A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
Despacito


__ADS_3

Reza sudah sehat


dan bisa kembali pulang ke rumah. Dia sangat senang, sudah bosan tidur dan


memakan bubur. Beberapa waktu lalu teman dan gurunya datang menjenguk, mereka


berdoa untuk kesembuhan Reza dan berharap Reza segera kembali ke sekolah.


Seperti biasa, Raina menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan juga Reza, kali


ini dia membawakan Reza payung supaya tidak demam karena kehujanan tempo hari. Raina


kembali menjalani kehidupannya sebagai anak, kakak dan juga ibu bagi Reza. Sinar


matahari terasa membakar, Raina merasakan kepalanya berdenyut pusing. Hari itu


dia pulang lebih awal karena hendak ke minimarket yang baru saja dibuka dekat


rumahnya. Dia pikir benar-benar dekat ternyata berjalan kaki sangat jauh, Raina


menyesal menolak pemberian tumpangan ayah.  Dia juga tidak tahu di mana tempatnya, dia


mengecek kembali layar ponselnya mengaktifkan GPS.


“Ah. Di sana ternyata tinggal menyebrang, lain


kali aku naik ojek online saja, capek ternyata jalan kaki.” Raina mengusap


keringat yang membasahi wajahnya.


“Akhirnya sampai


juga,” ujar Raina melangkahkan kaki hendak masuk. Namun, dia mendengar suara


gaduh dan melihat sosok yang ditemuinya tempo hari bahkan mengantarkannya


pulang. Dia tengah berhadapan dengan enam orang yang berseragam dengan  seragam yang dipakai Djiwha.


“Gue enggak mau


ribut di sini,” ujar Djiwha. Memang kawasan itu masih sepi dan mereka berada


tepat di belakang gedung minimarket, Raina sembunyi di balik tembok sesekali


kepalanya melihat ke arah belakang.


“Dia mau


dikeroyok? Apa aku lapor polisi, ya?” tanya Raina pada dirinya sendiri. Dia


mengambil ponselnya dan menekan nomor 112 namun baru saja dia hendak menekan


tombol call tiba-tiba dia mendengar


suara orang kesakitan. Raina melihat kembali ke belakang, enam orang yang tadi


menantang Djiwha sudah terkapar sedangkan Djiwha masih berdiri tegak tanpa luka


sedikit pun di wajahnya. Raina membelalakan mata, tidak percaya dia melihat


wajah Djiwha. Raina


bergidik kemudian lari, Apa benar dia iblis seperti kata Wiwi dan beberapa


temannya di sekolah? Tapi mama


dan kedua saudaranya normal dan tidak bertanduk. Raina menggelengkan kepala


keras,  pikirannya


sungguh absurd.


“Ternyata selain


*****, lo itu tukang ngintip, ya?” Raina berhenti memilih handuk kemudian


berbalik.


“Astaga!


Kamu ngapain sih ngagetin tahu.”


“Ini


tempat umum masa gue enggak boleh ke sini.”


Djiwha tengah menyenderkan bahunya ke rak berisi sabun mandi dan


memasukkan kedua tangannya ke saku celana, tidak luput dari mata Raina headset


berwarna biru dongker yang bertengger manis di lehernya menambah kesan cool di


mata Raina, yang terakhir itu dia hapus dari otaknya. Mungkin Raina kesambet setan sampai punya pikiran


kalau Djiwha ganteng.


“Kamu kenapa ada


di sini?” Raina menelan ludah, takut.


“Ya belanja.


Emang lo doang yang boleh belanja?” Djiwha pura-pura melihat-lihat sabun mandi


dan sampo padahal stok di rumahnya masih cukup untuk beberapa bulan ke depan.


Itu hanya alasan saja, hatinya berkata jika Raina akan datang ke sana dan


mereka pasti bertemu, ternyata feelingnya bisa dipercaya.


“Oh, baiklah aku


sudah selesai. Permisi,” ujar Raina mendorong troli berisi keperluan


keluarganya dan menuju kasir. Djiwha berdecak kesal, padahal dia jauh-jauh


datang hanya untuk lebih dekat dengannya tapi, terlalu gengsi untuknya jika


terang-terangan seperti cowok lain pada umumnya.


“Ck, dasar cewek


memang merepotkan.” Djiwha ikut berjalan menuju kasir ia membeli beberapa


barang yang sebenernya tidak ia butuhkan.


“Berapa?”


“Seratus lima


puluh ribu,”


“Duh, gimana ya


dompetku ketinggalan. Humm ... Sayang tolong bayarin dulu ya.” Djiwha menoleh


ke arah Raina. Raina membulatkan mata, ia ingin protes tapi takut mengingat


kejadian yang baru saja dilihatnya. Terpaksa Raina membayar dulu belanjaan Djiwha.


“Apa orang kaya sepertimu selalu minta


dibayarin? Jangan-jangan kamu bukan anak Nyonya di rumah itu tapi pekerja di


sana,” ujar Raina.


“Heh,


sembarangan aja lo ngomong. Itu beneran nyokap gue lah, gue lupa bawa dompet,


ish … lo enggak lihat muka gue sama Mama?”


Djiwha berbohong, padahal dompetnya ia bawa di saku celana.


“Gue laper,


belum sarapan terus capek habis berantem.” Raina berdiri di depan minimarket


menunggu mobil angkot lewat.


“Ya


itu mah derita kamu, apa hubungannya sama aku.”


“Ish,


lo tega ya biarin orang kelaperan, nanti gue pingsan gimana?”


“Lebay


deh,”


“Boleh ke rumah


lo enggak? Nanti gue ganti deh duit lo, ya minta minum gitu.” Djiwha kembali


berceloteh, sejak kapan dia cerewet? Padahal sebelumnya susah sekali bicara


apalagi dengan orang yang baru dikenal.


“Hm. Apa jika


aku mengajakmu ke rumah, kamu enggak akan ngikuti aku lagi?” tanya Raina.


“Memangnya


kenapa?” Djiwha merasa tersinggung.


“Kamu membuatku


tidak tenang. Reputasimu itu sangat jelek di depan teman-temanku. Apa kata mereka


jika tahu aku dekat denganmu? Aku tidak mau membuat masalah, bisa sekolah saja


itu sudah keberuntungan untukku.” Djiwha merasa tertusuk sesuatu dalam hatinya,


dia memang tidak pernah dekat dengan siapa pun apalagi perempuan. Namun,


mendengar perkataan Raina membuatnya sakit. Sejelek itukah dia di mata


orang-orang? Apa dia tidak layak dekat dengan seseorang? Atau menyukai


seseorang? Suka? Apakah benar yang dirasakannya saat ini adalah perasaan yang


disebut cinta pada pandangan pertama?


“Baiklah.


Setelah ini gue enggak akan ganggu hidup lo lagi,” ujar Djiwha pada akhirnya.


Selama perjalanan tidak ada pembicaraan


diantara mereka berdua, Raina sebenarnya bukan tipe pemilih dalam berteman, tapi khusus untuk cowok


berkantung mata mengerikan di depannya menghindar lebih baik daripada bersama.


Masalah yang akan dia hadapi sangat fatal jika terus dekat dengannya, dia ingin


hidup normal tidak ada masalah dan bersekolah dengan nyaman tanpa banyak musuh


atau pun masalah. Kedua remaja itu sampai di depan rumah berpagar bambu, Reza


sedang bermain bola di halaman rumah dan ayah


masih belum pulang kerja. Reza tertegun saat melihat Djiwha, pertama kali sang


Kakak membawa teman bergender cowok ke rumah. Selain Wiwi kakaknya tidak pernah


membawa teman lain apalagi cowok.


“Hai, siapa


ini?” tanya Djiwha berusaha ramah. Sungguh dalam hati dia mengutuk dirinya


sendiri, dia adalah orang yang sangat cuek dan juga dingin apalagi terhadap


anak kecil bahkan anak pamannya menangis setiap bertemu dengannya.


“Aku Reza adik


Kak Raina, Kakak ini siapanya Kak Raina?” tanya Reza polos.


“Reza, jangan


main panas-panasan ‘kan baru sembuh. Reza mau disuntik lagi?” Raina


memperingatkan sang adik dengan lembut, Reza berhenti bermain dan masuk ke dalam rumah kemudian


menyalakan kipas angin dan televisi. Djiwha masuk ke dalam rumah bercat biru


laut itu, isinya berbeda jauh dengan isi rumahnya. Di dalam rumah terdapat satu lemari


kayu berisi gelas-gelas dan mainan, lalu sebuah televisi 21 inch, meja dan kursi dari rotan, semua terlihat sederhana


namun nyaman. Djiwha duduk di kursi rotan, bersama dengan Reza sambil melihat


ke sekeliling ruangan, ada beberapa foto Reza dan Raina serta seorang pria


paruh baya yang sudah pasti ayahnya. Ada juga foto seorang wanita seusia mama sedang memangku


bayi yang dia pastikan almarhum Ibu Raina.


“Maaf, rumahku


kecil. Tidak seperti isi rumahmu,” ujar Raina datang membawa segelas air putih,


Djiwha pura-pura tidak peduli dan melihat layar ponselnya.


“Tunggu, aku


masak dulu. Reza jangan lama-lama nonton tivinya, kamu harus banyak istirahat.”


Raina berlalu dari hadapan keduanya menuju dapur.


“Kakak satu


sekolah dengan Kakakku?” tanya Reza tiba-tiba.


“Emh ... tidak, memangnya


kenapa?” ujar Djiwha tetap memainkan ponselnya.


“Tidak apa-apa.


Hanya saja ini pertama kali Kak Rai membawa teman cowok ke rumah. Baik-baiklah


pada Kakakku jangan membuatnya menangis atau aku akan menghajarmu.” Reza


membuang wajah, Djiwha menaikkan sebelah alis dia merasa ingin tertawa


terbahak-bahak mendengar kata-kata Reza yang mirip seorang Kakak yang over protektive terhadap adik perempuannya.


“Kak Rai itu


orang baik. Sejak Ibu meninggal karena melahirkanku, dialah yang setiap hari


merawatku. Dia sudah seperti Kakak dan Ibu buatku, aku tidak mau melihatnya


sedih. Dulu, dia pernah sedih saat kehilangan Ibu lalu saat Kak Kevin pergi ke


London saat itu dia terlihat rapuh, meski aku masih kecil tapi aku tidak mau


melihatnya sedih. Jadi Kakak jangan buat Kak Rai sedih jika ingin jadi


temannya. Janji?” Reza mengacungkan jari kelingking , Djiwha ikut mengacungkan


jugamengaitkannya dengan


jari Reza sambil mengacak rambut Reza gemas.


“Emh, siapa


Kevin?” tanya Djiwha.


“Kak Kevin itu

__ADS_1


....”


“Reza! Ayo


makan, Kakak udah selesai masak.” Raina memanggil, Reza mengajak Djiwha ikut


makan.


“Mari, kita


makan. Masakan Kak Rai itu paling enak loh,” ujar Reza tertawa riang.


Ketiga orang itu


makan dalam diam, Djiwha mengakui kehebatan Raina dalam mengolah masakan hingga


menjadi makanan paling enak yang pernah ia rasakan. Raina melihat ke arah jam


dinding, sudah sore tapi ayahnya belum pulang. Raina merasa khawatir, dia pun


berinisiatif untuk menelpon. Namun, nomor ayahnya tidak aktif. Raina jadi


merasa khawatir dan gelisah, tapi ia berusaha berpikir positif. Selesai makan, Raina


membereskan piring-piring kotor untuk dicuci. Djiwha membantu membawa piring


itu ke dapur dan menaruhnya di wastafel.


“Terima kasih


atas jamuannya.” Djiwha tersenyum tulus, Raina terkesiap. Mengapa dia merasakan


getaran dalam hatinya? Getaran yang dulu pernah ada lalu hilang dan sekarang


datang kembali dengan sensasi yang berbeda. Raina merasakan pipinya memanas,


dia buru-buru memalingkan wajah yang


mungkin sudah semerah cerry. Dia sibuk mencuci piring kotor padahal jantungnyaseperti genderang


perang yang bertabuh tanpa henti. Suara ponsel Djiwha menginterupsi keduanya


untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa aneh, “Ya, Ada apa?” Djiwha berpindah


ke tempat lain menerima telepon.


“Rai, gue balik,


ya. Makasih buat semuanya, ini duit lo yang gue pakai tadi. Gue janji habis ini


enggak akan nemuin lo lagi kok.” Djiwha meletakan uang seratus lima puluh ribu


di meja dan mengambil tas lalu berpamitan pada Reza yang asyik menonton anime


di tv. Raina melihat punggung Djiwha, entah mengapa hatinya merasa sakit. Dia


merasa kata-kata Djiwha seperti kata perpisahan, mengapa dia merasa sakit dan


bersalah? Bukankah itu permintaan darinyauntuk tidak dekat dengan Djiwha? Raina


merasa dilema.


“Kak Rai, dia


seperti seseorang, ya?”


“Apa maksudmu


Reza?”


“Dia seperti Kak


Kev ....”


“Reza jangan


sebut namanya lagi. Kakak marah kalau kamu seperti itu,”


“Maafkan aku,


Kak Rai,” ujar Reza menunduk dan masuk ke dalam kamar. Raina menarik napas


panjang dan menghembuskan ke udara, dia tidak mau ada lagi Kevin lain yang


menganggu kehidupannya. Dia ingin mengubur nama itu selamanya.


***


Raina duduk di bangku kelas sambil membaca


buku novel, sedangkan Wiwi


sedang asyik chatting dengan


seseorang di ponselnya, anak-anak lain pun tampak asyik dengan kegiatan


masing-masing. Ada yang asyik pacaran di belakang, ada yang menggosip, ada juga


yang tidur hingga suara bariton membuat semuanya terdiam.


“Permisi, Anak-anak.


Bapak mohon perhatiannya sebentar.” Kepala sekolah berdiri dengan angkuh di


depan kelas mengamati satu per satu murid sambil melotot. Seketika kelas


mendadak hening dan suasana kelas pun terasa sepi namun, ada juga yang masih


bisik-bisik bergosip.


“Hari ini kelas kita


kedatangan murid baru, nah. Hei! kamu kemari perkenalkan dirimu.” Kepala


sekolah melambaikan tangan pada seseorang di luar sana. Semua murid melihat ke


arah pintu, suara langkah kaki pun terdengar memasuki ruang kelas. Wiwi menutup


mulutnya, Raina terkejut melihat sosok di depannya.


“Halo, gue Djiwha


Mahardika pindahan dari SMK Prasasti Bangsa.”


“What?”


“Opo?”


“Naon?”


“Si Devil Dog?”


“Astaga! Mama


aku pengen pindah sekolah.”


Suara-suara


gaduh pun terdengar di seluruh kelas, siapa yang tidak kenal Djiwha Mahardika


si berandalan dari SMK Prasasti Bangsa? Terkenal dengan sebutan Devil dog.


Setiap anak yang pernah merasakan pukulan dan tendangan maut miliknya merasa


cemas dan trauma. Djiwha memasang wajah malas dan memutar bola mata, pindah ke sana juga


bukan kemauannya. Ini gara-gara kejadian tempo hari dan Mama yang membuatnya


tiba-tiba harus pindah sekolah.


“Djiwha!! Anak Mama sayang, kemari Nak!” Mama


berteriak dan menerobos kamar Djiwha, dilihatnya sang anak tengah menekuk


wajahnya dengan kantung mata yang bertambah mengerikan. Mama menutup mulutnya


dan berkata, “Kamu insomnia lagi Sayang?”


“Hmm,” Jawab Djiwha sekenannya. Mama duduk di


“Tebak. Mama punya berita bagus buat kamu Nak, ayo


kamu tebak berita apa itu?” tanya Mama sambil tersenyum ceria. Djiwha malas


menanggapi Mamanya pagi-pagi buta dengan tebak-tebakan pula.


“Mana aku tahu, Ma. Ada apa sih? Papa mau pulang?”


tanya Djiwha.


“No, salah dong. Ayo tebak lagi! Masa nyerah!”


“Ya, apa Ma? Mama dapat arisan? Erik mau diasingkan


ke Arab Saudi? Atau Maya mau nikah?” Jawaban Djiwha sama sekali tidak membuat


Mama mengatakan iya.


“Kamu hari ini pindah sekolah.” Perkataan Mama


sukses membuat Djiwha membulatkan mata, padahal dia tidak membuat masalah


dengan sekolah lain? Dia juga tidak mendapat panggilan dari pihak sekolah, lalu


kenapa Mama menyuruhnya pindah?


“Loh, Ma. Tapi, kenapa?”


“Sudahlah, Mama tahu kenapa kamu enggak bisa tidur


lagi. Mama tahu sekarang obatnya biar kamu enggak insomnia,” ujar Mama tertawa.


“Apa sih maksud Mama?”


“Lihat, itu seragam sekolah kamu. Gimana? Bagus


‘kan? Apa mengingatkan kamu pada seseorang? Mama udah tahu kok semuanya, jadi


Mama putuskan kamu pindah ke sana.” Mama memeluk Djiwha dan mengacak rambut


putra bungsunya.


“Duh, anak Mama sudah dewasa sekarang.” Djiwha


merasa ada yang aneh. Dia harus bertanya pada Erik, apa yang sebenarnya


terjadi.


“Apa? Lo gila, ya?” Djiwha memukul kepala Erik


dengan bantal bergambar beruang.


“Ya, habis Mama nanya melulu sama gue, ya udah gue


bilang gitu tapi Dek benaran ‘kan yang gue bilang sama Mama?”


“Apanya yang bener? Sama sekali bulshit tahu enggak.


Jadi orang enggak sotoy deh Rik, sialan lo!” ujar Djiwha kesal dan siap-siap


memukul kakaknya.


“Eits, terus kemarin di minimarket apa?” tanya Erik


tiba-tiba, Djiwha melepaskan tangannya dari kerah baju Erik.


“Lo ngikutin gue?”


“No. Bukan gue tapi orang suruhan Mama. Lo enggak


tahu, ya, Mama rela nyewa detektif demi buntutin lo sama cewek imut itu ...


siapa si Raina.” Erik tertawa menang.


“Astaga! Mama!!” Djiwha berteriak keras, frustrasi.


***


Wiwi menatap


horor Raina. Keningnya berkerut seperti meminta jawaban atas kepindahan Djiwha


Mahardika. Wiwi menyangka kepindahan Djiwha karena Raina ada sesuatu yang


terjadi antara Djiwha dan Raina. Djiwha duduk di bangku paling belakang barisan


bangku Raina. Ia duduk sendirian dengan wajah ditekuk. Murid lain yang


melihatnya merasa ngeri. Kehidupan mereka yang damai sejahtera sekarang terasa


bagai di neraka karena keberadaan si devil.


Kepala sekolah meninggalkan ruang kelas, mendadak kelas jadi hening hasrat


ingin buang air kecil, sampai ingin batuk pun mereka tahan. Bukan apa-apa sudah


banyak korban dari tendangan maut Djiwha yang berakhir koma di rumah sakit,


mereka ogah membuat masalah lalu akhirnya bernasib sama.


“Ck!


Membosankan. Hei kalian, bisakah bersikap biasa saja? Memangnya gue seseram


itu?!” Djiwha memilih memasangkan headset di telinganya dan memutar volume musiknya keras-keras seolah ingin


tenggelam di lautan lumpur saat itu juga.


“Rai, jangan


bilang dia pindah ke sini atas permintaan kamu?” ujar Wiwi setengah berbisik, Raina


melotot merasa kesal.


“Ngaco! Aku


enggak kenal sama dia dan waktu itu cuma kebetulan saja satu busway, Wi.”


Raina sambil meneruskan tulisan di bukunya. Beberapa menit kemudian, guru


matematika muncul dan memulai pelajaran. Entah mengapa semua murid sekarang


ogah ditinggal lama-lama oleh gurunya, semenjak kedatangan Djiwha.


Jam istirahat


berbunyi, Raina masih berada di dalam kelas. Ia lebih suka membawa bekal dari


rumah dibanding jajan di kantin, menghemat uang jajan. Dia juga bisa menabung


dan menyisihkan uang jajannya untuk keperluan lain, sehingga tidak harus


membuat ayahnya pusing. Wiwi seperti biasanya, sudah pergi ke kantin karena


tidak kuat menahan lapar sedangkan Raina mengambil kotak bekal dari dalam


tasnya. Dia membuka kotak bekal berisi telur gulung berisi nasi, Raina suka


membuat bento. Ia menutup matanya dan mengucapkan doa di dalam hati, bersyukur


atas segala nikmat yang Tuhan beri untuknya. Saat Raina membuka mata dia


terkejut melihat Djiwha sudah berada di samping, mendadak jantung Raina berpacu


kencang melihat wajah tampan Djiwha.


“Boleh minta bekalnya?”


Raina tidak menjawab. Ia menunduk dan merasa gelisah.


“Gue ke sekolah


ini atas perintah Mama bukan karena keinginan gue, jadi lo jangan ge-er ya.” Djiwha


membuat Raina kesal. Lagipula siapa yang ge-er, Raina bahkan tidak peduli jika

__ADS_1


cowok berkantung mata itu mau pindah ke mana pun sesuka hatinya.


“Siapa yang


ge-er? Terserah kamu mau pindah ke mana. Kamu dan Mamamu ‘kan punya banyak


uang, jadi terserah kamu mau pindah ke mana saja bukan urusanku.” Raina memakan


bentonya dengan lahap tanpa peduli pada cowok di samping yang menatapnya intens,


dia tersenyum melihat Raina marah sambil makan nasinya.


Lucu sekali pipinya menggembung seperti ikan buntal,ujar


Djiwha dalam hatinya diam-diam dia merasa lucu dengan tingkah Raina.


“Rai ... aku mau


bicara sebent—“ Wiwi menghentikan perkataanya saat melihat Raina duduk dengan Djiwha.


Apalagi yang mau Raina sembunyikan? Sudah jelas-jelas Raina dan Si Devil itu


dekat. Wiwi mengurungkan niatnya untuk mengajak Raina ke perpustakaan, dia


memilih ke perpustakaan sendiri dengan isi kepala penuh tanda tanya. Wiwi takut


jika sahabat satu-satunya akan mengalami patah hati untuk kedua kali, terakhir


kali dia melihat gadis itu menangis di bawah hujan sore hari. Sosoknya yang


terlihat tegar mengelabui semua pandangan, dia tidak lebih dari gadis yang


rapuh dan bisa sakit karena sesuatu bernama cinta.


Tiga tahun lalu ...


Wiwi baru saja pulang membeli kado untuk natal.


Cuaca akhir Desember menjelang tahun baru benar-benar dingin. Andai ini di


negara lain pasti sudah turun salju, tidak akan ada salju di kota Jakarta hanya


hujan lebat dan petir saja yang menyambar , sangat menakutkan. Wiwi


mengecangkan pegangannya pada payung bergambar hati yang dibawanya sedang


tangan lainnya sibuk melindungi bungkusan berisi kado natal untuk kedua adik


dan keluarganya, itu berisi kue yang akan hancur lebur jika terkena derasnya


hujan. Wiwi merasakan dingin yang menusuk kulit hingga tembus ke sum-sum


tulangnya, ia membetulkan kacamatanya. Sesaat matanya melihat ke arah lain,


dilihatnya seorang gadis bodoh tengah berdiri di bawah derasnya air hujan yang


tercurah dari angkasa.


“Siapa yang hujan-hujanan dengan bodohnya tanpa


payung itu? Aku merasa mengenal wajah itu, dia ‘kan ... oh astaga , Raina?!”


Wiwi mempercepat langkahnya menghampiri Raina. Tubuh sahabatnya itu tampak


menggigil dan pucat, giginya gemelatuk menahan dingin.


“Apa-apaan kamu Rai? Oh , ayolah ... mari kuantar


kamu pulang! Kamu bisa sakit Rai!” Wiwi membagi payungnya dengan Raina tapi,


bukannya beranjak pergi Raina masih mematung meneteskan airmata.


“Ada apa? Hah? Dia lagi? Rai,  berapa kali kukatakan dia bukan cowok yang


baik. Rai, sudahlah jangan sia-siakan hidupmu hanya demi cowok enggak berguna


seperti dia!” Wiwi berdecak kesal melihat Raina masih berdiri dengan bodohnya,


pasti dia menunggu Kevin siapa lagi? Wiwi mendesis.


“Oke baiklah. Kalau kamu enggak sayang Reza dan Ayahmu. Akan


kutinggalkan kamu sendiri di sini, aku tidak peduli.” Wiwi meninggalkan Raina


tapi, suara serak itu menghentikan langkahnya.


“Bolehkah aku pulang ke rumahmu?” ujar Raina masih


dengan wajah tertunduk. Wiwi tersenyum hangat.


“Mari, pintu rumahku selalu terbuka untuk gadis


patah hati.” Kedua sahabat itu pergi meninggalkan jalanan yang mulai dipenuhi


air hujan.


Tidak ada yang paling nyaman di saat hujan kecuali


di rumah dengan selimut tebal dan cokelat panas. Wiwi masuk ke dalam kamarnya


yang bernuansa pink, Raina sudah berganti baju dengan baju tidurnya, tubuh


mereka sama jadi terlihat pas dan manis. Wiwi menaruh cangkir berisi cokelat


panas di meja belajar, Raina tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat


melihat Wiwi masuk dan menaruh cangkir berisi minuman yang terlihat mengepul,


Raina menatap Wiwi dan merasa sangat bersalah.


“Mau bilang maaf dan terima kasih sudah mengajakmu


ke sini?” tanya Wiwi duduk di samping Raina.


“Kurasa bakatmu menjadi cenayang.”  Raina berusaha tertawa. Wiwi mencubit tangan


sahabatnya dengan gemas.


“Jadi kamu baru tahu aku bisa meramal masa depan?”


Wiwi tertawa tergelak. Raina tersenyum sambil mengeringkan kembali rambutnya


yang basah.


“Jadi dia tidak datang menepati janji? Dia tidak


datang dan membuatmu menunggu di bawah hujan dengan bodoh? Kenapa sih Rai, aku


sudah berapa kali bilang Kevin bukan cowok baik, kamu enggak percaya.” Wiwi


meminum cokelat panasnya, dia menarik napas panjang.


“Wi. Dalam hal ini, dia tidak bersalah. Aku yang


salah.”  Raina berhenti menggosok


rambutnya dan membaringkan tubuhnya di kasur.


“Bahkan sampai detik ini kamu masih membelanya,


Raina kamu kerasukan apa sih?” Wiwi kesal.


“Aku kerasukan sesuatu yang bernama cinta, hanya


saja cinta yang datang padaku begitu menyakitkan hingga aku terluka.  Namun, karena cinta itu enggan pergi dari


tempatnya rasanya ... meski terluka aku tidak merasakan perihnya.” Perlahan


airmata meleleh membasahi pipi putih Raina. Baginya Kevin adalah cinta pertama,


seperti kata orang-orang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, akan selalu


terkenang dan terbayang hingga sulit untuk melepaskan. Baginya , tidak ada yang


salah dari hubungannya dengan Kevin, yang salah hanyalah pemahaman orang-orang


terhadap mereka atau mungkin karena terlalu lelah Kevin memilih melepaskan


semua.


“Rai ... jangan seperti ini lagi, kamu harus janji


padaku. Kamu enggak sedih lagi dan memilih cinta yang tepat.” Wiwi ikut


berbaring di samping sang sahabatmenatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda


seperti langit di siang hari menutupi awan kelabu yang bergulung di atasnya.


Entah kenapa


Raina merasa tidak nyaman semenjak kedatangan Djiwha ke sekolah, terlebih lagi


Djiwha terus menempel padanya seperti anak ayam yang takut kehilangan induk.


Dia merasa risih, dengan pandangan orang –orang terhadapanya. Apalagi Djiwha


seorang troublemaker, dia sudah


pernah mengalami ini dulu saat berhubungan dengan Kevin dan dia tidak mau


terulang kembali. Seperti hari itu, Raina sedang membawa buku ke kantor guru


tidak sengaja dia mendengar percakapan gerombolan anak-anak perempuan yang


sedang bergosip di  koridor sekolah.


“Si Raina itu


menjijikan, ya?  Apa dia enggak kapok


dulu pacaran sama Kevin?”


“Setuju apa kata


lo, gue lama-lama jijik sama Raina. Sok lugu, polos, tapi kelakuannya lebih


buruk dari kita! Kevin itu pemain cinta, tidak ada cewek yang sanggup menahan


pesonanya, banyak korban dari cinta palsunya. Bahkan gue denger ada yang sampai


hamil tapi karena bokap Kevin kaya raya ditutupi, apalagi sekarang si Djiwha


Mahardika, oh astaga kalian enggak tahu cacadnya?”


“Tahu lah, dia


‘kan beberapa kali bikin masalah sama sekolah lain. Ya meski dia enggak ada


catatan memainkan hati cewek tapi gue denger dia pemakai narkoba, suka minum


alkohol, terus terakhir  gue denger bikin


anak sekolah sebelah masuk rumah sakit dan koma.”


Raina ingin


menutup telinga, enggan mendengar semua hujatan yang dilayangkan padanya,


perihal Kevin dan lainnya. Dia tahu Kevin cowok yang punya catatan tidak baik


terutama terhadap cewek. Tapi selama


berhubungan dengannya , Kevin


sangat menghargai dirinya sebagai kekasih. Jangankan tidur bersama, memeluk


atau mencium pun Kevin tidak pernah berani, paling hanya mengusap rambut saja atau


mencubit pipi. Kevin tidak serendah dan seburuk itu di matanya, memang benar


Kevin kerap kali dia pergoki bersama cewek lain tapi, dia mengerti kenapa Kevin


melakukannya. Dia tahu Kevin orang baik


hanya saja dia sedang mencari jati diri, mereka kenal sudah lama.


Sebuah benda tiba-tiba menutup kedua telinganya, sebuah headset yang


mengalunkan lagu-lagu slow rock.


“Lebih baik lo


dengerin ini deh, daripada omongan enggak mutu.” Djiwha melangkah pergi


meninggalkan Raina sendiri dengan keterkejutannya. Djiwha mengacungkan


tangannya ke udara membentuk high five, Raina tersenyum.


“Ternyata dia


baik juga tapi, aku tetap tidak boleh terlalu dekat dengannya.” Raina


melanjutkan perjalanan menuju kelas. Raina masuk ke kelas, dia mencari sosok


yang tadi dengan sengaja menutup kedua telinganya dengan headset. Namun, sosok


itu tidak ada di bangku.


“Cari siapa


Rai?” tanya Wiwi.


“Tidak, Wi. Aku


tidak mencari siapa-siapa,” ucap Raina memasukkan headset dan ipod itu ke dalam


tasnya.


‘Ke mana dia pergi?’batin Raina


Orang yang


dicari malah tengah asyik duduk di belakang sekolah sambil merokok. Pikirannya


melayang entah ke mana, dia tidak sengaja ingin mencari Raina karena baginya


berdekatan dengannya merupakan candu yang lebih menenangkan dari pil penenang


apa pun di dunia ini. Djiwha berpikir mengingat semua percakapan gadis-gadis di


toilet,’ Kevin? Siapa itu Kevin? Apa dia


lebih ganteng darinya? Apa dia mantan pacar Raina?’ ada bara membakar dalam


hatinya ketika menyebut mantan pacar. Djiwha harus mencari tahu siapa itu


Kevin, apa hubungannya dengan Raina. Djiwha membuang puntung rokok yang


terselip di jarinya yang mulai mengecil dan terasa panas menyentuh kulit.


Diam-diam dia pergi dari sekolah, berjalan menuju bengkel motor kepunyaan


temannya tempat di mana dia menitipkan motor kesayangannya.


“Ke mana , Bos?”


tanya pemilik bengkel saat melihat Djiwha memakai jaket dan menyalakan mesin


motor trailnya yang bersuara memekakkan telinga.


“Mencari


sesuatu.” Jawabnya pendek, kemudian memakai helm dan melaju meninggalkan bengkel.


Hatinya merasa kesal, entah mengapa mendengar namanya saja kesal apalagi


bertemu langsung dengan orangnya. Djiwha penasaran dengan semua hal yang


berkaitan dengan Raina—gadis manis dengan aroma lily. Motornya melaju kencang


menuju sebuah tempat, di mana dia biasa melampiaskan kemarahan dan


kekesalannya. Di sana orang-orang berkerumun dan sebagian lagi berteriak


mendukung jagoan mereka masing-masing, tempat balapan liar.

__ADS_1


__ADS_2