
Bintang-bintang
kemerlip di atas awan, Djiwha termenung di jendela kamar Erina. Posisinya
persis seperti dulu saat Erina tersenyum dan meninggalkannya. Djiwha teringat
semua kenangannya di Bali bersama Raina, mereka mendengarkan musik bersama lalu
melihat bintang yang bertabur indah di angkasa. Saat bintang jatuh mereka
menutup mata dan meminta sebuah permohonan.
“Apa yang lo
minta?”
“Itu rahasia.”
“Apa yang kamu
minta?”
“Itu juga
rahasia.”
Djiwha menarik
napas panjang, udara malam terasa menyentuh kulitnya hingga ke sum-sum, “Lo
enggak tahu apa yang gue minta malam itu, Rai? Gue minta supaya kita terus
bersama selamanya karena gue cinta sama lo.” Djiwha bergumam entah pada siapa,
dia menutup jendela lalu duduk di ranjang Erina, menyentuh kasur empuk dengan
seprei berwarna pink itu.
“Aku pergi,
Erina. Aku ingin jadi manusia yang lebih baik lagi agar tidak membuat Mama dan
Papa kecewa.” Djiwha mengambil sebuah boneka panda yang tadi dipeluk Raina. Dia
masih bisa mencium harum Raina yang tertinggal di sana, “Apakah aku keterlaluan
padanya, Erina?” ujar Djiwha memeluk boneka itu dan menghirup aroma gadis yang
dicintainya dalam-dalam seolah malam itu adalah malam terakhir dia bersamanya,
bersama aromanya bukan raganya. Tangannya mennyentuh sesuatu di dalam boneka,
seperti ada gundukan keras. Djiwha mengernyitkan keningnya, kemudian merogoh
punggung boneka yang ternyata sobek karena benda tajam. Djiwha menemukan sebuah
kunci kecil, tepatnya kunci buku diary milik Erina. Dia tidak pernah memeriksa
barang-barang Erina setelah meninggal, dia juga baru tahu jika punggung boneka
pemberiannya sobek. Djiwha membuka laci lemari Erina dan melihat isinya, di
sana terdapat sebuah buku diary bersampul beruang berwarna pink. Djiwha
memasukkan kunci itu perlahan dengan jantunng berdegup kencang dan gemetar.
Halaman pertama terdapat foto Erina yang sedang berpose dengan paman. Kemudian
di lembar selanjutnya ada goresan-goresan pena dengan tulisan rapi milik Erina.
10 Oktober
Dear Diary, aku sedih karena Ayah meninggal.
Meskipun sekarang aku kembali pada Papa dan Mama, aku kangen Ayah, miss you
Ayah.
11 Oktober
Diary aku pulang ke Indonesia, aku bakalan ketemu
Kak Maya, Kak Erik dan juga yang pasti Kak Djiwha orang yang paling kurindukan
saat di Amerika. Aku bawa oleh-oleh untuknya, semoga dia suka.
Djiwha tersenyum
membaca isi diary itu, dia ingat betul
Erina datang dan membawa cokelat serta sebuah kotak musik yang langsung
ditertawakan Erik.
18 Oktober
Hai Diary, aku ketemu Kakak dan ahh seorang yang
sangat tampan, Kak Tyo. Aku suka padanya, dia juga suka enggak ya sama aku.
Sepertinya Kak Djiwha tidak suka padanya.
Mata Djiwha memanas, hatinya terluka. Dia begitu
marah pada Kevin Prasetyo .
20 Oktober
Dear diary malam ini Kak Kevin mengajakku
jalan-jalan, ini pasti mengasyikan. Semoga kami jadian, ahh ... tapi kata Kak
Djiwha dia punya pacar.
Kali ini Djiwha
terhenti membuka lembar berikutnya, dia serasa membuka sebuah buku kematian.
Dia tidak ingin membacanya, dia takut melihat isi curahan hati adiknya tapi,
dia penasaran dan akhirnya dia membaca lembar berikutnya yang isinya tidak
karuan karena Erina dalam keadaan tidak stabil, ada coretan-coretan bunga yang
berguguran dan hati yang terluka.
10 November
Dear diary, aku merasa tidak berharga sekarang ini.
Aku ingin menceritakan semuanya pada Kakak, tapi aku takut sangat takut ...
maafkan aku Kak Djiwha, aku membuatmu susah setiap hari menemaniku meski aku
tak menanggapimu.
Djiwha
meneteskan air matanya, rasa sakit menggelayuti hatinya.
15 November
Aku tidak menginginkannya, aku tidak mau anak ini
ada dalam perutku! Mereka brengsek sialan! Bastard tega-teganya menanamkan
benih ini di rahimku! Papa ... Mama ... tolong aku!
Djiwha berhenti
menangis, dahinya berkerut. Dia membaca ulang tulisan adiknya, Mereka? Siapa
mereka yang Erina maksud? Djiwha semakin penasaran, dia pun membaca lagi
tulisan selanjutnya.
1 Desember
Kak maafkan aku, aku tidak kuat lagi menahan segala
rasa malu ini. Untuk apa aku hidup. Kak maafkan aku yang tidak pernah jujur
padamu, aku takut sangat takut. Mereka yang sudah keji padaku, mereka yang
telah menyakitiku. Kak ... aku takut,, aku melihat semuanya jelas di mataku
malam itu. Sesuatu yang tidak ingin kulihat dan kurasakan, mereka memukuli Kak
Tyo dan melemparkannya entah di mana, aku dibawa ke gudang. Mereka menamparku,
mereka melucuti bajuku. Kak aku takut ,... tolong aku, aku tidak mau melayani
napsu bejat mereka, mereka memperkosaku dan mengumpat namamu di hadapanku. Maafkan
aku Kak ... aku tidak bisa lagi menjalani hidupku, maafkan aku ....
Buku diary itu
terjatuh dari tangan Djiwha. Dia bergetar menahan rasa di dadanya, Djiwha tidak
percaya pada apa yang ditulis adiknya, kalau bukan Tyo lalu siapa yang telah
merenggut kehormatan Erina dan
membuat diadepresi hingga kehilangan nyawa? Djiwha
tergesa masuk ke kamar , mengambil kunci mobil dan ponsel. Buku diary milik
Erina dia bawa dan tergesa keluar dari rumah. Erik dan Maya yang sedang berebut
camilan pun kaget melihat adik mereka seperti kesetanan.
“Ada apa lagi?”
tanya Erik kaget begitu juga Maya.
“Gue harus
bertemu Kevin.”
“Tidak, jangan
membuat masalah. Kasus kemarin saja baru selesai di kepolisian, gue ikut sama
lo.”
“Itu lebih
baik.” Erik segera mengambil jaket dan ponsel lalu mengikuti Djiwha. Mereka
masuk ke mobil dan segera meluncur ke rumah sakit tempat di mana Kevin dirawat.
Erik merasa khawatir, dia takut Djiwhaakan berbuat yang tidak-tidak pada Kevin. Akhirnya mereka tiba di rumah sakit,
dengan sedikit berlari Djiwha dan Erik bertanya pada petugas rumah sakit.
Mereka mengatakan jika Kevin sudah diperbolehkan pulang, Djiwha dan Erik
kemudian mendatangi rumah lama Kevin, kosong tidak ada siapa pun di sana.
__ADS_1
“Sebenarnya ada
apa?”
“Baca ini.”
Djiwha menyodorkan buku diary Erina pada Erik, meski belum mengerti maksud dan
tujuan adiknya Erik membuka dan membacanya. Matanya melotot tajam, dia
benar-benar kaget melihat bab akhir dari tulisan Erina. Dia menoleh pada Djiwha
yang fokus menyetir mobilnya.
“Ke mana lagi
kita akan mencarinya?”
“Hanya ada satu
tempat,” ujar Djiwha lalu melacu meninggalkan rumah lama Kevin, sepanjang
perjalanan semua rasa berkecamuk dalam otaknya. Siapa sebenarnya yang melukai Erinadan membuatnya
kehilangan nyawa secara tidak adil? Djiwha berhenti di tempat pemakaman khusus
keluarganya, dia yakin bunga-bunga yang ada di kuburan Erina adalah pemberian
Kevin. Mereka berdua menuju ke tempat peristirahatan terakhir Erina dan langkah
mereka terhenti melihat seorang pemuda yang tengah memegang batu nisan Erina
dan meletakkan bunga mawar.
“Maafkan aku
Erina ... aku adalah pengecut, meninggalkanmu di sana dan tidak berani berkata
jujur pada kedua Kakakmu kalau malam itu aku ....” Air matanya menetes, sebelum
jatuh di atas pusara Erina dia buru-buru menghapusnya. Dia tidak sanggup dan
tidak tahan berlama-lama di tempat itu.
“Sudah gue duga,
ternyata lo yang naruh bunga di sana setiap kali kami ke sini.” Djiwha dan Erik
menghampiri Kevin, Kevin tampak bingung tapi, kemudian dia menarik napasnya dan
berusaha bersikap normal, biar bagaimana pun masalah harus diselesaikan bukan
lari.
“Iya bener kata
lo, gue yang naruh bunga mawar di sana. Ada apa lagi? Belum puas lo hajar gue
kemarin?”
“Cih, sampai
kapan lo bersikap pengecut seperti itu kevin Prasetyo?!” Djiwha maju beberapa
langkah dan menatap Kevin, mereka saling bertatapan sampai akhirnya Kevin
dibuat terkejut dengan pelukan Djiwha.
“Kenapa? Kenapa
lo enggak bilang? Seharusnya lo jujur kalau bukan lo yang bikin adik gue
sakit.” Erik mengelus dada, kekhawatirannya hilang melihat adiknya lebih dewasa
menghadapi masalah.
“Lo ... udah
tahu semuanya?”
“Iya, gue tahu.
Gue baca buku diary Erina, sekarang lo bilang sama gue siapa yang bikin adik
gue sakit?” Djiwha mencengkram bahu Kevin dan menatapnya tajam.
“Dia ....”
Jakarta malam
hari tanpa hingar bingar terutama di sebuah tempat. Anak muda dengan uang
berlimpah dan diwarisi kekayaan oleh orang tua mereka sibuk berpesta. Dentum
musik mengalun dan mereka menggoyangkan badan ke sana ke mari seperti cacing
kepanasan. Sesosok gadis duduk dengan perasaan tidak nyaman, terutama dengan
baju yang dibelikan sang pacar yang dirasa minim. Dia berusaha menutupinya
dengan tangan meski itu tidak berhasil, teman-teman pacarnya berteriak,
bersorak dan mengacungkan tangan mereka ke atas.
“Kenapa kita ke
sini?”
“Bersenang-senang,
Sayang. Kenapa? Kamu enggak suka? Ayolah!”
sini saja Aruna. Jika kamu mau ke sana silakan saja sendiri,” ujar Wiwi, dia
merasa tidak nyaman. Harusnya dia di rumah Raina menuruti permintaan Ayah Raina
untuk menemani putrinya yang sedang gegana, gelisah galau merana. Namun, Aruna
mengirim sms yang mengajaknya pergi ke pesta ulang tahun temannya, Wiwi tidak
tahu kalau Aruna akan membawa diake club tempat yang sangat dia benci. Wiwi bingung dan merasa menyesal, dia
sangat senang saat Aruna datang dan meminta maaf lalu berjanji tidak akan
mengulang kesalahan yang sama. Wiwi percaya karena perubahan Aruna begitu
meyakinkan, tidak lagi merokok, minum dan bermain perempuan. Namun, semakin ke
sini Aruna malah mengajaknya macam-macam, meskipun Wiwi selalu menolaknya.
“Sayang, jangan
diam di sana. Ayo minum bersamaku.” Aruna mendekati Wiwi, dia hendak mencium
gadis itu tapi Wiwi
buru-buru mendorongnya. Aruna tampak marah lalu meninggalkan Wiwi sendiri dan
melantai menari bersama perempuan lain. Wiwi kecewa, hatinya sakit dan terluka,
benar kata Raina ‘Jika dia mencintaimu
maka dia akan menerimamu apa adanya, bukan menyuruhmu menjadi orang lain dan
memakai barang yang tidak kamu suka’.
“Ayolah, jangan
diam di sana terus. Ikut bersamaku!” Aruna menarik tangan Wiwi yang sedang menunduk. Wiwi berteriak kesakitan dan
berusaha melepaskan diri, Aruna semakin kencang menarik tangan Wiwi hingga
gadis itu terjatuh dan menangis.
“Kamu pikir aku
membelikanmu semua dengan uangku gratis? Hah?! Kamu harusnya tahu cara
berterima kasih padaku, gadis cupu!” Aruna hendak menjambak rambut Wiwi tapi,
sebuah tangan mencengkramnya terlebih dulu.
“Apa kabar,
Aruna? Inikah cara lo memperlakukan seorang gadis? Apa seperti itu dulu lo
memaksa Erina, adik gue!” Djiwha menatap tajam Aruna, matanya tampak memerah.
Musik berhenti, suasana di sana tampak mencekam. Aura sang Devil Dog membuat
para teman-teman Aruna gemetar ketakutan.
“Djiwha? Lepasin
gue, apa maksud lo? Hah?!”
“Jangan
pura-pura bedebah, lo harus terima karma atas perbuatan lo!”
Buagh!
Sebuah pukulan
mendarat di wajah Aruna, para gadis menjerit. Semua berhamburan keluar tapi
teman-teman Aruna tidak tinggal diam mereka bersama-sama mengkroyok Djiwha.
Namun, Erik dan Kevin juga tidak mau menanggung resiko, mereka ikut membantu
Djiwha, bagai pertarungan antar geng mereka saling memukul dan menendang.
Meskipun, teman-teman Aruna lebih banyak tapi, mereka kalah karena terpengaruh
minuman keras hingga membuat tenaga mereka berkurang. Aruna sudah kepayahan
mendapat serangan Djiwha sang Devil Dog yang tengah mengamuk murka.
“Ampun, gue
minta maaf ... gue mohon jangan bunuh gue, Wha.” Aruna gemetar, darah keluar
dari hidung dan mulutnya, wajahnya bonyok terkena pukulan Djiwha yang membabi
buta.
“Apa dengan
maafin lo, Erina bakal balik?” Djiwha mengambil sebuah botol minuman dan
memecahkannya, dia mendekati Aruna yang sudah tampak kepayahan.
“Gue benci sama
lo, gue pengen bunuh lo saat ini juga tapi, gue yakin Erina enggak suka gue
lakuin ini.” Djiwha bergetar mencengkram botol yang tadinya dia ingin gunakan
untuk menghabisi nyawa Aruna. Suara sirene mobil polisi terdengar di luar, Erik
__ADS_1
menelpon polisi karena takut adiknya berbuat jauh. Polisi datang mengacungkan
senjatanya,”Angkat tangan!”
“Djiwha
Mahardika? Apa kamu enggak bosan bikin masalah?” tanyanya pada Djiwha.
“Bawa bedebah
ini! Jangan banyak omong, ini terakhir kalinya gue bikin masalah!” Djiwha
merapikan bajunya lalu keluar begitu saja dari Club dan masuk ke dalam mobil
polisi tanpa diperintah. Teman-teman Aruna ikut dibawa, begitu juga dengan
Aruna. Erik menghampiri Wiwi dan memberikan jaketnya pada Wiwi.
“Pakai itu,
tutupi bagian atas tubuhmu.” Wiwi menerima jaket Erik dan memakainya.
“Gue susul
Djiwha ke kantor polisi buat kasih penjelasan dan saksi. Lo antar Wiwi pulang,
Rik.” Kevin ke luar dari Club menyusul Djiwha sedangkan Erik mengantarkan Wiwi
ke rumahnya.
***
Djiwha meremas
jari-jari tangannya, sesekali dia menengok ke arah lain. Erik tersenyum melihat
adiknya yang pura-pura tenang padahal hatinya gelisah. Pesawat yang akan
membawanya ke Belanda sebentar lagi lepas landas tapi, Djiwha tampak gelisah dan
berharap seseorang akan datang bahkan menahan kepergiannya. Suara wanita di
pengeras suara memberi tahu jika penumpang diharap bersiap-siap, Mama Djiwha
tampak sedih melihat putra gantengnyaakan pergi mengikuti sang suami. Dia menangis dan memeluk Djiwha,
berharap bisa selamat dan kembali ke Indonesia secepatnya. Setelah memeluk mama,
Djiwha memeluk Maya dan juga Erik mereka mengucapkan say god bye pada Djiwha.
“Tenang saja
adikku, dia pasti datang. Supirman sedang membawanya kemari.” Erik menepuk
pundak Djiwha.
“Apa maksud lo?
Dia siapa?” Djiwha pura-pura acuh dan bergegas menyeret kopernya tapi, suara
seseorang memanggil namanya dan membuat Djiwha berbalik melihat ke belakang.
Raina berdiri dengan wajah berantakan, dia masih memakai piyama tidur. Djiwha
ingin tertawa melihat gadis itu tampak
aneh dengan piyama tidur. Dia perlahan mendekati Djiwha, ”Kamu mau pergi
ninggalin aku? Kamu beneran marah sama aku?” Raina terisak tanpa ragu-ragu dia
berlari dan memeluk Djiwha. Djiwha membalas pelukan Raina dan mengelus rambut
ikal sang gadis dengan perlahan dan penuh sayang.
“Dasar
kardus, buaya buntung, katanya cinta sama aku, kenapa ninggalin aku?” Raina
memukul pelan dada Djiwha.
“Maafin gue,
Raina. Kemarin gue kasar sama lo.”
“Enggak,
harusnya aku yang minta maaf sama kamu, maafin aku.”
“Ck, kenapa lo
keras kepala sih? Hei! Kayaknya Sleeping Beauty baru bangun, ya?”
“Iya, aku baru
bangun mengejarmu Devil Dog.” Raina memukul dada Djiwha lagi, mereka tertawa
bersama.
“Pesawat gue
udah mau berangkat, udah ya ... gue harus pergi.”
“Enggak boleh,
kamu enggak boleh pergi. Aku sayang sama kamu, Wha.”
“Gue tahu. Gue
juga sayang sama lo, makanya gue pergi.”
“Apa maksudmu?”
Raina menatap Djiwha. Rupanya dia bertambah tampan dengan kantung mata yang
mulai memudar.
“Rai, anggaplah
sekarang gue anak SMA berandalan. Gue ke Belanda supaya gue bisa jadi cowok
dewasa yang lebih baik lagi agar gue siap nantinya buat ....”
“Buat apa?”
“Buat jadiin lo
Ibu dari anak-anak gue, Rai.” Raina tersenyum mendengar pernyataan seduktif dari Djiwha, pipinya memerah.
“Tunggu gue,
Raina.” Djiwha melepas tangannya dan berbalik sebelum melangkah dia melambaikan
tangan pada Raina.
“Aku menunggumu,
Devil.” Raina tersenyum, sebuah pelukan membuatnya terkejut. Mama Djiwha
memeluknya erat, “Akhirnya, kamu jadi mantu Mama!”
Beberapa tahun
kemudian ....
Djiwha berada di
Belanda. Raina dan dirinya berhubungan dengan email dan chatting. Di sekolah,
Raina semakin banyak musuh tapi, dia punya dua Devil yang siap menjaganya.
Kevin dan Wiwi yang siap sedia membela dan membantunya dari para pembuly, Erik
sudah tidak menjomblo lagi, dia jadian dengan gadis manis berkacamata siapa
lagi kalau bukan Wiwi. Sejak peristiwa di Club dan diantar pulang, hubungan
mereka semakin dekat. Setelah lulus sekolah Erik kuliah di Jakarta agar bisa
menjaga mamanya, Maya bekerja di cabang perusahaan milik mamanya dengan sang
suami. Sedangkan Raina kuliah sambil mengajar di sebuah taman kanak-kanak tanpa
dibayar. Reza sudah masuk SMP dan Kevin dia memilih ikut mamanya ke Surabaya,
melanjutkan study dan meraih gelar sarjana kedokteran.
“Sekarang, coba
gambar binatang yang kalian suka, ya. “
“Baik, Bu
Raina!”
“Bu, Dido nakal
... dia ambil pensilku.”
“Dido, Sayang.
Jangan ambil pensil Melati, ya. Dido ayo minta maaf sama Melati,” ujar Raina
mengajarkan muridnya dengan lembah lembut dan penuh kasih sayang.
“Aku juga mau
disayang Bu Raina.” Raina berbalik melihat ke arah pintu masuk, seseorang
tersenyum padanya. Raina berkaca-kaca, semuanya sudah berubah tidak seperti
dulu lagi. Wajahnya tampak semakin
tampan tanpa kantung mata, rahangnya yang tegas membuatnya semakin terlihat
matang di usianya yang semakin dewasa. Raina berdiri dan melangkah menghampirinya,
dia tersenyum dengan wajah berurai air mata.
“Astaga, aku
datang jauh-jauh kemari dan kamu malah menyambutku dengan air mata?”
“Aku bahagia dan
terharu.”
“Kamu akan lebih
terharu dengan ini.” Djiwha yang datang dengan berbalut jas hitam dan rambut tersisir
rapi ala Ceo di film-film Hollywood, menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna
merah.
“Will you marry me?”ujarnya membuka kotak itu dan memperlihatkannya pada Raina. Raina menutup
mulutnya dan meneteskan air mata bahagia. Guru lain dan murid-muridnya bersorak
girang saat Raina menganngguk dan menerima cincin bermata safir biru itu.
__ADS_1
NB: apakah kalian ingin ini ditambah? kalian penasaran kehidupan mereka selanjutnya? beri aku cinta dan dukungan kalian ya ^^