
Jadilah mereka
di sini, di sebuah supermarket yang lumayan jauh dari tempat tinggal Raina. Gadis
itu sejak tadi sibuk memilih sayuran dan buah-buahan. Dia juga terlihat menjaga
jarak dari Djiwha. Dalam hati Raina, sejujurnya ngeri dan takut apalagi melihat
wajah pemuda yang sejak tadi mengikutinya seperti serigala lapar yang siap
memangsa kelinci lemah seperti dirinya. Raina melirik jam tangan, sudah malam
dan sudah pasti sang ayah tengah panik di rumah bersama Reza. Ponselnya
mati dan tidak bisa dipakai untuk menghubungi sang Ayah. Raina ingin menangis
sejadi-jadinya. Mimpi apa dia semalam? Atau ini karena kebiasaan buruknya ***** dan lupa arah saat panik. Raina
bingung harus bagaimana, sementara uangnya hanya cukup untuk berbelanja dan ongkos
pulang untuk satu orang. Raina yakin pemuda aneh di belakang itu pasti akan terus mengikuti dan meminta
dibayari lagi seperti yang tadi terjadi di dalam busway.
“Masih lama?”
tanya Djiwha,
“Tidak, tinggal
bayar saja. Maaf, kenapa kamu tidak pulang saja?” Raina mencicit sambil
menunduk dengan takut.
Djiwha
menghembuskan napas panjang lalu berkata, “Lo enggak usah ge-er, ya. Gue bukan
ngikutin lo Cuma gue ada sedikit masalah. Dompet gue ketinggalan di rumah. Rumah
gue deket, kok dari sini. Lo bisa ‘kan pinjemin duit ke gue buat ongkos pulang?”
Tepat sekali tebakan Raina. Cowok aneh dengan kantong mata itu minta dibayari
lagi. Raina sekarang semakin dilema tidak tahu harus berbuat apa.
“Tapi err …uangku hanya cukup
buat ongkos satu orang. Bagaimana aku pulang?” ujar Raina.
“Haduh, ya sudah
begini saja. Lo pinjemin gue duit buat ongkos pulang. Nah, lo ikut ke rumah
gue, nanti duitnya gue ganti dua kali lipat gimana?” tanya Djiwha. Raina menggigit bibir, dia
terlihat imut di mata Djiwha. Djiwha segera menepis semua pikirannya. Apa? Imut? Gue gila kayaknya’,
ujar batinnya berkecamuk.
“Ya, sudah tidak
apa-apa. Aku akan pinjamkan, sebentar aku akan bayar belanjaanku dulu,” ujar Raina
pergi ke kasir dan membayar semua belanjaannya. Setelah keluar dari supermarket
mereka menyetop angkot dan Djiwha mengatakan alamat rumahnya pada sang sopir. Tidak
berapa lama, mobil angkot yang ditumpangi mereka sampai di depan pintu gerbang
perumahan elite Jakarta. Seorang satpam menghampiri karena mobil angkot tidak
boleh masuk perumahan, terpaksa Djiwha dan Raina turun dan melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka
berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan mobil mahal berjejer rapi di depan.
Raina hanya bisa bengong dan tidak percaya dengan pengelihatannya. Selama ini
dia hanya tinggal di sebuah rumah kecil dengan ayah dan sang adik. Raina ikut keluar, Djiwha
mengajak Raina masuk ke rumah tapi
gadis itu menolak dan memilih menunggu di luar rumah. Djiwha masuk dan
mendapati mama dan kedua kakaknya tengah makan malam dengan lahap. Djiwha kesal
dia seharian lapar sedangkan mereka begitu saja makan dengan lahap tanpa ada
yang mempedulikan. Erik juga terlihat sudah berdamai dengan mama, terlihat mama
menyuapinya membuat Djiwha ingin memukul wajah sang kakak saat itu juga.
“Sudah pulang?
Bisa juga kamu hidup seharian tanpa uang dan kartu kredit. Sekarang mandi sana
dan makan sama Mama,” ujar mama melembut. Djiwha hanya mengambil dompet dan
kunci mobil yang tergeletak di meja.
“Mau ke mana
lagi?” tanya mama. Djiwha kesal dengan mamanya, masih sempat bertanya padahal
dia kelaparan.
“Mau antar gadis
ini pulang ya, Dek?” Djiwha menoleh ke belakang gadis ***** yang tadi
bersamanya tengah berdiri dengan wajah takut. Sejak kapan dia masuk? Pasti Erik yang diam-diam keluar dan membawanya
masuk. Heran kenapa Erik bisa tahu? Djiwha berpikir kalau kakaknya itu
cucunya superman atau eyang subur dan gosip tentang dia anak adopsi itu benar. Djiwha
menggelengkan kepala menepis pikiran absurd yang
bermunculan. Mama dan Maya berhenti makan. Mereka tampak kaget melihat gadis
imut itu. Gadis berambut ikal
dan berkulit putih itu tampak malu-malu di mata mereka. Lebih tepatnya Raina
kaget saat seorang manusia berkulit hitam memaksanya masuk dia takut kalau
ternyata rumah mewah itu rumah para monster yang siap memakannya hidup-hidup.
“Ya, ampun
imutnya kayak boneka. Siapa nama kamu, Sayang?” tanya mama antusias. Djiwha
menepuk kepalanya, setelah
ini mama akan mencecar dia dengan seribu pertanyaan. Sedangkan Maya tidak
menyangka adiknya yang berandalan dan tukang bikin onar membawa gadis cantik ke
rumah,Erik merasa tersaingi.
“Raina, Tante.” Raina
menjawab pertanyaanya wanita paruh baya namun cantik yang sejak tadi melihatnya
dengan mata berbinar.
“Duduk sini, ayo
makan dulu. Aduh, Djiwha, kenapa kamu enggak suruh dia masuk dan makan sama
kita?” Mama menggaet tangan Raina dan menyuruhnya duduk, dia mengambil satu
piring kosong dan meletakannya di depan Raina.
“Eh ... enggak
usah, Tante. Saya sudah makan tadi di ....”
Krucuk !
Suara perut Raina
membuat Djiwha menaikkan sebelah alisnya. Jadi, sejak tadi gadis aneh bernama Raina
itu juga lapar sama sepertinya. Mama tersenyum, dia suka pada Raina. Dari dulu
mama suka sama gadis imut dan berharap punya menantu gadis seperti Raina. Akhirnya,
doa mama terkabul lewat Djiwha. Padahal mama tidak tahu kalau putra kesayangan itu saja baru bertemu secara tidak etis.
“Tuh ‘kan lapar.
Ayo makan,” ujar mama menyuruh Raina makan, sebenarnya Raina masih takut dan
juga malu tapi mama terus memaksa. Akhirnya mereka berempat makan dalam diam,
sesekali Erik menyenggol adiknya dan meminta penjelasan siapa gadis yang
bersamanya malam itu dan kapan mereka bertemu. Namun, Djiwha lebih senang
membuat sang kakak penasaran. Selesai makan malam, Djiwha berpamitan pada mama
untuk mengantar Raina pulang, mama begitu antusias dan senang sampai Djiwha
heran dan berpikir sang mama sedang sakit.
“Raina, kapan-kapan main ke sini
lagi, ya!” Mama berseru di depan pintu, Raina mengangguk pelan dan tersenyum
sebelum tubuhnya masuk ke dalam mobil hitam metalik yang dikendarai Djiwha.
“Maafin Mama gue,
ya. Dia memang bawel.” Djiwha membuka pembicaraan diantara mereka.
“Um, tidak
apa-apa justru kamu beruntung masih punya Mama yang bawel,” ujar Raina menundukkan
wajah.
“Loh, emang lo
enggak punya?” tanya Djiwha, Raina menggeleng dan berkata, “Ibuku sudah
meninggal saat melahirkan adikku.” Entah mengapa Djiwha merasa bersalah
bertanya soal orang tua Raina.
“Oh, maaf gue
enggak tahu kalau ....”
“Enggak apa-apa.
Terima kasih sudah antar pulang,” ujar Raina sebelum akhirnya kedua remaja itu
terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Mobil hitam itu
berhenti di depan sebuah rumah berpagar bambu, dengan halaman yang lumayan luas
dipenuhi tanaman bunga dan pohon buah-buahan. Raina keluar dari mobil
mengucapkan terima kasih sekali lagi pada pemuda berkantung mata yang telah
mengantarkanya pulang. Djiwha bahkan memberi dia uang yang
katanya untuk ganti rugi ongkos tadi siang. Raina membuka pagar bambu rumah,
tidak ada tanda-tanda Reza maupun sang
ayah.
“Apa sudah tidur,
__ADS_1
ya?” ujar Raina mencoba membuka pintu rumah. Ternyata pintunya masih terkunci
itu artinya Reza dan ayahnya belum datang. Djiwha memacu mobilnya dengan
kecepatan sedang. Dalam hati dia merasa kesal dengan Raina. Kenapa gadis itu enggak ngajak gue
masuk ke rumahnya ya? Djiwha berdecak kesal kenapa tiba-tiba suasana
hatinya berubah drastis seketika setelah mengenal Raina si gadis .
Raina segera men-charger ponselnya dan mengaktifkannya. Beberapa pesan masuk
yang belum terbaca terpampang di layar ponselnya. Raina membuka satu per satu
pesan itu. Dia terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh ayahnya, Raina jadi
merasa bersalah dan mengutuk kebiasaan pelornya.
From : Ayah
Raina, tolong jemput adikmu, ya. Tadi kepala sekolah
menelpon Ayah, Reza demam dan harus dijemput. Ayah masih sibuk banyak paket
yang belum diantarkan.
From : Ayah
Raina kenapa ponselnya mati? Kamu sekarang di mana?
Ayah sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
From Ayah :
Raina tolong balas pesan ayah, Nak. Ayah khawatir.
Raina segera
menekan tombol dial dan menghubungi
ayahnya, tidak berapa lama ayahnya menerima panggilan Raina.
“Halo, Raina? Ke
mana saja kamu? Sudah pulang? Sudah makan? Ayah sangat khawatir, tapi Reza
tidak mungkin ditinggal sendiri.” Dari nada bicaranya ayah tampak sangat
cemas, Raina merasa sangat bersalah.
“Maaf Ayah, ini
semua karena kebiasaan burukku. Raina ketiduran di busway, kemudian tidak tahu arah. Maafkan Raina, Yah.” Raina
menangis, dia benar-benar merasa bersalah pada adik dan juga ayahnya.
“Sudah, tidak
apa-apa syukurlah kalau sudah sampai rumah. Sebentar lagi Ayah ke sana
mengambil baju-baju Reza,”
“Loh, memangnya
Reza diopname?”
“Iya, Sayang.
Reza adikmu terkena demam berdarah jadi harus dirawat di rumah sakit. Raina
tolong buatkan bubur untuk adikmu, ya. Dia rewel tidak mau makan bubur rumah
sakit dan terus bertanya tentang kamu.” Ayah menutup teleponnya saat terdengar
tangisan Reza. Suster mengambil sample darah Reza untuk diperiksa di lab, Reza
kesakitan dan menangis.
“Jagoan Ayah
masa nangis,” ujar Ayah mengecup kening putranya dengan penuh kasih sayang,
sekilas bayangan almarhum istrinya melintas. Dia enggan berada di rumah sakit,
dia teringat masa-masa saat bersama sang istri hingga saat istrinya melahirkan
Reza dan meninggal dunia.
Raina buru-buru
mandi dan berganti baju. Dia ambil beberapa potong baju Reza dan memasukkan ke
dalam tas, Raina segera membuat bubur untuk adiknya kebetulan dia habis belanja
tadi. Reza sangat suka dengan bubur ayam buatannya, Raina memasukkan bubur itu
ke dalam wadah dan merapikan semua. Tidak berapa lama, suara deru motor sang ayah
terdengar di halaman.
“Bagaimana Reza?
Apakah dia baik-baik saja? Apa dia sendirian di rumah sakit?” tanya Raina pada
sang Ayah yang baru saja tiba.
“Dia sedang
tidur. Ayah minta tolong suster untuk melihatnya jika dia menangis. Ayah mau
mandi dulu. Kamu sudah makan, Rai?” tanya Ayah, Raina mengangguk.
“Ayah sudah
makan?” tanya Raina.
Ayah menggeleng dan berkata, “Nanti saja di
rumah sakit kasihan Reza.”
Malam itu Raina
memaksa dan akhirnya mereka bersama-sama menunggu Reza di rumah sakit. Reza
sudah bangun dan minta makan saat melihat sang Kakak duduk di sampingnya. Reza
memakan bubur ayam buatan Raina dengan lahap, kemudian minta diceritakan
dongeng si kancil seperti saat di rumah. Pun ketika dokter datang dan
memberinya obat, Reza tidak menangis. Raina kasihan melihat Rezaterbaring lemah dengan
selang infus yang terpasang di tangan kiri, dia jadi ingat Ibu saat hendak
melahirkan Reza. Raina menitikan airmata, dia menyesal tidak menjemput Reza dan
malah nyasar entah ke mana dengan pemuda berkantung mata mengerikan.
“Jangan merasa
bersalah, Rai. Kamu ‘kan tahu adikmu itu sangat aktif. Terkadang dia bermain
sampai lupa waktu,” ujar Ayah menepuk pundah Raina yang terlihat murung dan
sedih.
“Tapi Ayah ....”
“Sudahlah, Rai.
Jangan dipikirkan, ya. Tidurlah besok kamu harus sekolah.” Ayah mengingatkan.
“Tidak, besok
aku izin saja. Ayah ‘kan kerja. Siapa yang jaga Reza?” Raina bersikukuh. Ayah
tidak bisa menolak keinginan Raina, biar besok dia ke sekolah dan memberikan
surat izin pada wali kelas Raina. Terkadang hatinya merasa sakit melihat Raina
yang berperan sebagai kakak
dan juga Ibu untuk Reza.
Pertama kali dalam sejarah hidupnya Djiwha
tidur dengan lelap sampai Maya tidak tega membangunkannya. Dulu, pagi-pagi
pasti Maya melihat wajah horor sang adik menyapa di ambang pintu kamar. Dia
kadang kasihan melihat Djiwha jadi makhluk nocturnal.
Siang tidur dan malam begadang hingga pagi, Maya menutup kembali pintu kamar Djiwha
dengan perlahan.
“Loh mana adikmu,
May?” tanya mama yang baru saja selesai mandi.
“Masih tidur,
Ma,” jawab Maya membuat mama tersedak susu kalsium yang sedang diminumnya.
“Tidur? Djiwha
tidur?” Pertanyaan selanjutnya keluar dari Erik yang baru saja bangun dan
merasa kaget mendengar kabar kalau adiknya tidur. Djiwha tidak tahan mendengar
suara gaduh di luar kamar, dia mengerjapkan mata berkali-kali lalu
bangun dan meregangkan otot-otot tangan yang terasa kaku. Dia baru ingat jika
semalam dia tertidur lelap setelah beberapa tahun sejak peristiwa mengerikan
yang dia alami, dia menjadi makhluk nocturnal.
Djiwha teringat semalam dia mengantarkan Raina pulang. Dia kesal karena Raina
tidak mengajaknya mampir. Namun, dia merasa aneh dengan diri sendiri yang
tiba-tiba berubah melankolis. Djiwha sudah lama tidak merasakan kenyamanan,
tapi semenjak bertemu dengan Raina dia merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam
relung hatinya, sesuatu yang membuat merasa ada ratusan kupu-kupu yang beterbangan
di dalam perutnya hingga ingin meledak keluar.
“Wangi apa ini?
Rasanya membuat rileks,” ujar Djiwha
membanting tubuhnya di kasur setelah mengantarkan Raina pulang. Ia mencium
seragam sekolah yang dipakainya tadi siang, dia ingat Raina tidur di bahu dan
itu pastilah wangi Raina. Wangi bunga lavender bercampur dengan lily, Djiwha
terus berbaring ke arah samping kiri tepat di mana wangi yang membuat tenang
itu berada, dihirupnya perlahan-lahan hingga dia merasa terbang ke negeri para
peri di atas awan. Selanjutnya dengkuran halus terdengar dari mulut pemuda
berambut pirang itu, Djiwha tidur nyenyak untuk pertama kali dalam sejarah
hidupnya.
“Ah, ya, gue
inget semalam gue tidur nyenyak.” Djiwha bangun dan segera mandi, baju yang semalam
dipakainya tidur digantungnya di kapstok, “Mbak, mau nyuci?” tanya Djiwha saat melihat pelayan
di rumahnya tengah memasukkan baju kotor ke dalam keranjang.
“Jangan cuci
__ADS_1
baju itu, ya. Biarkan saja tergantung di sana.” Djiwha tersenyum ramah dan
keluar dari kamarnya menuju meja makan. Sang pelayan mematung melihat anak
majikannya tersenyum ramah, karena seumur dia bekerja di sana baru kali ini
melihat si anak majikan yang dikenal pembuat onar tersenyum ramah. Mama, Maya, dan juga Erik memilih
diam dan menatap Djiwha yang benar-benar berbeda, Mama takut anaknya kesambet
setan penunggu pohon, Maya takut adiknya telah dicuci otak oleh sekte tertentu,
sedangkan Erik takut adiknya berubah menjadi terminator. Djiwha mengunyah roti
tawar dengan selai kacang dengan lahap, kemudian meminum susu.
“Mama ... tadi
itu beneran Djiwha, ‘kan?” tanya Maya dengan mulut terbuka.
“Itu beneran
anak Mama? Ya Allah, akhirnya dia dapat hidayah.” Kini mama yang berucap sambil
berkaca-kaca haru.
“Wah, gawat.”
Erik menelan roti selainya paksa.
“Ma, apa kita
perlu undang ustadz lagi?” Kali ini sebuah garpu melayang ke kepala Erik. Mama
mendelik sudah cukup uangnya habis dipakai membiayai rumah sakit lima orang
kemarin dia tidak mau menambah kantongnya jebol.
Setan apa yang
merasuki tubuhnya? Djiwha sama sekali tidak membuat onar seharian di kelas
bahkan saat bubar sekolah. Dia juga tidak menanggapi panggilan Erik saat
mengajak tawuran dengan sekolah lain. Dia memutuskan
untuk kembali ke rumah Raina. Dengan bantuan ojek online Djiwha sampai di rumah
berpagar bambu itu, dia berdeham sebelum akhirnya mengucap salam,
“Assallamulaikum.”
Tidak ada
sahutan dari dalam rumah. Kembali dia mengucap salam kali ini lebih keras tapi,
sama sekali tidak ada tanda kehidupan di rumah bercat biru laut itu. Djiwha
menyerah dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke halte busway, berharap bisa bertemu dengan Raina di sana. Dia bahkan lupa
menanyakan nomor ponsel gadis ***** itu. Dia pun tidak tahu di mana Raina
bersekolah. Djiwha mengacak rambut kesal. Sudah satu jam dia menunggu di halte busway, tetapi tidak ada tanda-tanda
gadis yang ditemuinya tempo hari datang. Namun, ekor matanya melihat seragam
yang sama seperti yang dipakai Raina, buru-buru dia menghampiri siswi
berkacamata tebal itu.
“Hei!”
“Siapa? Aku
maksudnya?”
“Iya, elo siapa
lagi. Lo sekolah di mana?”
“Di SMU Bahari,
kamu siapa? Mau apa?”
“Lo kenal sama Raina
enggak?”
“Raina? Raina
Maharani maksudnya?”
“Ya, seperti
itulah mungkin gue enggak tahu panjangnya,”
Wiwi menatap
pemuda berambut pirang dan berkantung mata mengerikan di depannya, dari atas
sampai ke bawah membuat Djiwha risih ditatap intens seperti itu. Wiwi menyangka
pemuda itu seorang yang sangat cerdas, hingga seumur hidupnya digunakan untuk
membaca buku-buku tebal dan berat. Lihat saja kantung matanya benar-benar
mengerikan. Wiwi mengangguk-anggukkan kepalanya sok pintar kemudian berkata,
“Kamu siapanya Raina? Kok, Raina enggak pernah cerita tentang kamu sama aku?”
“Ya, iyalah gue
aja baru ketemu kemarin. Hadeh, Raina ke mana?” tanya Djiwha kesal.
“Dia tidak masuk
sekolah hari ini. Adiknya sakit dan Raina harus merawatnya.” Wiwi menjelaskan. Djiwha
tampak kecewa akhirnya dia berlalu dari hadapan Wiwi tanpa sepatah kata. Wiwi
memutar ingatannya. Dia seperti kenal pemuda berkantung mata mengerikan yang
bertanya soal Raina, tapi di mana? Wiwi mengingat kembali sambil mengerutkan
dahinya.
“Oh, astaga! Dia
‘kan si Devil Dog, anak berandalan dari SMK Prasasti Bangsa.” Wiwi berteriak
histeris sekaligus khawatir, bisa-bisanya Raina kenal dengan berandalan yang
pernah membuat patah kaki mantan pacarnya. Wiwi segera masuk ke dalam busway, dia memutuskan untuk menemui Raina
di rumah sakit sekalian menjenguk Reza. Wiwi membeli beberapa buah-buahan dan
membawanya ke rumah sakit tempat di mana Reza dirawat, Wiwi masuk ke kamar yang
ditunjukkan oleh seorang perawat.
“Raina! Aku
kangen tidak melihatmu seharian di sekolah.” Wiwi memeluk Rainayang sedang asyik
membaca novel.
“Ah, dasar baru
sehari apalagi setahun. Kamu sama siapa ke sini Wi?” tanya Raina.
“Sendirian, oh halo
Reza apa kabar? Bagaimana sudah sehatkah? Jangan lama-lama di rumah sakit. Enggak
enak.” Wiwi mencubit pipi Reza, bocah laki-laki itu tertawa. Reza kenal dengan
Wiwi karena sering main ke rumah.
“Nih, Kak Wi
bawain buah-buahan buat Reza.” Wiwi menaruh kantong plastik merah di meja .
“Makasih, Kak
Wi. Baik banget, deh, pakai bawa buah segala,” ujar Reza.
“Oh, iya, Raina
aku mau bicara sama kamu. Penting. Bisa,‘kan?” Wiwi duduk di samping Raina,
wajahnya menampakkan wajah ala Shinici kudo sedang membedah kasus pembunuhan.
“Ada apa sih,
Wi? Tadi ulangan?” tanya Raina menutup buku novel yang sedang dibacanya, Wiwi
menggeleng.
“Kamu kenal si
Devil Dog di mana?” tanya Wiwi membuat dahi Raina berkerut.
“Siapa? Apa
maksudnya? Aku enggak paham, Wi.”
“Devil Dog anak
SMK Prasasti Bangsa , yang dulu bikin patah kaki Aruna.”
“Serius, gue
enggak kenal. Siapa itu hot dog?”
“Astaga! Devil Dog.
Nama aslinya Djiwha Mahardika, yang punya kantong mata tebal dan mengerikan.” Raina
membulatkan mata. Dia mengingat kejadian kemarin hingga malam hari diantar
pulang oleh cowok aneh berkantung mata tebal, diajak makan dirumahnya bahkan
dia meminjam uang Raina.
“Oh, dia ... iya
kemarin kami tidak sengaja bertemu di busway dan dia meminjam uangku tapi sudah dikembalikan kok. Apa dia seseram itu? Iya
sih melihat tampangnya mirip Lucifer di film-film tapi apa seseram itu sampai
dipanggil Devil?” Raina kembali membaca buku, Wiwi menepuk kening Rainahingga berbunyi
‘Plak’.
“Rai, kamu polos
banget, deh. Dia itu berandalan. Dia pernah mematahkan kaki mantan pacarku si
Aruna. Dia biang kerok, sumber masalah dan aku dengar-dengar dia juga pengguna
narkoba, pemerkosa ....”
“Wi ... memang
kamu denger kabar itu dari siapa? Dia tidak sejahat itu ah,” ujar Raina
memotong perkataan Wiwi.
“Ih, dulu Aruna
pernah cerita dia ‘kan satu sekolah dengan Aruna dulu.” Wiwi menerangkan, Raina
berhenti membaca bukunya mendadak hatinya kebat-kebit dan was-was. Apakah iya Djiwha seburuk itu? Bukankah dia
anak orang kaya bahkan Mama dan kedua kakaknya sangat ramah dan baik, haruskah Raina
menjauhinya? Ah, lagipula mereka tidak mungkin bertemu kembali, batin Raina
berbicara dan dia yakin akan itu.
__ADS_1