A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
You


__ADS_3

2 tahun lalu ....


Hiruk-pikuk


suara muda-mudi di jalanan kota yang sepi terdengar memecah keheningan malam.


Suara deru kendaraan beroda empat terdengar meramaikan suasana malam yang sepi,


tepat di mana orang-orang tengah beristirahat dengan nyenyak para remaja itu


sibuk menawar harga.


“Kalau gue


menang, mobil itu buat gue. Gimana lo setuju?” ujar salah satu remaja dengan


rambut di cat perak dan digelayuti dua wanita sexsy berbaju minim.


“Lo yakin mau


tanding sama gue malam ini?” Djiwha tertawa mengejek.


“Tentu saja


yakin, lo bakalan kalah malam ini.” Sang lawan benci direndahkan dia pun


mengacungkan dua tangan di udara meminta dukungan dari para sahabatnya. Setelah itu, dia masuk


ke mobil dengan warna merah metalik itu bersama dengan satu orang wanita yang


sepertinya sang kekasih pemuda itu. Satu orang wanita lain berdiri di depan


membawa bendera berwarna hitam, suara penonton makin bergemuruh menambah


suasana malam itu semakin memanas.


1...


2...


3...



Masing-masing


tak mau kalah, saling adu kepiawaian dalam mengendarai mobilnya. Djiwha begitu


santai menghadapi lawannya yang begitu berhasrat menginginkan mobil miliknya, saat melewati Djiwha


sang lawan mengacungkan tanda loser sambil tertawa lalu menginjak pedal gas


mobilnya hingga melaju kencang mendahului Djiwha.


“Jangan berlebihan.”


Djiwha menatap mobil lawannya yang jauh di depan mendahuluinya.


“Saatnya


beraksi!” ujarnya kemudian mengecangkan sabuk pengaman dan menginjak pedal gas


mobilnya.


“This show time.” Tidak ada yang mampu


menandingi kecepatan Djiwha, hanya dalam beberapa menit dia sudah jauh


mendahului sang lawan yang tertinggal jauh di belakang. Dia akhir finsih Djiwha melakukan aksi ,  memutar roda mobilnya hingga 360 derajat lalu


kembali ke kumpulan teman-temannya yang bersorak atas kemenangannya.


“Mana?” tanyanya


pada sang lawan yang menatapnya dengan wajah penuh amarah. Dia harus menepati


janji dan memberikan mobilnya pada Djiwha. Dia meludah ke tanah lalu pergi dari


hadapan Djiwha dengan penuh rasa malu.


“Selamat ya,


Bro. Lo emang jagoannya.”


“Gue emang jagoan,


lo baru tahu eh? Ke mana aja lo Tyo?”


“Ah, biasa.


Gue—“


“Urusan sama


cewek lagi? Kali ini siapa lagi ... eh?”


Tyo meninju bahu


Djiwha pelan, mereka memang bersahabat dari SMP. Di mana ada Tyo di situ ada Djiwha, ke mana pun


selalu bersama bahkan mereka dijuluki ‘Twice Devil’ .


“Buat lo saja,”


ucapnya melempar kunci mobil pada Erik.


“Ogah, ini model


kuno gue enggak suka.” Erik melempar kunci mobil itu pada Tyo, Tyo menangkapnya


lalu berkata, “Membosankan.” Kemudian mengambil tongkat besi dari dalam


mobilnya lalu memukul kaca mobil di depannya dengan sekuat tenaga hingga


hancur.


“Bakar saja


lah,” ujar Djiwha masuk ke mobilnya lalu melaju meninggalkan jalanan yang kini


sepi itu. Erik dan Tyo mengambil jerigen berisi bensin dan mereka benar-benar


membakar mobil itu danmeninggalkannya bergitu saja. Di kejauhan seseorang mengepalkan tinju dengan


penuh amarah, “ Awas kalian. Suatu saat kalian berdua akan hancur.” Kemudian


berlalu meninggalkan tempat itu dengan seringai di wajahnya.


Djiwha baru saja


tiba di rumah dengan


Erik dan Tyo. Saat dia membuka pintu seorang


gadis menghambur ke pelukannya, “ Kakak!” gadis berambut sebahu itu berteriak


girang.


“Erina? Kapan


datang dari Amerika?” tanya Erik tampak senang melihat gadis di depannya. Erina


adalah adik bungsu mereka namun, Erina tinggal di Amerika bersama paman mereka


yang tidak memiliki anak.


“Tadi siang,


kalian berdua ke mana saja?” tanya Erina tersenyum, dia benar-benar rindu


dengan keluarganya.


“Kamu ini, kalau


mau pulang telepon kami dulu biar bisa menjemputmu di bandara. Bagaimana ada


laki-laki yang menculikmu, kamu ‘kan cantik.” Erik mencubit pipi adiknya gemas.


Sudah lama mereka tidak bertemu, paman mereka sekarang sudah meninggal karena


stroke dan Erina pulang kembali ke Indonesia.


“Huh, dasar.


Kakak ini, sebelum aku diculik Kakak sudah memukul mereka duluan.” Erina


tertawa, sekilas matanya terpukau pada pemuda bermata cokelat yang sejak tadi


hanya tersenyum di samping kakaknya—Erik dan Djiwha.


“Siapa dia?”


tanya Erina pada Djiwha.


“Oh, dia teman


kami namanya Tyo. Nah, Tyo kenalin ini adik kita namanya—“


“Aku Erina.”


Erina mengulurkan tangannya pada Tyo, mereka pun berjabat tangan. Erina tersenyum


manis begitu pun juga Tyo. Namun, Djiwha buru-buru memisahkan keduanya.


“Jangan


macam-macam, ya. Erina sana masuk kamar, seharusnya kamu istirahat.” Djiwha


mendorong Erina supaya tidak dekat-dekat dengan Tyo.


Djiwha tahu


adiknya mungkin jatuh hati pada sahabatnya tapi, Djiwha tidak mau kalau sampai


mereka berhubungan. Namun, sepertinya Erina keras kepala. Beberapa kali Djiwha


mengingatkanya, Erina bersikeras untuk mendekati Tyo. Padahal Djiwha hanya tidak mau Erina


sakit hati, apalagi Tyo bukan tipe cowok yang setia. Setia menurut definsinya


adalah selingkuh tiada akhir bukan setia pada satu pasangan. Tyo juga beberapa


kali terkena kasus gara-gara perempuan, meski mereka bersahabat tapisifat keduanya jauh


beda seperti bumi dan langit. Malam itu seperti biasa Tyo datang ke rumah


temannya, dia sudah berjanji akan membawa Erina jalan-jalan berkeliling kota


Jakarta.


“Tyo, gue mau


ngomong sama lo.” Djiwha menarik tangan Tyo wajahnya tampak serius.


“Apaan? Lo mau


ngingetin gue ‘kan supaya jangan ngapa-ngapain adik lo, lo tenang aja, Bro.”


Tyo menepuk pundak Djiwha.


“Bukan gitu, gue


hanya—“


“Udah, gue


ngerti kok. Lo percaya sama gue deh, meski gue brengesek tapi gue bakalan jaga


Erina sampai kembali ke rumah dengan aman tanpa lecet.” Tyo memotong perkataan


Djiwha. Erik datang bersama dengan Erina dan Maya, Maya menatap tajam pada Tyo


seolah berkata,’Jaga dia atau lo mati’ Tyo tertawa melihat tiga complek brother itu menatapnya horor.


“Kalian membuat


Tyo takut.” Erina menggembungkan pipinya, pura-pura kesal.


“Bukan begitu,


kamu ini masih kecil. Masih SMP jangan dekat-dekat dengan serigala berbulu


domba.” Maya berkacak pinggang.


“Jangan pulang


malam-malam,” ujar Djiwha. Diantara kedua kakaknya dialah yang paling


menyayangi Erina.


“Iya, Ayah.”


Erina tertawa kecil lalu masuk ke mobil Tyo melambaikan tangan pada Djiwha dan


kedua kakaknya yang lain. Namun, Djiwha merasakan firasat buruk setelah Erina


pergi dengan sahabatnya. Djiwha menggelengkan kepalanya berusaha mengusir


pikiran buruk yang melayang di otaknya. Seperti Ayah yang takut dan cemas


dengan kepergian putrinya, Djiwha enggan tidur dia terus terjaga dan melihat ke


arah jam dinding. Entah kenapa hatinya merasakan sesuatu, sudah jam sepuluh


malam tidak ada tanda-tanda kedatangan Erina dan juga Tyo, ponsel mereka pun


mati dan tidak bisa dihubungi. Segera saja, dia mengambil jaket dan kunci


mobil, tanpa babibu lagi dia pergi mencari Erina. Tetes hujan turun membasahi


bumi, jalanan mulai tergenang air. Suara guntur dan halilintar menggelegar di


angkasa,menambah suasana


semakin mencekam. Djiwha kesal dan beberapa kali  memukul setir mobilnya, ponsel Tyo tidak


aktif membuatnya berpikiran negatif. Erina masih belia baru lulus SMP dan akan


melanjutkan ke SMA, dia sangat khawatir karena dia yang paling dekat dengan


Erina. Suara dering ponsel menginterupsi, Djiwha berhenti dan memeriksa sebuah


pesan whatsapp yang masuk dari nomor yang tidak ia kenal.


From : 083xxx


Lo mau tahu di mana adik kesayangan lo? Lo salah


udah percaya sama serigala kayak Tyo, datang ke gudang kosong dekat jembatan


Semanggi sebelah barat lo akan nemu kampung dengan gudang kosong. Di sana lo


bakalan nemu adik lo tapi, gue harap lo jangan kaget.


Djiwha buru-buru


menekan tombol call di ponselnya,


terdengar bunyi tuut beberapa kali tapi si pemilik nomor tidak mengangkatnya.


Djiwha buru-buru melaju kencang menuju tempat yang dimaksud si pemilik nomor


misterius. Djiwha melihat ke kanan dan ke kiri mencari gudang kosong yang


dimaksud si nomor misterius, mobilnya kemudian belok ke persimpangan yang


menuju sebuah perumahan kumuh. Di sisinya terdapat sebuah gudang bekas pabrik


entah apa, di sana sangat sepi karena gudang itu tertutup tingginya ilalang.


Djiwha turun dari mobilnya dan berjalan perlahan dengan cahaya penerangan dari


ponselnya, dia tidak peduli air hujan membasahi rambut dan tubuhnya.


Sreek!


Djiwha membuka


pintu gudang yang terlihat terbuka sedikit. Dia mencari-cari keberadaan Erina.


Sayup-sayup dia mendengar suara perempuan yang tengah terisak dan sangat lemah,


Djiwha menajamkan pendengarannya dan berlari mendekati tempat yang terlihat


kumuh dan gelap.


“Erina!” Djiwha


berteriak keras dan segera menutupi tubuh Erina yang biru, bajunya terlihat


sobek dan terkoyak .


“Kak Djiwha ...


maafin aku Kak, aku—“


“Jangan banyak


bicara. Sudah maafkan Kakak, Erina.” Djiwha merasakan amarah meletup dalam


dadanya. Ia benar-benar kecewa dengan orang yang sudah dia anggap seperti


saudara sendiri.


“Tyo!” giginya


gemeletuk menahan amarah. Djiwha menggendong Erina dan membawanya pergi ke


rumah sakit. Segera dia menghubungi mama, Erik, dan juga Maya. Berhari-hari


Erina dirawat di rumah sakit, bukan hanya tubuhnya yang terluka tapi juga


jiwanya. Erina enggan makan dan selalu menutup mulut rapat-rapat saat ditanyai perihal Tyo dan peristiwa yang


dialaminya. Tyo sendiri menghilang tanpa jejak, Djiwha dan Erik mencarinya, semua data tentangnya pun ikut menghilang entah ke mana. Tetangga yang ditanyai pun tidak tahu


mengenai keluarga Tyo, Tyo tinggal dengan sang


ayah karena ibunya pergi,


mereka bercerai. Djiwha merasa kecolongan, dia menyesal


percaya pada Tyo.


“Gue enggak akan


pernah maafin Tyo sampai mati!” Djiwha memukul dinding kamarnya, Erik


menenangkan.  Erina sudah dibawa ke rumah

__ADS_1


kembali tapi kejiwaannya belum kembali seperti sedia kala. Bulan berganti,


tubuhnya semakin kurus. Erina hanya mengurung diri di kamar, keluarga Mahardika


benar-benar bingung harus bagaimana lagi menangani Erina. Setiap malam Djiwha


tidak pernah tidur, terus menunggui adiknya,  bercerita apa pun yang membuat Erina senang, membelikan apa pun yang


Erina suka meski semua perhatian yang dia berikan dianggap angin oleh Erina.


Suatu malam, Djiwha seperti biasa mengantarkan Erina susu dan juga makan malam.


“Malam , Erina.


Adik Kakak yang paling cantik, mari makan malam. Mama sudah buatkan ayam


kesukaan Erina dan juga susu.” Djiwha menyimpan nampan berisi makanan di meja.


Biasanya Erina sedang duduk di kasur memainkan boneka panda sambil menangis


kemudian tertawa membuat luka di hati Djiwha semakin terasa perih. Namun, malam


itu Erina berdiri memandang bulan di angkasa, matanya terlihat sayu dan


menderita.


“Maafkan aku,


Kak.” Djiwha terkejut mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Erina.


“Tidak ada yang


perlu dimaafkan Erina,” ucap Djiwha memegang pundak adiknya.


“Kak, malam ini


Kakak harus tidur. Jangan khawatir padaku lagi, aku akan sembuh, Kak.” Erina


tersenyum pada sang kakak. Djiwha merasa perubahan besar dan aneh pada diri


Erina, kemarin dia masih sangat terluka lalu  malam ini dia terlihat baik-baik saja.


“Tapi, Erina. Kakak


tidak ma—“


“Kak, tidurlah.


Tinggalkan aku sendiri, malam ini. Besok Kakak akan melihat aku sembuh, aku


tidak akan menderita lagi dan membuat semua keluarga sedih.” Erina memegang


tangan Djiwha seperti memberi harapan. Djiwha tersenyum, lalu mengacak rambut


Erina kemudian berlalu meninggalkan Erina sendiri. Djiwha kembali ke kamar,


merebahkan tubuh di ranjang lalu memejamkan mata yang mendadak terasa berat.


Djiwha merasa mimpi semalam terlalu indah dan membuat bahagia, dia mimpi Erina


tersenyum ceria padanya seperti dulu. Djiwha turun dari ranjang dan buru-buru


mandi lalu berseragam rapi, sebelum pergi ke sekolah dia harus melihat Erina


terlebih dulu tapi, langkahnya terhenti saat mendengar jeritan mama.


“Erina! Tidak!”


Djiwha buru-buru


berlari meninggalkan kamarnya menuju kamar Erina, di sana terlihat mama


terduduk lesu di lantai sambil menangis, Erik dan Maya serta papa juga terlihat


panik dan buru-buru masuk ke kamar Erina. Mata mereka terbelalak melihat Erina


tergeletak tak bernyawa di lantai kamar dengan urat nadi yang putus, bibirnya


pucat pasi menyunggingkan senyum. Seluruh tubuh Djiwha bergetar, dia merasa


lututnya lemas.


“Harusnya aku


tidak tidur. Harusnya aku menemani dia, adik kecilku.” Djiwha merasa dunianya


berputar, sekejam dan sesadis apa pun dia terhadap musuh-musushnya di jalanan


tapi untuk


hal seperti ini dia benar-benar tidak sanggup dan merasa hancur. Erina sudah


dimakamkan, para pencari berita ditutup mulut rapat-rapat dengan uang dan


kekuasaan papa. Seluruh orang akan menggunjing kematian Erina, keluarga


Mahardika adalah orang terpandang. Djiwha tertunduk lesu di kamar Erina, dia


bisa merasakan detik-detik kematian adiknya yang sekarat dan terluka. Amarah dan


dendam menguasai pikiran dan


hatinya, bagaimana tidak adiknya terhina lalu


mati dengan cara mengenaskan dan itu semua karena Tyo, sahabatnya sendiri.


“Astaga!” Djiwha terkejut. Ia


menatap sekelilingnya terlihat sepi dan juga tenang. Dia mengusap wajahnya


berkali-kali, mimpi buruk apa yang dia alami? Dia baru ingat beberapa jam lalu


meninggalkan bengkel dengan perasaan kacau karena seseorang bernama Kevin yang


menurut teman-teman sekelasnya mantan pacar Raina. Dia memacu motonya kencang


hingga berhenti di sebuah taman dengan danau bening dan sejuk di depannya,


Djiwha merasa terbuai dengan sentuhan angin hingga terlelap di bangku taman.


Namun, mimpi buruk tentang masa lalu kematian Erina terulang bak kaset rusak,


dia pun bermimpi bertemu Tyo dan menghajarnya di depan orang banyak. Firasat


apalagi ini? Apakah mimpi itu hanya bunga tidur ataukah memang Tyo akan datang


kembali dan dia bisa menuntut balas atas kematian Erina?


Kantung mata


Djiwha semakin tebal. Hanya seminggu dia bisa tidur nyenyak, kemudian mimpi


buruk membuatnya enggan untuk memejamkan mata di malam hari. Dia selalu merasa


bersalah pada dirinya sendiri, kenapa waktu itu dia menuruti ucapan Erina untuk


tidur, kenapa dia harus memejamkan mata dan terbuai mimpi sedangkan adiknya


sekarat di kamar. Djiwha mematung di depan cermin kamarnya, bayangan wajah


Erina melintas di pelupuk mata dengan senyumnya yang ceria.


Deg!


Jantungnya


berdebar kencang dan terasa ngilu. Djiwha beranjak dari kamarnya menuju sebuah


kamar yang penuh masa lalu kelam, tangannya sudah memegang gagang pintu tapi,


suara mama yang lembut menginterupsi pergerakannya.


“Sudah dua


tahun,ya Erina pergi. Rasanya baru kemarin Mama melahirkannya lalu dia


meninggalkan Mama ke Amerika bersama Paman Musa dan dia kembali lalu—“


“Sudah, Ma. Jangan


diingat lagi, hari ini kita semua akan memperingati hari kematian Erina. Mari,


Ma ... kita sama-sama ke makam Erina.” Djiwha memeluk mamanya dan berusaha


memberikan ketenangan. Air mata mama terasa hangat mengalir menetes di dadanya,


hati Djiwha makin terluka.


Hari itu genap 2 tahun Erina pergi


meninggalkan luka di keluarga Mahardika. Papa yang menyibukkan diri dan


menenggelamkan semua kesedihannya di tumpukan tugas kantor, datang dari London dan bersama-sama


menuju tempat peristirahatan terakhir Erina. Mereka berlima turun dari mobil


dan menuju sebuah tempat pemakaman keluarga, mereka sampai di sebuah pusara


yang bertuliskan nama Erina Mahardika. Sebuah buket bunga mawar merah dan tulip


tergeletak di pusara Erina, nampak baru dan masih segar.


“Ma, menurut


Mama siapa yang menyimpan bunga ini? Setiap kali kita berkunjung pasti ada


yang lain, Ma?” tanya Erik. Sudah beberapa kali mereka berkunjung ke tempat itu


buket bunga yang sama selalu ada di atasnya, siapa yang sudah menaruhnya di


sana? Tempat pemakaman itu bahkan private dan hanya pihak keluarga saja yang


boleh datang itu pun harus meminta izin.


“Sudahlah, Rik.


Lebih baik kita berdoa untuk Erina, soal siapa yang menyimpan bunga di sana ,


mungkin teman atau keluarga jauh kita yang menyimpannya,” ucap papa sambil


berjongkok mencabuti rumput pendek yang tertinggal. Mereka semua khusyu berdoa


pada sang Khalik untuk Erina, sepasang mata cokelat menatap mereka dengan penuh


rasa sesal.


Raina tampak


sibuk menulis pekerjaan rumah yang baru saja diberikan gurunya. Kebetulan guru


yang harusnya mengajar tidak hadir karena melahirkan, akhirnya para siswa gaduh


di tempatnya masing-masing. Raina menyibukkan diri dengan mengerjakan PR, sedangkan


Wiwi asyik chattingan dengan teman-teman sosial media. Kelas yang semula ramai


mendadak hening saat seseorang masuk ke kelas, siapa lagi kalau bukan Djiwha


Mahardika. Raina tidak peduli dengan sekitarnya, Wiwi mencubit tangan gadis itu  berkali-kali tapi Raina seolah asyik


dengan pekerjaan rumahnya.


“Pura-pura, ya?


Mana balikin headset gue.” Djiwha mengambil buku tugas Raina.


“Hadeh. Enggak


usah berlebihan deh, nih aku balikin. Dari kemarin juga mau aku balikin salah


sendiri kabur.” Raina merogoh tasnya dan memberikan headset milik Djiwha. Semua


mata tertuju ke arahnya, Raina berusaha tidak peduli dan menerukan kegiatannya.


“Hm.”


Djiwha berlalu


dari hadapan Raina dan duduk di kursinya, dia memejamkan matan pura-pura tidur sambil


mendengarkan musik. Padahal hatinya kesal dengan sikap acuh Raina. Bel tanda


istirahat berbunyi, semua siswa merasa lega karena bisa terbebas dari aura si


Devil Dog.  Wiwi mengajak Raina ke


kantin, mereka pun pergi bersama, Djiwha mendecih kesal kesempatannya mendekati


Raina jadi gagal. Djiwha pun berinisiatif ikut bermain basket dengan anak-anak


lain meski mereka tampak ragu dan takut .  Akhirnya


mereka asyik bermain dan lupa dengan status Djiwha yang berandalan menyeramkan.


Suara sorak-sorai penonton yang kebanyakannya murid perempuan berteriak


mendukung si Devil Dog yang mempesona. Raina dan Wiwi ikut melihat, memang jika


Raina perhatikan pemuda berkantung mata itu terlihat tampan ketika sedang


bermain basket.


“Rai!”


“Eh. Ada apa,


Wi?”


“Kamu kok


melamun sambil senyum-senyum gitu sih?”


“Hah? Enggak


deh, Wi. Perasaan kamu aja kali, aku biasa aja tuh,”


“Jangan bohong


deh, Rai. Kamu dari tadi liatin Djiwha ‘kan?”


“Apaan sih, Wi.


Udah ah, aku mau ke toilet.” Raina meninggalkan Wiwi sendirian, Wiwi tersenyum


melihat rambut sahabatnya yang ikal tertiup angin. Hawa jatuh cinta terasa di


sekelilingnya, Wiwi tahu jika Raina mulai membuka hatinya untuk cowok lain


tapi, kenapa harus Djiwha?


Raina baru saja


keluar dari toilet dan mencari Wiwi, biasanya Wiwi asyik video call dengan


Aruna—mantan pacarnya. Wiwi sempat bercerita jika Aruna sepertinya ada niat


balikan dengannya, Raina mencari Wiwi hingga ke belakang sekolah. Namun, mata


Raina terbelalak saat melihat pemandangan indah di depannya. Tubuh atletis sixpack dan putih menggoda, tatto


berbentuk api hitam melingkar dari depan dada hingga belakang tubuhnya. Raina


menutup mulutnya, Djiwha membuka sebagian baju hingga perutnya yang


sixpack terpapar menggoda kaum hawa. Raina menyesal mencari Wiwi ke sana, dia


pun berbalik dan hendak pergi tapi, suara bariton menghentikan langkahnya.


“Ck, ternyata lo


itu pura-pura lugu, ya? Eh cewek mesum mau ke mana lo?” Djiwha berteriak


memanggil Raina dengan sebutan ‘Cewek mesum.’ Raina mengepalkan tangannya


kesal. Dia tidak terima dengan panggilan seperti itu, dia pun berbalik dan


menghampiri Djiwha, sadar pemuda itu masih bertelanjang dada Raina buru-buru


memalingkan wajahnya.


“Kancingkan


bajumu!” Raina berteriak.


“Kenapa?


Bukannya lo suka , ya liatnya? Udah deh enggak usah sok alim gitu lo.” Djiwha


bersorak dalam hatinya, dia bisa bicara lebih banyak dan menjahili Raina.


“Siapa yang


mesum? Kamu tuh yang cabul, masa buka baju di tempat umum. Enggak tahu malu,


gimana kalau ada orang yang lihat?!” Raina masih memalingkan wajahnya.


“Memang kenapa?


Suka-suka gue dong. Lo nya aja yang me-sum.” Djiwha menekankan kata mesum


membuat Raina semakin kesal, Raina berbalik dan menunjuk Djiwha.


“Hei! Jangan


panggil aku dengan sebutam mesum lagi, ya! Kamu mau aku hajar?!” Raina melotot,


Djiwha malah ingin tertawa melihat ekspresi Raina.


“Emang lo berani


sama gue? Teman-teman lo aja takut sama gue.” Djiwha menyeringai.


“Enggak. Aku


enggak takut sama kamu, emang kamu siapa? Tuhan? Halah apa sih hot dog, Devil


Dog aku enggak takut. Huh!” Raina menggembungkan pipinya, membuat Djiwha


menahan diri untuk tidak mencubitnya.


“Jadi ... lo


berani sama gue?” ujar Djiwha, hatinya bersorak sambil menari hula-hula.


“Iya! Aku berani


kok sama kam—“ Raina tidak meneruskan ucapannya saat Djiwha mencodongkan


wajahnya hingga wajah mereka berdekatan, Raina bahkan dapat mencium dengan

__ADS_1


jelas wangi musk dari tubuh pemuda beratto itu, dia menelan ludahnya.


“Kamu mau apa?”


“Katanya lo


berani sama gue,”


“T-tapi kamu mau


apa? Jangan dekat-dekat.”


“Lo lupa ,ya


kalau gue ini laki-laki?”


“Emh i-itu


a-aku.”


“Pfftt, hahaha!”


Djiwha tertawa


terbahak-bahak melihat ekspresi ketakutan Raina. Dia memegangi perutnya yang


terasa sakit karena kebanyakan tertawa, seumur hidup baru kali ini dia merasa


senang dan tertawa lepas tanpa beban dan kepura-puraan. Raina menggembungkan


pipinya dan menginjak sepatu Djiwha dengan keras.


“Aduh, sakit


oy!” Djiwha berhenti tertawa dan berteriak kesakitan.


“Rasain, ueee!”


Raina tertawa lalu berlari meninggalkan Djiwha yang memegangi kakinya. Rasanya


memang tidak begitu sakit di kaki Djiwha tapi, senangnya begitu meletup seperti


kembang api dalam hati.


Dia hanya dia di duniaku


Dia hanya dia di mataku


Dunia terasa telah menghilang


Tanpa ada dia di hidupku


Sungguh sebuah tanya yang terindah


Bagaimana dia merengkuh sadarku


Tak perlu  ku


bermimpi yang indah


Karena ada dia di hidupku


Ku ingin dia yang sempurna untuk diriku yang biasa


Ku ingin hatinya


Ku ingin cintanya


Ku ingin semua yang ada pada dirinya


Ku hanya manusia biasa, Tuhan bantu tuk ku berubah


Tuk miliki dia , tuk bahagiakannya


Tuk jadi seorang yang sempurna untuk dia


( Sammy


simorangkir, Dia)


Sinar matahari


sore terasa redup di angkasa. Raina masih betah menunggu busway, hari ini dia pulang kesorean karena ada rapat OSIS di


sekolah. Wiwi sudah pulang duluan dijemput Aruna, sepertinya mereka benar-benar


sudah balikan. Raina sebenarnya merasa khawatir dengan Wiwi, mengingat Aruna


juga tidak beda jauh dengan Djiwha meskipun mungkin lebih baik Djiwha daripada


Aruna.


‘Aku mikir apa sih!’Raina menampar pipinya sendiri seperti orang bodoh. Dia tersenyum sendiri


mengingat kejadian tadi siang di belakang sekolah. Djiwha Mahardika, kenapa dia


begitu terlihat mempesona di mata Raina? Padahal hampir seluruh sekolahan


memusuhinya. Dia punya cara tersendiri supaya special di mata Raina, sebuah


tepukan di pundaknya membuat gadis berambut ikal itu terkejut.


“Mikirin gue,


ya?” Raina membalikan tubuhnya, seseorang yang sedang dipikirkannya berdiri di


belakang dengan seringai nakal.


“Enggak, ih.


Ge-er kamu.” Raina memasang wajah tidak suka, padahal dia tidak memungkiri


kalau pemuda di depannya itu yang sedang dia pikirkan.


“Masa? Pasti lo


lagi bayangin pas gue buka baju tadi. Lo lagi mikir seandainya gue dan lo itu—“


“Stop! Jangan


teruskan. Sekarang terbukti ‘kan yang cabul itu kamu.” Raina menunjuk wajah


Djiwha seolah-olah berkata,’Nah kan


ketahuan kamu yang pikirannya ngeres.’ Djiwha rasanya ingin tertawa


terbahak-bahak melihat wajah Raina yang terlihat lucu.


“Mau gue antar


pulang?”


“Enggak usah!”


“Serius. Ayok !


Gue antar pulang, sekalian gue mau minta tolong.”


“Minta tolong


apa?”


“Bagaimana


caranya supaya tidur nyenyak.”


“Hah?”


Djiwha menyesal


mengucapkannya, Raina mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan arah


pembicaraan Djiwha. Lama-lama pemuda itu merasa kesal pada kelemotan otak


Raina.


“Ya, sudahlah


lupakan.” Djiwha bersiap pergi tapi tangan Raina menahan jaketnya. Djiwha


terkejut, begitu pun Raina kenapa tangannya begitu spontan menarik ujung jaket


Djiwha? Raina melepaskan tarikanya perlahan dan menunduk malu. Djiwha merasa


disentuh bidadari meski hanya ujung jaketnya. Jadilah mereka pulang bersama,


Djiwha dan Raina tampak begitu akrab. Sebelum mengantarkan Raina ke rumah, mereka


berhenti di sebuah taman dengan air mancur yang indah di tengahnya.


“Hm, jadi


kantung mata itu karena kamu susah tidur?” ujar Raina pelan hampir seperti


cicitan, dia ragu dan takut bertanya pada pemuda di sampingnya.


“Ya, begitulah.


Gue insomnia akut tapi, sejak ketemu


lo ... gue jadi ikutan *****. Lo itu virus tahu.” Djiwha melirik gadis di


sebelahnya yang tengah memasang wajah cemberut.


“Aku? Enak saja.


Ah ... sudah lupakan, aku tuh ***** karena capek. Aku tidak sepertimu, di rumah


enak yang urus pembantu. Aku mengerjakan semua sendiri, karena aku tidak punya


Ibu.” Raina menunduk lemah saat berkata ibu.


“Astaga,


harusnya gueiri sama lo. Apa-apa lo kerjain sendiri, jadi lo bisa tidur. Beda sama gue, gue


capek kalau habis berantem doang. Sebenernya gue bosen tahu berantem terus, cuma


gue orang yang tidak bisa mengontrol emosi.” Djiwha bicara panjang lebar,


anehnya hanya di depan Raina dia bisa menjadi dirinya sendiri.


“Hm. Yah dunia


ini ‘kan banyak perbedaan, siang dan malam, gelap dan terang.”


‘Aku dan kamu’Raina meneruskannya dalam hati.


“Ini buatmu,”


“Apa ini?” tanya


Djiwha saat Raina menyodorkan sebuah botol kecil bening.


“Ini aroma


terapi, wangi lavender. Jika kamu susah tidur usapkan saja di bantalmu,


lavender bisa membuat rileks. Coba


tarik napas dalam-dalam sebelum tidur lalu hembuskan perlahan, berulang-ulang


kalau perlu minumlah susu hangat.” Raina memberikan tips pada Djiwha untuk


mengatasi gangguan tidurnya.


“Lo yakin ini


bekerja?” Rain menganggukkan kepalanya. Ponsel Raina berdering, dilihatnya


siapa yang memanggilnya.


‘Reza? Hm tidak biasanya dia telepon. Apa minta


dijemput?’batin Raina. Dia pun menekan tombol


hijau di layar ponselnya.


“Halo?”


“Ya, Kak ini aku


... ini ada yang ingin bica—“


“Halo, apa kabar


Raina? Masih ingat aku?”


Raina


membulatkan matanya, kemudian bibirnya terkatup rapat. Dia sebisa mungkin


menahan segala amarah, kesal, dan berbagai rasa di dadanya. Suara itu yang


sudah menghancurkan segala harapannya, suara itu yang sudah membuatnya jatuh


cinta lalu meninggalkannya di sore hari saat hujan lebat turun ke bumi. Dia


menunggu di pinggir jalan hanya demi suara itu, senyum itu, Raina mengepalkan


tangannya. Tubuhnya bergetar, dia menjauhkan ponsel itu dari telinga dan


menekan tombol merah di layar ponselnya.


“Kamu ... bisa


bawa aku pergi dari sini?”


“Apa?” Djiwha


yang sedang menghirup aroma lavender dari botol itu terkejut melihat perubahan


raut wajah Raina.


“Lo kenapa?”


“Bisa ... bawa


aku pergi dari sini?” Raina meneteskan air matanya. Tidak peduli siapa di


depannya, Djiwha terkejut lalu bangkit dari duduknya.


“Ayo, ikut gue.”


Djiwha menarik tangan Raina.


***


Reza baru saja


tiba di rumah. Tukang ojek suruhan sang


ayah  mengantarkan


Reza selamat sampai di depan rumah. Kakanya belum terlihat, Reza berpikir sang kakakmasih les di sekolah.


Ayahnya pun belum datang, lalu siapa orang yang sedang membelakanginya?


“Maaf, apa Paman


ingin bertemu Ayahku? Ayahku belum pulang.”


“Halo, Reza apa


kabar?” orang itu membalikkan badannya, Reza terkejut.


“Kak Kevin?”


“Kamu masih


ingat padaku? Anak pintar. Apa kabar Reza?” Kevin tersenyum lalu mengacak


rambut Reza.


“Aku baik, Kak.


Kakak sendiri bagaimana? Ke mana saja selama ini?” tanya Reza .


“Sekolah di luar


negeri. Oh, ya ke mana Kakakmu?”


“Masih sekolah,”


“Kamu punya ponsel?


Bisa hubungi Kakakmu?”


Reza tidak bisa


berbuat banyak, kecuali mengeluarkan ponsel yang baru ayahnya beli beberapa


minggu lalu. Reza menekan mencari nama kakaknya dan menekan tombol diall,


terdengar bunyi tuut disusul suara kakaknya di seberang sana.


“Halo?”


“Ya, Kak. Ini


aku  ... ada yang ingin bica—“ Kevin


meraih ponsel Reza dan mengambil alih ponselnya.


“Halo, apa kabar


Raina? Masih ingat aku?” Kevin tersenyum menunggu jawaban dari mantan pacarnya,


tidak bahkan Kevin belum mengatakan putus. Tidak ada jawab apa pun dari Raina,


kecuali helaan napasnya yang terdengar penuh kesal dan kesedihan. Kevin menutup


teleponnya dan menyerahkan kembali ponsel itu pada Reza.


“Sepertinya


Kakakmu masih marah padaku. Hm, ya sudah. Kapan-kapan aku ke sini lagi, Reza.”


Kevin mengacak rambut Reza sebelum masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan


Reza yang tampak bingung.


“Mudah-mudahan


Kak Rai baik-baik saja.” Reza mengambil kunci rumah dari dalam tasnya, lalu


masuk ke rumah dan menutup kembali pintu rumahnya.


thanks for art and all EXOL saya hanya mendeskripiskan jika Djiwha seperti Kai untuk Raina siapa kira-kira yang cocok ^^ vote for me

__ADS_1


__ADS_2