A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
Cute Girl


__ADS_3

Jadilah mereka


di sini, di sebuah supermarket yang lumayan jauh dari tempat tinggal Raina. Gadis


itu sejak tadi sibuk memilih sayuran dan buah-buahan. Dia juga terlihat menjaga


jarak dari Djiwha. Dalam hati Raina, sejujurnya ngeri dan takut apalagi melihat


wajah pemuda yang sejak tadi mengikutinya seperti serigala lapar yang siap


memangsa kelinci lemah seperti dirinya. Raina melirik jam tangan, sudah malam


dan sudah pasti sang ayah  tengah panik di rumah bersama Reza. Ponselnya


mati dan tidak bisa dipakai untuk menghubungi sang Ayah. Raina ingin menangis


sejadi-jadinya. Mimpi apa dia semalam? Atau ini karena kebiasaan buruknya ***** dan lupa arah saat panik. Raina


bingung harus bagaimana, sementara uangnya hanya cukup untuk berbelanja dan ongkos


pulang untuk satu orang. Raina yakin pemuda aneh di belakang itu  pasti akan terus mengikuti dan meminta


dibayari lagi seperti yang tadi terjadi di dalam busway.


“Masih lama?”


tanya Djiwha,


“Tidak, tinggal


bayar saja. Maaf, kenapa kamu tidak pulang saja?” Raina mencicit sambil


menunduk dengan takut.


Djiwha


menghembuskan napas panjang lalu berkata, “Lo enggak usah ge-er, ya. Gue bukan


ngikutin lo Cuma gue ada sedikit masalah. Dompet gue ketinggalan di rumah. Rumah


gue deket, kok dari sini. Lo bisa ‘kan pinjemin duit ke gue buat ongkos pulang?”


Tepat sekali tebakan Raina. Cowok aneh dengan kantong mata itu minta dibayari


lagi. Raina sekarang semakin dilema tidak tahu harus berbuat apa.


“Tapi err …uangku hanya cukup


buat ongkos satu orang. Bagaimana aku pulang?” ujar Raina.


“Haduh, ya sudah


begini saja. Lo pinjemin gue duit buat ongkos pulang. Nah, lo ikut ke rumah


gue, nanti duitnya gue ganti dua kali lipat gimana?” tanya Djiwha. Raina menggigit bibir, dia


terlihat imut di mata Djiwha. Djiwha segera menepis semua pikirannya. Apa? Imut? Gue gila kayaknya’,


ujar batinnya berkecamuk.


“Ya, sudah tidak


apa-apa. Aku akan pinjamkan, sebentar aku akan bayar belanjaanku dulu,” ujar Raina


pergi ke kasir dan membayar semua belanjaannya. Setelah keluar dari supermarket


mereka menyetop angkot dan Djiwha mengatakan alamat rumahnya pada sang sopir. Tidak


berapa lama, mobil angkot yang ditumpangi mereka sampai di depan pintu gerbang


perumahan elite Jakarta. Seorang satpam menghampiri karena mobil angkot tidak


boleh masuk perumahan, terpaksa Djiwha dan Raina turun dan melanjutkan


perjalanan dengan berjalan kaki.  Mereka


berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan mobil mahal berjejer rapi di depan.


Raina hanya bisa bengong dan tidak percaya dengan pengelihatannya. Selama ini


dia hanya tinggal di sebuah rumah kecil dengan ayah dan sang adik. Raina ikut keluar, Djiwha


mengajak Raina masuk ke rumah tapi


gadis itu menolak dan memilih menunggu di luar rumah. Djiwha masuk dan


mendapati mama dan kedua kakaknya tengah makan malam dengan lahap. Djiwha kesal


dia seharian lapar sedangkan mereka begitu saja makan dengan lahap tanpa ada


yang mempedulikan. Erik juga terlihat sudah berdamai dengan mama, terlihat mama


menyuapinya membuat Djiwha ingin memukul wajah sang kakak saat itu juga.


“Sudah pulang?


Bisa juga kamu hidup seharian tanpa uang dan kartu kredit. Sekarang mandi sana


dan makan sama Mama,” ujar mama melembut. Djiwha hanya mengambil dompet dan


kunci mobil yang tergeletak di meja.


“Mau ke mana


lagi?” tanya mama. Djiwha kesal dengan mamanya, masih sempat bertanya padahal


dia kelaparan.


“Mau antar gadis


ini pulang ya, Dek?” Djiwha menoleh ke belakang gadis ***** yang tadi


bersamanya tengah berdiri dengan wajah takut. Sejak kapan dia masuk? Pasti Erik yang diam-diam keluar dan membawanya


masuk. Heran kenapa Erik bisa tahu? Djiwha berpikir kalau kakaknya itu


cucunya superman atau eyang subur dan gosip tentang dia anak adopsi itu benar. Djiwha


menggelengkan kepala menepis pikiran absurd yang


bermunculan. Mama dan Maya berhenti makan. Mereka tampak kaget melihat gadis


imut itu. Gadis berambut ikal


dan berkulit putih itu tampak malu-malu di mata mereka. Lebih tepatnya Raina


kaget saat seorang manusia berkulit hitam memaksanya masuk dia takut kalau


ternyata rumah mewah itu rumah para monster yang siap memakannya hidup-hidup.


“Ya, ampun


imutnya kayak boneka. Siapa nama kamu, Sayang?” tanya mama antusias. Djiwha


menepuk kepalanya, setelah


ini mama akan mencecar dia dengan seribu pertanyaan. Sedangkan Maya tidak


menyangka adiknya yang berandalan dan tukang bikin onar membawa gadis cantik ke


rumah,Erik merasa tersaingi.


“Raina, Tante.” Raina


menjawab pertanyaanya wanita paruh baya namun cantik yang sejak tadi melihatnya


dengan mata berbinar.


“Duduk sini, ayo


makan dulu. Aduh, Djiwha, kenapa kamu enggak suruh dia masuk dan makan sama


kita?” Mama menggaet tangan Raina dan menyuruhnya duduk, dia mengambil satu


piring kosong dan meletakannya di depan Raina.


“Eh ... enggak


usah, Tante. Saya sudah makan tadi di ....”


Krucuk !


Suara perut Raina


membuat Djiwha menaikkan sebelah alisnya. Jadi, sejak tadi gadis aneh bernama Raina


itu juga lapar sama sepertinya. Mama tersenyum, dia suka pada Raina. Dari dulu


mama suka sama gadis imut dan berharap punya menantu gadis seperti Raina. Akhirnya,


doa mama terkabul lewat Djiwha. Padahal mama tidak tahu kalau putra kesayangan itu  saja baru bertemu secara tidak etis.


“Tuh ‘kan lapar.


Ayo makan,” ujar mama menyuruh Raina makan, sebenarnya Raina masih takut dan


juga malu tapi mama terus memaksa. Akhirnya mereka berempat makan dalam diam,


sesekali Erik menyenggol adiknya dan meminta penjelasan siapa gadis yang


bersamanya malam itu dan kapan mereka bertemu. Namun, Djiwha lebih senang


membuat sang kakak penasaran. Selesai makan malam, Djiwha berpamitan pada mama


untuk mengantar Raina pulang, mama begitu antusias dan senang sampai Djiwha


heran dan berpikir sang mama sedang sakit.


“Raina, kapan-kapan main ke sini


lagi, ya!” Mama berseru di depan pintu, Raina mengangguk pelan dan tersenyum


sebelum tubuhnya masuk ke dalam mobil hitam metalik yang dikendarai Djiwha.


“Maafin Mama gue,


ya. Dia memang bawel.” Djiwha membuka pembicaraan diantara mereka.


“Um, tidak


apa-apa justru kamu beruntung masih punya Mama yang bawel,” ujar Raina menundukkan


wajah.


“Loh, emang lo


enggak punya?” tanya Djiwha, Raina menggeleng dan berkata, “Ibuku sudah


meninggal saat melahirkan adikku.” Entah mengapa Djiwha merasa bersalah


bertanya soal orang tua Raina.


“Oh, maaf gue


enggak tahu kalau ....”


“Enggak apa-apa.


Terima kasih sudah antar pulang,” ujar Raina sebelum akhirnya kedua remaja itu


terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Mobil hitam itu


berhenti di depan sebuah rumah berpagar bambu, dengan halaman yang lumayan luas


dipenuhi tanaman bunga dan pohon buah-buahan. Raina keluar dari mobil


mengucapkan terima kasih sekali lagi pada pemuda berkantung mata yang telah


mengantarkanya pulang. Djiwha bahkan memberi dia  uang yang


katanya untuk ganti rugi ongkos tadi siang. Raina membuka pagar bambu rumah,


tidak ada tanda-tanda Reza maupun sang


ayah.


“Apa sudah tidur,

__ADS_1


ya?” ujar Raina mencoba membuka pintu rumah. Ternyata pintunya masih terkunci


itu artinya Reza dan ayahnya belum datang. Djiwha memacu mobilnya dengan


kecepatan sedang. Dalam hati dia merasa kesal dengan Raina. Kenapa gadis itu enggak ngajak gue


masuk ke rumahnya ya? Djiwha berdecak kesal kenapa tiba-tiba suasana


hatinya berubah drastis seketika setelah mengenal Raina si gadis .


Raina segera men-charger ponselnya dan mengaktifkannya. Beberapa pesan masuk


yang belum terbaca terpampang di layar ponselnya. Raina membuka satu per satu


pesan itu. Dia terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh ayahnya, Raina jadi


merasa bersalah dan mengutuk kebiasaan pelornya.


From : Ayah


Raina, tolong jemput adikmu, ya. Tadi kepala sekolah


menelpon Ayah, Reza demam dan harus dijemput. Ayah masih sibuk banyak paket


yang belum diantarkan.


From : Ayah


Raina kenapa ponselnya mati? Kamu sekarang di mana?


Ayah sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


From Ayah :


Raina tolong balas pesan ayah, Nak. Ayah khawatir.


Raina segera


menekan tombol dial dan menghubungi


ayahnya, tidak berapa lama ayahnya menerima panggilan Raina.


“Halo, Raina? Ke


mana saja kamu? Sudah pulang? Sudah makan? Ayah sangat khawatir, tapi Reza


tidak mungkin ditinggal sendiri.” Dari nada bicaranya ayah tampak sangat


cemas, Raina merasa sangat bersalah.


“Maaf Ayah, ini


semua karena kebiasaan burukku. Raina ketiduran di busway, kemudian tidak tahu arah. Maafkan Raina, Yah.” Raina


menangis, dia benar-benar merasa bersalah pada adik dan juga ayahnya.


“Sudah, tidak


apa-apa syukurlah kalau sudah sampai rumah. Sebentar lagi Ayah ke sana


mengambil baju-baju Reza,”


“Loh, memangnya


Reza diopname?”


“Iya, Sayang.


Reza adikmu terkena demam berdarah jadi harus dirawat di rumah sakit. Raina


tolong buatkan bubur untuk adikmu, ya. Dia rewel tidak mau makan bubur rumah


sakit dan terus bertanya tentang kamu.” Ayah menutup teleponnya saat terdengar


tangisan Reza. Suster mengambil sample darah Reza untuk diperiksa di lab, Reza


kesakitan dan menangis.


“Jagoan Ayah


masa nangis,” ujar Ayah mengecup kening putranya dengan penuh kasih sayang,


sekilas bayangan almarhum istrinya melintas. Dia enggan berada di rumah sakit,


dia teringat masa-masa saat bersama sang istri hingga saat istrinya melahirkan


Reza dan meninggal dunia.


Raina buru-buru


mandi dan berganti baju. Dia ambil beberapa potong baju Reza dan memasukkan ke


dalam tas, Raina segera membuat bubur untuk adiknya kebetulan dia habis belanja


tadi. Reza sangat suka dengan bubur ayam buatannya, Raina memasukkan bubur itu


ke dalam wadah dan merapikan semua. Tidak berapa lama, suara deru motor  sang ayah


terdengar di halaman.


“Bagaimana Reza?


Apakah dia baik-baik saja? Apa dia sendirian di rumah sakit?” tanya Raina pada


sang Ayah yang baru saja tiba.


“Dia sedang


tidur. Ayah minta tolong suster untuk melihatnya jika dia menangis. Ayah mau


mandi dulu. Kamu sudah makan, Rai?” tanya Ayah, Raina mengangguk.


“Ayah sudah


makan?” tanya Raina.


Ayah menggeleng dan berkata, “Nanti saja di


rumah sakit kasihan Reza.”


Malam itu Raina


memaksa dan akhirnya mereka bersama-sama menunggu Reza di rumah sakit. Reza


sudah bangun dan minta makan saat melihat sang Kakak duduk di sampingnya. Reza


memakan bubur ayam buatan Raina dengan lahap, kemudian minta diceritakan


dongeng si kancil seperti saat di rumah. Pun ketika dokter datang dan


memberinya obat, Reza tidak menangis. Raina kasihan melihat Rezaterbaring lemah dengan


selang infus yang terpasang di tangan kiri, dia jadi ingat Ibu saat hendak


melahirkan Reza. Raina menitikan airmata, dia menyesal tidak menjemput Reza dan


malah nyasar entah ke mana dengan pemuda berkantung mata mengerikan.


“Jangan merasa


bersalah, Rai. Kamu ‘kan tahu adikmu itu sangat aktif. Terkadang dia bermain


sampai lupa waktu,” ujar Ayah menepuk pundah Raina yang terlihat murung dan


sedih.


“Tapi Ayah ....”


“Sudahlah, Rai.


Jangan dipikirkan, ya. Tidurlah besok kamu harus sekolah.” Ayah mengingatkan.


“Tidak, besok


aku izin saja. Ayah ‘kan kerja. Siapa yang jaga Reza?” Raina bersikukuh. Ayah


tidak bisa menolak keinginan Raina, biar besok dia ke sekolah dan memberikan


surat izin pada wali kelas Raina. Terkadang hatinya merasa sakit melihat Raina


yang berperan sebagai kakak


dan juga Ibu untuk Reza.


Pertama kali dalam sejarah hidupnya Djiwha


tidur dengan lelap sampai Maya tidak tega membangunkannya. Dulu, pagi-pagi


pasti Maya melihat wajah horor sang adik menyapa di ambang pintu kamar. Dia


kadang kasihan melihat Djiwha jadi makhluk nocturnal.


Siang tidur dan malam begadang hingga pagi, Maya menutup kembali pintu kamar Djiwha


dengan perlahan.


“Loh mana adikmu,


May?” tanya mama yang baru saja selesai mandi.


“Masih tidur,


Ma,” jawab Maya membuat mama tersedak susu kalsium yang sedang diminumnya.


“Tidur? Djiwha


tidur?” Pertanyaan selanjutnya keluar dari Erik yang baru saja bangun dan


merasa kaget mendengar kabar kalau adiknya tidur. Djiwha tidak tahan mendengar


suara gaduh di luar kamar, dia mengerjapkan mata berkali-kali lalu


bangun dan meregangkan otot-otot tangan yang terasa kaku. Dia baru ingat jika


semalam dia tertidur lelap setelah beberapa tahun sejak peristiwa mengerikan


yang dia alami, dia menjadi makhluk nocturnal.


Djiwha teringat semalam dia mengantarkan Raina pulang. Dia kesal karena Raina


tidak mengajaknya mampir. Namun, dia merasa aneh dengan diri sendiri yang


tiba-tiba berubah melankolis. Djiwha sudah lama tidak merasakan kenyamanan,


tapi semenjak bertemu dengan Raina dia merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam


relung hatinya, sesuatu yang membuat merasa ada ratusan kupu-kupu yang beterbangan


di dalam perutnya hingga ingin meledak keluar.


“Wangi apa ini?


Rasanya membuat rileks,” ujar Djiwha


membanting tubuhnya di kasur setelah mengantarkan Raina pulang. Ia mencium


seragam sekolah yang dipakainya tadi siang, dia ingat Raina tidur di bahu dan


itu pastilah wangi Raina. Wangi bunga lavender bercampur dengan lily, Djiwha


terus berbaring ke arah samping kiri tepat di mana wangi yang membuat tenang


itu berada, dihirupnya perlahan-lahan hingga dia merasa terbang ke negeri para


peri di atas awan. Selanjutnya dengkuran halus terdengar dari mulut pemuda


berambut pirang itu, Djiwha tidur nyenyak untuk pertama kali dalam sejarah


hidupnya.


“Ah, ya, gue


inget semalam gue tidur nyenyak.” Djiwha bangun dan segera mandi, baju yang semalam


dipakainya tidur digantungnya di kapstok, “Mbak,  mau nyuci?” tanya Djiwha saat melihat pelayan


di rumahnya tengah memasukkan baju kotor ke dalam keranjang.


“Jangan cuci

__ADS_1


baju itu, ya. Biarkan saja tergantung di sana.” Djiwha tersenyum ramah dan


keluar dari kamarnya menuju meja makan. Sang pelayan mematung melihat anak


majikannya tersenyum ramah, karena seumur dia bekerja di sana baru kali ini


melihat si anak majikan yang dikenal pembuat onar tersenyum ramah. Mama, Maya, dan juga Erik memilih


diam dan menatap Djiwha yang benar-benar berbeda, Mama takut anaknya kesambet


setan penunggu pohon, Maya takut adiknya telah dicuci otak oleh sekte tertentu,


sedangkan Erik takut adiknya berubah menjadi terminator. Djiwha mengunyah roti


tawar dengan selai kacang dengan lahap, kemudian meminum susu.


“Mama ... tadi


itu beneran Djiwha, ‘kan?” tanya Maya dengan mulut terbuka.


“Itu beneran


anak Mama? Ya Allah, akhirnya dia dapat hidayah.” Kini mama yang berucap sambil


berkaca-kaca haru.


“Wah, gawat.”


Erik menelan roti selainya paksa.


“Ma, apa kita


perlu undang ustadz lagi?” Kali ini sebuah garpu melayang ke kepala Erik. Mama


mendelik sudah cukup uangnya habis dipakai membiayai rumah sakit lima orang


kemarin dia tidak mau menambah kantongnya jebol.


Setan apa yang


merasuki tubuhnya? Djiwha sama sekali tidak membuat onar seharian di kelas


bahkan saat bubar sekolah. Dia juga tidak menanggapi panggilan Erik saat


mengajak  tawuran dengan sekolah lain. Dia memutuskan


untuk kembali ke rumah Raina. Dengan bantuan ojek online Djiwha sampai di rumah


berpagar bambu itu, dia berdeham sebelum akhirnya mengucap salam,


“Assallamulaikum.”


Tidak ada


sahutan dari dalam rumah. Kembali dia mengucap salam kali ini lebih keras tapi,


sama sekali tidak ada tanda kehidupan di rumah bercat biru laut itu. Djiwha


menyerah dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke halte busway, berharap bisa bertemu dengan Raina di sana. Dia bahkan lupa


menanyakan nomor ponsel gadis ***** itu. Dia pun tidak tahu di mana Raina


bersekolah. Djiwha mengacak rambut kesal. Sudah satu jam dia menunggu di halte busway, tetapi tidak ada tanda-tanda


gadis yang ditemuinya tempo hari datang. Namun, ekor matanya melihat seragam


yang sama seperti yang dipakai Raina, buru-buru dia menghampiri siswi


berkacamata tebal itu.


“Hei!”


“Siapa? Aku


maksudnya?”


“Iya, elo siapa


lagi. Lo sekolah di mana?”


“Di SMU Bahari,


kamu siapa? Mau apa?”


“Lo kenal sama Raina


enggak?”


“Raina? Raina


Maharani maksudnya?”


“Ya, seperti


itulah mungkin gue enggak tahu panjangnya,”


Wiwi menatap


pemuda berambut pirang dan berkantung mata mengerikan di depannya, dari atas


sampai ke bawah membuat Djiwha risih ditatap intens seperti itu. Wiwi menyangka


pemuda itu seorang yang sangat cerdas, hingga seumur hidupnya digunakan untuk


membaca buku-buku tebal dan berat. Lihat saja kantung matanya benar-benar


mengerikan. Wiwi mengangguk-anggukkan kepalanya sok pintar kemudian berkata,


“Kamu siapanya Raina? Kok, Raina enggak pernah cerita tentang kamu sama aku?”


“Ya, iyalah gue


aja baru ketemu kemarin. Hadeh, Raina ke mana?” tanya Djiwha kesal.


“Dia tidak masuk


sekolah hari ini. Adiknya sakit dan Raina harus merawatnya.” Wiwi menjelaskan. Djiwha


tampak kecewa akhirnya dia berlalu dari hadapan Wiwi tanpa sepatah kata. Wiwi


memutar ingatannya. Dia seperti kenal pemuda berkantung mata mengerikan yang


bertanya soal Raina, tapi di mana? Wiwi mengingat kembali sambil mengerutkan


dahinya.


“Oh, astaga! Dia


‘kan si Devil Dog, anak berandalan dari SMK Prasasti Bangsa.” Wiwi berteriak


histeris sekaligus khawatir, bisa-bisanya Raina kenal dengan berandalan yang


pernah membuat patah kaki mantan pacarnya. Wiwi segera masuk ke dalam busway, dia memutuskan untuk menemui Raina


di rumah sakit sekalian menjenguk Reza. Wiwi membeli beberapa buah-buahan dan


membawanya ke rumah sakit tempat di mana Reza dirawat, Wiwi masuk ke kamar yang


ditunjukkan oleh seorang perawat.


“Raina! Aku


kangen tidak melihatmu seharian di sekolah.” Wiwi memeluk Rainayang sedang asyik


membaca novel.


“Ah, dasar baru


sehari apalagi setahun. Kamu sama siapa ke sini Wi?” tanya Raina.


“Sendirian, oh halo


Reza apa kabar? Bagaimana sudah sehatkah? Jangan lama-lama di rumah sakit. Enggak


enak.” Wiwi mencubit pipi Reza, bocah laki-laki itu tertawa. Reza kenal dengan


Wiwi karena sering main ke rumah.


“Nih, Kak Wi


bawain buah-buahan buat Reza.” Wiwi menaruh kantong plastik merah di meja .


“Makasih, Kak


Wi. Baik banget, deh, pakai bawa buah segala,” ujar Reza.


“Oh, iya, Raina


aku mau bicara sama kamu. Penting. Bisa,‘kan?” Wiwi duduk di samping Raina,


wajahnya menampakkan wajah ala Shinici kudo sedang membedah kasus pembunuhan.


“Ada apa sih,


Wi? Tadi ulangan?” tanya Raina menutup buku novel yang sedang dibacanya, Wiwi


menggeleng.


“Kamu kenal si


Devil Dog di mana?” tanya Wiwi membuat dahi Raina berkerut.


“Siapa? Apa


maksudnya? Aku enggak paham, Wi.”


“Devil Dog anak


SMK Prasasti Bangsa , yang dulu bikin patah kaki Aruna.”


“Serius, gue


enggak kenal. Siapa itu hot dog?”


“Astaga! Devil Dog.


Nama aslinya Djiwha Mahardika, yang punya kantong mata tebal dan mengerikan.” Raina


membulatkan mata. Dia mengingat kejadian kemarin hingga malam hari diantar


pulang oleh cowok aneh berkantung mata tebal, diajak makan dirumahnya bahkan


dia meminjam uang Raina.


“Oh, dia ... iya


kemarin kami tidak sengaja bertemu di busway dan dia meminjam uangku tapi sudah dikembalikan kok. Apa dia seseram itu? Iya


sih melihat tampangnya mirip Lucifer di film-film tapi apa seseram itu sampai


dipanggil Devil?” Raina kembali membaca buku, Wiwi menepuk kening Rainahingga berbunyi


‘Plak’.


“Rai, kamu polos


banget, deh. Dia itu berandalan. Dia pernah mematahkan kaki mantan pacarku si


Aruna. Dia biang kerok, sumber masalah dan aku dengar-dengar dia juga pengguna


narkoba, pemerkosa ....”


“Wi ... memang


kamu denger kabar itu dari siapa? Dia tidak sejahat itu ah,” ujar Raina


memotong perkataan Wiwi.


“Ih, dulu Aruna


pernah cerita dia ‘kan satu sekolah dengan Aruna dulu.” Wiwi menerangkan, Raina


berhenti membaca bukunya mendadak hatinya kebat-kebit dan was-was. Apakah iya Djiwha seburuk itu? Bukankah dia


anak orang kaya bahkan Mama dan kedua kakaknya sangat ramah dan baik, haruskah Raina


menjauhinya? Ah, lagipula mereka tidak mungkin bertemu kembali, batin Raina


berbicara dan dia yakin akan itu.

__ADS_1


__ADS_2