
Jam dinding
berdetak membuat malam terasa semakin sesak, Raina tidak dapat memejamkan
matanya. Wajah Djiwha dan Kevin datang bergantian bagai mimpi indah dan mimpi
buruk di alam mimpi. Raina mencoba memejamkan mata tapi, bayangan wajah mereka
semakin lama semakin terasa nyata. Raina ingin mengubur Kevin jauh-jauh dari
hidupnya, lalu berusaha membuka hati baru untuk orang lain yang bernama Djiwha.
Meskipun belum ada kata terucap dari dia maupun Djiwha tapi dia berkeyakinan
jika Djiwha memiliki perasaan yang sama. Namun, kenapa justru Kevin datang
lagi? Menangis dan meminta maaf atas segala perbuatannya? Raina benar-benar
tidak tahu harus bagaimana?Raina sudah duduk di meja makan bahkan ketika ayam jago tetangga berkokok, dia
sudah selesai mandi dan memasak sarapan untuk ayah dan juga adiknya.
“Loh, Rai? Kamu
rajin sekali, sudah mandi dan rapi?” Ayah yang baru saja bangun kaget melihat
Raina melamun di meja makan , menatap nasi goreng yang masih mengepul.
“Ayah, selamat
pagi.” Raina melirik ke arah sang ayah, ayahnya kaget melihat kantung mata
Raina yang tebal mirip seperti pemuda yang ditemuinya tempo hari di Bandara.
“Ya ampun, Rai!
Kamu enggak tidur? Kenapa? Sakit?” ayahnya terlihat khawatir lalu memeriksa
suhu tubuh Raina, Raina dengan cepat menggeleng dan memakan sarapan dengan tidak bergairah.
“Kalau sakit
jangan ke sekolah, Rai.” Ayah terlihat khawatir dan cemas, mungkin putrinya
kecapekan.
“Enggak, Ayah.
Raina baik-baik aja, kok. Ayah sarapan ya,” ujar Raina sambil meminum susu.
Ayah sudah
berangkat kerja sekalian mengantar Reza ke sekolah. Raina berjalan gontai
dengan wajah lesu dan hati yang dilema. Dia menghembuskan napas berkali-kali ke
udara berharap beban di hatinya sedikit berkurang, dia menunduk melihat jalanan
yang dipijaknya sambil melamun memikirkan kejadian kemarin. Suara klason mobil
di belakang pun tidak membuatnya berbalik, saat seseorang memanggil namanya
barulah dia berbalik itu pun dengan tidak semangat, “Raina!”
“Oh, astaga!
Matamu ... kenapa? Kamu jadi seperti adikku?” Erik turun dari mobil diikuti
Maya dan Djiwha, mereka saling berpandangan lalu menatap tajam ke arah Djiwha
seolah bertanya ’Lo apakan anak orang,
Wha!’. Djiwha memutar bola mata malas, dia
tidak tahu apa-apa soal Raina tapi, jujur saja dia pun kaget melihat kantung
matanya berpindah pada si gadis *****.
Justru sekarang kantung matanya yang berkurang, mamanya saja kaget sekarang
Djiwha jarang keluar malam dan tidur lebih awal dengan nyenyak.
“Raina, kamu
kenapa? Ada masalah?” tanya Maya sambil fokus menyetir, Raina duduk di belakang
bersama Djiwha sedangkan Erik di depan bersama Maya.
“Maya nanya tuh,
lo kenapa?” ucap Djiwha sambil melirik gadis di sebelahnya. Raina tidak
menjawab, dia malah menghela napas panjang lalu menatap jendela mobil. Maya dan
Erik saling pandang lalu, mereka mengedikkan bahu masing-masing dan memilih
diam. Djiwha menepuk pundak Raina dan berteriak memanggil nama gadis itu, “Raina!”
tidak sangka Raina berbalik dan menatap horor ke arah Djiwha.
“Kamu bisa diam
tidak? Lebih baik sekarang kamu duduk manis dan diam saja.” Maya dan Erik
saling pandang lagi lalu Erik berbisik pada kakaknya, “Bahkan sekarang galaknya
nular, Kak.” Maya mengiyakan dengan menganggukkan kepala.
‘Astaga, dia kenapa sih?’ batin Djiwha sambil menutup telinganya dengan headset, tetap saja hatinya
merasa khawatir dengan perubahan Raina. Tidak lama mobil yang ditumpangi mereka
sampai di sekolah, Raina mengucapkan terima kasih pada Maya dan Erik lalu
berlalu dari hadapan mereka dan berjalan menuju kelas, mengacuhkan Djiwha yang mengekor di belakang.
‘Dia kesambet setan apa, sih?’hati Djiwha tidak henti bertanya dan menduga-duga. Raina duduk di bangku, Wiwi
sedang bercermin dan membetulkan letak lensa matanya yang berwarna biru, dia
tampak kaget melihat kantung mata Raina yang mirip dengan kantung mata Djiwha
Mahardika. Raina menunduk dan menelungkupkan wajahnya di meja dengan lesu.
“Rai, kamu
kenapa sih? Pulang berlibur kok lesu, harusnya senang dong. Berlibur ke Bali
sama pacar.” Wiwi nyeletuk, Raina memalingkan wajahnya ke arah Wiwi menatap
Wiwi dengan raut terlihat kesal, Wiwi diam dan memilih chatting dengan
pacarnya. Bel tanda masuk berbunyi, semua murid masuk ke dalam kelas dengan
berisik. Hanya Djiwha yang belum terlihat batang hidungnya, padahal dia tadi
mengikuti Raina di belakang. Semua murid terdiam saat guru mereka masuk ke
kelas, “Anak-anak, Bapak membawa teman baru buat kalian. Nah, kamu yang di luar
silakan masuk, perkenalkan dirimu.”
Semua murid
menatap ke depan kelas, mereka berharap tidak mendapat troublemaker seperti Djiwha Mahardika. Seorang murid laki-laki
masuk ke kelas, Wiwi terkejut dan menutup mulutnya sendiri. Murid perempuan
berbisik-bisik, sebagian dari mereka menjerit senang, ada juga yang bergidik
ngeri karena troublemaker bertambah,
“Astaga! Dia ‘kan ....”
“Iya, dia ‘kan
dulu ngilang. Sekarang datang lagi?!”
Raina merasa
ketenangannya terusik, dia melihat siapa murid pindahan yang membuat heboh
kelasnya selain Djiwha. Raina menatap pemuda di depannya dengan tatapan tak
percaya, bibirnya gemetar dan jantungnya berdetak kencang. Dia orang yang tidak
ingin ditemui, dia orang yang sangat Raina benci, Kevin. Kevin tersenyum lalu
melambikan tangan pada semuanya tapi, ekor matanya tetap terfokus pada Raina.
“Halo, namaku
Kevin. Pindahan dari Singapore,” ujar Kevin memperkenalkan diri. Seluruh kelas
terdengar riuh . Raina malas, dia memilih mengambil buku dari tasnya dan
pura-pura menulis. Kevin duduk di belakang Raina, kebetulan kursi itu kosong
karena yang punya bangku pindah beberapa hari lalu. Jari-jemari Raina bergetar,
dia merasa tidak mampu menulis satu kata pun di bukunya. Semua pelajaran yang
diberikan guru pun tidak ada yang masuk ke dalam otaknya, Wiwi mengerti akan
keadaan sang sahabat tapi, dia tidak tahu harus bagaimana menghibur Raina. Djiwha sampai pelajaran
pertama berakhir pun tidak masuk ke dalam kelas, Raina takut benar-benar takut
untuk bertegur sapa dengan Kevin. Saat bel istirahat berbunyi, dia buru-buru
keluar kelas menghindari Kevin dan mencari Djiwha. Raina berlari di sepanjang
koridor sekolah dan mencari Djiwha tapi pemuda bertatto itu tidak ada di mana
pun juga. Napasnya tersengal-sengal, hatinya merasa sakit dan ingin menjerit
sekeras mungkin.
“Kamu ke mana
sih, Wha?” Raina berlari ke belakang sekolah, di mana Djiwha sering
bertelanjang dada dan mendengarkan musik dengan seenak hatinya. Raina tidak
menemukan siapa pun di sana, dia ingin menangis sekencang mungkin. Dia butuh
Djiwha sekarang, dia tidak mau bertemu Kevin.
__ADS_1
“Rai ....”
Raina memejamkan
mata, saat mendengar suara Kevin di belakang. Dia pura-pura tidak mendengar dan
meneruskan langkah. Namun, sebuah tangan kekar meraih pergelangan tangannya
membuat tubuh diaberbalik ke belakang dan berhadapan dengan wajah yang sangat dibencinya. Kevin
masih seperti dulu, wajahnya yang oriental dan masih tampan. Namun, matanya menyimpan beribu rahasia dan penyesalan
terhadap Raina. Raina berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kevin.
“Lepasin aku,
Vin!”
“Enggak, Rai.
Sebelum kamu dengerin penjelasan aku dan maafin aku.”
“Kevin, lepaskan
aku!”
“Lepasin dia!”
ujar suara seseorang, Raina berhasil melepaskan dirinya dari genggaman tangan
Kevin, dia berlari ke arah Djiwha. Dua orang pemuda itu saling bertatapan,
terutama Djiwha. Matanya terlihat menyimpan dendam membara, dia meraih tangan Raina seolah tidak ingin
pemuda di depannya mengambil orang yang dicintai untuk kedua kalinya. Giginya
gemelatuk menahan amarah tapi, berusaha dia pendam dan jaga agar tidak meledak.
“Apa kabar,
Kevin Prasetyo?” ujar Djiwha menatap Kevin dan menyeringai.
“Kabar baik,
Djiwha Mahardika. Bagaimana denganmu?” tanya Kevin, ada raut penyesalan dan
ketakutan tapi, dia berusaha terlihat tegar dan tak gentar.
“Hm. Baik, ya? Setelah
membunuh adik gue dan pergi lo masih sehat dan bisa tersenyum seperti itu!”
amarah Djiwha mulai naik, Kevin Prasetyo aka Tyo mantan sahabatnya yang juga
telah membuat Erina kehilangan kehormatanya dan meninggal dengan cara tidak
adil. Djiwha melangkah mendekati Kevin, Raina tidak mengerti arah pembicaraan
kedua pemuda itu tapi, dia merasa sesuatu akan terjadi di sana. Raina berusaha
menahan langkah Djiwha agar tidak menghampiri Kevin. Dia tahu Djiwha tidak
baik-baik saja sekarang.
“Oh, ya ... ada
salam dari adik gue buat, lo.”
Buagh!
Buagh!
Djiwha memukul
Kevin bertubi-tubi, seolah tidak mengizinkan Kevin Prasetyo untuk mengelak dan
membela diri. Kevin pun hanya diam dan pasrah dengan serangan Djiwha. Raina
menjerit, dia berusaha melerai keduanya tapi, dia malah terdorong dan jatuh.
Melihat Raina terdorong, Kevin tersulut emosi dan akhirnya memukul Djiwha,
perkelahian mereka pun tidak terelakan. Raina menjerit meminta tolong tapi,
tidak ada yang bisa melerai keduanya. Guru dan kepala sekolah juga bingung
karena mereka sudah tahu Djiwha seperti apa dan bagaimana, akhirnya salah satu
dari mereka menghubungi pihak keluarga Djiwha.
“Djiwha
berhenti!”
“Diem, lo
berisik! Keparat ini harus terima hukumannya! Mampus lo Tyo!”
“Djiwha
hentikan!”
Kevin Prasetyo
mencoba melawan Djiwha meski hal yang
mustahil bisa mengalahkannya. Djiwha menghajar wajah tampannya habis-habisan,
sobek karena pukulan yang bertubi-tubi. Raina menangis sambil memeluk Wiwi. Dia
masih bingung dengan semua yang terjadi, Kevin datang dan kemudian Djiwha
menghajarnya habis-habisan tanpa ampun. Tidak
lama untuk mama dan juga Maya serta Erik datang tepat saat Djiwha mengamuk dan
berteriak seperti kesetanan.
“Cukup, hentikan
itu bodoh!” Maya menampar adiknya sendiri di depan semua orang, dia benar-benar
tidak habis pikir dengan sikap Djiwha. Bukankah mereka membutuhkan penjelasan
dari Kevin Prasetyo mengenai peristiwa mengerikan beberapa tahun silam yang
kemudian merenggut nyawa adik bungsu mereka Erina Mahardika.
“Kita butuh dia,
kita butuh penjelasannya. Jangan sampai lo dikuasai amarah, pakai logika lo,
apa bedanya lo sama dia kalau lo hajar dia sampai mati! Apa itu yang diinginkan
Erina? Bukan keadilan seperti itu yang Erina mau, Wha!” Erik menatap tajam
adiknya. Dia pun sama merasa emosi melihat Kevin Prasetyo tapi, dia tidak mau
terburu-buru mengambil keputusan di saat sedang emosi. Guru-guru lain
membubarkan murid mereka, Raina masih shock dan tidak tahu harus apa, akhirnya dia dibawa Wiwi pergi dari sana.
Kevin terlihat
kepayahan hingga akhirnya ambruk di tanah tak sadarkan diri, tidak lama
ambulance datang dan membawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa dan diobati. Terlalu banyak luka di wajah dan
tubuhnya, begitu juga dengan Djiwha dia pun di bawa ke rumah sakit oleh sang mama. Mamanya sangat shock mendengar kedatangan Tyo alias
Kevin Prasetyo setelah sekian lama menghilang tanpa jejak setelah kerjadian
mengenaskan yang menimpa putri bungsunya.
“Bagaimana
keadaan dia dokter?” tanya Erik saat berada di ruangan tempat Djiwha dirawat.
“Tidak begitu
parah hanya saja dia terlihat tertekan, jangan ajak bicara dulu emosinya sangat
tidak stabil,” ujar Dokter kemudian berlalu dari hadapan Erik. Erik menghela
napas panjang memperhatikan adiknya dari kaca. Kemudian dia pergi meninggalkan
Djiwha dan mendatangi ruangan lain, tempat di mana Kevin Prasetyo dirawat.
“Harusnya gue
balas dendam atas kematian Erina tapi, gue bukan manusia keji kayak lo, Tyo.”
Erik mengepalkan tinjunya, Kevin terlihat kritis dengan wajah penuh luka. Erik
bisa saja mencabut selang infus dan oksigennya tapi, itu tidak manusiawi. Dia
ingin Kevin sadar lalu meminta pertanggungjawaban secara hukum atas segala
kesalahanya.
Lima hari berlalu,
keadaan Djiwha semakin membaik. Namun, keadaan Kevin masih sama, luka di
kepalanya akibat pukulan Djiwha cukup membuatnya koma. Meski dia melawan ,
tetap saja tenaga Djiwha lebih besar dan sudah pasti dia akan kalah. Djiwha
menatap bunga mawar yang berada di atas meja, dia tidak menyangka sama sekali
jika mantan pacar Raina adalah Kevin Prasetyo. Bukan hanya dendam karena Erina
mati dengan sia-sia tapi, hatinya terasa panas dan sesak saat mengetahui jika
Raina pernah menjalin hubungan dengan Kevin Prasetyo. Namun, yang paling dia
sesalkan adalah semua orang tahu Kevin Prasetyo adalah penjahat cinta, sudah
banyak cewek yang jadi korbannya termasuk Erina. Dia kecewa, dia takut, dia
sulit mengakui kenyataan jika Raina pernah bersama bahkan berpacaran dengan
Kevin Prasetyo.
‘Apa saja yang telah mereka lakukan? Apakah mereka
sudah ... ah, pikiran macam apa ini? Sialan!’ desis
__ADS_1
Djiwha dalam hatinya. Dia mengepalkan tinju, matanya berkilat-kilat penuh api
cemburu.
“Wha, gimana
kabar kamu?” Maya datang bersama Erik membawa buah-buahan dan beberapa kudapan
untuk Djiwha. Djiwha memalingkan wajahnya melihat kedua saudaranya yang baru
saja tiba lalu kembali menatap bunga mawar yang berwarna merah di meja.
“Lo kenapa, sih?
Liatin bunga mawar, kangen ya sama Raina?”
“Jangan sebut
namanya!”
“Loh, kenapa
tiba-tiba lo emosi gitu, Wha?”
“Rik, gue enggak
mood buat bahas dia sekarang. Gimana? Apa Kevin Prasetyo udah mati?”
“Ckck, Wha
nyebut lo ... enggak boleh gitu. Gue juga sama dendam sama dia tapi, enggak
gini caranya, Wha.” Erik duduk di kursi diikuti Maya, Djiwha tersenyum
merendahkan Kevin.
“Gue enggak akan
lupa sama perbuatannya sampai kapan pun juga.”
“Kita semua sama
sedih kehilangan Erina tapi, biar saja Mama yang urus secara hukum. Lagi pula
kita masih butuh Kevin hidup-hidup, karena kita enggak punya bukti yang
menunjukkan dia bersalah atau tidak.” Kali ini Maya yang bersuara, Erik
menyetujui kata-kata Maya, sedangkan Djiwha masih terlihat kesal dan ingin
menghabisi Kevin saat itu juga.
***
Raina
satu-satunya orang yang jadi gunjingan di sekolah. Gara-gara kejadian memalukan
dan menggemparkan itu, seluruh warga sekolah membicarakannya. Terutama siswi
yang membencinya, mereka jadi tahu jika si murid pindahan punya hubungan khusus
dengan Raina. Bukan hanya Djiwha Mahardika, Kevin Prasetyo malah mantan pacar
Raina datang kembali , lalu kedua pembuat masalah itu terlibat perkelahian
hingga keduanya masuk rumah sakit. Mereka tidak tahu apa masalahnya , hanya
saja Raina-lah yang mereka salahkan. Mereka membicarakan Raina dan menuding
Raina bukan cewek yang baik, “Astaga! Dia masih punya muka datang ke sekolah?
Dasar tidak tahu malu. Djiwha dan Kevin itu ternyata sahabatan loh dulunya,
sekarang mereka musuhan jangan-jangan karena Raina?!”
“Iya, benar. Gue
enggak nyangka Kevin datang setelah sekian lama ngilang, gue masih inget kok.
Terus sekarang dua-duanya masuk rumah sakit, astaga jangan-jangan ngerebutin si
Raina!”
“Heh! Stop
bergunjing. Apa-apaan kalian?” Wiwi menatap tajam para siswi yang sedang
membicarakan dan menjelekkan Raina. Wiwi tidak habis pikir, Djiwha dan Kevin
yang berkelahi kenapa Raina yang disalahkan? Wiwi duduk di samping Raina yang
sejak tadi terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca menahan tangis.
“Jangan dengerin
mereka, oh iya ... kamu enggak akan jenguk Djiwha?” tanya Wiwi ragu-ragu, Raina
menggelengkan kepalanya pelan.
“Katanya Djiwha
udah sembuh, kamu enggak mau nemuin dia gitu dan minta penjelasan sebenarnya
ada apa? Ya, ini Cuma saranku sih,” ucap Wiwi sambil memegang pundak
sahabatnya.
Raina tampak terdiam cukup lama, dia bingung
haruskah menjenguk Djiwha dan bertanya tentang semuanya? Ada apa antara Djiwha
dan Kevin? Atau haruskah dia menjenguk Kevin? Semua pikiran berkecamuk dalam
kepalanya. Raina benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, jauh dalam lubuk
hatinya dia kasihan dengan Kevin. Sejak mereka SD hingga remaja, mereka sudah
berteman dengan erat. Lalu, kenapa dia tidak mau memberi kesempatan untu Kevin
bicara dan jelasin semuanya?
“Ya, sudah.
Jangan sedih lagi, Rai. Ratu *****, Putri Koala ayo semangat!” Wiwi memeluk
sahabatnya erat berharap beban di pundak Raina berkurang.
Raina terdiam
cukup lama di depan ruangan bernama Ruang Dahlia, perlahan dia membuka pintu
berwarna cokelat tua itu. Dia sudah berada di dalam ruangan , terlihat Kevin
terbaring di ranjang dengan selang infus dan oksigen. Tidak ada satu orang pun
yang menemani, ayahnya sudah pasti tidak akan datang karena terlalu sibuk
dengan pekerjaanya. Lalu, ibunya? Sudah lama Raina tidak melihat sang ibu
menjenguk atau menemui Kevin sejak mereka bercerai. Raina duduk di samping
Kevin, dia menatap orang yang dulu dicintai dan dibencinya. Sekarang
kakinya tersihir ke ruangan itu menemui Kevin.
“Apa kabar, Vin?
Maafkan aku ... aku sangat jahat sama kamu, jangan lama-lama kamu sakit, Vin.
Karena banyak yang ingin aku ketahui tentang semua ini, tentang kamu yang
menghilang dan tentang kamu dan Djiwha.” Raina berbicara seolah Kevin sadar dan
mendengarkan semua ucapannya.
“Aku enggak
marah lihat kamu sama perempuan lain, Vin. Aku juga enggak marah kamu enggak
nepatin janji sore itu. Aku marah karena kamu enggak pernah kasih kabar berita,
padahal kita ‘kan teman. Ya, setidaknya itulah aku dan kamu.” Air mata Raina
meleleh membasahi pipinya yang putih, lalu menetes dengan deras saat tangannya menyentuh dan menggenggam
tangan Kevin.
“Cepat
bangunlah, Kevin.”
Raina tidak tahu
jika sepasang mata di luar melihatnya dengan penuh luka. Niatnya ingin menemui
Kevin berakhir dengan pemandangan yang menyakitkan hati. Dia meremas kuat jaket
yang dipakainya lalu berlalu meninggalkan rumah sakit dengan perasaan hancur.
“Nah, kamu sudah boleh pulang, Djiwha.”
“Terima kasih, Dokter. Sudah sembuhkan putra saya.”
“Sama-sama, Bu. Hmm. Jaga kesehatanmu Djiwha dan
jangan berkelahi lagi.”
“Hmm.”
Djiwha sudah diizinkan pulang siang itu oleh Dokter
yang merawatnya. Maya, Erik, Mama dan juga Papa menjemputnya dari rumah sakit.
Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam mobil, Djiwha meminta izin untuk
melihat Kevin. Perasaanya sudah mulai membaik dan dia ingin menemui Kevin.
Namun, saat tangannya hendak membuka pintu ruangan Kevin, dia melihat
Raina—gadis yang sangat disukainya tengah menggenggam tangan Kevin dan menangis
tersedu-sedu. Djiwha merasa dunianya runtuh, kenapa Raina menjenguk Kevin bukan
dirinya?
“Tidak kusangka, gue salah paham sama Raina selama
__ADS_1
ini. Ternyata dia belum bisa move on dari mantannya, yang juga musuh gue.”
Djiwha mengepalkan tinju dan bergegas meninggalkan mereka dengan hati hancur.