Maya menatap dua adik laki-lakinya dengan wajah kesal, kenapa


setiap hari dia harus rela pergi meninggalkan kampus demi mengurus kedua pemuda badung itu atau terpaksa


membatalkan kencan dengan sang pacar karena ditelepon Mama. Djiwha asyik memainkan


ponsel , beberapa kali mengumpat  game dimainkannya.


“Ehem!” Maya


berdeham menginterupsi tapi Djiwha tidak mempedulikannya hingga sebuah bantal


melayang di wajahnya.


“Aduh, lo


apa-apaa sih, Kak? Muka ganteng gue bisa rusak, nih.”


“Lo yang apa-apaan!


Mau jadi apa kalian berantem terus tiap hari? Mau jadi jagoan, hah?! Kalau Papa


sampai tahu, habis kalian.” Maya bersungut-sungut. Erik paling dulu meminta


maaf sambil memelas. Dia ogah jadi bulan-bulanan Papa dan uang jajannya pasti  berkurang.


“Kak, please, jangan bagi tahu Papa, ya. Gue


janji enggak bakalan bikin masalah lagi, iya ‘kan, Dek?” Erik menyikut Djiwha


yang kembali sibuk dengan ponsel. Mama baru saja tiba dari rumah sakit mengurus


lima orang pemuda yang terkapar dan patah tulang gara-gara sang anak. Dia melemparkan tas


di sofa dan duduk sambil memijat kepalanya yang berdenyut.


“May, ambilkan


Mama air dingin, gih.” Maya berdiri dan bergegas menuju dapur mengambilkan


permintaan sang Mama. Mama menatap Djiwha dan Erik bergantian kemudian menarik


napas panjang dan mengembuskan napasnya keras.


“Berapa ratus


juta dalam sebulan ini Mama mengeluarkan uang? Itu semua demi menutupi


kesalahan kalian, Mama sayang sama kalian. Kenapa sih kalian enggak sayang sama Mama! Bagaimana kalau


Papa tahu? Mama enggak bisa belain kalian, mungkin dia akan memasukkan kalian


ke pesantren di desa.” Mama memulai omelan


panjangnya. Djiwha terlihat santai sedangkan Erik


tampak ketakutan, dia tidak mau dibawa ke pesantren di desa.


“Jangan dong,


Ma. Mama enggak sayang Erik, ya?” tanya Erik sambil beranjak  dan duduk di sebelah sang mama memijat


pundak, manja.


“Justru karena


Mama sayang sama kamu dan adik kamu, Rik. Kali ini siapa yang mulai?” tanya


Mama menatap Erik yang berkulit hitam dan berbeda dari dua anaknya yang lain,


terkadang Erik sampai dikira orang lain dan bukan anaknya. Mengingat suaminya


Dev Mahardika seorang blasteran Belanda-Indonesia, dia juga keturunan Korea dan


Indonesia tapi anehnya Erik malah berkulit hitam. Dia berbeda dari kedua saudaranya. Maya


Mahardika lebih mencolok seperti gadis Korea dengan perawakan tinggi putih


serta mata sipit, sedangkan Djiwha lebih condong ke sang Papa dengan wajah khas


bule, hidung mancung hanya saja kantung mata menyeramkan itu tidak dapat


dihilangkan hingga akhir zaman mungkin. Djiwha memiliki penyakit


langka, insomnia akut. Berapa dokter


sudah menanganinya, begitu juga beberapa ustadz dipanggil ke rumah atas usul


teman-temannya mungkin saja Djiwha kerasukan sesuatu yang membuatnya nakal dan susah


tidur, mereka didatangkan untuk merukiyah Djiwha meski berakhir dengan benjol


di kepala.

__ADS_1


“Erik yang


mulai.”  Djiwha masih betah dengan game.


“Bukan, Ma.  Dia yang mulai, dia yang meneleponku dan


bilang ada yang ngajak ribut sekolah lain, Ma.” Erik memelas pada sang Mama


membuat Djiwha berdecak kesal sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Mau ke mana?


Mama belum selesai bicara!”


“Ah, bosan


melihat Erik manja membuatku mual.” Djiwha mengambil kunci mobil yang


tergeletak di meja.


“Oh, pergilah.


Tak apa pergi saja tapi letakan kunci mobilnya sam dompet!” Mama berdiri dan berkacak


pinggang, Erik menunduk takut.


“Ck,


merepotkan!” Djiwha melangkah pergi setelah meletakan dompet dan juga kunci


mobil. Erik merasa bersalah, karena sebenarnya dia yang mengajak Djiwha untuk


menghajar anak-anak sekolah.


Siang itu seperti biasa, Erik hendak pulang dan


pergi ke parkiran. Dia terkejut melihat motornya penuh sampah busuk dengan ban kempes. Di motornya


tertulis ‘Bastard’ membuat Erik emosi setengah mati dan menghubungi  Djiwha.


“Halo, lo di mana? Gue butuh bantuan, lo.”


“Kenapa lagi?”


“Lo tahu anak-anak SMU Harapan Pagi, mereka bikin


motor gue rusak dan berbau busuk, gue yakin ini kerjaan mereka karena enggak


terima temannya gue hajar tempo hari.”


“Kenapa telepon gue? Hajar aja sendiri!”


“Halah, lo adik gue bukan,  sih. Buruan deh, lo temuin mereka. Masa lo


enggak kasihan sama gue,”


“Ck. Merepotkan.”


Djiwha menutup telepon, Erik—sang Kakak selalu bermasalah dengan sekolah lain tetapi dia harus


menyelesaikan semua sendirian. Erik hanya berani jika lawannya satu orang, jika


lima atau sepuluh dia pasti akan menelponnya dan meminta bantuan. Djiwha


memasukkan ponsel ke


dalam tas sekolah, pelajaran belum usai tapi dia sudah keluar kelas dengan


santai. Guru bahasa Indonesia pun hari itu tidak datang untuk mengajar, ini


kesempatan buatnya kabur dari sekolah. Djiwha masukkan tangan ke dalam saku


celana, telinga dia  tutup dengan


headphone dan menyalakan mp3 lagu-lagu metal  dengan volume keras. Sampailah dia di sebuah


jalan raya, seseorang menepuk pundak, tapi  saat dia membalikan tubuh  sebuah pukulan keras mendarat di bibir, Djiwha kecolongan.


“Jadi, ini adik si Erik yang terkenal dengan


sebuatan Devil Dog itu? Cih! Cuma segitu saja kemampuan lo?! Tidak


berkelit atau menghindar eh? Wajah


mirip boyband gitu mana bisa dia disebut Devil dog, lo lebih


cocok jadi gay tahu enggak?!?”


ujar pemuda berbadan gendut yang kelihatanya pemimpin dari keempat orang di


belakangmenghina Djiwha.


“Ck, merepotkan. Kalau berani jangan di sini!” Djiwha


melepas headphone dari  dan berlari


mengajak kelima lawannya pergi dari sana. Dia


tidak mau membuat onar di tengah jalan raya. Mereka berada di tanah lapangan


sepi, Djiwha melemparkan tas dan bersiap dengan kuda-kudanya,dia merasa


terhina disebut gay. Lima


orang di depannya siap dengan membawa senjata masing-masing. Sungguh tidak adil


lima orang bersenjata melawan seorang yang bertangan kosong. Namun, bukanlah Djiwha


Mahardika jika tidak bisa merobohkan lawan hanya dalam sekejap saja. Dia dikenal dengan sebuatan Devil Dog, karena jika


sudah marah wajahnya yang tampan tidak lagi terlihat, hanya ada wajah Lucifer


yang siap memangsa lawan. Dia tersenyum meremehkan lalu menghitung lawannya dan


berkata, “Hm lima orang lima menit.”


“Hajar!” teriak mereka, satu persatu menyerang Djiwha


dengan senjata masing-masing, dengan mudah  Djiwha berkelit dan berhasil membuat mereka


jatih terhunyung-hunyung.


“Cuma segitu? Eh?” ujarnya tertawa renyah


meremehkan. Si gendut semakin kesal dia merasa kesal,


temannya beberapa waktu lalu harus diopanme karena dihajar Erik sekarang


giliran adiknya yang berharap dia bisa buang ke ruang ICU atau ruang jenazah. Namun, pada kenyataanya dia tidak dapat


membawa Djiwha si Devil Dog ke ruang ICU,malah dia yang berakhir di tanah dengan wajah babak belur dan kaki patah.


“Jangan membuat masalah lagi dengan Erik atau kalian


berhadapan denganku, paham?!” Djiwha menagmbil tasnya ketika melihat mobil sang


Mama sudah tiba, dia kesal kenapa Erik menelepon Mama dan menyuruh sopir  menjemput.


***


Djiwha kesal,


harusnya dia pergi ke game center


atau ke mana saja menghabiskan waktu seharian tanpa omelan mama.. Jadilah dia sekarang


di dalam bus bersama cewek aneh yang seenaknya membuat bahunya sebagai bantal


tidur.


“Ehem, kalian


mau berhenti di mana?” tanya konektur menginterupsi. Dia kenal dengan gadis di


sampingnya yang asyik tidur itu, dia memang tahu gadis itu ***** alias nempel molor tapi siapa pemuda bermata menyeramkan di


sebelahnya? Apa mereka pacaran?


“Tapi cewek gue


masih ngantuk, gimana dong?” ujar Djiwha menjadikan gadis di sebelahnya tameng


untuk tidak membayar ongkos. Raina mengerjapkan mata mendengar suara berisik di


sebelah, dia duduk dan menggosok mata lalu mengerjap beberapa kali. Saat


melihat ke sebelah dia


terkejut melihat tangannya anteng memeluk lengan seorang pemuda asing, buru-buru Raina


melepaskan dan


meminta maaf pada Djiwha.


“Eh, maaf aku


tidak bermaksud untuk ....”


“Sayang, lo udah


bangun? Tolong, dong, bayar ke Om ini, dompet gue ketinggalan di rumah.” Djiwha


tersenyum ke arah Raina yang diartikan Raina sebagai seringai iblis. Raina


menelan ludah paksa dia masih bingung tapi akhirnya mengambil uang


dari dompet dan menyerahkan pada sang konektur.


“Lain kali jangan


cewek yang harus bayarin, ya.” Si konektur tadi tersenyum dan meninggalkan


kedua pasangan aneh itu dengan geleng-geleng kepala.


“Nanti gue


ganti,” ujar Djiwha.


“Eh, apanya?”


“Ya, duit lo.


Nanti gue ganti.” Djiwha kesal. Selain ***** cewek di sebelah ini juga


lola alias loading lama.


“Ya, ampun!


Sudah sore gimana ini?! Pasti Reza sudah di rumah. Aku mesti ke supermarket


dulu dan ah, sudah kelewatan gimana ini!” Raina terserang panik. Dia bingung


karena sudah terlalu jauh dari supermarket tujuan atau pun rumahnya.


“Lo kenapa?”


tanya Djiwha melihat gadis aneh itu  tampak pucat dan panik.


“Aku kejauhan,


tadinya mau ke supermarket belanja tapi udah kelewatan. Rumahku juga sudah


lewat, aku bingung jadinya.” Raina menatap pemuda di sebelahnya dengan


takut-takut.


“Ya elah lotinggal berhenti terus


balik, apa susahnya?” ujar Djiwha memasang wajah facepalm.


“A-aku punya


sedikit masalah,”


“Masalah apa?”


“Kalau panik,


aku lupa arah.” Penyataan Raina sukses membuat Djiwha menarik napas panjang dan


berkata, “Ini akan merepotkan.”

__ADS_1


__ADS_2