A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
Lose In Bali


__ADS_3

Raina membuka


perlahan kelopak matanya, hawa dingin terasa menyergap tubuh. Dia merenggangkan


otot-ototnya yang terasa kaku lalu melihat ke luar jendela. Cahaya matahari


telah berganti menjadi bintang yang kemerlip di atas langit. Raina hampir saja


berteriak kaget, melihat sosok penampakan pemuda berkantung mata yang asyik


memakan camilan dan menonton film di laptop. ‘Djiwha sudah ada di sana dari kapan? Apa saat dia tidur?’ Berbagai


pikiran berkecamuk di kepala Raina.


“Tuan putri


sudah bangun? Nyenyak tidurnya? Wah, gue dapat momen langka lihat lo lagi


molor, lucu tahu.” Djiwha melirik Raina, yang dilirik pura-pura masih mengantuk


padahal dalam hati dia merasa malu.


“Jangan


pura-pura mengantuk, gue tahu lo malu. Gue bosen di rumah terus, jalan-jalan


yuk!” Djiwha menutup laptopnya dan mengambil jaket dari tas ranselnya.


“Hah? Sekarang?


Kamu yakin? Ini ‘kan malam hari?” tanya Raina setelah nyawanya terkumpul semua.


“Ya iyalah


sekarang, buruan. Gue bosen tahu liatin lo molor sambil nonton film di laptop,


lo sih enak molor kayak kebo.” Djiwha terlihat kesal raut mukanya ditekuk.


“Oke, sebentar


aku bawa ponsel dan dompetku.” Raina mengambil ponsel dan dompetnya tapi,


Djiwha buru-buru mencegahnya.


“Ya, elaah. Cuma


keluar sebentar enggak jauh-jauh, simpen aja dompet sama ponsel lo di tas.”


Raina enggan membantah, dia memilih menuruti perkataan Djiwha mencharger ponseldan menyimpan dompet


bergambar panda itu di tas. Mereka sama-sama keluar dari hotel, anehnya


resepsionis pun tampak sudah tak terlihat dan pria ompong bernama Arman itu pun


tidak ada di sana,’ Hotel apaan ini?


spooky banget kesannya’ celoteh Djiwha dalam hati.  Raina tampak ragu, dia tertegun cukup lama.


Tidak ada kendaraan apapun di sana, mobil yang dipakai Djiwha pun entah ke


mana. Di sana benar-benar tampak sepi dan gelap hanya cahaya rembulan dan


bintang yang bersinar terang di angkasa.


“Kamu yakin? Ini


gelap banget loh. Lagi pula sebaiknya kita kembali ke hotel saja.” ujar Raina


terlihat ragu dan takut, dia jadi ingat film-film horor yang pernah dia tonton.


“Lo takut?


Cemen, udah deh buruan ah!” Djiwha menarik tangan Raina dan menyalakan senter


di ponselnya, dia menyoroti sekeliling hotel dengan senternya.


“Wah, kita


ditipu. Liburan macam apa coba? Masa kita dikasih hotel macam begini. Mana di


kampung lagi, ini kampung apa namanya? Hadeh, nyesel gue nurut sama nyokap.”


Djiwha misuh-misuh, mereka tidak tahu ada di mana. Seperti jalan desa, di


kanannya terdapat sawah sedangkan di kirinya rumah penduduk itu pun


jarang-jarang dan letaknya berjauhan antara satu dan lainnya.


“Terus Pak Arman


ke mana?” tanya Raina.


“Mana gue tahu


tuh aki-aki ompong ke mana, yang jelas gue nyesel datang ke sini. Gue pikir


liburan ke Bali itu beneran. Mana? Lo lihat pantai di sini? Daerah mana sih


ini, gue sering ke Bali tapi belum


pernah ke sini.” Djiwha bersungut-sungut sambil menyalakan rokok, Raina kaget


sejak kapan Djiwha merokok? Apa memang selama ini sudah merokok.


“Kenapa? Lo


kaget lihat gue ngerokok? Gue ngerokok kalau lagi bad mood, kalau enggak


berantem ya ngerokok, masa iya gue ajak lo berantem atau kebo.” Djiwha dan


Raina terus berjalan semakin jauh meninggalkan hotel. Sebenarnya tadi siang


saat mobil Pak Arman membawa mereka ke sana, mereka berdua tertidur di mobil.


Otomatis mereka jadi tidak tahu rute ke daerah sana, terlebih tidak ada signal


ponsel sedikit pun membuat Djiwha semakin kesal.


“Tuh, lo lihat


boro-boro GPS signal aja enggak ada!”


“Lagian, kenapa


kamu enggak perhatiin jalan pas siang tadi sama Pak Arman ke sini! Tadi ‘kan


kamu kabur masa sekarang lupa jalan?!” Raina terbawa kesal.


“Gue emang kabur


tadi pakai ojeg, itu pun jalannya jelek banget buat sampai di kota. Tadi juga


pas kemari gue pakai ojeg dan tuh orang ogah-ogahan kemari. Lagian ya, gue lupa


tahu keadaan siang dan malam ‘kan beda.” Djiwha berkilah, mereka sama-sama


terdiam lalu berhenti dan duduk di atas rumput. Mereka bingung tidak tahu arah


jalan pulang kembali ke hotel, Raina menatap bintang-bintang di langit dan


menghitung jumlahnya.


“Lo ngapain?


Kurang kerjaan.”


“Aku berharap


ada bintang jatuh, mau buat permintaan.”


“Permintaan apa?


Minta dibawakan helikopter gitu?”


“Bukan, aku


ingin bintang membawaku pergi ke atas sana. Siapa tahu aku bisa ketemu sama


Ibu.”


“Lo masih sedih


ya?”


“Enggak, Cuma


kangen saja. “


Mereka terdiam


cukup lama, Djiwha mengambil headset dari saku jaketnya. Dia memasukkan headset


itu ke telinganya lalu sebelah lagi ke telinga Raina. Raina tampak kaget


sebelum akhirnya mereka terdiam sama-sama menikmati alunan lagu dari ponsel


Djiwha. Mereka sama-sama menikmati pemandangan langit , yang bertabur bintang


dan berbalut cahaya bulan. Semilinya angin berembus menerbangkan bulu-bulu


bunga dandelion yang mengantarkan mereka jauh ke udara menari seperti peri


menggapai bintang di lazuardi.

__ADS_1


Gor mai roo arai tum hai rao dtaung paun mah


pob mah jur


I don't know what made us pass by and meet each


other


(Aku tidak tahu apa yang membuat kita


bertemu satu sama lain)


Wun lae keun yung kong kit teung piang tur


Night and day I still think only of you


(Siang dan malam aku hanya  memikirkan dirimu)


Jai nor jai mun yung kong fun lamur


Oh, my heart is still day dreaming


(Oh, hatiku masih bermimpi hari ini)


Lae pur jon mot jai


And completely fantasizing


(Dan benar-benar berfantasy)


Gor wun lae keun tee pon pai


The days and nights that pass


(Hari-hari dan malam yang lewat)


Hua jai jao oey koey rup fung gun mai tur


Will the owner of my heart ever listen to me?


(Apakah pemilik hatiku pernah


mendengarkanku?)


Wah mee kae chun lae mee kae tur tee yoo duay


gun tao nun


That there's only you and only me here together,


that's it


(Bahwa hanya ada kamu dan aku di sini


bersama, itu saja)


Nai lohk bai nee mee piang kae rao tee yoo duay


gun saung kon


In this world, there's only the two of us here


together


(Di dunia ini hanya ada kita berdua, di


sini bersama)


Grasip chun bao bao ao si mai dtaung ai


Whisper to me softly, there's no need to be shy


(Berbisik padaku dengan lembut tak perlu


malu)


Wah tur ruk chun kae nai yahk roo


I want to know how much you love me


( Aku ingin tahu betapa kamu


mencintaiku)


One two three four five I love you


Six seven eight nine I love you


Everyday and night I love you


Oh my daring, oh oh my daring


( satu dua tiga aku cinta kamu, enam


, Oh sayangku)


Gor mai roo tummai wun took wun tee pahn loey


pon loey pai


I don't know why every day that passes by


(Aku tidak tahu kenapa setiap hari aku


lewat)


Krai suk kon yung kong kit teung lae ror wun


welah


I'm still thinking of a certain someone and


waiting for the time


(Aku masih memikirkan seseorang dan


menunggu untuk saat itu)


Tee tur ja poot dtrong dtrong wah ruk gun mot


jai


That you'll tell me straight that you love me


with all your heart


(Bahwa kamu akan mengatakan langsung


kepadaku, kalau kamu mencintaiku)


Mee kae chun lae mee kae tur dai yin tao nun


Only you and I can hear it


(Hanya kamu dan aku bisa mendengarnya)


Nai lohk bai nee mee piang kae rao dai yin saung


kon


In this world, only the two of us can hear it


( Di dunia ini hanya kita berdua yang


bisa mendengarnya)


Grasip chun bao bao ao si mai dtaung ai


Whisper to me softly, there's no need to be shy(Berbisiklah padaku


lembut, tidak perlu malu)


Wah tur ruk chun kae nai yahk roo


I want to know how much you love me


(Aku ingin tahu betapa kamu mencintaiku)


Aht ja meuan rao piang pahn pahn mah pob jur


It might seem like we only just met


(Sepertinya kita baru saja bertemu)


Dtae mai chai fun keu kwahm jing rao mai dai


lamur


But this isn't a dream, this is reality, we're


not daydreaming


(Tapi ini bukan mimpi, ini kenyataan,


kita tidak sedang melamun)


Ruk kaung tur tur tur


Your love love love


(Cintamu, cinta, cinta cinta)


Yah ploy hai chun dtaung ror ror ror gur

__ADS_1


Don't leave me waiting, waiting in vain!(Jangan tinggalkan aku


menunggu, menunggu dengan sia-sia)


<< 123 I love you ,


Bottom Blues, Ost 2 moon series data-tomark-pass >>


Dijwha menatap Raina, dia memperhatikan gadis itu dalam


diam. Begitu cantik dan mempesona, dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Sejak


melihat dia tidur di pundak  pertama kali mereka bertemu, Djiwha menaruh


debar tersendiri pada gadis ***** di sampingnya. Saat bersama, Djiwha merasa


nyaman, saat di dekatnya Djiwha merasa segala beban di pundaknya, terhempas begitu saja.


Tanpa mereka sadari, kepala mereka saling berdekatan


satu sama lain, merasa nyaman dengan masing-masing. Saat lagu berhenti mereka


membuka mata secara bersamaan, di langit terlihat sebuah bintang jatuh


melintas, “Eh, bintang jatuh!” Raina menunjuk ke atas langit, Djiwha pun ikut


melihat ke atas langit di atasnya, Raina menutup matanya mengucapkan


permohonannya, “ Apa yang lo minta? Apa keinginan yang sama?” ujar Djiwha.


“Tidak perlu kamu tahu itu rahasia,” ucap Raina.


Dia kemudian berdiri diikuti Djiwha, mereka kembali berjalan ke depan, meski


waktu semakin larut dan udara terasa semakin dingin.


“Bagaimana ini?”


“Sudah, jalan saja. Siapa tahu kita bertemu


penduduk dan bisa bertanya arah jalan kembali ke hotel.”


“Oh, lihat! Itu ada seseorang di sana, mari kita


bertanya.” Raina menarik tangan Djiwha menemui seorang pria yang tengah


membelakangi mereka. Raina yang pertama kalinya menyapa pria itu, “Selamat


malam, Pak? Maaf bisa tunjukkan jalan ke hotel Intan?” si pria berbalik, Raina


dan Djiwha berteriak saat melihat wajah orang itu disoroti senter terlihat


menakutkan. Apalagi giginya yang ompong di tengah mengingatkan mereka pada


seseorang, kedua remaja itu berteriak, “Pak Anwar?!”


“Ah, selamat malam kalian berdua. Kalian ini apa


tidak bisa diam di kamar, ya?” Pak Anwar terkekeh melihat raut wajah dua sejoli


di depannya.


“Astaga, ngagetin aja. Gue kira siapa, ngapian


sih, Pak. Malam –malam begini berdiri di tempat gelap?!” Djiwha terlihat kesal.


“Mencari kalian, tadi resepsionis hotel bilang


kalian enggak ada di kamar. Saat pelayan mau antar makan malam, ya udah saya


cari.”


“Halah, lagi pula kenapa bawa kami ke tempat


seperti ini. Sekarang antar kami pulang buruan!” Djiwha misuh-misuh.


Mereka pun


kembali ke hotel dengan panduan jalan Pak Anwar. Mereka terlihat lelah, Raina


berbaring di ranjang sedangkan Djiwha di kursi panjang. Raina merasakan debaran


di jantungnya terasa semakin kencang, sejak tadi mereka berjalan bersama tanpa


sadar tangan mereka saling bergandengan. Lalu, saat mereka mendengarkan lagu


tanpa sadar kepala mereka saling berdekatan, terasa dekat hingga dapat mencium


bau harum dan desah napas masing-masing. Pipinya merona merah, bagaimana bisa


dia tidur nyenyak malam itu? Untuk sekian kalinya Raina insomnia dan itu semua karena Djiwha yang tertidur manis di sofa.


Lalu, untuk pertama kalinya Djiwha tertidur pulas malam hari karena rasa


bahagianya bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis yang disukainya, Raina.


Esok hari, Djiwha dan Raina benar-benar dibawa ke pantai Pandawa oleh Pak


Anwar. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama, bermain air dan saling menulis


nama di pasir pantai, tidak ada lagi keragu-raguan di hati keduanya. Raina


merasa nyaman di samping Djiwha begitu pun Djiwha yang merasa bahagia berada di


dekat Raina, sudah lama dia tidak berkelahi dan merokok hanya karena Raina. Dia


seperti candu tapi, berdampak positif untuk Djiwha. Namun, sulit antara satu


dan lainnya untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.


“Bagaimana kalau kita lihat sunset, besok kita


kembali ke Jakarta ‘kan? Aku ingin melihat sunset terakhir di pantai Pandawa.”


Raina menatap langit yang mulai berwarna kuning emas.


“Hmm.” Djiwha hanya bergumam, mereka pun duduk di


sebuah bangku kayu bercat putih diantara dua buah pohon kelapa. Keduanya


bersama-sama menatap matahari yang mulai meredup dan akan kembali ke peraduan.


“Terima kasih.”


“Buat apa?”


“Semuanya, kamu mau berlibur di sini bersamaku.


Padahal kamu bisa saja menolak saat pembagian hadiah.”


“Hmm.”


‘Raina, tadi malam saat bintang jatuh berada di atas kepala kita, gue


berharap kebersamaan kita enggak akan pernah berakhir. Gue berharap, bisa diberi


keberanian buat menyatakan semua perasaan gue ke lo’ batin Djiwha berbicara, diam-diam matanya melihat


Raina dan menyunggingkan senyum bahagia.


Mama Djiwha tersenyum menyambut dua sejoli yang baru


saja tiba. Mama Djiwha memeluk putranya, lalu memeluk Raina persis ibu mertua


menyambut kedatangan pengantin baru yang tiba dari berbulan madu. Erik tampak


kesal melihat kedekatan adiknya dengan Raina, bagaimana mungkin Djiwha punya


pacar sedangkan dia masih betah dengan status jomblo? Maya memilih tidak ikut


karena banyak tugas di kampusnya.


“Rai, kamu akan diantar Erik ya, Mama enggak bisa


antar kamu pulang. Ayahmu sepertinya sibuk jadi enggak bisa sambut kedatangan


kamu.” Mama Djiwha memberikan kunci mobil pada Erik tapi, secepat kilat Djiwha


menyambarnya dan menarik tangan Raina pergi dari sana.


“Lebay lo , Dek!” Erik terlihat dongkol. Mama


tertawa tergelak dan menggandeng Erik meninggalkan bandara. Tidak berapa lama,


mereka sampai di depan rumah berpagar bambu. Ayah Raina sepertinya masih kerja


dan Reza belum pulang sekolah, Raina turun dari mobil Djiwha dan mengucapkan


terima kasih pada pemuda itu.


“Makasih, Wha. Mau mampir?”


“Tidak usah, gue lelah. Lo masuk aja, Rai.


Istirahat, oh iya gue lupa tadi Mama kirim pesan, ada hadiah buat lo di bagasi


belakang, ambil ya, Rai.” Djiwha melambaikan tangan pada Raina lalu melaju


meninggalkan tempat itu. Raina kerepotan membawa koper dan beberapa tas


pemberian Mamanya Djiwha. “Mau kubantu, Rai?” Raina menatap pemuda di


belakangnya dengan penuh benci.

__ADS_1


__ADS_2