A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
Real


__ADS_3

Jam dinding


berdetak membuat malam terasa semakin sesak, Raina tidak dapat memejamkan


matanya. Wajah Djiwha dan Kevin datang bergantian bagai mimpi indah dan mimpi


buruk di alam mimpi. Raina mencoba memejamkan mata tapi, bayangan wajah mereka


semakin lama semakin terasa nyata. Raina ingin mengubur Kevin jauh-jauh dari


hidupnya, lalu berusaha membuka hati baru untuk orang lain yang bernama Djiwha.


Meskipun belum ada kata terucap dari dia maupun Djiwha tapi dia berkeyakinan


jika Djiwha memiliki perasaan yang sama. Namun, kenapa justru Kevin datang


lagi? Menangis dan meminta maaf atas segala perbuatannya? Raina benar-benar


tidak tahu harus bagaimana?Raina sudah duduk di meja makan bahkan ketika ayam jago tetangga berkokok, dia


sudah selesai mandi dan memasak sarapan untuk ayah dan juga adiknya.


“Loh, Rai? Kamu


rajin sekali, sudah mandi dan rapi?” Ayah yang baru saja bangun kaget melihat


Raina melamun di meja makan , menatap nasi goreng yang masih mengepul.


“Ayah, selamat


pagi.” Raina melirik ke arah sang ayah, ayahnya kaget melihat kantung mata


Raina yang tebal mirip seperti pemuda yang ditemuinya tempo hari di Bandara.


“Ya ampun, Rai!


Kamu enggak tidur? Kenapa? Sakit?” ayahnya terlihat khawatir lalu memeriksa


suhu tubuh Raina, Raina dengan cepat menggeleng dan memakan sarapan dengan tidak bergairah.


“Kalau sakit


jangan ke sekolah, Rai.” Ayah terlihat khawatir dan cemas, mungkin putrinya


kecapekan.


“Enggak, Ayah.


Raina baik-baik aja, kok. Ayah sarapan ya,” ujar Raina sambil meminum susu.


Ayah sudah


berangkat kerja sekalian mengantar Reza ke sekolah. Raina berjalan gontai


dengan wajah lesu dan hati yang dilema. Dia menghembuskan napas berkali-kali ke


udara berharap beban di hatinya sedikit berkurang, dia menunduk melihat jalanan


yang dipijaknya sambil melamun memikirkan kejadian kemarin. Suara klason mobil


di belakang pun tidak membuatnya berbalik, saat seseorang memanggil namanya


barulah dia berbalik itu pun dengan tidak semangat, “Raina!”


“Oh, astaga!


Matamu ... kenapa? Kamu jadi seperti adikku?” Erik turun dari mobil diikuti


Maya dan Djiwha, mereka saling berpandangan lalu menatap tajam ke arah Djiwha


seolah bertanya ’Lo apakan anak orang,


Wha!’. Djiwha memutar bola mata malas, dia


tidak tahu apa-apa soal Raina tapi, jujur saja dia pun kaget melihat kantung


matanya berpindah pada si gadis *****.


Justru sekarang kantung matanya yang berkurang, mamanya saja kaget sekarang


Djiwha jarang keluar malam dan tidur lebih awal dengan nyenyak.


“Raina, kamu


kenapa? Ada masalah?” tanya Maya sambil fokus menyetir, Raina duduk di belakang


bersama Djiwha sedangkan Erik di depan bersama Maya.


“Maya nanya tuh,


lo kenapa?” ucap Djiwha sambil melirik gadis di sebelahnya. Raina tidak


menjawab, dia malah menghela napas panjang lalu menatap jendela mobil. Maya dan


Erik saling pandang lalu, mereka mengedikkan bahu masing-masing dan memilih


diam. Djiwha menepuk pundak Raina dan berteriak memanggil nama gadis itu, “Raina!”


tidak sangka Raina berbalik dan menatap horor ke arah Djiwha.


“Kamu bisa diam


tidak? Lebih baik sekarang kamu duduk manis dan diam saja.” Maya dan Erik


saling pandang lagi lalu Erik berbisik pada kakaknya, “Bahkan sekarang galaknya


nular, Kak.” Maya mengiyakan dengan menganggukkan kepala.


‘Astaga, dia kenapa sih?’ batin Djiwha sambil menutup telinganya dengan headset, tetap saja hatinya


merasa khawatir dengan perubahan Raina. Tidak lama mobil yang ditumpangi mereka


sampai di sekolah, Raina mengucapkan terima kasih pada Maya dan Erik lalu


berlalu dari hadapan mereka dan berjalan menuju kelas, mengacuhkan Djiwha yang mengekor di belakang.


‘Dia kesambet setan apa, sih?’hati Djiwha tidak henti bertanya dan menduga-duga. Raina duduk di bangku, Wiwi


sedang bercermin dan membetulkan letak lensa matanya yang berwarna biru, dia


tampak kaget melihat kantung mata Raina yang mirip dengan kantung mata Djiwha


Mahardika. Raina menunduk dan menelungkupkan wajahnya di meja dengan lesu.


“Rai, kamu


kenapa sih? Pulang berlibur kok lesu, harusnya senang dong. Berlibur ke Bali


sama pacar.” Wiwi nyeletuk, Raina memalingkan wajahnya ke arah Wiwi menatap


Wiwi dengan raut terlihat kesal, Wiwi diam dan memilih chatting dengan


pacarnya. Bel tanda masuk berbunyi, semua murid masuk ke dalam kelas dengan


berisik. Hanya Djiwha yang belum terlihat batang hidungnya, padahal dia tadi


mengikuti Raina di belakang. Semua murid terdiam saat guru mereka masuk ke


kelas, “Anak-anak, Bapak membawa teman baru buat kalian. Nah, kamu yang di luar


silakan masuk, perkenalkan dirimu.”


Semua murid


menatap ke depan kelas, mereka berharap tidak mendapat troublemaker seperti Djiwha Mahardika. Seorang murid laki-laki


masuk ke kelas, Wiwi terkejut dan menutup mulutnya sendiri. Murid perempuan


berbisik-bisik, sebagian dari mereka menjerit senang, ada juga yang bergidik


ngeri karena troublemaker bertambah,


“Astaga! Dia ‘kan ....”


“Iya, dia ‘kan


dulu ngilang. Sekarang datang lagi?!”


Raina merasa


ketenangannya terusik, dia melihat siapa murid pindahan yang membuat heboh


kelasnya selain Djiwha. Raina menatap pemuda di depannya dengan tatapan tak


percaya, bibirnya gemetar dan jantungnya berdetak kencang. Dia orang yang tidak


ingin ditemui, dia orang yang sangat Raina benci, Kevin. Kevin tersenyum lalu


melambikan tangan pada semuanya tapi, ekor matanya tetap terfokus pada Raina.


“Halo, namaku


Kevin. Pindahan dari Singapore,” ujar Kevin memperkenalkan diri. Seluruh kelas


terdengar riuh . Raina malas, dia memilih mengambil buku dari tasnya dan


pura-pura menulis. Kevin duduk di belakang Raina, kebetulan kursi itu kosong


karena yang punya bangku pindah beberapa hari lalu. Jari-jemari Raina bergetar,


dia merasa tidak mampu menulis satu kata pun di bukunya. Semua pelajaran yang


diberikan guru pun tidak ada yang masuk ke dalam otaknya, Wiwi mengerti akan


keadaan sang sahabat tapi, dia tidak tahu harus bagaimana menghibur Raina. Djiwha sampai pelajaran


pertama berakhir pun tidak masuk ke dalam kelas, Raina takut benar-benar takut


untuk bertegur sapa dengan Kevin. Saat bel istirahat berbunyi, dia buru-buru


keluar kelas menghindari Kevin dan mencari Djiwha. Raina berlari di sepanjang


koridor sekolah dan mencari Djiwha tapi pemuda bertatto itu tidak ada di mana


pun juga. Napasnya tersengal-sengal, hatinya merasa sakit dan ingin menjerit


sekeras mungkin.


“Kamu ke mana


sih, Wha?” Raina berlari ke belakang sekolah, di mana Djiwha sering


bertelanjang dada dan mendengarkan musik dengan seenak hatinya. Raina tidak


menemukan siapa pun di sana, dia ingin menangis sekencang mungkin. Dia butuh


Djiwha sekarang, dia tidak mau bertemu Kevin.

__ADS_1


“Rai ....”


Raina memejamkan


mata, saat mendengar suara Kevin di belakang. Dia pura-pura tidak mendengar dan


meneruskan langkah. Namun, sebuah tangan kekar meraih pergelangan tangannya


membuat tubuh diaberbalik ke belakang dan berhadapan dengan wajah yang sangat dibencinya. Kevin


masih seperti dulu, wajahnya yang oriental dan masih tampan. Namun, matanya menyimpan beribu rahasia dan penyesalan


terhadap Raina. Raina berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kevin.


“Lepasin aku,


Vin!”


“Enggak, Rai.


Sebelum kamu dengerin penjelasan aku dan maafin aku.”


“Kevin, lepaskan


aku!”


“Lepasin dia!”


ujar suara seseorang, Raina berhasil melepaskan dirinya dari genggaman tangan


Kevin, dia berlari ke arah Djiwha. Dua orang pemuda itu saling bertatapan,


terutama Djiwha. Matanya terlihat menyimpan dendam membara,  dia meraih tangan Raina seolah tidak ingin


pemuda di depannya mengambil orang yang dicintai untuk kedua kalinya. Giginya


gemelatuk menahan amarah tapi, berusaha dia pendam dan jaga agar tidak meledak.


“Apa kabar,


Kevin Prasetyo?” ujar Djiwha menatap Kevin dan menyeringai.


“Kabar baik,


Djiwha Mahardika. Bagaimana denganmu?” tanya Kevin, ada raut penyesalan dan


ketakutan tapi, dia berusaha terlihat tegar dan tak gentar.


“Hm. Baik, ya? Setelah


membunuh adik gue dan pergi lo masih sehat dan bisa tersenyum seperti itu!”


amarah Djiwha mulai naik, Kevin Prasetyo aka Tyo mantan sahabatnya yang juga


telah membuat Erina kehilangan kehormatanya dan meninggal dengan cara tidak


adil. Djiwha melangkah mendekati Kevin, Raina tidak mengerti arah pembicaraan


kedua pemuda itu tapi, dia merasa sesuatu akan terjadi di sana. Raina berusaha


menahan langkah Djiwha agar tidak menghampiri Kevin. Dia tahu Djiwha tidak


baik-baik saja sekarang.


“Oh, ya ... ada


salam dari adik gue buat, lo.”


Buagh!


Buagh!


Djiwha memukul


Kevin bertubi-tubi, seolah tidak mengizinkan Kevin Prasetyo untuk mengelak dan


membela diri. Kevin pun hanya diam dan pasrah dengan serangan Djiwha. Raina


menjerit, dia berusaha melerai keduanya tapi, dia malah terdorong dan jatuh.


Melihat Raina terdorong, Kevin tersulut emosi dan akhirnya memukul Djiwha,


perkelahian mereka pun tidak terelakan. Raina menjerit meminta tolong tapi,


tidak ada yang bisa melerai keduanya. Guru dan kepala sekolah juga bingung


karena mereka sudah tahu Djiwha seperti apa dan bagaimana, akhirnya salah satu


dari mereka menghubungi pihak keluarga Djiwha.


“Djiwha


berhenti!”


“Diem, lo


berisik! Keparat ini harus terima hukumannya! Mampus lo Tyo!”


“Djiwha


hentikan!”


Kevin Prasetyo


mencoba  melawan Djiwha meski hal yang


mustahil bisa mengalahkannya. Djiwha menghajar wajah tampannya habis-habisan,


sobek karena pukulan yang bertubi-tubi. Raina menangis sambil memeluk Wiwi. Dia


masih bingung dengan semua yang terjadi, Kevin datang dan kemudian Djiwha


menghajarnya habis-habisan tanpa ampun. Tidak


lama untuk mama dan juga Maya serta Erik datang tepat saat Djiwha mengamuk dan


berteriak seperti kesetanan.


“Cukup, hentikan


itu bodoh!” Maya menampar adiknya sendiri di depan semua orang, dia benar-benar


tidak habis pikir dengan sikap Djiwha. Bukankah mereka membutuhkan penjelasan


dari Kevin Prasetyo mengenai peristiwa mengerikan beberapa tahun silam yang


kemudian merenggut nyawa adik bungsu mereka Erina Mahardika.


“Kita butuh dia,


kita butuh penjelasannya. Jangan sampai lo dikuasai amarah, pakai logika lo,


apa bedanya lo sama dia kalau lo hajar dia sampai mati! Apa itu yang diinginkan


Erina? Bukan keadilan seperti itu yang Erina mau, Wha!” Erik menatap tajam


adiknya. Dia pun sama merasa emosi melihat Kevin Prasetyo tapi, dia tidak mau


terburu-buru mengambil keputusan di saat sedang emosi. Guru-guru lain


membubarkan murid mereka, Raina masih shock dan tidak tahu harus apa, akhirnya dia dibawa Wiwi pergi dari sana.


Kevin terlihat


kepayahan hingga akhirnya ambruk di tanah tak sadarkan diri, tidak lama


ambulance datang dan membawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa dan diobati. Terlalu banyak luka di wajah dan


tubuhnya, begitu juga dengan Djiwha dia pun di bawa ke rumah sakit oleh sang mama. Mamanya sangat shock mendengar kedatangan Tyo alias


Kevin Prasetyo setelah sekian lama menghilang tanpa jejak setelah kerjadian


mengenaskan yang menimpa putri bungsunya.


“Bagaimana


keadaan dia dokter?” tanya Erik saat berada di ruangan tempat Djiwha dirawat.


“Tidak begitu


parah hanya saja dia terlihat tertekan, jangan ajak bicara dulu emosinya sangat


tidak stabil,” ujar Dokter kemudian berlalu dari hadapan Erik. Erik menghela


napas panjang memperhatikan adiknya dari kaca. Kemudian dia pergi meninggalkan


Djiwha dan mendatangi ruangan lain, tempat di mana Kevin Prasetyo dirawat.


“Harusnya gue


balas dendam atas kematian Erina tapi, gue bukan manusia keji kayak lo, Tyo.”


Erik mengepalkan tinjunya, Kevin terlihat kritis dengan wajah penuh luka. Erik


bisa saja mencabut selang infus dan oksigennya tapi, itu tidak manusiawi. Dia


ingin Kevin sadar lalu meminta pertanggungjawaban secara hukum atas segala


kesalahanya.


Lima hari berlalu,


keadaan Djiwha semakin membaik. Namun, keadaan Kevin masih sama, luka di


kepalanya akibat pukulan Djiwha cukup membuatnya koma. Meski dia melawan ,


tetap saja tenaga Djiwha lebih besar dan sudah pasti dia akan kalah. Djiwha


menatap bunga mawar yang berada di atas meja, dia tidak menyangka sama sekali


jika mantan pacar Raina adalah Kevin Prasetyo. Bukan hanya dendam karena Erina


mati dengan sia-sia tapi, hatinya terasa panas dan sesak saat mengetahui jika


Raina pernah menjalin hubungan dengan Kevin Prasetyo. Namun, yang paling dia


sesalkan adalah semua orang tahu Kevin Prasetyo adalah penjahat cinta, sudah


banyak cewek yang jadi korbannya termasuk Erina. Dia kecewa, dia takut, dia


sulit mengakui kenyataan jika Raina pernah bersama bahkan berpacaran dengan


Kevin Prasetyo.


‘Apa saja yang telah mereka lakukan? Apakah mereka


sudah ... ah, pikiran macam apa ini? Sialan!’ desis

__ADS_1


Djiwha dalam hatinya. Dia mengepalkan tinju, matanya berkilat-kilat penuh api


cemburu.


“Wha, gimana


kabar kamu?” Maya datang bersama Erik membawa buah-buahan dan beberapa kudapan


untuk Djiwha. Djiwha memalingkan wajahnya melihat kedua saudaranya yang baru


saja tiba lalu kembali menatap bunga mawar yang berwarna merah di meja.


“Lo kenapa, sih?


Liatin bunga mawar, kangen ya sama Raina?”


“Jangan sebut


namanya!”


“Loh, kenapa


tiba-tiba lo emosi gitu, Wha?”


“Rik, gue enggak


mood buat bahas dia sekarang. Gimana? Apa Kevin Prasetyo udah mati?”


“Ckck, Wha


nyebut lo ... enggak boleh gitu. Gue juga sama dendam sama dia tapi, enggak


gini caranya, Wha.” Erik duduk di kursi diikuti Maya, Djiwha tersenyum


merendahkan Kevin.


“Gue enggak akan


lupa sama perbuatannya sampai kapan pun juga.”


“Kita semua sama


sedih kehilangan Erina tapi, biar saja Mama yang urus secara hukum. Lagi pula


kita masih butuh Kevin hidup-hidup, karena kita enggak punya bukti yang


menunjukkan dia bersalah atau tidak.” Kali ini Maya yang bersuara, Erik


menyetujui kata-kata Maya, sedangkan Djiwha masih terlihat kesal dan ingin


menghabisi Kevin saat itu juga.


***


Raina


satu-satunya orang yang jadi gunjingan di sekolah. Gara-gara kejadian memalukan


dan menggemparkan itu, seluruh warga sekolah membicarakannya. Terutama siswi


yang membencinya, mereka jadi tahu jika si murid pindahan punya hubungan khusus


dengan Raina. Bukan hanya Djiwha Mahardika, Kevin Prasetyo malah mantan pacar


Raina datang kembali , lalu kedua pembuat masalah itu terlibat perkelahian


hingga keduanya masuk rumah sakit. Mereka tidak tahu apa masalahnya , hanya


saja Raina-lah yang mereka salahkan. Mereka membicarakan Raina dan menuding


Raina bukan cewek yang baik, “Astaga! Dia masih punya muka datang ke sekolah?


Dasar tidak tahu malu. Djiwha dan Kevin itu ternyata sahabatan loh dulunya,


sekarang mereka musuhan jangan-jangan karena Raina?!”


“Iya, benar. Gue


enggak nyangka Kevin datang setelah sekian lama ngilang, gue masih inget kok.


Terus sekarang dua-duanya masuk rumah sakit, astaga jangan-jangan ngerebutin si


Raina!”


“Heh! Stop


bergunjing. Apa-apaan kalian?” Wiwi menatap tajam para siswi yang sedang


membicarakan dan menjelekkan Raina. Wiwi tidak habis pikir, Djiwha dan Kevin


yang berkelahi kenapa Raina yang disalahkan? Wiwi duduk di samping Raina yang


sejak tadi terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca menahan tangis.


“Jangan dengerin


mereka, oh iya ... kamu enggak akan jenguk Djiwha?” tanya Wiwi ragu-ragu, Raina


menggelengkan kepalanya pelan.


“Katanya Djiwha


udah sembuh, kamu enggak mau nemuin dia gitu dan minta penjelasan sebenarnya


ada apa? Ya, ini Cuma saranku sih,” ucap Wiwi sambil memegang pundak


sahabatnya.


Raina tampak terdiam cukup lama, dia bingung


haruskah menjenguk Djiwha dan bertanya tentang semuanya? Ada apa antara Djiwha


dan Kevin? Atau haruskah dia menjenguk Kevin? Semua pikiran berkecamuk dalam


kepalanya. Raina benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, jauh dalam lubuk


hatinya dia kasihan dengan Kevin. Sejak mereka SD hingga remaja, mereka sudah


berteman dengan erat. Lalu, kenapa dia tidak mau memberi kesempatan untu Kevin


bicara dan jelasin semuanya?


“Ya, sudah.


Jangan sedih lagi, Rai. Ratu *****, Putri Koala ayo semangat!” Wiwi memeluk


sahabatnya erat berharap beban di pundak Raina berkurang.


Raina terdiam


cukup lama di depan ruangan bernama Ruang Dahlia, perlahan dia membuka pintu


berwarna cokelat tua itu. Dia sudah berada di dalam ruangan , terlihat Kevin


terbaring di ranjang dengan selang infus dan oksigen. Tidak ada satu orang pun


yang menemani, ayahnya sudah pasti tidak akan datang karena terlalu sibuk


dengan pekerjaanya. Lalu, ibunya? Sudah lama Raina tidak melihat sang ibu


menjenguk atau menemui Kevin sejak mereka bercerai. Raina duduk di samping


Kevin, dia menatap orang yang dulu dicintai dan dibencinya. Sekarang


kakinya tersihir ke ruangan itu menemui Kevin.


“Apa kabar, Vin?


Maafkan aku ... aku sangat jahat sama kamu, jangan lama-lama kamu sakit, Vin.


Karena banyak yang ingin aku ketahui tentang semua ini, tentang kamu yang


menghilang dan tentang kamu dan Djiwha.” Raina berbicara seolah Kevin sadar dan


mendengarkan semua ucapannya.


“Aku enggak


marah lihat kamu sama perempuan lain, Vin. Aku juga enggak marah kamu enggak


nepatin janji sore itu. Aku marah karena kamu enggak pernah kasih kabar berita,


padahal kita ‘kan teman. Ya, setidaknya itulah aku dan kamu.” Air mata Raina


meleleh membasahi pipinya yang putih,  lalu menetes dengan deras saat tangannya menyentuh dan menggenggam


tangan Kevin.


“Cepat


bangunlah, Kevin.”


Raina tidak tahu


jika sepasang mata di luar melihatnya dengan penuh luka. Niatnya ingin menemui


Kevin berakhir dengan pemandangan yang menyakitkan hati. Dia meremas kuat jaket


yang dipakainya lalu berlalu meninggalkan rumah sakit dengan perasaan hancur.


“Nah, kamu sudah boleh pulang, Djiwha.”


“Terima kasih, Dokter. Sudah sembuhkan putra saya.”


“Sama-sama, Bu. Hmm. Jaga kesehatanmu Djiwha dan


jangan berkelahi lagi.”


“Hmm.”


Djiwha sudah diizinkan pulang siang itu oleh Dokter


yang merawatnya. Maya, Erik, Mama dan juga Papa menjemputnya dari rumah sakit.


Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam mobil, Djiwha meminta izin untuk


melihat Kevin. Perasaanya sudah mulai membaik dan dia ingin menemui Kevin.


Namun, saat tangannya hendak membuka pintu ruangan Kevin, dia melihat


Raina—gadis yang sangat disukainya tengah menggenggam tangan Kevin dan menangis


tersedu-sedu. Djiwha merasa dunianya runtuh, kenapa Raina menjenguk Kevin bukan


dirinya?


“Tidak kusangka, gue salah paham sama Raina selama

__ADS_1


ini. Ternyata dia belum bisa move on dari mantannya, yang juga musuh gue.”


Djiwha mengepalkan tinju dan bergegas meninggalkan mereka dengan hati hancur.


__ADS_2