
Biarkan saja aku jadi bayanganmu
Selalu melihatmu
Melindungimu
Meski ... tak dapat kuraba ragamu
Karena cinta tak selamanya harus memiliki
Aku di matamu bagaikan ombak
Tapi, aku hanyalah ranting kering dan rapuh
Tanpa kau injak diriku, aku sudah patah berkali-kali
Tanpa kau remukkan tubuhku , aku sudah hancur lebur
menjadi debu
Aku hanya menunggu angin meniupku ... pergi jauh
menjauhi dirimu
Sudahlah ... biarkan saja aku jadi bayanganmu
Gadisku
“Wha, kamu mau
ke mana sih, sudah malam. Istirahatlah jangan buat Mama khawatir.” Maya baru
saja mematikan acara televisi kesayangannya, saat Djiwha mengambil kunci motor
dan jaket kulitnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, terlalu larut untuk
pergi bermain. Djiwha tidak mengatakan apa pun, dia memilih membanting pintu
rumah hingga membuat Maya terlonjak kaget. Maya geleng-geleng kepala, dia
mengembuskan napas dan masuk ke kamarnya. Dia tidak mengerti, setelah pulang
dari rumah sakit Djiwha jadi berubah drastris. Sering marah-marah dan mudah
tersinggung, sama seperti saat dia kehilangan
Erina beberapa tahun lalu.
“Ada apa lagi,
sih? Apa ada masalah dengan Raina?” Maya merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia
jadi ingat, sejak Djiwha sakit sampai sekarang Raina tidak pernah menemui
adiknya itu. Sudah berapa hari juga adiknya itu enggan pergi ke sekolah, Maya
memejamkan matan, dia berencana esok hari menemui Raina dan bicara hati ke hati
dengan gadis itu.
Raina berjalan
di trotoar, hari itu dia berencana untuk menemui Djiwha di rumahnya. Sudah
beberapa hari dia tidak bertemu dengan Djiwha, tidak ada surat apa pun ke sekolah
tapi, teman-temanya yang lain mengatakan Djiwha sudah sembuh dan pulang ke
rumah. Raina merasa bersalah, karena setiap hari menemani Kevin di rumah sakit.
Sampai saat ini, Kevin belum sadar. Sebuah mobil honda Jazz warna merah metalik
berhenti di depan Raina, seorang perempuan cantik yang sangat Raina kenal
melambaikan tangan pada Raina.
“Halo. Apa
kabar, Raina?”
“Baik. Kak Maya,
Kakak sendiri apa kabar?”
“Seperti yang
kamu lihat, aku baik-baik saja. Oh, iya apa kamu sibuk? Aku ingin bicara empat
mata sama kamu.” Maya tersenyum ramah, Raina mengangguk. Dia masuk ke mobil
Maya dan mereka menuju ke sebuah cafe milik pacar Maya. Maya memesan sebuah
kursi, dia pun meminta sang kekasih membuatkan kopi late untuk dia dan Raina
serta red velvet. Maya tersenyum manis pada sang kekasih saat membawakan
pesanannya ke meja.
“Thanks,Sayang.”
“You are welcome, Sweet heart.”
Pipi Raina
tampak memerah, dia merasa malu melihat kemesraan Maya dan pacarnya. Maya
menyesap kopi latenya, dia pun menyuruh Raina meminumnya dan mereka berbincang
obrolan ringan tentang Raina dan sekolahnya.
“Maaf. Jika
kehadiranku mengejutkanmu, Rai. Begini, kamu pasti bingung dengan kejadian
kemarin ‘kan? Maksudku saat Djiwha dan mantan pacarmu berkelahi hingga Kevin
masuk rumah sakit?”
“Umm ... ya, aku
memang terkejut, Kak. Banyak yang membicarkan mereka akhir-akhir ini tapi aku
sendiri tidak mau percaya kata-kata orang lain yang rata-rata menggosip.” Raina
menunduk.
“Ya, aku
mengerti. Kamu pasti bingung, baiklah ... aku akan menceritakan semuanya padamu
secara detail. Aku harap kamu tidak kaget dan percayalah pada kata-kataku,”
ucap Maya lalu menghembuskan napas berat, sebenarnya dia tidak mau mengingat
kejadian itu lagi. Namun, melihat Raina yang sepertinya dilema, Maya merasa
harus menceritakan semuanya dan menahan rasa sedihnya mengingat peristiwa
mengerikkan itu. Maya mulai menceritakan semuanya pada Raina tentang Erina,
awalnya Raina tampak kaget dan tidak percaya. Namun, tidak mungkin Maya
berbohong, dia melihat Maya sangat terpukul dan tampak berkaca-kaca.
“Seperti itulah
awalnya, Djiwha jadi insomnia akut setelah kejadian itu dan membuat kantung
matanya tampak mengerikan. Dia tidak mau tidur, karena setiap tidur akan
bermimpi buruk tentang Erina. Bagaimana dia meninggal di depan matanya, dengan
cara yang ... ah sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya.” Maya menghapus air
mata yang meleleh di pipinya, hati Raina sakit. Apakah sejahat itu Kevin
Prasetyo?
“Maaf
sebelumnya, Kak. Apakah boleh saya tahu wajah Erina?” tanya Raina. Maya lalu membuka
tasnya dan mengambil sebuah foto lalu memberikkannya pada Raina. Raina menerima
dan melihatnya, dia tampak shock melihat foto itu. Dia—Erina gadis yang pernah
ditemuinya beberapa kali dan dekat dengan Kevin, jadi ... artinya apa yang
dikatakan Maya itu benar? Raina tampak gemetar, air matanya turun perlahan.
Maya berpindah duduk di samping Raina dan memeluk gadis yang terlihat seperti
bidadari bersayap rapuh itu.
“Kak, ke mana
Djiwha sekarang? Aku ingin menemuinya.”
“Djiwha sekarang
sedang tidak baik-baik saja. Hm, dia berubah seperti saat kehilangan Erina
dulu. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya, dia jadi mudah marah dan
tersinggung.”
“Bolehkah aku
bertemu dengannya?”
“Tidak jangan
sekarang, Raina beri dia waktu. Hm ... oke aku harus ke kampus, kamu mau aku
antarkan ke rumahmu?”
“Tidak usah, Kak
Maya. Aku akan pergi ke suatu tempat dulu,” ucap Raina sambil mengucapkan
terima kasih lalu berlalu dari hadapan Maya. Raina tidak tahu jika Maya
mengikutinya, Maya mengikuti mobil angkot yang ditumpangi Raina hingga ke depan
sebuah rumah sakit. Raina turun dari angkot dan masuk ke rumah sakit, Maya
berhenti dan berbalik arah, setidaknya dia sudah tahu penyebab adiknya
uring-uringan tak jelas. Namun, dia juga tidak mau menyalahkan Raina dan
mencoba berpikir positif pada Raina. Mungkin saja dia punya alasan lain menemui
Kevin di rumah sakit, setidaknya dulu mereka menjalin hubungan khusus. Kevin masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Selang infus dan oksigen terpasang di tangan dan hidungnya. Djiwha benar-benar
seorang Devil, bahkan dia bisa membuat seseorang tidak berdaya beberapa hari di
rumah sakit. Raina duduk disamping Kevin, dia menatap pemuda itu dengan tatapan
yang sulit diartikan.
“Vin, aku tidak
tahu ... mana yang salah dan mana yang benar saat ini. Aku bukan tipe orang
yang percaya pada satu pihak, aku ingin mendengar semuanya dari kedua belah
pihak. Vin seandainya kamu tahu, aku sangat benci padamu. Saat ini dan
selamanya tapi, aku tidak mampu untuk meninggalkanmu sendiri dalam keadaan
seperti ini, aku sakit hati ... Vin.” Raina meneteskan air mata, hatinya sudah
hancur dan sekarang lebih hancur. Jari-jemari Kevin bergerak perlahan, Raina
kaget dan melihat keadaan pemuda di depannya.
“Vin?”
“R-Raina ...
kamu di sini?” Kevin membuka matanya, kemudian menatap Raina dan mencoba
bangun, Raina berlari mencari suster dan Dokter untuk memeriksa keadaan Kevin.
Saat orang-orang berjas putih itu datang, Raina keluar sebentar hingga akhirnya
seorang suster dan Dokter yang menangani Kevin keluar dan menghampirinya.
“Kamu pihak
keluarganya? Alhamdullilah, Kevin sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan
seseorang bernama Raina. Apa itu kamu, Dek?” tanya sang Dokter. Raina
mengangguk, dia pun masuk ke ruangan Kevin dan melihat pemuda itu masih
terbaring tapi, sudah tidak menggunakan oksigen.
“Rai ... terima
kasih, sudah menungguku dan melihatku.”
“Bagaimana
keadaanmu?”
“Lumayan, baik.
Aku tidak menyangka bertemu Djiwha di sekolah kita, apa kamu dan dia dekat?”
“Itu tidak
penting.” Raina mencoba tersenyum meski hatinya terasa sakit.
“Rai, maafkan
aku yang brengsek ini. Aku merasa bersalah besar padamu.”
“Tidak, jangan
minta maaf padaku, Kevin. Minta maaflah pada Djiwha dan keluarganya.”
“Apa yang kamu
katakan? Hm ... sepertinya, mereka sudah bicara semua padamu tentang Erina.” Kevin
__ADS_1
menatap wajah Raina yang sejak tadi terlihat tersiksa menahan tangisnya.
“Kenapa, Vin?
Kenapa kamu enggak jujur sama aku. Kamu dan Erina pacaran sedangkan kita masih
menjalin hubungan. Kamu bohongin aku selama ini dan kenapa ini harus terjadi,
kamu ... Erina ... Vin, kamu buat aku hancur berkali-kali.” Tangis Raina pecah,
dia menangis tersedu-sedu membuat Kevin semakin bersalah. Tangan Kevin gemetar,
meraih kepala Raina dan mengusapnya perlahan, air mata deras membasahi pipi.
“Maafkan aku,
Rai ... tapi, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu.” Kevin terbata-bata,
sekuat apa pun dia bertahan tetap saja runtuh.
“Apa aku harus
percaya padamu?”
“Tidak ... kamu
tidak perlu memaksakan diri buat percaya padaku, Rai tapi, aku hanya ingin kamu
dengarkan aku dulu, bukan aku yang melakukannya. Erina ... bukan aku yang
memper—“
“Sudah. Cukup!
Hentikan Kevin! Aku enggak mau denger.” Raina berlari meninggalkan Kevin, tidak
seharusnya dia pergi. Namun, rasa sakit di dadanya memaksa langkah kakinya
untuk pergi dari sana.
Berulang kali kau buat patah hatiku
Tak pernah kutahu dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu
Cinta tak begini, selama kutahu
Tetapi kulemah karena cintaku padamu ....
Jika cinta dia, jujurlah padaku
Tinggalkan aku sendiri tanpa senyumanmu
Jika cinta dia kucoba mengerti
Diriku bukan cinta sejati di hidupmu ....
“Wha, Sayang
anak Mama ... kamu yakin sama keputusanmu ini?” Mama menatap anaknya yang kini
duduk bersama di ruang keluarga, kedua kakaknya menatap Djiwha dengan tatapan shock dan tidak percaya. Djiwha menarik
napas panjang lalu menatap wajah mamanya yang terlihat sedih. Dia tahu sejak
kepergian Erina, dialah yang paling diperhatikan dan disayang mama hingga apa
pun yang menimpanya sekali pun dia salah mama akan datang tergopoh-gopoh
membela.
“Iya, Ma. Djiwha
sudah yakin, dari dulu Djiwha selalu membuat Mama pusing dan hampir membuat
perusahaan keluarga kita bangkrut karena membiayai anak orang yang Djiwha
pukuli.” Djiwha meraih tangan sang mama dan menggenggamnya erat.
“Maafkan Djiwha
ya, Ma. Sudah menyusahkan Mama dan membuat Mama pusing selama ini. Orang itu
... maksudku Kevin adalah korban terakhir si Devil Dog, Mama izinkan Djiwha
pergi, supaya tahu artinya mandiri dan bisa menjadi orang yang lebih baik
lagi.” Kini air mata mamanya meleleh dan menangis tersedu-sedu. Dia sudah
kehilangan Erina, lalu sekarang tiba-tiba Djiwha mengatakan kalau dia akan pergi
ke Belanda bersama sang papa.
Dia ingin kuliah di Amsterdam, lalu
belajar menjadi pengusaha sukses seperti papa.
“Lo yakin, Dek?”
“Kamu beneran,
Wha? Iya sih aku tahu kamu galau gara-gara Raina. Apa harus ke Belanda?”
“Kak Maya jangan
bawa-bawa orang lain, jangan sebut dia dan libatkan dia. Aku pergi atas
kemauanku bukan karena galau atau dilema, Kak aku ini laki-laki sudah
seharusnya suatu saat jadi tulang punggung keluarga.” Djiwha menatap Maya, dia
seperti tidak suka Maya menyebut-nyebut nama Raina. Maya diam, dia tahu kalau
Djiwha sedang bad mood dan tidak
ingin membahas Raina, hatinya sedang dibakar api cemburu.
“Mama enggak
bisa nahan kepergianmu, Nak. Mama hanya bisa mendoakan dan memberi semangat
agar kamu bisa sukses seperti keinginanmu.” Mama memeluk Djiwha dan menepuk
punggung putra kesayangnya itu penuh bangga, setelah itu dia mendelik ke arah
Erik.
“Kamu, Rik yang
harusnya berpikir dewasa bukan adikmu. Sampai kapan kamu abisin duit Mama.”
Erik tertawa hambar sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, Maya
melempar wajahnya dengan bantal kepala kucing. Mereka semua tertawa, mungkin
ini adalah saat paling bahagia seumur hidup mama.
***
Sesekali mata
Raina menatap bangku kosong di belakang, tempat di mana sang devil menyeringai
jahil atau mendengarkan musik sambil pura-pura tertidur. Raina merasa rindu
bersama dengannya.
DEG!
Jantungnya
berdegup kencang, wajah pemuda itu menari-nari di pelupuk matanya. Ada ribuan
kupu-kupu menggelitik isi perutnya dan membuat hatinya terasa berbunga. Namun,
rasa sakit menghinggapinya, ke mana si Devil itu pergi? Raina benar-benar
mengkhawatirkannya dan ingin bertemu dengannya. Raina putuskan jika siang itu
dia akan pergi ke rumah Djiwha. Maka saat bel tanda pulang berbunyi, Raina
tergesa-gesa memesan ojek online dan menuju rumah Djiwha. Tidak lama, gadis
berambut ikal itu sampai di depan rumah berpagar tinggi, dia menekan bel
beberapa kali hingga seorang wanita datang menghampirinya.
“Mau ketemu
siapa, Non?”
“Djiwha ada,
Bi?”
“Den Djiwha
enggak ada, Non. Tapi, kalau Neng Maya ada, sebentar saya panggilkan.” Wanita
itu kembali ke rumah, tak berapa lama dia kembali bersama Maya yang menyambut
Raina dengan senyum hangat.
“Rai, apa kabar?
Kamu sendirian aja?” tanya Maya memeluk Raina, kemudian membawa gadis itu pergi
ke rumah. Dia mengajak Raina masuk , mereka duduk dan
mengobrol bersama. Maya tidak menyinggung soal niat Djiwha untuk pergi ke
Belanda. Maya pikir biarlah mereka berdua yang menyelesaikan semua masalah diantara keduanya,
mereka bukan lagi anak kecil. Maya membawa Raina ke kamar Erina, di sana tampak
jelas foto-foto Erina saat pergi ke Amerika, Maya bercerita tentang masa kecil
Erina yang dekat dengan Djiwha. Bahkan Djiwha sakit demam karena Erina dibawa
pamannya ke Amerika, Raina melihat foto-foto Djiwha dan Erina saat masih kecil.
Dia tersenyum melihat Djiwha yang begitu lucunya dengan pipi tembem dan wajah
yang khas bule.
“Sepertinya,
Mama dan Djiwha sudah datang. Kamu tunggu di sini saja, nanti akan kusuruh
Djiwha kemari, oke.” Maya meninggalkan Raina sendiri di kamar Erina, Raina
membuka album foto, kemudian melihat-lihat boneka yang berjejer rapi di kamar
Erina. Matanya tertarik pada sebuah boneka panda besar. Raina menyentuhnya,
terasa empuk dan hangat, seumur hidup ayahnya belum pernah memberikan dia
boneka karena menomor satukan Reza—adiknya.
“Halusnya, empuk
... hmm dari Djiwha, ya?” Raina melihat sebuah kalung pita yang bertulisakan
‘From Djiwha’ kemudian dia memeluk
boneka itu.
“Letakkan itu!
Untuk apa lo datang ke sini? Siapa yang menyuruh lo nyentuh barang-barang adik
gue? Hah! Apa kalian berdua enggak tahu malu? Cowoknya bikin adik gue meninggal
dan sekarang ceweknya datang ke kamar adik gue, mau apa? Mau bikin arwah adik
gue enggak tenang?” Djiwha berdiri di depan pintu kamar Erina dengan wajah
penuh amarah.
“Wha, apaan sih
kamu. Enggak boleh kasar gitu sama Raina. Aku yang ajak dia ke kamar Erina.”
Maya menengahi.
“Kak Maya enggak
usah ikut campur, tidak ada yang boleh masuk ke kamar ini selain keluarga kita,
dia siapa? Orang lain, Kak. Lagipula dia itu pacar si bedebah Kevin Prasetyo!”
“Djiwha, maafkan
aku ... aku enggak bermaksud untuk—“
“Alah, alasan!
Udahlah, pergi dari kamar adik gue, enggak sudi gue lihat muka lo yang enggak
tahu malu, pembohong, tukang PHP, lo tu cewek murahan!” Djiwha tidak sanggup
menahan segala emosi yang menguasai hatinya. Raina menutup telinga, terlalu
pedas kata-kata Djiwha untuk didengarkan. Dia lari menerobos Djiwha dan
menangis.
“Kamu itu
keterlaluan! Kamu boleh saja berkelahi dengan siapa pun dan membuat mereka koma
di rumah sakit! Tapi, jangan pernah kamu sakiti hati perempuan. Kakak tahu kamu
cemburu tapi, kamu enggak bisa seenak jidat bicara kasar seperti itu!” Maya
menampar adiknya sendiri, dia benar-benar kecewa dengan sikap Djiwha.
Bisa-bisanya dia berkata kasar pada Raina hingga gadis itu pergi dan menangis.
“Wha, lo kenapa
sih? Hah?!” Erik yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, dia juga benar-benar
tidak mengerti dengan sikap Djiwha.
__ADS_1
Raina berlari
sambil menangis, hatinya benar-benar hancur berantakan. Dia benci dengan Kevin,
ini semua terjadi gara-gara Kevin datang dan mengacaukan semuanya. Namun, dia
kecewa pada Djiwha bisa-bisanya berkata kasar dan mengatakan dia cewek murahan,
atas dasar apa? Pembohong? Bohong soal apa? Raina sama sekali tidak pernah
merasa berjanji pada Djiwha dan membohonginya. Pemberi harapan palsu? Bahkan
dia tidak mengerti harapan apa yang sudah dia berikan pada Djiwha. Raina
buru-buru masuk ke rumah dan mengurung diri di kamar, hingga membuat adiknya
bingung. Sampai malam hari, bahkan dia enggan keluar dan memasak untuk Reza. yah
datang sesegera mungkin, karena Reza menelepon dan menceritakan semuanya.
Ayahnya pun bingung dan tidak tahu harus bagaimana, Raina benar-benar tidak mau
keluar kamar meski sudah dibujuk beberapa puluh kali.
“Raina. Keluar ,
Nak? Ada apa? Bicara sama Ayah.”
“Raina pengen
sendirian dulu, Yah.”
“Tapi, Nak. Kamu
belum makan, ayolah keluar dulu.”
Tidak ada
jawaban lagi, hanya ada suara tangis dari dalam kamar putrinya, membuat sang
ayah semakin dilema. Suara ketukan di pintu menginterupsi, ayah bergegas membuka pintu tapi, saat melihat sosok di
depannya ayah hampir saja menutup pintu itu kembali kalau saja tangan pemuda di
depannya tidak dengan cepat menahan pintu agar tidak tertutup.
“Saya enggak
akan ganggu Raina tapi, saya ingin bicara sebentar dengannya hanya 10 menit
tidak lebih.” Kevin memohon pada Ayah Raina, dengan terpaksa Ayah Raina membuka
pintu dan mengizinkan Kevin masuk. Kevin berdiri di depan kamar Raina, dia
mengetuk pintu bercat cokelat itu beberapa kali dan memanggil nama Raina.
“Rai, dengerin
aku dulu. Tolong, kamu bilang akan bersikap adil padaku. Kamu bilang tidak akan
percaya pada omongan satu pihak saja, kumohon izinkan aku bicara setelah itu
kamu boleh membunuhku sekali pun.” Tidak ada jawaban apa pun, hingga bunyi
pintu dibuka membuat Kevin membulatkan matanya. Raina muncul dengan mata sembab
dan wajah berantakan, ayahnya kaget tapi, Raina segera menarik tangan Kevin dan
pergi dari rumah.
“Ayah, aku minta
waktu sebentar untuk bicara dengannya.” Raina mengajak Kevin ke luar rumah,
mereka pun sampai dan duduk di sebuah kursi taman yang tidak jauh dari rumah
Raina, diterangi cahaya bulan.
“Bicaralah, aku
akan mendengarkan.” Raina mengembuskan napasnya keras dan berusaha tegar.
“Baiklah, aku akan
bicara dan dengarkanlah.”
Kevin Prasetyo mengantrakan Raina sampai di
rumahnya, dia mencoba menahan diri untuk tidak berbuat jauh pada gadis cantik
itu. Raina adalah sahabatnya yang kemudian jadi kekasihnya, lalu sekarang dia
merasa hubungannya dengan Raina jauh dari kata mengasyikan. Raina terlalu polos
dan lugu, sedangkan gaya pacaran dia sebelumnya dengan cewek lain begitu bebas
hingga dia terkenal sebagai pemain cinta. Dia melakukan itu semua untuk
melampiaskan rasa kesalnya pada sang ayah, yang rela bercerai dengan ibunya
demi wanita lain. Kevin buru-buru pergi ke tempat yang sudah dijanjikan
teman-temannya, tempat balap mobil liar. Djiwha Mahardika dan kakaknya adalah
sahabat dekatnya setelah Raina. Mereka sering berpesta bersama dan melakukan
hal gila lainnya bersama, itu pun tanpa sepengetahuan Raina.
“Siapa dia?”
“Kenalkan ini teman Kakak namanya Tyo, oh ... ya Tyo
ini adik gue Erina.”
Dari sanalah awal bertemu Erina, adik dari
sahabatnya Djiwha. Sejak dia datang, Kevin semakin jauh dengan Raina. Entah
kenapa meskipun masih anak SMP, Erina benar-benar dewasa dan membuat Kevin
berpaling dari Raina. Malam itu, dia berjanji akan mengantarkan Erina
jalan-jalan keliling Jakarta tapi, dia lupa sebelumnya sudah berjanji dengan
Raina dan ingin mengatakan putus pada Raina karena tidak mau terus menyakiti
hatinya. Kevin datang ke rumah Erina dan meminta izin pada Djiwha untuk
mengantarkan Erina jalan-jalan.
“Rin, kamu suka ‘kan aku ajak jalan?”
“Suka banget, Kak Kevin. Makasih ya, sudah ajak
Erina jalan-jalan keliling kota.”
“Iya, sama-sama Rin. Oh, iya aku ingin mengatakan
sesuatu padamu, Rina.”
“Apa itu, Kak Kevin?”
“Hm, maukah kamu jadi pacarku?”
“Emh ... tapi, bukankah Kak Kevin sudah punya
pacar?”
“Ah, itu ... kami sudah putus.”
“Baiklah. Aku mau, Kak. Aku juga suka sama Kak
Kevin.”
Kedua sejoli itu pun saling berpelukan, Kevin lupa
kalau dia masih berhubungan dengan Raina dan belum memutuskannya. Namun,
beberapa mobil tiba-tiba datang dan memisahkan mereka berdua. Kevin kenal betul
dengan mereka, yang tempo hari balapan dan kalah oleh Djiwha.
“Mau apa kalian kemari?”
“Jangan banyak bicara, kalian berdua ikut kami!”
Kevin sempat melawan tapi, mereka jauh lebih banyak
dan lebih kuat. Mereka dibawa ke sebuah persimpangan jalan. Kevin dipukuli
habis-habisan, hingga tak sadarkan diri dan ditinggalkan begitu saja, mobilnya
pun dibawa pergi entah ke mana. Sepertinya mereka sudah merencankan ini semua
secara matang.
“Dia Erina Mahardika ‘kan? Adik dari si Djiwha?
Bagusnya kita apakan dia?”
“Bawa ke gudang di sana!”
“Djiwha. Lo rasain pembalasan dari gue!”
Kevin hanya sayup-sayup mendengar suara jeritan
Erina yang kemudian hilang ditelan kegelapan. Kevin terseok-seok hingga hampir
tertabrak mobil, dia melihat Djiwha membawa Erina yang sudah dalam keadaan berantakan.
Kevin ingin menjelaskan semuanya tapi, sepertinya menemui Djiwha sama saja
dengan menemui malaikat maut. Dia pun tersiksa penuh rasa sesal dan salah, dia
ingin menemui Erina dan melihat keadaanya. Namun, dia terlalu takut dengan
Djiwha, lalu pada saat ayahnya mengajak pergi ke luar negeri. Kevin Prasetyo
memilih ikut dan menghilang beberapa bulan. Kabar kematian Erina sampai di
telinganya, Kevin pulang dan setiap bulan meletakan sebuket bunga mawar di
makam Erina secara diam-diam.
“Lalu kenapa kamu
pergi? Bukannya menemui Djiwha dan jelaskan semua padanya?”
“Mana bisa, Rai.
Djiwha itu tempramen, belum aku bicara pun dia sudah membunuhku lebih dulu.
Kupikir kamu bisa membantuku karena dekat dengannya.”
“Enggak
sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku enggak tahu.”
Raina menunduk,
dia merasa dilema. Djiwha marah padanya, lalu bagaimana caranya menjelaskan
semua pada pemuda yang membuatnya insomnia mendadak itu? Kevin terdiam cukup lama hingga akhirnya bersuara kembali, “Aku
mengaku salah padamu, Rai. Kupikir dengan kita pacaran semua akan jadi lebih
baik. Kenyataannya kita lebih baik bersahabat seperti dulu.” Kevin menatap
Raina yang sejak tadi hanya menunduk dan merasa gamang.
“Ya, aku tahu
itu, masalahnya aku enggak bisa bantu kamu buat ngomong sama Djiwha. Sepertinya
dia marah padaku tapi, aku enggak tahu karena apa. Hm ... lalu apa rencanamu
selanjutnya?” Raina menatap Kevin lalu tersenyum, rasanya segala beban di
pundaknya perlahan berkurang. Dia percaya pada Kevin, sudah lama mereka
bersahabat dan Raina tahu karakter Kevin seperti apa. Tidak mungkin dia
menghancurkan gadis sebaik Erina.
“Kamu udah
maafin aku ‘kan, Rai?”
“Iya, sebelum
kamu minta maaf aku sudah maafin kamu jauh-jauh hari.”
“Tapi, kenapa
kamu jahuin aku?”
“Aku enggak
jauhin kamu, aku hanya butuh waktu bisa melupakan rasa sakit di hatiku meski sudah memaafkanmu, kamu
pulanglah ... aku akan mencoba membantumu sebisaku.” Raina berdiri kemudian
melangkah meninggalkan Kevin yang termenung seorang diri di bawah cahaya
rembulan. Pikirannya tertuju hanya pada satu wajah, Erina. Dia merasa menyesal
dan bersalah karena tidak dapat menjaga Erina sepertinya janjinya pada Djiwha
dan Erik.
“Erina, aku tahu
kamu melihatku dari sana. Maafkan aku yang lemah dan tidak berdaya sehingga
membuatmu terluka, aku yakin kamu begitu kesakitan, takut dan bingung harus
berbuat apa. Kamu juga enggak bisa jujur sama keluargamu karena takut untu
mengatakan yang sebenarnya, Erina. Jika kamu mendengar suaraku lewat angin
malam ini, aku ingin kamu tahu jika aku benar-benar mencintaimu tulus, aku
merasa menyesal tidak dapat menolongmu malam itu.” Air mata menetes di pipi
__ADS_1
Kevin Prasetyo, nasi sudah menjadi bubur cinta Erina dan jasadnya sudah lama
terkubur.