
Reza sudah sehat
dan bisa kembali pulang ke rumah. Dia sangat senang, sudah bosan tidur dan
memakan bubur. Beberapa waktu lalu teman dan gurunya datang menjenguk, mereka
berdoa untuk kesembuhan Reza dan berharap Reza segera kembali ke sekolah.
Seperti biasa, Raina menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan juga Reza, kali
ini dia membawakan Reza payung supaya tidak demam karena kehujanan tempo hari. Raina
kembali menjalani kehidupannya sebagai anak, kakak dan juga ibu bagi Reza. Sinar
matahari terasa membakar, Raina merasakan kepalanya berdenyut pusing. Hari itu
dia pulang lebih awal karena hendak ke minimarket yang baru saja dibuka dekat
rumahnya. Dia pikir benar-benar dekat ternyata berjalan kaki sangat jauh, Raina
menyesal menolak pemberian tumpangan ayah. Dia juga tidak tahu di mana tempatnya, dia
mengecek kembali layar ponselnya mengaktifkan GPS.
“Ah. Di sana ternyata tinggal menyebrang, lain
kali aku naik ojek online saja, capek ternyata jalan kaki.” Raina mengusap
keringat yang membasahi wajahnya.
“Akhirnya sampai
juga,” ujar Raina melangkahkan kaki hendak masuk. Namun, dia mendengar suara
gaduh dan melihat sosok yang ditemuinya tempo hari bahkan mengantarkannya
pulang. Dia tengah berhadapan dengan enam orang yang berseragam dengan seragam yang dipakai Djiwha.
“Gue enggak mau
ribut di sini,” ujar Djiwha. Memang kawasan itu masih sepi dan mereka berada
tepat di belakang gedung minimarket, Raina sembunyi di balik tembok sesekali
kepalanya melihat ke arah belakang.
“Dia mau
dikeroyok? Apa aku lapor polisi, ya?” tanya Raina pada dirinya sendiri. Dia
mengambil ponselnya dan menekan nomor 112 namun baru saja dia hendak menekan
tombol call tiba-tiba dia mendengar
suara orang kesakitan. Raina melihat kembali ke belakang, enam orang yang tadi
menantang Djiwha sudah terkapar sedangkan Djiwha masih berdiri tegak tanpa luka
sedikit pun di wajahnya. Raina membelalakan mata, tidak percaya dia melihat
wajah Djiwha. Raina
bergidik kemudian lari, Apa benar dia iblis seperti kata Wiwi dan beberapa
temannya di sekolah? Tapi mama
dan kedua saudaranya normal dan tidak bertanduk. Raina menggelengkan kepala
keras, pikirannya
sungguh absurd.
“Ternyata selain
*****, lo itu tukang ngintip, ya?” Raina berhenti memilih handuk kemudian
berbalik.
“Astaga!
Kamu ngapain sih ngagetin tahu.”
“Ini
tempat umum masa gue enggak boleh ke sini.”
Djiwha tengah menyenderkan bahunya ke rak berisi sabun mandi dan
memasukkan kedua tangannya ke saku celana, tidak luput dari mata Raina headset
berwarna biru dongker yang bertengger manis di lehernya menambah kesan cool di
mata Raina, yang terakhir itu dia hapus dari otaknya. Mungkin Raina kesambet setan sampai punya pikiran
kalau Djiwha ganteng.
“Kamu kenapa ada
di sini?” Raina menelan ludah, takut.
“Ya belanja.
Emang lo doang yang boleh belanja?” Djiwha pura-pura melihat-lihat sabun mandi
dan sampo padahal stok di rumahnya masih cukup untuk beberapa bulan ke depan.
Itu hanya alasan saja, hatinya berkata jika Raina akan datang ke sana dan
mereka pasti bertemu, ternyata feelingnya bisa dipercaya.
“Oh, baiklah aku
sudah selesai. Permisi,” ujar Raina mendorong troli berisi keperluan
keluarganya dan menuju kasir. Djiwha berdecak kesal, padahal dia jauh-jauh
datang hanya untuk lebih dekat dengannya tapi, terlalu gengsi untuknya jika
terang-terangan seperti cowok lain pada umumnya.
“Ck, dasar cewek
memang merepotkan.” Djiwha ikut berjalan menuju kasir ia membeli beberapa
barang yang sebenernya tidak ia butuhkan.
“Berapa?”
“Seratus lima
puluh ribu,”
“Duh, gimana ya
dompetku ketinggalan. Humm ... Sayang tolong bayarin dulu ya.” Djiwha menoleh
ke arah Raina. Raina membulatkan mata, ia ingin protes tapi takut mengingat
kejadian yang baru saja dilihatnya. Terpaksa Raina membayar dulu belanjaan Djiwha.
“Apa orang kaya sepertimu selalu minta
dibayarin? Jangan-jangan kamu bukan anak Nyonya di rumah itu tapi pekerja di
sana,” ujar Raina.
“Heh,
sembarangan aja lo ngomong. Itu beneran nyokap gue lah, gue lupa bawa dompet,
ish … lo enggak lihat muka gue sama Mama?”
Djiwha berbohong, padahal dompetnya ia bawa di saku celana.
“Gue laper,
belum sarapan terus capek habis berantem.” Raina berdiri di depan minimarket
menunggu mobil angkot lewat.
“Ya
itu mah derita kamu, apa hubungannya sama aku.”
“Ish,
lo tega ya biarin orang kelaperan, nanti gue pingsan gimana?”
“Lebay
deh,”
“Boleh ke rumah
lo enggak? Nanti gue ganti deh duit lo, ya minta minum gitu.” Djiwha kembali
berceloteh, sejak kapan dia cerewet? Padahal sebelumnya susah sekali bicara
apalagi dengan orang yang baru dikenal.
“Hm. Apa jika
aku mengajakmu ke rumah, kamu enggak akan ngikuti aku lagi?” tanya Raina.
“Memangnya
kenapa?” Djiwha merasa tersinggung.
“Kamu membuatku
tidak tenang. Reputasimu itu sangat jelek di depan teman-temanku. Apa kata mereka
jika tahu aku dekat denganmu? Aku tidak mau membuat masalah, bisa sekolah saja
itu sudah keberuntungan untukku.” Djiwha merasa tertusuk sesuatu dalam hatinya,
dia memang tidak pernah dekat dengan siapa pun apalagi perempuan. Namun,
mendengar perkataan Raina membuatnya sakit. Sejelek itukah dia di mata
orang-orang? Apa dia tidak layak dekat dengan seseorang? Atau menyukai
seseorang? Suka? Apakah benar yang dirasakannya saat ini adalah perasaan yang
disebut cinta pada pandangan pertama?
“Baiklah.
Setelah ini gue enggak akan ganggu hidup lo lagi,” ujar Djiwha pada akhirnya.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan
diantara mereka berdua, Raina sebenarnya bukan tipe pemilih dalam berteman, tapi khusus untuk cowok
berkantung mata mengerikan di depannya menghindar lebih baik daripada bersama.
Masalah yang akan dia hadapi sangat fatal jika terus dekat dengannya, dia ingin
hidup normal tidak ada masalah dan bersekolah dengan nyaman tanpa banyak musuh
atau pun masalah. Kedua remaja itu sampai di depan rumah berpagar bambu, Reza
sedang bermain bola di halaman rumah dan ayah
masih belum pulang kerja. Reza tertegun saat melihat Djiwha, pertama kali sang
Kakak membawa teman bergender cowok ke rumah. Selain Wiwi kakaknya tidak pernah
membawa teman lain apalagi cowok.
“Hai, siapa
ini?” tanya Djiwha berusaha ramah. Sungguh dalam hati dia mengutuk dirinya
sendiri, dia adalah orang yang sangat cuek dan juga dingin apalagi terhadap
anak kecil bahkan anak pamannya menangis setiap bertemu dengannya.
“Aku Reza adik
Kak Raina, Kakak ini siapanya Kak Raina?” tanya Reza polos.
“Reza, jangan
main panas-panasan ‘kan baru sembuh. Reza mau disuntik lagi?” Raina
memperingatkan sang adik dengan lembut, Reza berhenti bermain dan masuk ke dalam rumah kemudian
menyalakan kipas angin dan televisi. Djiwha masuk ke dalam rumah bercat biru
laut itu, isinya berbeda jauh dengan isi rumahnya. Di dalam rumah terdapat satu lemari
kayu berisi gelas-gelas dan mainan, lalu sebuah televisi 21 inch, meja dan kursi dari rotan, semua terlihat sederhana
namun nyaman. Djiwha duduk di kursi rotan, bersama dengan Reza sambil melihat
ke sekeliling ruangan, ada beberapa foto Reza dan Raina serta seorang pria
paruh baya yang sudah pasti ayahnya. Ada juga foto seorang wanita seusia mama sedang memangku
bayi yang dia pastikan almarhum Ibu Raina.
“Maaf, rumahku
kecil. Tidak seperti isi rumahmu,” ujar Raina datang membawa segelas air putih,
Djiwha pura-pura tidak peduli dan melihat layar ponselnya.
“Tunggu, aku
masak dulu. Reza jangan lama-lama nonton tivinya, kamu harus banyak istirahat.”
Raina berlalu dari hadapan keduanya menuju dapur.
“Kakak satu
sekolah dengan Kakakku?” tanya Reza tiba-tiba.
“Emh ... tidak, memangnya
kenapa?” ujar Djiwha tetap memainkan ponselnya.
“Tidak apa-apa.
Hanya saja ini pertama kali Kak Rai membawa teman cowok ke rumah. Baik-baiklah
pada Kakakku jangan membuatnya menangis atau aku akan menghajarmu.” Reza
membuang wajah, Djiwha menaikkan sebelah alis dia merasa ingin tertawa
terbahak-bahak mendengar kata-kata Reza yang mirip seorang Kakak yang over protektive terhadap adik perempuannya.
“Kak Rai itu
orang baik. Sejak Ibu meninggal karena melahirkanku, dialah yang setiap hari
merawatku. Dia sudah seperti Kakak dan Ibu buatku, aku tidak mau melihatnya
sedih. Dulu, dia pernah sedih saat kehilangan Ibu lalu saat Kak Kevin pergi ke
London saat itu dia terlihat rapuh, meski aku masih kecil tapi aku tidak mau
melihatnya sedih. Jadi Kakak jangan buat Kak Rai sedih jika ingin jadi
temannya. Janji?” Reza mengacungkan jari kelingking , Djiwha ikut mengacungkan
jugamengaitkannya dengan
jari Reza sambil mengacak rambut Reza gemas.
“Emh, siapa
Kevin?” tanya Djiwha.
“Kak Kevin itu
__ADS_1
....”
“Reza! Ayo
makan, Kakak udah selesai masak.” Raina memanggil, Reza mengajak Djiwha ikut
makan.
“Mari, kita
makan. Masakan Kak Rai itu paling enak loh,” ujar Reza tertawa riang.
Ketiga orang itu
makan dalam diam, Djiwha mengakui kehebatan Raina dalam mengolah masakan hingga
menjadi makanan paling enak yang pernah ia rasakan. Raina melihat ke arah jam
dinding, sudah sore tapi ayahnya belum pulang. Raina merasa khawatir, dia pun
berinisiatif untuk menelpon. Namun, nomor ayahnya tidak aktif. Raina jadi
merasa khawatir dan gelisah, tapi ia berusaha berpikir positif. Selesai makan, Raina
membereskan piring-piring kotor untuk dicuci. Djiwha membantu membawa piring
itu ke dapur dan menaruhnya di wastafel.
“Terima kasih
atas jamuannya.” Djiwha tersenyum tulus, Raina terkesiap. Mengapa dia merasakan
getaran dalam hatinya? Getaran yang dulu pernah ada lalu hilang dan sekarang
datang kembali dengan sensasi yang berbeda. Raina merasakan pipinya memanas,
dia buru-buru memalingkan wajah yang
mungkin sudah semerah cerry. Dia sibuk mencuci piring kotor padahal jantungnyaseperti genderang
perang yang bertabuh tanpa henti. Suara ponsel Djiwha menginterupsi keduanya
untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa aneh, “Ya, Ada apa?” Djiwha berpindah
ke tempat lain menerima telepon.
“Rai, gue balik,
ya. Makasih buat semuanya, ini duit lo yang gue pakai tadi. Gue janji habis ini
enggak akan nemuin lo lagi kok.” Djiwha meletakan uang seratus lima puluh ribu
di meja dan mengambil tas lalu berpamitan pada Reza yang asyik menonton anime
di tv. Raina melihat punggung Djiwha, entah mengapa hatinya merasa sakit. Dia
merasa kata-kata Djiwha seperti kata perpisahan, mengapa dia merasa sakit dan
bersalah? Bukankah itu permintaan darinyauntuk tidak dekat dengan Djiwha? Raina
merasa dilema.
“Kak Rai, dia
seperti seseorang, ya?”
“Apa maksudmu
Reza?”
“Dia seperti Kak
Kev ....”
“Reza jangan
sebut namanya lagi. Kakak marah kalau kamu seperti itu,”
“Maafkan aku,
Kak Rai,” ujar Reza menunduk dan masuk ke dalam kamar. Raina menarik napas
panjang dan menghembuskan ke udara, dia tidak mau ada lagi Kevin lain yang
menganggu kehidupannya. Dia ingin mengubur nama itu selamanya.
***
Raina duduk di bangku kelas sambil membaca
buku novel, sedangkan Wiwi
sedang asyik chatting dengan
seseorang di ponselnya, anak-anak lain pun tampak asyik dengan kegiatan
masing-masing. Ada yang asyik pacaran di belakang, ada yang menggosip, ada juga
yang tidur hingga suara bariton membuat semuanya terdiam.
“Permisi, Anak-anak.
Bapak mohon perhatiannya sebentar.” Kepala sekolah berdiri dengan angkuh di
depan kelas mengamati satu per satu murid sambil melotot. Seketika kelas
mendadak hening dan suasana kelas pun terasa sepi namun, ada juga yang masih
bisik-bisik bergosip.
“Hari ini kelas kita
kedatangan murid baru, nah. Hei! kamu kemari perkenalkan dirimu.” Kepala
sekolah melambaikan tangan pada seseorang di luar sana. Semua murid melihat ke
arah pintu, suara langkah kaki pun terdengar memasuki ruang kelas. Wiwi menutup
mulutnya, Raina terkejut melihat sosok di depannya.
“Halo, gue Djiwha
Mahardika pindahan dari SMK Prasasti Bangsa.”
“What?”
“Opo?”
“Naon?”
“Si Devil Dog?”
“Astaga! Mama
aku pengen pindah sekolah.”
Suara-suara
gaduh pun terdengar di seluruh kelas, siapa yang tidak kenal Djiwha Mahardika
si berandalan dari SMK Prasasti Bangsa? Terkenal dengan sebutan Devil dog.
Setiap anak yang pernah merasakan pukulan dan tendangan maut miliknya merasa
cemas dan trauma. Djiwha memasang wajah malas dan memutar bola mata, pindah ke sana juga
bukan kemauannya. Ini gara-gara kejadian tempo hari dan Mama yang membuatnya
tiba-tiba harus pindah sekolah.
“Djiwha!! Anak Mama sayang, kemari Nak!” Mama
berteriak dan menerobos kamar Djiwha, dilihatnya sang anak tengah menekuk
wajahnya dengan kantung mata yang bertambah mengerikan. Mama menutup mulutnya
dan berkata, “Kamu insomnia lagi Sayang?”
“Hmm,” Jawab Djiwha sekenannya. Mama duduk di
“Tebak. Mama punya berita bagus buat kamu Nak, ayo
kamu tebak berita apa itu?” tanya Mama sambil tersenyum ceria. Djiwha malas
menanggapi Mamanya pagi-pagi buta dengan tebak-tebakan pula.
“Mana aku tahu, Ma. Ada apa sih? Papa mau pulang?”
tanya Djiwha.
“No, salah dong. Ayo tebak lagi! Masa nyerah!”
“Ya, apa Ma? Mama dapat arisan? Erik mau diasingkan
ke Arab Saudi? Atau Maya mau nikah?” Jawaban Djiwha sama sekali tidak membuat
Mama mengatakan iya.
“Kamu hari ini pindah sekolah.” Perkataan Mama
sukses membuat Djiwha membulatkan mata, padahal dia tidak membuat masalah
dengan sekolah lain? Dia juga tidak mendapat panggilan dari pihak sekolah, lalu
kenapa Mama menyuruhnya pindah?
“Loh, Ma. Tapi, kenapa?”
“Sudahlah, Mama tahu kenapa kamu enggak bisa tidur
lagi. Mama tahu sekarang obatnya biar kamu enggak insomnia,” ujar Mama tertawa.
“Apa sih maksud Mama?”
“Lihat, itu seragam sekolah kamu. Gimana? Bagus
‘kan? Apa mengingatkan kamu pada seseorang? Mama udah tahu kok semuanya, jadi
Mama putuskan kamu pindah ke sana.” Mama memeluk Djiwha dan mengacak rambut
putra bungsunya.
“Duh, anak Mama sudah dewasa sekarang.” Djiwha
merasa ada yang aneh. Dia harus bertanya pada Erik, apa yang sebenarnya
terjadi.
“Apa? Lo gila, ya?” Djiwha memukul kepala Erik
dengan bantal bergambar beruang.
“Ya, habis Mama nanya melulu sama gue, ya udah gue
bilang gitu tapi Dek benaran ‘kan yang gue bilang sama Mama?”
“Apanya yang bener? Sama sekali bulshit tahu enggak.
Jadi orang enggak sotoy deh Rik, sialan lo!” ujar Djiwha kesal dan siap-siap
memukul kakaknya.
“Eits, terus kemarin di minimarket apa?” tanya Erik
tiba-tiba, Djiwha melepaskan tangannya dari kerah baju Erik.
“Lo ngikutin gue?”
“No. Bukan gue tapi orang suruhan Mama. Lo enggak
tahu, ya, Mama rela nyewa detektif demi buntutin lo sama cewek imut itu ...
siapa si Raina.” Erik tertawa menang.
“Astaga! Mama!!” Djiwha berteriak keras, frustrasi.
***
Wiwi menatap
horor Raina. Keningnya berkerut seperti meminta jawaban atas kepindahan Djiwha
Mahardika. Wiwi menyangka kepindahan Djiwha karena Raina ada sesuatu yang
terjadi antara Djiwha dan Raina. Djiwha duduk di bangku paling belakang barisan
bangku Raina. Ia duduk sendirian dengan wajah ditekuk. Murid lain yang
melihatnya merasa ngeri. Kehidupan mereka yang damai sejahtera sekarang terasa
bagai di neraka karena keberadaan si devil.
Kepala sekolah meninggalkan ruang kelas, mendadak kelas jadi hening hasrat
ingin buang air kecil, sampai ingin batuk pun mereka tahan. Bukan apa-apa sudah
banyak korban dari tendangan maut Djiwha yang berakhir koma di rumah sakit,
mereka ogah membuat masalah lalu akhirnya bernasib sama.
“Ck!
Membosankan. Hei kalian, bisakah bersikap biasa saja? Memangnya gue seseram
itu?!” Djiwha memilih memasangkan headset di telinganya dan memutar volume musiknya keras-keras seolah ingin
tenggelam di lautan lumpur saat itu juga.
“Rai, jangan
bilang dia pindah ke sini atas permintaan kamu?” ujar Wiwi setengah berbisik, Raina
melotot merasa kesal.
“Ngaco! Aku
enggak kenal sama dia dan waktu itu cuma kebetulan saja satu busway, Wi.”
Raina sambil meneruskan tulisan di bukunya. Beberapa menit kemudian, guru
matematika muncul dan memulai pelajaran. Entah mengapa semua murid sekarang
ogah ditinggal lama-lama oleh gurunya, semenjak kedatangan Djiwha.
Jam istirahat
berbunyi, Raina masih berada di dalam kelas. Ia lebih suka membawa bekal dari
rumah dibanding jajan di kantin, menghemat uang jajan. Dia juga bisa menabung
dan menyisihkan uang jajannya untuk keperluan lain, sehingga tidak harus
membuat ayahnya pusing. Wiwi seperti biasanya, sudah pergi ke kantin karena
tidak kuat menahan lapar sedangkan Raina mengambil kotak bekal dari dalam
tasnya. Dia membuka kotak bekal berisi telur gulung berisi nasi, Raina suka
membuat bento. Ia menutup matanya dan mengucapkan doa di dalam hati, bersyukur
atas segala nikmat yang Tuhan beri untuknya. Saat Raina membuka mata dia
terkejut melihat Djiwha sudah berada di samping, mendadak jantung Raina berpacu
kencang melihat wajah tampan Djiwha.
“Boleh minta bekalnya?”
Raina tidak menjawab. Ia menunduk dan merasa gelisah.
“Gue ke sekolah
ini atas perintah Mama bukan karena keinginan gue, jadi lo jangan ge-er ya.” Djiwha
membuat Raina kesal. Lagipula siapa yang ge-er, Raina bahkan tidak peduli jika
__ADS_1
cowok berkantung mata itu mau pindah ke mana pun sesuka hatinya.
“Siapa yang
ge-er? Terserah kamu mau pindah ke mana. Kamu dan Mamamu ‘kan punya banyak
uang, jadi terserah kamu mau pindah ke mana saja bukan urusanku.” Raina memakan
bentonya dengan lahap tanpa peduli pada cowok di samping yang menatapnya intens,
dia tersenyum melihat Raina marah sambil makan nasinya.
Lucu sekali pipinya menggembung seperti ikan buntal,ujar
Djiwha dalam hatinya diam-diam dia merasa lucu dengan tingkah Raina.
“Rai ... aku mau
bicara sebent—“ Wiwi menghentikan perkataanya saat melihat Raina duduk dengan Djiwha.
Apalagi yang mau Raina sembunyikan? Sudah jelas-jelas Raina dan Si Devil itu
dekat. Wiwi mengurungkan niatnya untuk mengajak Raina ke perpustakaan, dia
memilih ke perpustakaan sendiri dengan isi kepala penuh tanda tanya. Wiwi takut
jika sahabat satu-satunya akan mengalami patah hati untuk kedua kali, terakhir
kali dia melihat gadis itu menangis di bawah hujan sore hari. Sosoknya yang
terlihat tegar mengelabui semua pandangan, dia tidak lebih dari gadis yang
rapuh dan bisa sakit karena sesuatu bernama cinta.
Tiga tahun lalu ...
Wiwi baru saja pulang membeli kado untuk natal.
Cuaca akhir Desember menjelang tahun baru benar-benar dingin. Andai ini di
negara lain pasti sudah turun salju, tidak akan ada salju di kota Jakarta hanya
hujan lebat dan petir saja yang menyambar , sangat menakutkan. Wiwi
mengecangkan pegangannya pada payung bergambar hati yang dibawanya sedang
tangan lainnya sibuk melindungi bungkusan berisi kado natal untuk kedua adik
dan keluarganya, itu berisi kue yang akan hancur lebur jika terkena derasnya
hujan. Wiwi merasakan dingin yang menusuk kulit hingga tembus ke sum-sum
tulangnya, ia membetulkan kacamatanya. Sesaat matanya melihat ke arah lain,
dilihatnya seorang gadis bodoh tengah berdiri di bawah derasnya air hujan yang
tercurah dari angkasa.
“Siapa yang hujan-hujanan dengan bodohnya tanpa
payung itu? Aku merasa mengenal wajah itu, dia ‘kan ... oh astaga , Raina?!”
Wiwi mempercepat langkahnya menghampiri Raina. Tubuh sahabatnya itu tampak
menggigil dan pucat, giginya gemelatuk menahan dingin.
“Apa-apaan kamu Rai? Oh , ayolah ... mari kuantar
kamu pulang! Kamu bisa sakit Rai!” Wiwi membagi payungnya dengan Raina tapi,
bukannya beranjak pergi Raina masih mematung meneteskan airmata.
“Ada apa? Hah? Dia lagi? Rai, berapa kali kukatakan dia bukan cowok yang
baik. Rai, sudahlah jangan sia-siakan hidupmu hanya demi cowok enggak berguna
seperti dia!” Wiwi berdecak kesal melihat Raina masih berdiri dengan bodohnya,
pasti dia menunggu Kevin siapa lagi? Wiwi mendesis.
“Oke baiklah. Kalau kamu enggak sayang Reza dan Ayahmu. Akan
kutinggalkan kamu sendiri di sini, aku tidak peduli.” Wiwi meninggalkan Raina
tapi, suara serak itu menghentikan langkahnya.
“Bolehkah aku pulang ke rumahmu?” ujar Raina masih
dengan wajah tertunduk. Wiwi tersenyum hangat.
“Mari, pintu rumahku selalu terbuka untuk gadis
patah hati.” Kedua sahabat itu pergi meninggalkan jalanan yang mulai dipenuhi
air hujan.
Tidak ada yang paling nyaman di saat hujan kecuali
di rumah dengan selimut tebal dan cokelat panas. Wiwi masuk ke dalam kamarnya
yang bernuansa pink, Raina sudah berganti baju dengan baju tidurnya, tubuh
mereka sama jadi terlihat pas dan manis. Wiwi menaruh cangkir berisi cokelat
panas di meja belajar, Raina tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat
melihat Wiwi masuk dan menaruh cangkir berisi minuman yang terlihat mengepul,
Raina menatap Wiwi dan merasa sangat bersalah.
“Mau bilang maaf dan terima kasih sudah mengajakmu
ke sini?” tanya Wiwi duduk di samping Raina.
“Kurasa bakatmu menjadi cenayang.” Raina berusaha tertawa. Wiwi mencubit tangan
sahabatnya dengan gemas.
“Jadi kamu baru tahu aku bisa meramal masa depan?”
Wiwi tertawa tergelak. Raina tersenyum sambil mengeringkan kembali rambutnya
yang basah.
“Jadi dia tidak datang menepati janji? Dia tidak
datang dan membuatmu menunggu di bawah hujan dengan bodoh? Kenapa sih Rai, aku
sudah berapa kali bilang Kevin bukan cowok baik, kamu enggak percaya.” Wiwi
meminum cokelat panasnya, dia menarik napas panjang.
“Wi. Dalam hal ini, dia tidak bersalah. Aku yang
salah.” Raina berhenti menggosok
rambutnya dan membaringkan tubuhnya di kasur.
“Bahkan sampai detik ini kamu masih membelanya,
Raina kamu kerasukan apa sih?” Wiwi kesal.
“Aku kerasukan sesuatu yang bernama cinta, hanya
saja cinta yang datang padaku begitu menyakitkan hingga aku terluka. Namun, karena cinta itu enggan pergi dari
tempatnya rasanya ... meski terluka aku tidak merasakan perihnya.” Perlahan
airmata meleleh membasahi pipi putih Raina. Baginya Kevin adalah cinta pertama,
seperti kata orang-orang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, akan selalu
terkenang dan terbayang hingga sulit untuk melepaskan. Baginya , tidak ada yang
salah dari hubungannya dengan Kevin, yang salah hanyalah pemahaman orang-orang
terhadap mereka atau mungkin karena terlalu lelah Kevin memilih melepaskan
semua.
“Rai ... jangan seperti ini lagi, kamu harus janji
padaku. Kamu enggak sedih lagi dan memilih cinta yang tepat.” Wiwi ikut
berbaring di samping sang sahabatmenatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda
seperti langit di siang hari menutupi awan kelabu yang bergulung di atasnya.
Entah kenapa
Raina merasa tidak nyaman semenjak kedatangan Djiwha ke sekolah, terlebih lagi
Djiwha terus menempel padanya seperti anak ayam yang takut kehilangan induk.
Dia merasa risih, dengan pandangan orang –orang terhadapanya. Apalagi Djiwha
seorang troublemaker, dia sudah
pernah mengalami ini dulu saat berhubungan dengan Kevin dan dia tidak mau
terulang kembali. Seperti hari itu, Raina sedang membawa buku ke kantor guru
tidak sengaja dia mendengar percakapan gerombolan anak-anak perempuan yang
sedang bergosip di koridor sekolah.
“Si Raina itu
menjijikan, ya? Apa dia enggak kapok
dulu pacaran sama Kevin?”
“Setuju apa kata
lo, gue lama-lama jijik sama Raina. Sok lugu, polos, tapi kelakuannya lebih
buruk dari kita! Kevin itu pemain cinta, tidak ada cewek yang sanggup menahan
pesonanya, banyak korban dari cinta palsunya. Bahkan gue denger ada yang sampai
hamil tapi karena bokap Kevin kaya raya ditutupi, apalagi sekarang si Djiwha
Mahardika, oh astaga kalian enggak tahu cacadnya?”
“Tahu lah, dia
‘kan beberapa kali bikin masalah sama sekolah lain. Ya meski dia enggak ada
catatan memainkan hati cewek tapi gue denger dia pemakai narkoba, suka minum
alkohol, terus terakhir gue denger bikin
anak sekolah sebelah masuk rumah sakit dan koma.”
Raina ingin
menutup telinga, enggan mendengar semua hujatan yang dilayangkan padanya,
perihal Kevin dan lainnya. Dia tahu Kevin cowok yang punya catatan tidak baik
terutama terhadap cewek. Tapi selama
berhubungan dengannya , Kevin
sangat menghargai dirinya sebagai kekasih. Jangankan tidur bersama, memeluk
atau mencium pun Kevin tidak pernah berani, paling hanya mengusap rambut saja atau
mencubit pipi. Kevin tidak serendah dan seburuk itu di matanya, memang benar
Kevin kerap kali dia pergoki bersama cewek lain tapi, dia mengerti kenapa Kevin
melakukannya. Dia tahu Kevin orang baik
hanya saja dia sedang mencari jati diri, mereka kenal sudah lama.
Sebuah benda tiba-tiba menutup kedua telinganya, sebuah headset yang
mengalunkan lagu-lagu slow rock.
“Lebih baik lo
dengerin ini deh, daripada omongan enggak mutu.” Djiwha melangkah pergi
meninggalkan Raina sendiri dengan keterkejutannya. Djiwha mengacungkan
tangannya ke udara membentuk high five, Raina tersenyum.
“Ternyata dia
baik juga tapi, aku tetap tidak boleh terlalu dekat dengannya.” Raina
melanjutkan perjalanan menuju kelas. Raina masuk ke kelas, dia mencari sosok
yang tadi dengan sengaja menutup kedua telinganya dengan headset. Namun, sosok
itu tidak ada di bangku.
“Cari siapa
Rai?” tanya Wiwi.
“Tidak, Wi. Aku
tidak mencari siapa-siapa,” ucap Raina memasukkan headset dan ipod itu ke dalam
tasnya.
‘Ke mana dia pergi?’batin Raina
Orang yang
dicari malah tengah asyik duduk di belakang sekolah sambil merokok. Pikirannya
melayang entah ke mana, dia tidak sengaja ingin mencari Raina karena baginya
berdekatan dengannya merupakan candu yang lebih menenangkan dari pil penenang
apa pun di dunia ini. Djiwha berpikir mengingat semua percakapan gadis-gadis di
toilet,’ Kevin? Siapa itu Kevin? Apa dia
lebih ganteng darinya? Apa dia mantan pacar Raina?’ ada bara membakar dalam
hatinya ketika menyebut mantan pacar. Djiwha harus mencari tahu siapa itu
Kevin, apa hubungannya dengan Raina. Djiwha membuang puntung rokok yang
terselip di jarinya yang mulai mengecil dan terasa panas menyentuh kulit.
Diam-diam dia pergi dari sekolah, berjalan menuju bengkel motor kepunyaan
temannya tempat di mana dia menitipkan motor kesayangannya.
“Ke mana , Bos?”
tanya pemilik bengkel saat melihat Djiwha memakai jaket dan menyalakan mesin
motor trailnya yang bersuara memekakkan telinga.
“Mencari
sesuatu.” Jawabnya pendek, kemudian memakai helm dan melaju meninggalkan bengkel.
Hatinya merasa kesal, entah mengapa mendengar namanya saja kesal apalagi
bertemu langsung dengan orangnya. Djiwha penasaran dengan semua hal yang
berkaitan dengan Raina—gadis manis dengan aroma lily. Motornya melaju kencang
menuju sebuah tempat, di mana dia biasa melampiaskan kemarahan dan
kekesalannya. Di sana orang-orang berkerumun dan sebagian lagi berteriak
mendukung jagoan mereka masing-masing, tempat balapan liar.
__ADS_1