A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
Beautifull Goodbye


__ADS_3

Bintang-bintang


kemerlip di atas awan, Djiwha termenung di jendela kamar Erina. Posisinya


persis seperti dulu saat Erina tersenyum dan meninggalkannya. Djiwha teringat


semua kenangannya di Bali bersama Raina, mereka mendengarkan musik bersama lalu


melihat bintang yang bertabur indah di angkasa. Saat bintang jatuh mereka


menutup mata dan meminta sebuah permohonan.


“Apa yang lo


minta?”


“Itu rahasia.”


“Apa yang kamu


minta?”


“Itu juga


rahasia.”


Djiwha menarik


napas panjang, udara malam terasa menyentuh kulitnya hingga ke sum-sum, “Lo


enggak tahu apa yang gue minta malam itu, Rai? Gue minta supaya kita terus


bersama selamanya karena gue cinta sama lo.” Djiwha bergumam entah pada siapa,


dia menutup jendela lalu duduk di ranjang Erina, menyentuh kasur empuk dengan


seprei berwarna pink itu.


“Aku pergi,


Erina. Aku ingin jadi manusia yang lebih baik lagi agar tidak membuat Mama dan


Papa kecewa.” Djiwha mengambil sebuah boneka panda yang tadi dipeluk Raina. Dia


masih bisa mencium harum Raina yang tertinggal di sana, “Apakah aku keterlaluan


padanya, Erina?” ujar Djiwha memeluk boneka itu dan menghirup aroma gadis yang


dicintainya dalam-dalam seolah malam itu adalah malam terakhir dia bersamanya,


bersama aromanya bukan raganya. Tangannya mennyentuh sesuatu di dalam boneka,


seperti ada gundukan keras. Djiwha mengernyitkan keningnya, kemudian merogoh


punggung boneka yang ternyata sobek karena benda tajam. Djiwha menemukan sebuah


kunci kecil, tepatnya kunci buku diary milik Erina. Dia tidak pernah memeriksa


barang-barang Erina setelah meninggal, dia juga baru tahu jika punggung boneka


pemberiannya sobek. Djiwha membuka laci lemari Erina dan melihat isinya, di


sana terdapat sebuah buku diary bersampul beruang berwarna pink. Djiwha


memasukkan kunci itu perlahan dengan jantunng berdegup kencang dan gemetar.


Halaman pertama terdapat foto Erina yang sedang berpose dengan paman. Kemudian


di lembar selanjutnya ada goresan-goresan pena dengan tulisan rapi milik Erina.


10 Oktober


Dear Diary, aku sedih karena Ayah meninggal.


Meskipun sekarang aku kembali pada Papa dan Mama, aku kangen Ayah, miss you


Ayah.


11 Oktober


Diary aku pulang ke Indonesia, aku bakalan ketemu


Kak Maya, Kak Erik dan juga yang pasti Kak Djiwha orang yang paling kurindukan


saat di Amerika. Aku bawa oleh-oleh untuknya, semoga dia suka.


Djiwha tersenyum


membaca  isi diary itu, dia ingat betul


Erina datang dan membawa cokelat serta sebuah kotak musik yang langsung


ditertawakan Erik.


18 Oktober


Hai Diary, aku ketemu Kakak dan ahh seorang yang


sangat tampan, Kak Tyo. Aku suka padanya, dia juga suka enggak ya sama aku.


Sepertinya Kak Djiwha tidak suka padanya.


Mata Djiwha memanas, hatinya terluka. Dia begitu


marah pada Kevin Prasetyo .


20 Oktober


Dear diary malam ini Kak Kevin mengajakku


jalan-jalan, ini pasti mengasyikan. Semoga kami jadian, ahh ... tapi kata Kak


Djiwha dia punya pacar.


Kali ini Djiwha


terhenti membuka lembar berikutnya, dia serasa membuka sebuah buku kematian.


Dia tidak ingin membacanya, dia takut melihat isi curahan hati adiknya tapi,


dia penasaran dan akhirnya dia membaca lembar berikutnya yang isinya tidak


karuan karena Erina dalam keadaan tidak stabil, ada coretan-coretan bunga yang


berguguran dan hati yang terluka.


10 November


Dear diary, aku merasa tidak berharga sekarang ini.


Aku ingin menceritakan semuanya pada Kakak, tapi aku takut sangat takut ...


maafkan aku Kak Djiwha, aku membuatmu susah setiap hari menemaniku meski aku


tak menanggapimu.


Djiwha


meneteskan air matanya, rasa sakit menggelayuti hatinya.


15 November


Aku tidak menginginkannya, aku tidak mau anak ini


ada dalam perutku! Mereka brengsek sialan! Bastard tega-teganya menanamkan


benih ini di rahimku! Papa ... Mama ... tolong aku!


Djiwha berhenti


menangis, dahinya berkerut. Dia membaca ulang tulisan adiknya, Mereka? Siapa


mereka yang Erina maksud? Djiwha semakin penasaran, dia pun membaca lagi


tulisan selanjutnya.


1 Desember


Kak maafkan aku, aku tidak kuat lagi menahan segala


rasa malu ini. Untuk apa aku hidup. Kak maafkan aku yang tidak pernah jujur


padamu, aku takut sangat takut. Mereka yang sudah keji padaku, mereka yang


telah menyakitiku. Kak ... aku takut,, aku melihat semuanya jelas di mataku


malam itu. Sesuatu yang tidak ingin kulihat dan kurasakan, mereka memukuli Kak


Tyo dan melemparkannya entah di mana, aku dibawa ke gudang. Mereka menamparku,


mereka melucuti bajuku. Kak aku takut ,... tolong aku, aku tidak mau melayani


napsu bejat mereka, mereka memperkosaku dan mengumpat namamu di hadapanku. Maafkan


aku Kak ... aku tidak bisa lagi menjalani hidupku, maafkan aku ....


Buku diary itu


terjatuh dari tangan Djiwha. Dia bergetar menahan rasa di dadanya, Djiwha tidak


percaya pada apa yang ditulis adiknya, kalau bukan Tyo lalu siapa yang telah


merenggut kehormatan Erina dan


membuat diadepresi hingga kehilangan nyawa? Djiwha


tergesa masuk ke kamar , mengambil kunci mobil dan ponsel. Buku diary milik


Erina dia bawa dan tergesa keluar dari rumah. Erik dan Maya yang sedang berebut


camilan pun kaget melihat adik mereka seperti kesetanan.


“Ada apa lagi?”


tanya Erik kaget begitu juga Maya.


“Gue harus


bertemu Kevin.”


“Tidak, jangan


membuat masalah. Kasus kemarin saja baru selesai di kepolisian, gue ikut sama


lo.”


“Itu lebih


baik.” Erik segera mengambil jaket dan ponsel lalu mengikuti Djiwha. Mereka


masuk ke mobil dan segera meluncur ke rumah sakit tempat di mana Kevin dirawat.


Erik merasa khawatir, dia takut Djiwhaakan berbuat yang tidak-tidak pada Kevin. Akhirnya mereka tiba di rumah sakit,


dengan sedikit berlari Djiwha dan Erik bertanya pada petugas rumah sakit.


Mereka mengatakan jika Kevin sudah diperbolehkan pulang, Djiwha dan Erik


kemudian mendatangi rumah lama Kevin, kosong tidak ada siapa pun di sana.

__ADS_1


“Sebenarnya ada


apa?”


“Baca ini.”


Djiwha menyodorkan buku diary Erina pada Erik, meski belum mengerti maksud dan


tujuan adiknya Erik membuka dan membacanya. Matanya melotot tajam, dia


benar-benar kaget melihat bab akhir dari tulisan Erina. Dia menoleh pada Djiwha


yang fokus menyetir mobilnya.


“Ke mana lagi


kita akan mencarinya?”


“Hanya ada satu


tempat,” ujar Djiwha lalu melacu meninggalkan rumah lama Kevin, sepanjang


perjalanan semua rasa berkecamuk dalam otaknya. Siapa sebenarnya yang melukai Erinadan membuatnya


kehilangan nyawa secara tidak adil? Djiwha berhenti di tempat pemakaman khusus


keluarganya, dia yakin bunga-bunga yang ada di kuburan Erina adalah pemberian


Kevin. Mereka berdua menuju ke tempat peristirahatan terakhir Erina dan langkah


mereka terhenti melihat seorang pemuda yang tengah memegang batu nisan Erina


dan meletakkan bunga mawar.


“Maafkan aku


Erina ... aku adalah pengecut, meninggalkanmu di sana dan tidak berani berkata


jujur pada kedua Kakakmu kalau malam itu aku ....” Air matanya menetes, sebelum


jatuh di atas pusara Erina dia buru-buru menghapusnya. Dia tidak sanggup dan


tidak tahan berlama-lama di tempat itu.


“Sudah gue duga,


ternyata lo yang naruh bunga di sana setiap kali kami ke sini.” Djiwha dan Erik


menghampiri Kevin, Kevin tampak bingung tapi, kemudian dia menarik napasnya dan


berusaha bersikap normal, biar bagaimana pun masalah harus diselesaikan bukan


lari.


“Iya bener kata


lo, gue yang naruh bunga mawar di sana. Ada apa lagi? Belum puas lo hajar gue


kemarin?”


“Cih, sampai


kapan lo bersikap pengecut seperti itu kevin Prasetyo?!” Djiwha maju beberapa


langkah dan menatap Kevin, mereka saling bertatapan sampai akhirnya Kevin


dibuat terkejut dengan pelukan Djiwha.


“Kenapa? Kenapa


lo enggak bilang? Seharusnya lo jujur kalau bukan lo yang bikin adik gue


sakit.” Erik mengelus dada, kekhawatirannya hilang melihat adiknya lebih dewasa


menghadapi masalah.


“Lo ... udah


tahu semuanya?”


“Iya, gue tahu.


Gue baca buku diary Erina, sekarang lo bilang sama gue siapa yang bikin adik


gue sakit?” Djiwha mencengkram bahu Kevin dan menatapnya tajam.


“Dia ....”


Jakarta malam


hari tanpa hingar bingar terutama di sebuah tempat. Anak muda dengan uang


berlimpah dan diwarisi kekayaan oleh orang tua mereka sibuk berpesta. Dentum


musik mengalun dan mereka menggoyangkan badan ke sana ke mari seperti cacing


kepanasan. Sesosok gadis duduk dengan perasaan tidak nyaman, terutama dengan


baju yang dibelikan sang pacar yang dirasa minim. Dia berusaha menutupinya


dengan tangan meski itu tidak berhasil, teman-teman pacarnya berteriak,


bersorak dan mengacungkan tangan mereka ke atas.


“Kenapa kita ke


sini?”


“Bersenang-senang,


Sayang. Kenapa? Kamu enggak suka? Ayolah!”


sini saja Aruna. Jika kamu mau ke sana silakan saja sendiri,” ujar Wiwi, dia


merasa tidak nyaman. Harusnya dia di rumah Raina menuruti permintaan Ayah Raina


untuk menemani putrinya yang sedang gegana, gelisah galau merana. Namun, Aruna


mengirim sms yang mengajaknya pergi ke pesta ulang tahun temannya, Wiwi tidak


tahu kalau Aruna akan membawa diake club tempat yang sangat dia benci. Wiwi bingung dan merasa menyesal, dia


sangat senang saat Aruna datang dan meminta maaf lalu berjanji tidak akan


mengulang kesalahan yang sama. Wiwi percaya karena perubahan Aruna begitu


meyakinkan, tidak lagi merokok, minum dan bermain perempuan. Namun, semakin ke


sini Aruna malah mengajaknya macam-macam, meskipun Wiwi selalu menolaknya.


“Sayang, jangan


diam di sana. Ayo minum bersamaku.” Aruna mendekati Wiwi, dia hendak mencium


gadis itu tapi Wiwi


buru-buru mendorongnya. Aruna tampak marah lalu meninggalkan Wiwi sendiri dan


melantai menari bersama perempuan lain. Wiwi kecewa, hatinya sakit dan terluka,


benar kata Raina ‘Jika dia mencintaimu


maka dia akan menerimamu apa adanya, bukan menyuruhmu menjadi orang lain dan


memakai barang yang tidak kamu suka’.


“Ayolah, jangan


diam di sana terus. Ikut bersamaku!” Aruna menarik tangan Wiwi yang sedang  menunduk. Wiwi berteriak kesakitan dan


berusaha melepaskan diri, Aruna semakin kencang menarik tangan Wiwi hingga


gadis itu terjatuh dan menangis.


“Kamu pikir aku


membelikanmu semua dengan uangku gratis? Hah?! Kamu harusnya tahu cara


berterima kasih padaku, gadis cupu!” Aruna hendak menjambak rambut Wiwi tapi,


sebuah tangan mencengkramnya terlebih dulu.


“Apa kabar,


Aruna? Inikah cara lo memperlakukan seorang gadis? Apa seperti itu dulu lo


memaksa Erina, adik gue!” Djiwha menatap tajam Aruna, matanya tampak memerah.


Musik berhenti, suasana di sana tampak mencekam. Aura sang Devil Dog membuat


para teman-teman Aruna gemetar ketakutan.


“Djiwha? Lepasin


gue, apa maksud lo? Hah?!”


“Jangan


pura-pura bedebah, lo harus terima karma atas perbuatan lo!”


Buagh!


Sebuah pukulan


mendarat di wajah Aruna, para gadis menjerit. Semua berhamburan keluar tapi


teman-teman Aruna tidak tinggal diam mereka bersama-sama mengkroyok Djiwha.


Namun, Erik dan Kevin juga tidak mau menanggung resiko, mereka ikut membantu


Djiwha, bagai pertarungan antar geng mereka saling memukul dan menendang.


Meskipun, teman-teman Aruna lebih banyak tapi, mereka kalah karena terpengaruh


minuman keras hingga membuat tenaga mereka berkurang. Aruna sudah kepayahan


mendapat serangan Djiwha sang Devil Dog yang tengah mengamuk murka.


“Ampun, gue


minta maaf ... gue mohon jangan bunuh gue, Wha.” Aruna gemetar, darah keluar


dari hidung dan mulutnya, wajahnya bonyok terkena pukulan Djiwha yang membabi


buta.


“Apa dengan


maafin lo, Erina bakal balik?” Djiwha mengambil sebuah botol minuman dan


memecahkannya, dia mendekati Aruna yang sudah tampak kepayahan.


“Gue benci sama


lo, gue pengen bunuh lo saat ini juga tapi, gue yakin Erina enggak suka gue


lakuin ini.” Djiwha bergetar mencengkram botol yang tadinya dia ingin gunakan


untuk menghabisi nyawa Aruna. Suara sirene mobil polisi terdengar di luar, Erik

__ADS_1


menelpon polisi karena takut adiknya berbuat jauh. Polisi datang mengacungkan


senjatanya,”Angkat tangan!”


“Djiwha


Mahardika? Apa kamu enggak bosan bikin masalah?” tanyanya pada Djiwha.


“Bawa bedebah


ini! Jangan banyak omong, ini terakhir kalinya gue bikin masalah!” Djiwha


merapikan bajunya lalu keluar begitu saja dari Club dan masuk ke dalam mobil


polisi tanpa diperintah. Teman-teman Aruna ikut dibawa, begitu juga dengan


Aruna. Erik menghampiri Wiwi dan memberikan jaketnya pada Wiwi.


“Pakai itu,


tutupi bagian atas tubuhmu.” Wiwi menerima jaket Erik dan memakainya.


“Gue susul


Djiwha ke kantor polisi buat kasih penjelasan dan saksi. Lo antar Wiwi pulang,


Rik.” Kevin ke luar dari Club menyusul Djiwha sedangkan Erik mengantarkan Wiwi


ke rumahnya.


***


Djiwha meremas


jari-jari tangannya, sesekali dia menengok ke arah lain. Erik tersenyum melihat


adiknya yang pura-pura tenang padahal hatinya gelisah. Pesawat yang akan


membawanya ke Belanda sebentar lagi lepas landas tapi, Djiwha tampak gelisah dan


berharap seseorang akan datang bahkan menahan kepergiannya. Suara wanita di


pengeras suara memberi tahu jika penumpang diharap bersiap-siap, Mama Djiwha


tampak sedih melihat putra gantengnyaakan pergi mengikuti sang suami. Dia menangis dan memeluk Djiwha,


berharap bisa selamat dan kembali ke Indonesia secepatnya. Setelah memeluk mama,


Djiwha memeluk Maya dan juga Erik mereka mengucapkan say god bye pada Djiwha.


“Tenang saja


adikku, dia pasti datang. Supirman sedang membawanya kemari.” Erik menepuk


pundak Djiwha.


“Apa maksud lo?


Dia siapa?” Djiwha pura-pura acuh dan bergegas menyeret kopernya tapi, suara


seseorang memanggil namanya dan membuat Djiwha berbalik melihat ke belakang.


Raina berdiri dengan wajah berantakan, dia masih memakai piyama tidur. Djiwha


ingin tertawa  melihat gadis itu tampak


aneh dengan piyama tidur. Dia perlahan mendekati Djiwha, ”Kamu mau pergi


ninggalin aku? Kamu beneran marah sama aku?” Raina terisak tanpa ragu-ragu dia


berlari dan memeluk Djiwha. Djiwha membalas pelukan Raina dan mengelus rambut


ikal sang gadis dengan perlahan dan penuh sayang.


“Dasar


kardus, buaya buntung, katanya cinta sama aku, kenapa ninggalin aku?” Raina


memukul pelan dada Djiwha.


“Maafin gue,


Raina. Kemarin gue kasar sama lo.”


“Enggak,


harusnya aku yang minta maaf sama kamu, maafin aku.”


“Ck, kenapa lo


keras kepala sih? Hei! Kayaknya Sleeping Beauty baru bangun, ya?”


“Iya, aku baru


bangun mengejarmu Devil Dog.” Raina memukul dada Djiwha lagi, mereka tertawa


bersama.


“Pesawat gue


udah mau berangkat, udah ya ... gue harus pergi.”


“Enggak boleh,


kamu enggak boleh pergi. Aku sayang sama kamu, Wha.”


“Gue tahu. Gue


juga sayang sama lo, makanya gue pergi.”


“Apa maksudmu?”


Raina menatap Djiwha. Rupanya dia bertambah tampan dengan kantung mata yang


mulai memudar.


“Rai, anggaplah


sekarang gue anak SMA berandalan. Gue ke Belanda supaya gue bisa jadi cowok


dewasa yang lebih baik lagi agar gue siap nantinya buat ....”


“Buat apa?”


“Buat jadiin lo


Ibu dari anak-anak gue, Rai.” Raina tersenyum mendengar pernyataan seduktif dari Djiwha, pipinya memerah.


“Tunggu gue,


Raina.” Djiwha melepas tangannya dan berbalik sebelum melangkah dia melambaikan


tangan pada Raina.


“Aku menunggumu,


Devil.” Raina tersenyum, sebuah pelukan membuatnya terkejut. Mama Djiwha


memeluknya erat, “Akhirnya, kamu jadi mantu Mama!”


Beberapa tahun


kemudian ....


Djiwha berada di


Belanda. Raina dan dirinya berhubungan dengan email dan chatting. Di sekolah,


Raina semakin banyak musuh tapi, dia punya dua Devil yang siap menjaganya.


Kevin dan Wiwi yang siap sedia membela dan membantunya dari para pembuly, Erik


sudah tidak menjomblo lagi, dia jadian dengan gadis manis berkacamata siapa


lagi kalau bukan Wiwi. Sejak peristiwa di Club dan diantar pulang, hubungan


mereka semakin dekat. Setelah lulus sekolah Erik kuliah di Jakarta agar bisa


menjaga mamanya, Maya bekerja di cabang perusahaan milik mamanya dengan sang


suami. Sedangkan Raina kuliah sambil mengajar di sebuah taman kanak-kanak tanpa


dibayar. Reza sudah masuk SMP dan Kevin dia memilih ikut mamanya ke Surabaya,


melanjutkan study dan meraih gelar sarjana kedokteran.


“Sekarang, coba


gambar binatang yang kalian suka, ya. “


“Baik, Bu


Raina!”


“Bu, Dido nakal


... dia ambil pensilku.”


“Dido, Sayang.


Jangan ambil pensil Melati, ya. Dido ayo minta maaf sama Melati,” ujar Raina


mengajarkan muridnya dengan lembah lembut dan penuh kasih sayang.


“Aku juga mau


disayang Bu Raina.” Raina berbalik melihat ke arah pintu masuk, seseorang


tersenyum padanya. Raina berkaca-kaca, semuanya sudah berubah tidak seperti


dulu lagi. Wajahnya tampak  semakin


tampan tanpa kantung mata, rahangnya yang tegas membuatnya semakin terlihat


matang di usianya yang semakin dewasa. Raina berdiri dan melangkah menghampirinya,


dia tersenyum dengan wajah berurai air mata.


“Astaga, aku


datang jauh-jauh kemari dan kamu malah menyambutku dengan air mata?”


“Aku bahagia dan


terharu.”


“Kamu akan lebih


terharu dengan ini.” Djiwha yang datang dengan berbalut jas hitam dan rambut tersisir


rapi ala Ceo di film-film Hollywood, menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna


merah.


“Will you marry me?”ujarnya membuka kotak itu dan memperlihatkannya pada Raina. Raina menutup


mulutnya dan meneteskan air mata bahagia. Guru lain dan murid-muridnya bersorak


girang saat Raina menganngguk dan menerima cincin bermata safir biru itu.

__ADS_1


NB: apakah kalian ingin ini ditambah? kalian penasaran kehidupan mereka selanjutnya? beri aku cinta dan dukungan kalian ya ^^


__ADS_2