
Raina membuka
perlahan kelopak matanya, hawa dingin terasa menyergap tubuh. Dia merenggangkan
otot-ototnya yang terasa kaku lalu melihat ke luar jendela. Cahaya matahari
telah berganti menjadi bintang yang kemerlip di atas langit. Raina hampir saja
berteriak kaget, melihat sosok penampakan pemuda berkantung mata yang asyik
memakan camilan dan menonton film di laptop. ‘Djiwha sudah ada di sana dari kapan? Apa saat dia tidur?’ Berbagai
pikiran berkecamuk di kepala Raina.
“Tuan putri
sudah bangun? Nyenyak tidurnya? Wah, gue dapat momen langka lihat lo lagi
molor, lucu tahu.” Djiwha melirik Raina, yang dilirik pura-pura masih mengantuk
padahal dalam hati dia merasa malu.
“Jangan
pura-pura mengantuk, gue tahu lo malu. Gue bosen di rumah terus, jalan-jalan
yuk!” Djiwha menutup laptopnya dan mengambil jaket dari tas ranselnya.
“Hah? Sekarang?
Kamu yakin? Ini ‘kan malam hari?” tanya Raina setelah nyawanya terkumpul semua.
“Ya iyalah
sekarang, buruan. Gue bosen tahu liatin lo molor sambil nonton film di laptop,
lo sih enak molor kayak kebo.” Djiwha terlihat kesal raut mukanya ditekuk.
“Oke, sebentar
aku bawa ponsel dan dompetku.” Raina mengambil ponsel dan dompetnya tapi,
Djiwha buru-buru mencegahnya.
“Ya, elaah. Cuma
keluar sebentar enggak jauh-jauh, simpen aja dompet sama ponsel lo di tas.”
Raina enggan membantah, dia memilih menuruti perkataan Djiwha mencharger ponseldan menyimpan dompet
bergambar panda itu di tas. Mereka sama-sama keluar dari hotel, anehnya
resepsionis pun tampak sudah tak terlihat dan pria ompong bernama Arman itu pun
tidak ada di sana,’ Hotel apaan ini?
spooky banget kesannya’ celoteh Djiwha dalam hati. Raina tampak ragu, dia tertegun cukup lama.
Tidak ada kendaraan apapun di sana, mobil yang dipakai Djiwha pun entah ke
mana. Di sana benar-benar tampak sepi dan gelap hanya cahaya rembulan dan
bintang yang bersinar terang di angkasa.
“Kamu yakin? Ini
gelap banget loh. Lagi pula sebaiknya kita kembali ke hotel saja.” ujar Raina
terlihat ragu dan takut, dia jadi ingat film-film horor yang pernah dia tonton.
“Lo takut?
Cemen, udah deh buruan ah!” Djiwha menarik tangan Raina dan menyalakan senter
di ponselnya, dia menyoroti sekeliling hotel dengan senternya.
“Wah, kita
ditipu. Liburan macam apa coba? Masa kita dikasih hotel macam begini. Mana di
kampung lagi, ini kampung apa namanya? Hadeh, nyesel gue nurut sama nyokap.”
Djiwha misuh-misuh, mereka tidak tahu ada di mana. Seperti jalan desa, di
kanannya terdapat sawah sedangkan di kirinya rumah penduduk itu pun
jarang-jarang dan letaknya berjauhan antara satu dan lainnya.
“Terus Pak Arman
ke mana?” tanya Raina.
“Mana gue tahu
tuh aki-aki ompong ke mana, yang jelas gue nyesel datang ke sini. Gue pikir
liburan ke Bali itu beneran. Mana? Lo lihat pantai di sini? Daerah mana sih
ini, gue sering ke Bali tapi belum
pernah ke sini.” Djiwha bersungut-sungut sambil menyalakan rokok, Raina kaget
sejak kapan Djiwha merokok? Apa memang selama ini sudah merokok.
“Kenapa? Lo
kaget lihat gue ngerokok? Gue ngerokok kalau lagi bad mood, kalau enggak
berantem ya ngerokok, masa iya gue ajak lo berantem atau kebo.” Djiwha dan
Raina terus berjalan semakin jauh meninggalkan hotel. Sebenarnya tadi siang
saat mobil Pak Arman membawa mereka ke sana, mereka berdua tertidur di mobil.
Otomatis mereka jadi tidak tahu rute ke daerah sana, terlebih tidak ada signal
ponsel sedikit pun membuat Djiwha semakin kesal.
“Tuh, lo lihat
boro-boro GPS signal aja enggak ada!”
“Lagian, kenapa
kamu enggak perhatiin jalan pas siang tadi sama Pak Arman ke sini! Tadi ‘kan
kamu kabur masa sekarang lupa jalan?!” Raina terbawa kesal.
“Gue emang kabur
tadi pakai ojeg, itu pun jalannya jelek banget buat sampai di kota. Tadi juga
pas kemari gue pakai ojeg dan tuh orang ogah-ogahan kemari. Lagian ya, gue lupa
tahu keadaan siang dan malam ‘kan beda.” Djiwha berkilah, mereka sama-sama
terdiam lalu berhenti dan duduk di atas rumput. Mereka bingung tidak tahu arah
jalan pulang kembali ke hotel, Raina menatap bintang-bintang di langit dan
menghitung jumlahnya.
“Lo ngapain?
Kurang kerjaan.”
“Aku berharap
ada bintang jatuh, mau buat permintaan.”
“Permintaan apa?
Minta dibawakan helikopter gitu?”
“Bukan, aku
ingin bintang membawaku pergi ke atas sana. Siapa tahu aku bisa ketemu sama
Ibu.”
“Lo masih sedih
ya?”
“Enggak, Cuma
kangen saja. “
Mereka terdiam
cukup lama, Djiwha mengambil headset dari saku jaketnya. Dia memasukkan headset
itu ke telinganya lalu sebelah lagi ke telinga Raina. Raina tampak kaget
sebelum akhirnya mereka terdiam sama-sama menikmati alunan lagu dari ponsel
Djiwha. Mereka sama-sama menikmati pemandangan langit , yang bertabur bintang
dan berbalut cahaya bulan. Semilinya angin berembus menerbangkan bulu-bulu
bunga dandelion yang mengantarkan mereka jauh ke udara menari seperti peri
menggapai bintang di lazuardi.
__ADS_1
Gor mai roo arai tum hai rao dtaung paun mah
pob mah jur
I don't know what made us pass by and meet each
other
(Aku tidak tahu apa yang membuat kita
bertemu satu sama lain)
Wun lae keun yung kong kit teung piang tur
Night and day I still think only of you
(Siang dan malam aku hanya memikirkan dirimu)
Jai nor jai mun yung kong fun lamur
Oh, my heart is still day dreaming
(Oh, hatiku masih bermimpi hari ini)
Lae pur jon mot jai
And completely fantasizing
(Dan benar-benar berfantasy)
Gor wun lae keun tee pon pai
The days and nights that pass
(Hari-hari dan malam yang lewat)
Hua jai jao oey koey rup fung gun mai tur
Will the owner of my heart ever listen to me?
(Apakah pemilik hatiku pernah
mendengarkanku?)
Wah mee kae chun lae mee kae tur tee yoo duay
gun tao nun
That there's only you and only me here together,
that's it
(Bahwa hanya ada kamu dan aku di sini
bersama, itu saja)
Nai lohk bai nee mee piang kae rao tee yoo duay
gun saung kon
In this world, there's only the two of us here
together
(Di dunia ini hanya ada kita berdua, di
sini bersama)
Grasip chun bao bao ao si mai dtaung ai
Whisper to me softly, there's no need to be shy
(Berbisik padaku dengan lembut tak perlu
malu)
Wah tur ruk chun kae nai yahk roo
I want to know how much you love me
( Aku ingin tahu betapa kamu
mencintaiku)
One two three four five I love you
Six seven eight nine I love you
Everyday and night I love you
Oh my daring, oh oh my daring
( satu dua tiga aku cinta kamu, enam
, Oh sayangku)
Gor mai roo tummai wun took wun tee pahn loey
pon loey pai
I don't know why every day that passes by
(Aku tidak tahu kenapa setiap hari aku
lewat)
Krai suk kon yung kong kit teung lae ror wun
welah
I'm still thinking of a certain someone and
waiting for the time
(Aku masih memikirkan seseorang dan
menunggu untuk saat itu)
Tee tur ja poot dtrong dtrong wah ruk gun mot
jai
That you'll tell me straight that you love me
with all your heart
(Bahwa kamu akan mengatakan langsung
kepadaku, kalau kamu mencintaiku)
Mee kae chun lae mee kae tur dai yin tao nun
Only you and I can hear it
(Hanya kamu dan aku bisa mendengarnya)
Nai lohk bai nee mee piang kae rao dai yin saung
kon
In this world, only the two of us can hear it
( Di dunia ini hanya kita berdua yang
bisa mendengarnya)
Grasip chun bao bao ao si mai dtaung ai
Whisper to me softly, there's no need to be shy(Berbisiklah padaku
lembut, tidak perlu malu)
Wah tur ruk chun kae nai yahk roo
I want to know how much you love me
(Aku ingin tahu betapa kamu mencintaiku)
Aht ja meuan rao piang pahn pahn mah pob jur
It might seem like we only just met
(Sepertinya kita baru saja bertemu)
Dtae mai chai fun keu kwahm jing rao mai dai
lamur
But this isn't a dream, this is reality, we're
not daydreaming
(Tapi ini bukan mimpi, ini kenyataan,
kita tidak sedang melamun)
Ruk kaung tur tur tur
Your love love love
(Cintamu, cinta, cinta cinta)
Yah ploy hai chun dtaung ror ror ror gur
__ADS_1
Don't leave me waiting, waiting in vain!(Jangan tinggalkan aku
menunggu, menunggu dengan sia-sia)
<< 123 I love you ,
Bottom Blues, Ost 2 moon series data-tomark-pass >>
Dijwha menatap Raina, dia memperhatikan gadis itu dalam
diam. Begitu cantik dan mempesona, dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Sejak
melihat dia tidur di pundak pertama kali mereka bertemu, Djiwha menaruh
debar tersendiri pada gadis ***** di sampingnya. Saat bersama, Djiwha merasa
nyaman, saat di dekatnya Djiwha merasa segala beban di pundaknya, terhempas begitu saja.
Tanpa mereka sadari, kepala mereka saling berdekatan
satu sama lain, merasa nyaman dengan masing-masing. Saat lagu berhenti mereka
membuka mata secara bersamaan, di langit terlihat sebuah bintang jatuh
melintas, “Eh, bintang jatuh!” Raina menunjuk ke atas langit, Djiwha pun ikut
melihat ke atas langit di atasnya, Raina menutup matanya mengucapkan
permohonannya, “ Apa yang lo minta? Apa keinginan yang sama?” ujar Djiwha.
“Tidak perlu kamu tahu itu rahasia,” ucap Raina.
Dia kemudian berdiri diikuti Djiwha, mereka kembali berjalan ke depan, meski
waktu semakin larut dan udara terasa semakin dingin.
“Bagaimana ini?”
“Sudah, jalan saja. Siapa tahu kita bertemu
penduduk dan bisa bertanya arah jalan kembali ke hotel.”
“Oh, lihat! Itu ada seseorang di sana, mari kita
bertanya.” Raina menarik tangan Djiwha menemui seorang pria yang tengah
membelakangi mereka. Raina yang pertama kalinya menyapa pria itu, “Selamat
malam, Pak? Maaf bisa tunjukkan jalan ke hotel Intan?” si pria berbalik, Raina
dan Djiwha berteriak saat melihat wajah orang itu disoroti senter terlihat
menakutkan. Apalagi giginya yang ompong di tengah mengingatkan mereka pada
seseorang, kedua remaja itu berteriak, “Pak Anwar?!”
“Ah, selamat malam kalian berdua. Kalian ini apa
tidak bisa diam di kamar, ya?” Pak Anwar terkekeh melihat raut wajah dua sejoli
di depannya.
“Astaga, ngagetin aja. Gue kira siapa, ngapian
sih, Pak. Malam –malam begini berdiri di tempat gelap?!” Djiwha terlihat kesal.
“Mencari kalian, tadi resepsionis hotel bilang
kalian enggak ada di kamar. Saat pelayan mau antar makan malam, ya udah saya
cari.”
“Halah, lagi pula kenapa bawa kami ke tempat
seperti ini. Sekarang antar kami pulang buruan!” Djiwha misuh-misuh.
Mereka pun
kembali ke hotel dengan panduan jalan Pak Anwar. Mereka terlihat lelah, Raina
berbaring di ranjang sedangkan Djiwha di kursi panjang. Raina merasakan debaran
di jantungnya terasa semakin kencang, sejak tadi mereka berjalan bersama tanpa
sadar tangan mereka saling bergandengan. Lalu, saat mereka mendengarkan lagu
tanpa sadar kepala mereka saling berdekatan, terasa dekat hingga dapat mencium
bau harum dan desah napas masing-masing. Pipinya merona merah, bagaimana bisa
dia tidur nyenyak malam itu? Untuk sekian kalinya Raina insomnia dan itu semua karena Djiwha yang tertidur manis di sofa.
Lalu, untuk pertama kalinya Djiwha tertidur pulas malam hari karena rasa
bahagianya bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis yang disukainya, Raina.
Esok hari, Djiwha dan Raina benar-benar dibawa ke pantai Pandawa oleh Pak
Anwar. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama, bermain air dan saling menulis
nama di pasir pantai, tidak ada lagi keragu-raguan di hati keduanya. Raina
merasa nyaman di samping Djiwha begitu pun Djiwha yang merasa bahagia berada di
dekat Raina, sudah lama dia tidak berkelahi dan merokok hanya karena Raina. Dia
seperti candu tapi, berdampak positif untuk Djiwha. Namun, sulit antara satu
dan lainnya untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.
“Bagaimana kalau kita lihat sunset, besok kita
kembali ke Jakarta ‘kan? Aku ingin melihat sunset terakhir di pantai Pandawa.”
Raina menatap langit yang mulai berwarna kuning emas.
“Hmm.” Djiwha hanya bergumam, mereka pun duduk di
sebuah bangku kayu bercat putih diantara dua buah pohon kelapa. Keduanya
bersama-sama menatap matahari yang mulai meredup dan akan kembali ke peraduan.
“Terima kasih.”
“Buat apa?”
“Semuanya, kamu mau berlibur di sini bersamaku.
Padahal kamu bisa saja menolak saat pembagian hadiah.”
“Hmm.”
‘Raina, tadi malam saat bintang jatuh berada di atas kepala kita, gue
berharap kebersamaan kita enggak akan pernah berakhir. Gue berharap, bisa diberi
keberanian buat menyatakan semua perasaan gue ke lo’ batin Djiwha berbicara, diam-diam matanya melihat
Raina dan menyunggingkan senyum bahagia.
Mama Djiwha tersenyum menyambut dua sejoli yang baru
saja tiba. Mama Djiwha memeluk putranya, lalu memeluk Raina persis ibu mertua
menyambut kedatangan pengantin baru yang tiba dari berbulan madu. Erik tampak
kesal melihat kedekatan adiknya dengan Raina, bagaimana mungkin Djiwha punya
pacar sedangkan dia masih betah dengan status jomblo? Maya memilih tidak ikut
karena banyak tugas di kampusnya.
“Rai, kamu akan diantar Erik ya, Mama enggak bisa
antar kamu pulang. Ayahmu sepertinya sibuk jadi enggak bisa sambut kedatangan
kamu.” Mama Djiwha memberikan kunci mobil pada Erik tapi, secepat kilat Djiwha
menyambarnya dan menarik tangan Raina pergi dari sana.
“Lebay lo , Dek!” Erik terlihat dongkol. Mama
tertawa tergelak dan menggandeng Erik meninggalkan bandara. Tidak berapa lama,
mereka sampai di depan rumah berpagar bambu. Ayah Raina sepertinya masih kerja
dan Reza belum pulang sekolah, Raina turun dari mobil Djiwha dan mengucapkan
terima kasih pada pemuda itu.
“Makasih, Wha. Mau mampir?”
“Tidak usah, gue lelah. Lo masuk aja, Rai.
Istirahat, oh iya gue lupa tadi Mama kirim pesan, ada hadiah buat lo di bagasi
belakang, ambil ya, Rai.” Djiwha melambaikan tangan pada Raina lalu melaju
meninggalkan tempat itu. Raina kerepotan membawa koper dan beberapa tas
pemberian Mamanya Djiwha. “Mau kubantu, Rai?” Raina menatap pemuda di
belakangnya dengan penuh benci.
__ADS_1