
Sinar matahari
mulai redup, cahayanya terlihat kuning keemasan. Tanda sang surya akan kembali
ke peraduannya. Raina duduk di sebuah kursi kayu, matanya terlihat sembab dan
merah karena menangis seharian. Sedangkan pemuda berkantung mata di sebelahnya
hanya bisa diam dan bingung harus berbuat apa, meladeni 10 orang dalam lima
menit itu masalah yang sangat mudah buatnya. Namun, menghadapi gadis yang tiba-tiba mengajaknya pergi dengan perasaan
galau membuat Djiwha stres mendadak. Bagaimana tidak, Raina dan dirinya sedang
berbincang tentang penyakit insmonia yang
menjangkit hidupnya sekian lama lalu, tetiba Raina mendapat telepon dari
adiknya dan sekarang mereka berada di pinggir danau, menatap sunset yang
harusnya romantis jadi serba salah. Djiwha menarik napas panjang kemudian
berkata, “Bagaimana? Sudah puas lo meweknya?”
Raina masih tetap
diam, dia menunduk dan kembali menangis. Djiwha mengacak rambutnya frustrasi,
“Oke. Gini aja deh, lo mau galau ya galau aja tapi, enggak usah bawa-bawa gue
dan berhenti nangis, gimana kalau orang lain liat? Sangkanya gue macam-macam
sama lo.” Djiwha mulai kesal.
“Ya, sudah
pulang saja sana. Biarin aku sendiri di sini,” ucap Raina membuat Djiwha
semakin kesal, ‘Apa sih maunya cewek
ini?’ pikir Djiwha.
“Oke, gue
pulang. Lo di sini aja sendirian, biar kesambet setan danau tuh.” Djiwha
beranjak dari tempat duduknya lalu naik ke atas motor. Dia menyalakan mesin
motor yang bersuara berisik itu lalu pergi meninggalkan Raina sendirian di
pinggir danau. Sepeninggal Djiwha, Raina menangis tersedu-sedu. Dia tahu
ayahnya sedang bingung mungkin karena dia belum pulang, padahal hari sudah
sore tapi Raina rasanya enggan pulang ke rumahnya. Dia tahu Kevin tipe orang
yang penasaran dan keras kepala. Kalau dia pulang pasti Kevin sudah
menunggu di rumah,sedangkan Raina tidak ingin lagi melihat orang yang telah membuat hatinya pecah
belah sampai susah untuk move on. Dia juga bingung, tidak tahu arah jalan
pulang, harusnya dia tidak membuat Mr Devil itu kesal hingga membuatnya harus
pulang sendiri tanpa tahu arah. Raina mengusap air mata yang jatuh dengan sapu
tangan, akhirnya dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan
danau dengan perasaan gamang.
“Hai, gadis koala!”
“Ih, apaan sih kamu. Jangan dekat-dekat nanti
pacarmu marah padaku.”
“Pacar yang mana? Aku tidak punya ... emh belum.”
“Halah, bohong orang satu sekolah udah tahu kok kamu
playboy, Vin.”
“Rai, aku bukan playboy ... bagiku meski banyak
gadis tapi, cinta hanya satu untuk seseorang dan orang itu ....”
“Ah, sudahlah Vin. Aku masuk kelas dulu, jangan
ikuti aku ya, aku takut dijambak sama pacarmu.”
“Hai! Gadis koala mau ke mana kamu!”
Raina kembali
menitikkan air mata, rasa sakit dan pedih menggelayut di hatinya. Kenapa jatuh
cinta terasa sakit? Apa cinta sesakit itu? Dia membayangkan saat-saat bersama
Kevin. Awalnya dia menolak karena mendengar kabar kalau Kevin pemain cinta, dia
juga kerap kali melihat Kevin bersama gadis-gadis dari sekolah lain. Dia dan
Kevin berteman sejak kecil, sebelum akhirnya dia pergi entah ke mana dan tanpa
kabar. Lalu sekarang dia datang kembali, buat apa? Untuk apa? Bahkan Raina
tidak ingin bertemu dengannya. Jangankan
bertemu,menyebut namanya saja
itu menyakitkan. Raina berhenti di sebuah jalanan sepi, tidak ada orang di
tempat itu benar-benar sepi dan menakutkan. Dia jadi teringat novel-novel horor
yang pernah dibacanya, jalanan yang sepi, suara yang menakutkan dan ... ah
Raina tidak mau membayangkannya. Dia kembali berjalan hingga bertemu dengan
lampu jalan yang mulai menyala, jam di tangannya menunjukkan pukul 17.30 .
Raina merasakan hawa dingin menyergap di kuduknya, ia mempererat cengkraman
pada jaketnya.
“Eh, Bro. Liat
tuh ada cewek cantik!” Suara seseorang mengagetkannya. Raina salah, bukan
seseorang tapi, beberapa pemuda berpakaian preman sedang berkumpul dan
tampaknya mereka tengah mabuk. Dilihat dari matanya yang merah dan botol-botol
alkohol yang berserakan, Raina merasa gemetar sekujur tubuhnya. Dia berharap
tenggelam di danau saja tadi, daripada bertemu berandalan atau seharusnya dia
ikut pulang dengan si Mr. Devil berkantung mata.
“Mantap, Bro.
Dia beneran manusia, Bro? Atau jangan-jangan hantu, Bro?”
“Hantu mana
secantik itu , Bro? Kalau bidadari iya gue percaya.”
Beberapa dari
mereka bangkit dan hampir jatuh, dengan berjalan sempoyongan mereka menghampiri
Raina yang mematung dan bingung harus berbuat apa.
“Halo, cewek
cantik. Mau ke mana sih, yuk Abang antar pulang.” Salah satu dari mereka
mendekati Raina. Bau alkohol menguar dari badan mereka, membuat Raina rasanya
ingin muntah. Tubuhnya gemetar, matanya mulai memanas, dia benar-benar takut
dan bingung harus bagaimana. Dia teringat dengan berita-berita di surat kabar
dan media tentang gadis-gadis seusianya yang mati secara sadis, bahkan
ditemukan kadang hanya beberpa bagian tubuhnya saja, Raina ingin menangis.
Puk!
Sebuah jaket
jeans mendarat di punggung, Raina membulatkan mata. Dia melihat ke arah
belakang tapi, sebuah suara membuatnya terdiam.
“Maafin aku,
Sayang. Udah tega ninggalin kamu sendiri. “
“Eh, lo siapa,
Bro? Cowoknya?”
“Eh, bentar
kayaknya gue kenal. Itu kan si Djiwha, Bro.”
“Whoaa! Iya,
Bro. Whats up, Bro. Apa kabar? Gue kira dia bukan cewek lo.”
“Hmm. Kalian
bikin cewek gue takut, minggir kami mau lewat.” Djiwha menggandeng Raina dan
membawa dia pergi dari tempat itu.
Raina menunduk, dia merasa berhutang budi pada pemuda berkantung mata di
sebelahnya. Mereka sampai di pinggir jalan yang ramai, di sana motor Djiwha terparkir
manis menunggu sang pemilik.
Djiwha menyodorkan sebuah helm dengan ragu-ragu Raina mengambilnya.
“A-aku ... minta maaf.” Raina menunduk, dia
merasa sangat bersalah pada pemuda di hadapannya. Djiwha begitu berbaik hati menemaninya
seharian di tepi danau. Bahkan pemuda yang dikenal berandalan itu setia
menunggunya, lalu sekarang dia tiba-tiba saja muncul di depannya seperti
seorang malaikat. Yah memang benar apa arti dari sebuah kutipan di buku novel
yang pernah dibacanya,’ Tidak selamanya malaikat itu bersayap putih.’
“Sudahlah, pakai
cepat helmnya. Ayah dan juga Adikmu pasti sudah menunggu dengan khawatir di
rumah.” Djiwha naik ke atas motornya, menyusul Raina di belakangnya. Tanpa
ragu-ragu Raina memeluk pinggang Djiwha, bahkan sepanjang perjalanan dia
merebahkan kepalanya di punggung pemuda itu, betapa nyaman dan merasa
terlindungi.
‘Gue enggak tahu apa yang terjadi sama lo tapi, gue
enggak suka lo nangis. Rasanya sakit, Rai.’Batin Djiwha berkecamuk, saat merasakan tetes air mata hangat jatuh di punggungnya.
Ayahnya diam
saat melihat Raina pulang bersama seorang pemuda yang tampak urakan. Di meja
makan pun terasa keheningan diantara mereka. Raina tahu mungkin sang ayah
tengah mencurigainya macam-macam, tapi dia
memilih untuk diam dan enggan untuk menjelaskan semuanya. Raina membawa
tumpukan piring kotor ke wastfel dan mencucinya. Hati Rainakalut dan takut dengan
segala kemungkinan yang terjadi esok hari. Entah mengapa dia merasa esok adalah
hari buruk untuk dirinya, “Rai, bagaimana sekolahmu?” Ayahnya sudah berada di
belakang membantunya membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel.
“Baik, Yah.”
Raina kembali mencuci piring di depannya.
“Istirahatlah,
biar Ayah yang bereskan.”
“Tidak usah,
Yah. Biar aku saja yang bereskan.”
“Rai, maafkan
Ayah ... andai saja Ibumu masih ada ....”
“Kenapa Ayah
bicara seperti itu?” tanya Raina berhenti mencuci piring dan menoleh ke arah
ayahnya yang tengah duduk di kursi dan menunduk sedih. Raina jadi semakin
dilema, dia bingung kenapa ayahnya tiba-tiba saja begitu. Raina mengeringkan
tangannya dengan lap dan duduk di samping sang ayah, tangannya dia pakai untuk
meremas jari jemari ayahnya yang mulai keriput. Ditatapnya wajah sang ayah,
garis kelelahan tampak jelas di beberapa bagian wajahnya, Raina merasa hatinya
teriris.
“Ayah, kenapa
minta maaf sama Raina? Ayah tidak salah apa-apa.”
“Tidak, Nak.
Ayah salah, Ayah tidak mengerti akan dirimu. Andai saja Ibumu masih ada mungkin
kamu akan menceritakan masalahmu dan dia ... bisa menjadi pendengar yang baik.”
Raina memeluk ayahnya, air mata menggenang di pipinya, ayahnya pasti sudah
mendengar dari Reza kalau Kevin datang ke rumah. Raina benar-benar membencinya,
bahkan dia telah begitu berarti di mata ayahnya lalu pergi begitu saja
mengecewakan.
“Jangan bicara
seperti itu lagi, kumohon. Ayah bahkan lebih dari segalanya, apa
yang terjadi padaku sungguh bukan hal besar yang patut Ayah pikirkan.” Raina
merasakan kesedihannya berlipat ganda. Sang ayah membalas pelukan putrinya,
kedua ayah dan anak itu larut dalam kesedihan.
Djiwha membuka
pintu itu lagi, untuk kesekian kalinya. Saat hatinya kalut, pasti dia akan
pergi ke sana, tempat di mana adik bungsunya tersenyum ceria memamerkan hasil
lukisannya. Ya, Erina memang sejak kecil sudah pandai melukis, bakat yang
diturunkan almarhum kakek padanya. Setiap dia sedih, gembira, selalu ia
gambarkan dalam sebuah lukisan. Djiwha menarik napas panjang saat melihat
dinding kamar bercat biru laut dengan hiasan negeri fantasy buatan Erina
sendiri. Tidak ada yang merubahnya, dinding itu, kursi dan semua barang-barang
Erina masih tersimpan rapi di tempatnya. Djiwha tersenyum miris melihat foto
sang adik yang tergantung di dinding ketika sedang di Amerika bersama almarhum
pamannya—ayah angkat Erina.
“Kalian berdua
orang-orang baik tapi …kenapa begitu cepat meninggalkanku? Kalian jahat padaku, Paman ... dan kamu
Erina, kenapa kamu ikut Ayah angkatmu? Pergi meninggalkan kami semua
selamanya?” Djiwha mengusap wajah Erina di foto itu.
“Kenapa? Kenapa
harus mencintai cowok bangsat seperti dia, Erina? Kamu masih kecil. Kenapa
tidak mendengarkan aku? Kenapa?” Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,
bahkan berandalan pun meneteskan air mata saat melihat foto sang adik dan
mengenang masa-masa indah saat masih bersamanya. Djiwha berbaring di kasur
bernuansa pink itu, dia menatap langit-langit kamar yang berlukiskan awan
fantasy dengan dewa cinta yang siap memanah hati siapa pun yang diinginkannya.
“Dewa cinta ...
hmm, iya kamu benar Erina, jika Dewa cinta sudah berhendak maka dia akan
melepaskan panas asmaranya begitu saja, tanpa melihat sebrengsek apa pun
orangnya, sejahat apapun atau seperti apa, seperti kamu dan dia lalu seperti
aku dan Raina.” Djiwha tersenyum mengingat gadis ***** yang selalu merepotkan tapi menyenangkan bila dekat
dengannya.
“Ah, sudahlah.
Jangan pikirkan itu, apa benar aku jatuh cinta padanya?” Djiwha memejamkan
matanya, tidak lupa dia membuka tutup botol kaca kecil yang Raina berikan
padanya, diolesnya bantal di bawah kepalanya dengan cairan beraroma lavender
dan lily itu. Djiwha menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba mengusir segala
kegundahan dalam hatinya. Tidak berapa lama kemudian, suara dengkuran halus
terdengar dari mulutnya.
Sinar mentari
yang hangat menyapa Raina, pagi-pagi sekali dia sudah berada di kelas mengerjakan
__ADS_1
piket yang tertunda. Wiwi belum datang, begitu juga teman sekelasnya yang lain.
Mimpinya semalam begitu buruk hingga membuatnya terbangun di malam hari dan
mengharuskannya terjaga hingga pagi menjelang. Satu per satu temannya datang
memasuki kelas, Raina duduk beristirahat sambil memakan roti yang dibawanya
dari rumah meski perutnya terasa mual karena kemarin telat makan. Tepukan di
pundaknya membuat Raina menoleh ke samping, dia tercengang melihat gadis yang
tengah tersenyum dua jari padanya.
“Wi? Ini kamu?”
“Ya iyalah, Rai.
Siapa lagi, ini aku temanmu, ihh.”
“Tapi ... ke
mana kacamatamu?”
“Sudah kubuang
jauh-jauh, lagipula Aruna bilang aku semakin cantik kalau pakai soflens.”
Raina
benar-benar tidak mengerti dengan teman baiknya, dulu dia yang bilang jangan
mau berubah demi cowok tapi, sekarang dia sendiri yang berubah drastis setelah
balikan sama Aruna. Bahkan lebih drastis
dari yang Raina bayangkan, rambutnya
yang dulu sering dikepang dua sekarang digerai bahkan rajin ke salon untuk
meluruskan rambutnya. Tidak hanya diluruskan tapi, di cat dengan warna ombre.
Matanya yang dulu sering diledek mata empat oleh teman-teman sekolahnya
berganti dengan lensa kontak yang setiap hari berganti warna, roknya juga
terlihat lebih pendek dan bajunya lebih ketat.
“Apa ini enggak
salah, Wi?”
“Apanya yang
salah sih Rai? Aruna itu membawa dampak positif buatku. Kamu lihat aku
sekarang? Tidak ada lagi yang mengejekku si mata empat. Aku sekarang cantik dan
yang penting Aruna makin cinta sama aku,” ujar Wiwi sambil duduk lalu merapikan
rambutnya.
“Tapi, Wi kam—“
“Apa? Aduh, Rai.
Coba lihat kantung matamu itu enggak banget deh, gara-gara kamu deket sama si
berandalan itu lihat dirimu! Jadi ikutan kayak dia tahu,” ujar Wiwi menunjuk
kantung mata Raina.
“Lo berubah cuma
buat cowok kayak Aruna? Gue ingetin, ya. Aruna bukan cowok yang baik.” Djiwha
muncul dari arah pintu dan menatap Wiwi dan Raina bergantian, dia tahu siapa
Aruna tempo lalu mereka pernah berhadapan satu sama lain karena Aruna
menantangnya duel.
“Jangan bicara
sembarangan! Kamu juga, memangnya orang baik? Kamu berandalan!” Wiwi beranjak
dari kursinya dan keluar dengan membanting pintu kelas. Raina benar-benar kaget
dengan perubahan Wiwi, dia bukan gadis pemarah dan sensitif. Itu seperti bukan
Wiwi, Raina merasa khawatir dengan perubahan sang sahabat . Dia pun hendak mengejar Wiwi tapi, Djiwha meraih
pergelangan tangannya dan berkata, “Jangan dikejar. Biarkan saja.”
“Tapi dia
temanku, aku harus bicara padanya.”
“Lo bego ya? Dia
enggak bakalan denger omongan lo, yang ada lo bakalan dimusuhin, ngerti enggak
sih, lo?” ujar Djiwha mendudukan kembali Raina dengan paksa di kursi. Raina
menurut dan memilih diam sementara pikirannya melayang-layang pada hal-hal yang
negatif tentang Wiwi.
“Memang Aruna
seperti apa?’ tanya Raina tiba-tiba, Djiwha yang sedang mengunyah permen karet
melirik ke arah gadis berambut ikal di sampingnya.
“Kenapa? Yang
pasti tidak lebih ganteng dari gue dan tidak lebih keren dari gue.” Djiwha menjawab
sekenannya sambil dalam hati tertawa mengerjai Raina.
“Ish, percaya
diri kamu berlebihan. Maksud aku dia cowok yang gimana?” Raina mendelik kesal.
“Mana eike tahu,
Bo.” Djiwha bergaya layaknya waria-waria yang sering Raina temui di lampu merah
berpakaian minim meski jelas-jelas bulu-bulu kasar khas lelaki tampak jelas di
paha dan betis mereka. Raina tertawa terbahak, hingga air matanya keluar dia
tidak peduli pada pemuda di sampingnya yang mungkin saja tersinggung. Djiwha
tersenyum melihat Raina, dia suka jika Raina tertawa seperti itu bukan menangis
seperti sore lalu. Raina berhenti tertawa dan mengusap air mata yang keluar karena kebanyakan tertawa, dia melihat
ke arah Djiwha yang sedang memperhatikannya, mereka saling bertatapan mata
hingga tanpa sadar keduanya saling tersenyum satu sama lain.
“Jangan menangis
lagi. Apalagi hanya untuk orang yang bahkan tidak peduli sama lo,” ujar Djiwha
lalu mengacak rambut Raina dan pergi ke kurisnya di belakang.
Raina menunduk
dengan rona merah di pipinya, saat Djiwha mengacak rambutnya dia merasa nyaman,
seperti tangan ayahnya yang kokoh dan siap melindungi dirinya dari apa pun .
Raina merasa jantungnya berdegup kencang, dulu dia jatuh cinta pada Kevin tapi
apa yang dia rasakan saat sekarang berbeda dengan saat jatuh cinta pada Kevin.
Bel tanda masuk berbunyi , dia
tidak melihat Wiwi masuk kembali ke kelas. Rasa khawatir menyelimuti hati
Raina, seumur-umur Wiwi tidak pernah berani bolos dan meninggalkan sekolah pada
jam belajar. Raina teringat dengan telepon tadi malam saat dia sedang
mengerjakan PR .
“Halo, Rai? Ini Tante Monika, apa Wiwi ada di rumah
kamu?”
“Wiwi? Tidak ada Tante. Memang kenapa ya, Tante?”
“Wiwi kok sekarang suka telat kalau pulang sekolah,
padahal tidak ada laporan dia mengikuti les lain di luar sekolah. Barangkali
kamu tahu, Rai. Kalian ‘kan teman dekat, Tante sangat khawatir.”
“Umh, setah Raina dia tidak ikut les Tante. Maaf,
Tante tapi ... Raina benaran enggak tahu soal Wiwi. Dia juga sekarang seperti
menjaga jarak sama Raina.”
“Hm ... begitu ya, Rai? Gini saja kalau ketemu dia di sekolah, tolong ajak bicara ,
ya? Ke mana dia selama ini? Bilang kalau Tante khawatir sama dia.” Tante Monika
mengakhiri perbincangan mereka. Raina terdiam cukup lama, dia pun mengirim
pesan pada Wiwi dan berkali-kali menghubunginya tapi, nomor yang dituju terus
tidak aktif. Raina jadi merasa was-was dan tidak bisa tidur sampai esok
berubah.
Raina masuk ke
sebuah supermarket hari itu dia harus belanja susu dan kebutuhan sekolah Reza.
Ayah sudah memberinya uang agar dibelanjakan untuk membeli kebutuhan Reza dan
dirinya, Raina memilih beberapa buku bacaan bergambar untu Reza. Dia juga
membeli beberapa buku tulis dan peralatan menulis lainnya, Reza mengeluh jika
pensil dan penghapusnya sudah pendek. Dia harus berhemat, harga-harga mulai
naik, kebutuhannya di nomor duakan saja, karena Reza lebih penting dan lebih
membutuhkan. Buku-bukunya masih ada, peralatan tulisnya juga masih lengkap, dia
belum memerlukan semua itu. Hari itu ulang tahun supermarket Gi-ant, tampak
sekali ramai oleh pengunjung. Mereka berebut harga diskon yang ditawarkan dan
masing-masing ingin memperebutkan tiket jalan-jalan ke pantai Pandawa gratis
untukpasangan. Raina tidak
tertarik, dia memilih menyibukkan dirinya di tumpukkan baju-baju kaos diskon.
“Halo, anak
cantik. Apa kabar?” Sebuah tepukan di pundak membuat Raina terkejut, apalagi
suara khas itu. Seorang wanita paruh baya tapi, cantik dan elegan tengah
menatapnya gemas. Di sampingnya seorang pemuda yang sangat dikenalnya berdiri
dengan wajah tampak malas. Djiwha benar-benar malu dan kesal pada mamanya yang
tiba-tiba saja mengajaknya berbelanja lalu kenapa sekarang malah ketemu Raina?
“Raina, apa
kabar, Sayang? Kamu lagi belanja?” tanya Mama Djiwha tersenyum senang melihat
gadis yang sangat diidolakan jadi menantunya ada di sana. Tidak salah dia
mengajak Djiwha berbelanja di sana, meskipun sempat acara tarik menarik karena
Djiwha menolak.
“Baik, Tante.
Tante sendiri apa kabar? Iya ... seperti yang Tante lihat saya sedang membeli beberapa baju untuk adik.” Raina
tersenyum ramah, Mama Djiwha langsung menarik tangannya dan mengajak berjalan
bersama sambil memilih-milih baju yang sebenarnya tidak niat dia beli. Dia hanya
merasa sumpek di rumah, niatnya pergi ke Mall tapi, saat di mobil dia melihat
Raina masuk ke dalam supermarket Gi-ant dan akhirnya menyuruh sopir berhenti di
sana.
“Kenapa kamu
yang belanja? Memang Mamamu ke mana, Rai?”
“Ibu saya sudah
meninggal, Tante. Jadi saya yang belanja, Ayah saya masih kerja jadi ya, saya
yang belanja, Tante.” Mama Djiwha seketika berhenti hingga Djiwha mengaduh
karena berbenturan dengan punggung mamanya. Dia tampak merasa bersalah pada
Raina, “Maafin, Tante ya, Raina. Tante tidak tahu, kalau Ibu kamu sudah ...
sekali lagi maafin Tante ya, Rai?”
“Tante, enggak
usah minta maaf. Raina enggak merasa Tante salah, kok.” Raina tersenyum dan saat
itu matanya bersirobok dengan mata Djiwha, Raina memalingkan wajahnya yang
tiba-tiba merasa panas padahal di ruangan ber-Ac.
“Ya, sudah
jangan dibahas lagi. Kamu udah makan siang, Rai?” tanya Mama Djiwha, Raina
menggeleng. Dia memang belum makan siang, karena tidak terbiasa jajan atau
makan siang di luar rumah.
“Dia suka masak
sendiri di rumahnya, Ma. Masakannya enak loh, emang Mama enggak bisa masak.”
Djiwha mendapat cubitan di perutnya, mamanya mendelik kesal.
“Kamu, sok tahu.
Emang iya, Rai? Wah, kapan-kapan Tante mau dong nyicipin masakan kamu. Ya,
sudah hari ini belanjaan kamu biar Tante yang bayar, terus nanti kita makan
sama-sama ya, Rai. Tenang aja Tante yang traktir,” ucap Mama Djiwha menggaet
tangan Raina sebelum Raina hendak mengajukan keberatan. Benar saja apa kata
Mama Djiwha, belanjaan Raina dia semua yang membayarnya selain itu Mama Djiwha
juga membelikan beberapa keperluan lainnya, Raina merasa tidak enak tapi, tidak
bisa menolak.
“Halo, semua
pengunjung G-ant! Saya di sini akan mengumumkan nomor undian yang berhasil
mendapatkan hadiah ulang tahun supermarket Gi-ant yang ke-3!” suara pembawa
acara berkostum beruang terdengar nyaring. Semua pengunjung berkumpul dan
membawa nomor undian masing-masing, Mama Djiwha menarik tangan Djiwha dan Raina
lalu memberikan secarik kertas bertuliskan rangkaian nomor.
“Nah, kalian
tunggu di sini, siapa tahu menang. Iya , kan? Lumayan loh ke Bali gratis. Mama
harus pulang sekarang, ada tamu di rumah. Djiwha, nanti antar Raina pulang, ya?
Raina, terima kasih untuk hari ini, um ... maaf Tante buru-buru dan enggak sempat
traktir kamu makan.” Mama Djiwha mencium pipi Raina lalu tergesa meninggalkan
supermarket.
“Ma! Ya ampun
Mama itu seenak jidat.” Djiwha terlihat kesal. Raina hendak berbalik pulang
tapi, tangan Djiwha mencegahnya.
“Lo mau ke mana?
Nyokap gue ‘kan tadi bilang suruh tunggu, apa ini balasan lo sama Nyokap gue?”
Djiwha menatap Raina, sebenarnya dia sendiri yang enggan berpisah dengan Raina.
Hanya saja terlalu gengsi jika dia harus mengatakan kalau dia ingin
berlama-lama dengan Raina. Gadis itu akhirnya menuruti permintaan Djiwha dan
mamanya, dia berdiri mematung dan melihat si pria berkostum beruang membacakan
pemenangnya.
“Oke, semuanya
harap tenang. Saya akan membacakan nomor undiannya, kalian tolong fokus ke
nomor undian masing-masing, ya! Dan pemenang hadiah ulang tahun Gi-ant yang
ke-3 dan berhak jalan-jalan di Bali selama tiga hari adalah ....” Suara drum
ditabuh, masing-masing orang yang membawa nomor undian di tangannya, terlihat
berharap mereka yang akan menang. Raina dan Djiwha juga jadi ikut penasaran
dengan pengumumannya.
“Nomor undian
yang terpilih adalah 320451!” masing-masing raut wajah terlihat, ada yang
kecewa karena nomor yang dibacakan tidak sesuai dengan yang di tangannya. Ada
juga yang memilih tetap menunggu sambil memeriksa, Raina melihat nomor undian
di tangannya dan keningnya berkerut tidak percaya.
“Ya, benar. Ini
__ADS_1
nomor undian kalian berdua, selamat ya, mari ikut saya ke atas panggung untuk
penyerahan secara simblolis.” Entah kapan pembawa acara berkostum beruang itu
tiba-tiba sudah berada di depan mereka berdua. Djiwha dan Raina dipaksa naik
atas ke atas panggung dan diberikan sebuah poster pantai Pandawa.
“Yah, enggak
menang deh!” keluh orang-orang yang berada di bawah panggung dan memilih pulang
dengan kecewa.
“Selamat, ya.
Buat kalian berdua, besok kalian berangkat ke Bali selama tiga hari tiga malam.
Wah, kalian sangat cocok dan serasi!” seru pria beruang itu sambil tertawa.
Raina masih tidak percaya, dia diantarkan pulang oleh Djiwha dengan mobil milik
mamanya. Selain jalan-jalan ke Bali gratis, Raina juga mendapat beberapa hadiah
lain.
“Gue enggak
mampir , ya. Ada urusan, besok gue tunggu di bandara.” Djiwha berlalu dari
hadapan Raina. Ayah dan Reza sudah menunggu Raina di meja makan, di sana sudah
tersaji makanan enak padahal Raina belum masak. Raina duduk di kursi dan
bertanya pada ayahnya, “Ayah masak atau beli?”
“Enggak, Rai.
Ayah saja baru datang, mungkin Reza tahu?”
“Siapa yang
kasih ini sama Reza?” tanya Raina mengelus kepala adiknya penuh sayang.
“Emh ... dari
Kak Kevin,” ujar Reza pendek. Raina terdiam, dia memilih mengalihkan
pembicaraan.
“Ya, sudah
kalian berdua makan saja. Aku mau mandi,” ucap Raina sambil berlalu masuk ke
kamarnya. Ayah dan Reza saling pandang lalu memilih untuk membiarkan Raina
sendiri.
Malam hari Raina
dan ayahnya serta Reza sedang berkumpul bersama di ruang tengah sambil menonton
televisi. Raina tampak ragu-ragu tapi, dia bingung harus memulai oborlan dari
mana. Dia ingin meminta izin pada ayahnya, kalau besok dan seterusnya tiga hari
ke depan dia harus ke Bali. Raina sudah bicara dengan panitia berharap tiket
itu bisa diuangkan saja tapi, mereka bilang tidak bisa. Ponselnya berbunyi,
menandakan sebuah pesan masuk.
From : Devil
Lo pasti bingung ya minta izin sama ayah lo? Coba
liat di tv ada acara tadi siang tuh diliput.
Raina mengambil remote tv dan memindahkan channelnya, sementara Reza protes karena
acara anime kesayangannya dipindah.
“Ayah, lihat!
Kok kayak Kak Rai, ya?” Reza berteriak dan menunjuk sebuah liputan berita di
televisi tentang pemenang undian di sebuah supermarket.
“Iya, ya. Rai
itu kamu, Nak? Kenapa bisa ada di tv? Kamu menang undian ke Bali?” tanya ayah
menatap Raina tidak percaya. Raina hanya mengangguk lemah, dia takut ayahnya
marah dan tidak memberi izin pergi ke Bali.
“Ya, ampun ...
selamat ya, Nak. Ayah enggak nyangka kamu seberuntung itu, kapan berangkat?”
tanya ayah menatap Raina.
“Iya, Yah. Besok
harusnya kami berangkat, emh ... kalau Ayah tidak setuju aku bisa menolaknya.”
“Kamu ini, siapa
bilang Ayah enggak setuju? Ini kesempatan emas buat kamu, Nak. Justru Ayah
merasa terharu, Ayah enggak bisa ajak jalan-jalan kamu jauh. Jangan
disia-siakan, Nak. Jangan lupa, kamu harus hati-hati di sana dan telepon Ayah.”
Raina terkejut mendengar jawaban ayahnya, dia menatap sang ayah yang sedang
tertawa bersama Reza.
“Tapi gimana
nanti Ayah sama Reza?” tanya Raina.
“Jangan
khawatir, kami akan baik-baik saja, Rai. Sudahlah sana siapkan bajumu!”
“Terima kasih,
Ayah.” Raina pergi dan mengambil kopernya lalu mulai berkemas untuk esok hari.
***
Kedua orang tua
itu saling berhadapan satu sama lain, ayah Raina terlihat canggung di tengah
orang-orang yang terlihat mewah dan dari golongan ningrat. Mama Djiwha tampak
sangat antusias bahkan terlihat paling euporia diantara yang lain. Erik kesal karena tidak ikut mamanya berbelanja, siapa tahu
saja dia yang dapat kesempatan emas berlibur dengan gadis secantik Raina. Maya
terlihat santai, dia bangga ternyata adik kesayangannya bisa juga menggaet
cewek. Raina tampak sedih harus meninggalkan ayah dan adiknya, dia memeluk Reza
dan mengacak rambut sang adikdengan gemas.
“Bawakan aku
oleh-oleh ya, Kak!” ujar Reza.
“Hati-hati,
kasih kabar kalau udah di sana, ya.” Ayah memeluk Raina dan melirik sebentar
pada Djiwha, ayah membisikkan sesuatu ke telinga putrinya.
“Kalau dia
macam-macam, kamu pukul saja ya.” Raina tersenyum mendengar saran ayahnya lalu
mengangguk mengerti.
“Tenang saja,
Rai. Ayah dan adikmu akan Mama jamin, deh. Iya ‘kan besan?” tanya Mama Djiwha
melirik Ayah Raina, Ayah Raina hanya tersenyum canggung. Dalam hatinya
berceloteh,’Besan? Apa maksudnya?’
Aba-aba dari
pengeras suara sudah terdengar, kalau pesawat yang akan membawa Djiwha dan
Raina sudah akan berangkat. Mereka lalu berpamitan pada kedua orang tua masing-masing dan berjalan
menuju tempat pemberangkatan. Raina dan Djiwha duduk berdua di kursi yang telah
disediakan, Djiwha heran dan merasa bingung apa pihak supermarket tidak akan
rugi jika menghadiahkan tiket pesawat ke Bali dan memberikan kursi VIV pada mereka? Namun,
Djiwha memilih duduk dengan santai sambil mendengarkan musik kesukaanya. Raina
masih terlihat murung karena meninggalkan ayah serta adiknya di rumah,
bagaimana mereka? Siapa yang akan memasak untuk mereka.
“Lo enggak usah
khawatir, Mama gue bisa dipercaya kok. Mending lo nikmati aja liburan ini,
belum pernah naik pesawat lo? Parno ya?” ejek Djiwha sambil melirik Raina yang tampak murung.
“Enak aja, aku
udah pernah naik pesawat waktu Ibuku masih ada. Jangan meledek aku, ya!” Raina
mendelik kesal. Djiwha tertawa lalu berkata, “Ya, sudah ngapain sih kayak lagi
mikir ngelamun gitu? Atau lo lagi mikirin ngeres ya? Lagi bayangin gue di pantai sixpack tanpa baju gitu? Iya ‘kan? Ngaku deh.” Djiwha tambah menggoda gadis di
sampingnya. Raina kesal dan memilih membuang wajahnya lalu pura-pura tertidur.
“Heh, jangan
tidur. Dasar cewek *****!” Djiwha
menyikut Raina tapi, gadis itu tampak anteng dan enggan membuka matanya. Djiwha
kesal, tadinya dia ingin mengobrol banyak dengan Raina.
“Aih,
menyebalkan! Dasar *****!” ujar
Djiwha lalu kembali memasang kembali headset di telinganya.
Mereka sampai di
Bandara I Gusti Ngurah Rai, seorang pria yang mereka kenal berdiri menyambut
dengan baju adat khas Bali. Pria itu yang tempo hari memakai kostum beruang dan
membaca pengumuman siapa yang mendapatkan tiket gratis ke Bali.
“Selamat datang,
di pulau Dewata. Perkenalkan nama saya Arman, kalian boleh panggil saya Pak
Arman. Saya akan memandu kalian selama di Bali.” Pria yang mengaku bernama
Arman itu tertawa memamerkan giginya yang ompong di tengah.
“Enggak usah
dipandu kali, gue udah beberapa kali ke sini. Lagian ada ponsel gini,” ujar
Djiwha berjalan ke arah mobil yang ditunjukkan Pak Arman.
“Maafkan teman
saya ya, Pak. Terima kasih sudah menyambut dan memandu kami.” Raina tersenyum
ramah pada Pak Arman, dia pun akhirnya masuk ke mobil duduk di samping Djiwha
yang sedang menunggu dengan bosan.
“Mari, saya
antarkan ke hotel yang sudah dipesan untuk kalian berdua.” Mobil pun melaju
meninggalkan Bandara, Djiwha pikir mereka akan diberikan hotel super mewah
seperti tempat duduk mereka di pesawat. Ternyata mereka dibawa ke sebuah hotel
kecil yang jauh dari keramaian kota. Saat masuk ke sana, Djiwha sudah
uring-uringan dia ingin pindah dan ogah menginap di hotel itu.
“Apaan nih? Gue
ogah nginep di sini! Duh, lagian ngapain sih Mama pakai nyuruh gue ke sini
pakai acara gratisan, jadi gini ‘kan.” Djiwha hendak kembali ke luar tapi Pak
Arman menyuruhnya berhenti.
“Eh, jangan
berhenti, Mas. Sudah ketentuan dari supermarket Gi-ant Mas sama Mbaknya tinggal
di hotel ini. Kalian ‘kan pasangan masa mau jauh-jauhan, piye to?” ujar Pak
Arman berusaha mencegah Djiwha pergi. Namun, pemuda berkantung mata itu
melambaikan tangan dan pergi meninggalkan hotel. Raina hanya bisa menarik napas
panjang dan mengembuskannya keras, baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau
Dewata tapi sudah ditinggalin dan tanpa belas kasihan. Dia kesal dan merutuki
dirinya sendiri.
“Oh, Ayah. Apa lagi selanjutnya?” Raina
diantarkan ke depan sebuah pintu kayu, perlahan dia membukanya. Meski terlihat
kecil tapi di mata Raina tempat itu adalah paling bagus, kamarnya menghadap
langsung ke pantai dan terlihat rapi mengesankan. Raina segera merebahkan
tubuhnya di kasur, dia lalu menghubungi ayahnya dan mengabarkan kalau dia sudah
sampai di Bali.
“Halo, Nak? Kamu
sudah sampai di Bali? Sekarang kalian ada di mana?” tanya ayahnya terdengar
senang mendengar putrinya sudah sampai dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
“Raina ada di
hotel, Yah.”
“Di hotel? Apa
kalian satu kamar? Kamar kalian dipisah ‘kan?”
“Tentu saja,
Ayah. Lagipula Djiwha tidak sedang bersama Raina, Yah.”
“Apa maksudnya?”
kali ini suara cempreng milik seorang wanita, yang tiba-tiba menggantikan Ayah
Raina.
“Loh, Tante?
Kenapa Tante ada di rumah Raina?”
“Ah, itu tidak
penting, Tante sudah bilang ‘kan akan urus keperluan Ayah dan adikmu. Ke mana
anak nakal itu, Sayang?” tanya Mama Djiwha terdengar kesal.
“Saya tidak tahu
Tante, mungkin mencari hotel yang lebih besar.”
“Sudah kuduga!
Dasar anak nakal. Kamu tenang saja, Sayang. Dia pasti balik ke sana. Mama
pastikan itu, Rai.” Kemudian Mama Djiwha memutus teleponnya. Raina merasakan
pegal di seluruh badannya, rasa kantuk menyerang matanya belum lagi angin
sepoi-sepoi yang meniup rambutnya dari jendela kamar. Raina menutup mata,
kemudian suara dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
Djiwha sedang
mengacak rambutnya frustrasi, kartu VIV yang sering dia gunakan untuk menginap
di hotel, tidak bisa digunakan dengan alasan dibekukan. Kartu kredit pun tidak
bisa digunakan, Djiwha sudah menduga ini adalah ulah mamanya. Dia kemudian
menekan tombol dial di layar ponselnya dan menghubungi sang mama. Beberapa kali
terdengar nada ‘tutt’ di seberang sana tapi mamanya tidak kunjung mengangkat
telepon darinya. Djiwha tidak punya pilihan selain kembali ke hotel yang tadi
karena uang di dompetnya mulai menipis. Tidak butuh waktu lama, dia sudah
kembali ke hotel yang dipilih pihak pemberi hadiah, dipikir-pikir dia merasa
seperti orang bodoh dan kenapa harus mau? Padahal dia punya banyak uang, bisa
saja dia berangkat sendiri dengan semua fasilitas serba mewah. Djiwha tidak
menemukan keberadaan Pak Arman tapi dia menanyakan kamar untuknya. Namun sang
resepsionis mengatakan kalau Djiwha hanya punya satu kamar. Djiwha berdecak
kesal dan akhirnya mengalah, dia membuka pintu kamar
itu dan melihat Raina tengah tertidur pulas.
“Astaga, dasar
cewek *****. Tapi ... manis juga dia
kalau lagi tidur.” Djiwha mengeluarkan ponselnya dan memfoto Raina yang tengah
__ADS_1
tertidur pulas memeluk bantal. Djiwha memutuskan untuk duduk di sebuah kursi
rotan panjang lalu membuka laptopnya, menonton film thrill kesukaanya.