
Mentari pagi
bersinar hangat menerobos celah-celah jendela kamar. Gadis berambut ikal
sepunggung itu menggeliat dan meregangkan
otot-otot tangannya yang kaku. Ia melirik jam weker , menunjukkan pukul enam
pagi. Buru-buru ia bangun dan merapikan rambutnya
yang berantakan. Ia pergi ke kamar mandi dan bergegas
menjalani rutinitasnya setiap pagi . Raina Putri Maharani, gadis berusia 17
tahun sudah terbiasa bangun pagi kemudian menyiapkan sarapan untuk adik dan sang ayah. Ibunya sudah lama
meninggal dunia ketika melahirkan sang adik, otomatis Raina- lah yang mengurus.
“Pagi, Ayah. Sarapan
sudah siap di meja makan.” Ia menyapa sang ayah yang tengah membaca koran di
teras sambil menikmati hawa sejuk di pagi hari.
“Raina,
bangunkan Reza ya, nanti telat ke sekolah,” ujar sang Ayah sambil beranjak dari
kursi menuju meja makan. Raina sudah tahu kebiasaan Reza yang malas bangun pagi,
hingga harus beberapa kali harus dibangunkan. Kini Raina berdiri di depan pintu
bercat cokelat muda dengan tulisan Reza di depannya, ia mengetuk pintu Reza
beberapa kali tidak ada sahutan. Terpaksa Raina masuk dan mendapati Reza masih betah dengan
piyama tidur dan guling kesayangan. Ia membuka gorden hingga cahaya matahari
masuk dan menimpa wajah Reza, bocah berumur 7 tahun itu .merasa terganggu dan
mengeluh lalu menutup wajah dengan selimut tebal.
“Bangun, Reza. Ini hari Senin kita harus segera sampai di
sekolah, kita harus upacara.” Rainamembangunkan Reza.
Reza menggeliat lalu menggosok mata, ia mengerjap dan berkata, “Aku benci
Senin!” Raina tertawa dan membantu adiknya turun dari tempat tidur.
“Mandi dan
bergegaslah sarapan, Ayah
sudah menunggumu.” Raina mengacak rambut sang
adik sementara Reza memanyunkan bibir dan pergi ke kamar
mandi dengan kesal. Sepeninggal Reza,Raina membereskan tempat tidur dan bergegas menemui ayahnya di
meja makan.
“Raina, hari ini
ada les apa? Pulangnya mau Ayah jemput?” tanya sang ayah sambil memakan nasi
goreng .
“Mau les tata
boga, Ayah. Nanti biar naik busway saja,”
ujar Raina tersenyum. Sebenarnya sang ayah khawatir karena Raina
punya kebiasaan buruk, alias
nempel molor. Dia akan tidur di mana saja ketika mengantuk, pernah satu kali Raina
tidur di kopaja hingga arah yang ditujunya terlewat dan terpaksa menunggu sang
ayah menjemput kembali dengan motor, karena selain Raina juga panikan.
“Jangan
khawatir, aku tidak akan tidur di busway.”
Raina seperti sudah tahu isi
pikiran ayahnya yang sejak tadi terdiam cukup lama. Reza sudah siap dengan
seragam merah putih dan tas di punggung, Raina memasukkan bekal ke dalam tas
Reza kemudian mengacak rambut yang ikal
menggemaskan. Kebiasaan Raina yang tidak pernah hilang jika dia bertemu Reza
adalah mengacak rambut adiknya. Setelah selesai sarapan, mereka bersiap menuju
tempat tujuan masing-masing, Raina ke sekolah dengan busway sedangkan Reza diantar Ayah karena tempat kerja Ayah satu
arah dengan sekolah Reza. Raina
tekantuk-kantuk dalam busway dia berusaha keras agar jangan sampai tertidur di busway. Ini hari Senin dia harus segera sampai di sekolah, karena
harus mengikuti upcara bendera. Raina memijat telapak tangannya kata guru
olahraga itu juga merupakan cara agar membuat terjaga dan tidak mengantuk . Raina bisa melewati masa
sulit menahan rasa kantuk, dia sampai di sekolah tepat waktu. Dia bergegas menuju
kelas dan menyimpan tas lalu bergabung bersama teman lainnya mengikuti upacara
bendera, hari itu dia bertugas menjadi pembawa bendera.
“Hm, ngeri ya Rai
dengar pidato kepala sekolah tadi.”
Wiwi—teman sebangkunya Raina bergidik ngeri
dengan pidato yang disampaikan kepala sekolah saat upacara bendera. Mereka berjalan
beriringan menuju kelas sambil membawa buku paket matematika, Raina hanya
mengangguk, dia pun merasa ngeri dengan pidato kepala sekolah tentang anak-anak
yang terlibat pergaulan bebas. Memakai narkoba; meninum alkohol ; hingga hamil
di luar nikah dan melakukan aborsi.
“Kasihan dia,” ujar Raina sambil
menyimpan buku-buku itu di meja guru, kemudian duduk di bangkunya diikuti Wiwi.
“Siapa?”
“Yang
aborsi tadi.”
“Kasihan kenapa?
Dia bodoh terlalu percaya dengan pacaranya, itulah kenapa aku tidak mau
pacaran.” Wiwi membusungkan dada, Raina tertawa.
“Itu sih karena
kamu enggak laku, Wi. “ Ledek Raina. Wiwi mencubit pipi sahabatnya gemas.
“Enak saja,
banyak loh adik kelas yang ngantri pengen jadiin aku pacarnya,” ujar Wiwi
menggembungkan pipi, pura-pura marah.
“Ih, masa sama
adik kelas sih , Wi.” Raina tertawa kemudian mereka saling cubit, suara guru
matematika berdehem dan membuat keduanya berhenti lalu fokus belajar dengan
guru yang terkenal galak itu.
“Hari ini kita
ulangan.” Sang guru memberi informasi yang membuat seluruh kelas tertunduk lesu
kecuali Raina. Meski dia ***** tapi untuk prestasi membuat decak kagum seluruh
guru di sekolahnya dan juga teman-temannya, Raina pandai dan juga murah hati.
***
Bel berbunyi tanda berakhirnya sekolah, Raina dan
teman-temannya berdoa terlebih dahulu sebelum pulang. Wiwi melambaikan tangan,
dia merasa tidak tega meninggalkan Raina sendirian tapi dia harus bergegas
karena ada acara keluarga. Harusnya hari ini dia dan Raina pergi ke ruang tata
boga untuk mengikuti les yang rutin dikerjakan setiap hari Senin.
“Kamu enggak
apa-apa, Rai sendirian?” tanya Wiwi dengan wajah cemas, dia tahu kebiasaan
buruk sahabatnya ini, bagaimana jika di busway dia mengantuk dan tertidur lalu salah arah lagi.
“Kamu tenang
aja, Wi. Aku enggak bakalan tidur di busway. Jangan khawatir.” Raina
tersenyum, dia bahagia memiliki sahabat seperti Wiwi yang sayang padanya
seperti saudara sendiri.
“Ingat kalau
ngantuk ....”
“Kalau ngantuk
pijit telapak tangan, makan permen yang asem dan mendengarkan musik rock.” Raina
memotong perkataan Wiwi.
“Hm, syukurlah
kalau kamu ingat. Lihat! Ayahku sudah datang menjemput, kamu baik-baik ya, Raina
jangan sampai molor di busway , loh.”
Wiwi menepuk pundak sahabatnya kemudian menghampiri ayahnya yang sudah menunggu
di gerbang sekolah.
Raina menarik
napas panjang kemudian pergi ke ruang tata boga di mana guru dan teman-teman lainnya
sudah bersiap untuk mengikuti les. Raina sangat senang memasak, itu merupakan
hobi tersendiri untuknya. Seorang wanita harus pandai masak untuk menyenangkan
suaminya kelak, ah suami pacar pun dia tidak punya. Tidak ada waktu untuk
mencari pacar, baginya nomor satu di hidupnya adalah ayah dan Reza. Sudah
banyak ribuan surat cinta untuknya atau pesan-pesan yang mengajaknya berkenalan
dan ingin menjadikan dia kekasih hati tapi, Raina tidak berminat.
“Raina, kamu
pulang sendiri?” tanya Bu Lina, guru tata boga Raina saat muridnya berdiri di halte busway.
“Iya, Bu. Aku
pulang sendiri. Ibu sendiri tumben tidak dijemput suaminya?” tanya Raina yang
__ADS_1
sudah akrab dengan sang guru.
“Tidak. Dia sedang
sibuk di kantor jadi Ibu naik busway tapi Ibu tidak bisa menemanimu sampai rumah, tidak apa-apa ‘kan , Raina?” tanya
Bu Lina khawatir.
“Tidak apa-apa,
Bu. Aku mau ke supermarket dulu membeli beberapa bahan untuk membuat kue, Ibu
tidak usah khawatir ya, percaya padaku.”
Raina
mengacungkan jempolnya. Busway yang
ditunggu pun tiba mereka berdua masuk dan duduk di kursi. Sepanjang perjalanan
mereka mengobrol, itu salah satu cara agar Raina tidak tertidur. Namun, di
pemberhentian berikutnya Bu Lina turun dan tinggalah Raina sendirian, rasa
kantuk mulai menyerang Raina. Dia menutup matanya dan berkali-kali terbentur
kaca busway, dia ingin bertahan tapi
rasanya sulit hingga tidak berapa lama terdengar dengkuran halus dari mulut
gadis cantik berambut ikal itu. Dia tidak peduli sedang berada di mana, pun saat
seseorang duduk di samping dan dia merebahkan kepala di pundaknya. Raina tidak tahu puluhan mata melihat mereka sambil bergidik ngeri, saat melihat pemuda
berkantung mata di sebelah Rainayang sejak tadi menatap horor gadis imut yang seenaknya menaruh kepala di
pundaknya.
“Ck, santai
banget nih cewek.” Pemuda itu berdecak kesal. Busway berhenti, beberapa remaja putri naik dan terdengar berisik.
“Eh, lo semua
lihat deh itu bukannya si ....”
“Astaga bener
dia ... eh siapa cewek yang tidur di sebelahnya?”
“Apa dia
ceweknya?”
“Heh! Kalian
berisik tahu nanti cewek gue bangun.” Sang pemuda berkata sambil menatap tajam
kumpulan gadis-gadis yang tengah bergosip ria membicarakannya. Seketika para
gadis itu diam membisu dan menelan ludah mereka dengan paksa melihat sosok di
depannya. Raina melenguh dan malah memeluk lengan sang pemuda tanpa rasa
bersalah, dia menjadikan lengan itu bantal guling. Dalam alam mimpi Raina tengah
memeluk guling kesayanan di kamar dengan iringan musik lulaby.
Awalnya pemuda itu kesal karena gadis di sebelah begitu santai dan tidak bangun
mendengar suara berisik,
dia malah memeluk lengannya, padahal seumur hidup tidak ada gadis yang mau
mendekati apalagi tidur di bahunya. Pemuda itu menyunggingkan senyum yang
pertama kali dia perlihatkan di depan umum dan bagi mereka yang melihat itu
bukanlah sebuah senyuman tapi seringai malaikat pencabut nyawa.
***
Lima orang
terkapar di tanah, wajah mereka babak belur mungkin sebagian dari mereka patah
tulang atau gegar otak. Pemuda berkantung mata yang berhasil membuat lawannya
roboh hanya berdecak kesal dan mengelap darah yang ada di sudut bibirnya, dia melangkah
mengambil tas yang tergeletak di tanah dan pergi. Seseorang berjas hitam tampak tergopoh-gopoh
menyambut dan segera mengajaknya masuk ke mobil.
“Lima orang lagi,Nyonya.”
“Apa? Lima orang
katamu? Astaga, anak itu mau bikin Mamanya bangkrut! Ya, sudah bawa dia ke
rumah sekarang. Apa dia bersama Erik?”
“Tidak, Nyonya. Den
Erik tidak ada di TKP hanya Den Djiwha saja.”
“Ya, sudah bawa
dia ke rumah biar nanti anak buahku yang mengurus korbannya.” Sang sopir
menutup telepon laporan pada sang majikan—Ibu
dari si pembuat onar,Djiwha Mahardika.
“Apa katanya?” Djiwha
mengambil beberapa lembar tisu dan menyeka darah , dalam hati dia mengutuk
lawannya tadi yang berhasil bibir sensual miliknya terluka.
“Pulang, Den.
meninggalkan lapangan.
***
Djiwha
Mahardika, sang pembuat onar. Berkelahi sudah menjadi santapan setiap hari, tidak
hanya dia sang kakak—Erik
Mahardika juga tidak segan-segan menelepon dan mengajak adiknya ikut tawuran
dengan sekolah lain. Padahal
mereka beda sekolah, sengaja mama memisahkan sekolah
mereka karena pasti dua-duanya membuat pusing. Mama bisa jantungan kapan saja, mendengar telepon dari
pihak sekolah atau orang tua murid untuk mengganti rugi biaya rumah sakit.
Beberapa kali bahkan Mama harus berurusan dengan polisi karena Djiwha
bolak-balik ditahan, membuat ribut dengan sekolah lain atau preman-preman
terminal. Mama sudah bingung menangani anak laki-laki itu, setiap hari dia harus migrain dengan telepon tidak
mengenakan. Maya menatap dua adik laki-lakinya dengan wajah kesal, kenapa
setiap hari dia harus rela pergi meninggalkan kampus demi mengurus kedua pemuda badung itu atau terpaksa
membatalkan kencan dengan sang pacar karena ditelepon Mama. Djiwha asyik memainkan
ponsel , beberapa kali mengumpat game dimainkannya.
“Ehem!” Maya
berdeham menginterupsi tapi Djiwha tidak mempedulikannya hingga sebuah bantal
melayang di wajahnya.
“Aduh, lo
apa-apaa sih, Kak? Muka ganteng gue bisa rusak, nih.”
“Lo yang apa-apaan!
Mau jadi apa kalian berantem terus tiap hari? Mau jadi jagoan, hah?! Kalau Papa
sampai tahu, habis kalian.” Maya bersungut-sungut. Erik paling dulu meminta
maaf sambil memelas. Dia ogah jadi bulan-bulanan Papa dan uang jajannya pasti berkurang.
“Kak, please, jangan bagi tahu Papa, ya. Gue
janji enggak bakalan bikin masalah lagi, iya ‘kan, Dek?” Erik menyikut Djiwha
yang kembali sibuk dengan ponsel. Mama baru saja tiba dari rumah sakit mengurus
lima orang pemuda yang terkapar dan patah tulang gara-gara sang anak. Dia melemparkan tas
di sofa dan duduk sambil memijat kepalanya yang berdenyut.
“May, ambilkan
Mama air dingin, gih.” Maya berdiri dan bergegas menuju dapur mengambilkan
permintaan sang Mama. Mama menatap Djiwha dan Erik bergantian kemudian menarik
napas panjang dan mengembuskan napasnya keras.
“Berapa ratus
juta dalam sebulan ini Mama mengeluarkan uang? Itu semua demi menutupi
kesalahan kalian, Mama sayang sama kalian. Kenapa sih kalian enggak sayang sama Mama! Bagaimana kalau
Papa tahu? Mama enggak bisa belain kalian, mungkin dia akan memasukkan kalian
ke pesantren di desa.” Mama memulai omelan
panjangnya. Djiwha terlihat santai sedangkan Erik
tampak ketakutan, dia tidak mau dibawa ke pesantren di desa.
“Jangan dong,
Ma. Mama enggak sayang Erik, ya?” tanya Erik sambil beranjak dan duduk di sebelah sang mama memijat
pundak, manja.
“Justru karena
Mama sayang sama kamu dan adik kamu, Rik. Kali ini siapa yang mulai?” tanya
Mama menatap Erik yang berkulit hitam dan berbeda dari dua anaknya yang lain,
terkadang Erik sampai dikira orang lain dan bukan anaknya. Mengingat suaminya
Dev Mahardika seorang blasteran Belanda-Indonesia, dia juga keturunan Korea dan
Indonesia tapi anehnya Erik malah berkulit hitam. Dia berbeda dari kedua saudaranya. Maya
Mahardika lebih mencolok seperti gadis Korea dengan perawakan tinggi putih
serta mata sipit, sedangkan Djiwha lebih condong ke sang Papa dengan wajah khas
bule, hidung mancung hanya saja kantung mata menyeramkan itu tidak dapat
dihilangkan hingga akhir zaman mungkin. Djiwha memiliki penyakit
langka, insomnia akut. Berapa dokter
sudah menanganinya, begitu juga beberapa ustadz dipanggil ke rumah atas usul
teman-temannya mungkin saja Djiwha kerasukan sesuatu yang membuatnya nakal dan susah
tidur, mereka didatangkan untuk merukiyah Djiwha meski berakhir dengan benjol
di kepala.
__ADS_1
“Erik yang
mulai.” Djiwha masih betah dengan game.
“Bukan, Ma. Dia yang mulai, dia yang meneleponku dan
bilang ada yang ngajak ribut sekolah lain, Ma.” Erik memelas pada sang Mama
membuat Djiwha berdecak kesal sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Mau ke mana?
Mama belum selesai bicara!”
“Ah, bosan
melihat Erik manja membuatku mual.” Djiwha mengambil kunci mobil yang
tergeletak di meja.
“Oh, pergilah.
Tak apa pergi saja tapi letakan kunci mobilnya sam dompet!” Mama berdiri dan berkacak
pinggang, Erik menunduk takut.
“Ck,
merepotkan!” Djiwha melangkah pergi setelah meletakan dompet dan juga kunci
mobil. Erik merasa bersalah, karena sebenarnya dia yang mengajak Djiwha untuk
menghajar anak-anak sekolah.
Siang itu seperti biasa, Erik hendak pulang dan
pergi ke parkiran. Dia terkejut melihat motornya penuh sampah busuk dengan ban kempes. Di motornya
tertulis ‘Bastard’ membuat Erik emosi setengah mati dan menghubungi Djiwha.
“Halo, lo di mana? Gue butuh bantuan, lo.”
“Kenapa lagi?”
“Lo tahu anak-anak SMU Harapan Pagi, mereka bikin
motor gue rusak dan berbau busuk, gue yakin ini kerjaan mereka karena enggak
terima temannya gue hajar tempo hari.”
“Kenapa telepon gue? Hajar aja sendiri!”
“Halah, lo adik gue bukan, sih. Buruan deh, lo temuin mereka. Masa lo
enggak kasihan sama gue,”
“Ck. Merepotkan.”
Djiwha menutup telepon, Erik—sang Kakak selalu bermasalah dengan sekolah lain tetapi dia harus
menyelesaikan semua sendirian. Erik hanya berani jika lawannya satu orang, jika
lima atau sepuluh dia pasti akan menelponnya dan meminta bantuan. Djiwha
memasukkan ponsel ke
dalam tas sekolah, pelajaran belum usai tapi dia sudah keluar kelas dengan
santai. Guru bahasa Indonesia pun hari itu tidak datang untuk mengajar, ini
kesempatan buatnya kabur dari sekolah. Djiwha masukkan tangan ke dalam saku
celana, telinga dia tutup dengan
headphone dan menyalakan mp3 lagu-lagu metal dengan volume keras. Sampailah dia di sebuah
jalan raya, seseorang menepuk pundak, tapi saat dia membalikan tubuh sebuah pukulan keras mendarat di bibir, Djiwha kecolongan.
“Jadi, ini adik si Erik yang terkenal dengan
sebuatan Devil Dog itu? Cih! Cuma segitu saja kemampuan lo?! Tidak
berkelit atau menghindar eh? Wajah
mirip boyband gitu mana bisa dia disebut Devil dog, lo lebih
cocok jadi gay tahu enggak?!?”
ujar pemuda berbadan gendut yang kelihatanya pemimpin dari keempat orang di
belakangmenghina Djiwha.
“Ck, merepotkan. Kalau berani jangan di sini!” Djiwha
melepas headphone dari dan berlari
mengajak kelima lawannya pergi dari sana. Dia
tidak mau membuat onar di tengah jalan raya. Mereka berada di tanah lapangan
sepi, Djiwha melemparkan tas dan bersiap dengan kuda-kudanya,dia merasa
terhina disebut gay. Lima
orang di depannya siap dengan membawa senjata masing-masing. Sungguh tidak adil
lima orang bersenjata melawan seorang yang bertangan kosong. Namun, bukanlah Djiwha
Mahardika jika tidak bisa merobohkan lawan hanya dalam sekejap saja. Dia dikenal dengan sebuatan Devil Dog, karena jika
sudah marah wajahnya yang tampan tidak lagi terlihat, hanya ada wajah Lucifer
yang siap memangsa lawan. Dia tersenyum meremehkan lalu menghitung lawannya dan
berkata, “Hm lima orang lima menit.”
“Hajar!” teriak mereka, satu persatu menyerang Djiwha
dengan senjata masing-masing, dengan mudah Djiwha berkelit dan berhasil membuat mereka
jatih terhunyung-hunyung.
“Cuma segitu? Eh?” ujarnya tertawa renyah
meremehkan. Si gendut semakin kesal dia merasa kesal,
temannya beberapa waktu lalu harus diopanme karena dihajar Erik sekarang
giliran adiknya yang berharap dia bisa buang ke ruang ICU atau ruang jenazah. Namun, pada kenyataanya dia tidak dapat
membawa Djiwha si Devil Dog ke ruang ICU,malah dia yang berakhir di tanah dengan wajah babak belur dan kaki patah.
“Jangan membuat masalah lagi dengan Erik atau kalian
berhadapan denganku, paham?!” Djiwha menagmbil tasnya ketika melihat mobil sang
Mama sudah tiba, dia kesal kenapa Erik menelepon Mama dan menyuruh sopir menjemput.
***
Djiwha kesal,
harusnya dia pergi ke game center
atau ke mana saja menghabiskan waktu seharian tanpa omelan mama.. Jadilah dia sekarang
di dalam bus bersama cewek aneh yang seenaknya membuat bahunya sebagai bantal
tidur.
“Ehem, kalian
mau berhenti di mana?” tanya konektur menginterupsi. Dia kenal dengan gadis di
sampingnya yang asyik tidur itu, dia memang tahu gadis itu ***** alias nempel molor tapi siapa pemuda bermata menyeramkan di
sebelahnya? Apa mereka pacaran?
“Tapi cewek gue
masih ngantuk, gimana dong?” ujar Djiwha menjadikan gadis di sebelahnya tameng
untuk tidak membayar ongkos. Raina mengerjapkan mata mendengar suara berisik di
sebelah, dia duduk dan menggosok mata lalu mengerjap beberapa kali. Saat
melihat ke sebelah dia
terkejut melihat tangannya anteng memeluk lengan seorang pemuda asing, buru-buru Raina
melepaskan dan
meminta maaf pada Djiwha.
“Eh, maaf aku
tidak bermaksud untuk ....”
“Sayang, lo udah
bangun? Tolong, dong, bayar ke Om ini, dompet gue ketinggalan di rumah.” Djiwha
tersenyum ke arah Raina yang diartikan Raina sebagai seringai iblis. Raina
menelan ludah paksa dia masih bingung tapi akhirnya mengambil uang
dari dompet dan menyerahkan pada sang konektur.
“Lain kali jangan
cewek yang harus bayarin, ya.” Si konektur tadi tersenyum dan meninggalkan
kedua pasangan aneh itu dengan geleng-geleng kepala.
“Nanti gue
ganti,” ujar Djiwha.
“Eh, apanya?”
“Ya, duit lo.
Nanti gue ganti.” Djiwha kesal. Selain ***** cewek di sebelah ini juga
lola alias loading lama.
“Ya, ampun!
Sudah sore gimana ini?! Pasti Reza sudah di rumah. Aku mesti ke supermarket
dulu dan ah, sudah kelewatan gimana ini!” Raina terserang panik. Dia bingung
karena sudah terlalu jauh dari supermarket tujuan atau pun rumahnya.
“Lo kenapa?”
tanya Djiwha melihat gadis aneh itu tampak pucat dan panik.
“Aku kejauhan,
tadinya mau ke supermarket belanja tapi udah kelewatan. Rumahku juga sudah
lewat, aku bingung jadinya.” Raina menatap pemuda di sebelahnya dengan
takut-takut.
“Ya elah lotinggal berhenti terus
balik, apa susahnya?” ujar Djiwha memasang wajah facepalm.
“A-aku punya
sedikit masalah,”
“Masalah apa?”
“Kalau panik,
aku lupa arah.” Penyataan Raina sukses membuat Djiwha menarik napas panjang dan
berkata, “Ini akan merepotkan.”
__ADS_1