
Raina menunduk
sedih, dia baru saja kehilangan ibu. Adiknya baru saja lahir dan dia tidak bisa
mendapat dekapan kasih sayang sang ibu.
Raina menutup wajah dan menangis tersedu-sedu, dipeluknya boneka beruang hadiah
pemberian almarhum saat ulang tahun beberapa bulan lalu. Dokter tidak bisa
menyelamatkan keduanya dan atas permintaan ibu, Reza lahir ke dunia ini tanpa
bisa menyentuh kasih sayang ibu. Awan mendung di atas langit, seakan ikut
berduka untuk Raina. Dia masih kecil baru kelas 6 SD dan harus membantu ayahnya mengurus
Reza, andai nenek atau kakeknya masih ada mungkin dia akan terbantu dengan
kehadiran mereka. Ayah harus membagi tugasnya dengan baik. Seperti sebuah takdir saja tetangga baik
hati yang juga baru saja melahirkan anaknya meninggal dan sangat terpukul tapi
saat melihat Reza dia bersedia
menyusuinya.
“Jangan
menangis, gadis koala.” Sebuah tepukan di pundak Raina membuatnya berhenti
menangis dan melihat siapa yang datang dan duduk di sampingnya.
“Kevin? Ada
apa?” tanya Raina mengusap air mata yang meleleh di pipinya, Kevin adalah anak pertama keluarga Rahardi yang baru
saja pindah kemudian snag ibu melahirkan adik laki-laki yang hanya sesaat
melihat dunia kemudian meninggal karena kelainan jantung. Mereka melihat Reza
dan merasa kasihan, akhirnya ibu Kevin mau menyusui Reza. Keluarga Raina sangat
berhutang budi pada keluarga Kevin.
“Jangan
menangis, Reza ‘kan sudah punya Ibuku. Jangan khawatir,” ujar Kevin mencoba
menghibur gadis yang sering ketiduran di mana saja.
“Tapi ... aku
ingat Ibu, aku rindu sama Ibu.” Raina kembali menangis, Kevin berdiri dari
tempat duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Raina.
“Ayok! Aku ajari
caranya tertawa dan bahagia!” seru Kevin, dia menarik tangan Raina dan
membawanya berlari. Mereka sampai di sebuah bukit kecil hijau yang ditumbuhi
bunga-bunga berwarna putih di bawahnya terlihat jelas lapangan golf dengan para cady dan pemain yang hilir mudik
mengejar bola mereka. Kevin dan Raina duduk bersampingan, gadis itu tampak
kelelahan karena ditarik Kevin, “Capek, Rai?” tanya Kevin tersenyum.
“Lumayan, huft
... buat apa kamu ajak aku ke sini?” Raina balik bertanya, napasnya tersengal
dan keringat membanjiri tubuhnya.
“Bagaimana
sekarang?”
“Apanya?”
“Ya, perasaanmu.
Masih sedih? Masih ingat Ibumu?”
“Hm, lumayan ...
kamu menyuruhku melupakan Ibuku, Vin?” Raina menarik napas dan membuangnya
perlahan, dia menatap orang-orang yang tengah bermain golf tapi pikirannya
melayang jauh entah ke mana.
“Tidak. Bukan
seperti itu, Rai. Aku tidak akan menyuruh seseorang untuk melupakan orang yang
dicintainya, apalagi Ibunya sendiri. Aku hanya mau, kamu meneruskan hidupmu,
Rai. Bukankah itu juga yang ingin Ibumu lihat?” tanya Kevin. Raina terdiam
cukup lama, memang benar apa yang dikatakan Kevin, apakah dia akan selamanya
bersedih, murung dan membuat ayahnya khawatir. Padahal saat ini Reza lebih
membutuhkan perhatian dan kasih sayang, meski ada Ibunya Kevin tetap saja Reza
adalah adiknya, Raina harus bisa mengasuh dan membantu ayah.
“Kamu benar,
Vin. Aku tidak seharusnya terus menangis, mungkin Ibuku melihat dari sana dan
aku yakin dia juga tidak mau melihat aku seperti ini,” ujar Raina.
“Kamu tenang
saja, Rai. Aku akan selalu ada di sampingmu selamanya. Kita ‘kan sahabat?” ujar
Kevin mengacungkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya pada kelingking Raina.
Kevin tidak
pernah mengingkari janjinya, hingga mereka dewasa dan menginjak usia remaja. Ke
mana-mana mereka selalu bersama, hingga Kevin perlahan berubah. Mereka jarang
bertemu, Kevin setiap hari keluar rumah dan kembali pagi buta. Raina sangat
sedih melihat perubahan dari Kevin, meski di sekolah sering bertemu tapi, Kevin lebih sering dikerumuni gadis-gadis
hingga susah untuk mendekati dan bicara dengannya. Sampai suatu ketika Raina
mendengar kabar jika kedua orang tuanya Kevin akan bercerai, Raina jadi tahu
kenapa Kevin bersikap seperti itu. Raina merasa bersalah sebagai sahabat
mengapa dia sampai tidak tahu masalah itu? Setelah kedua orang tuanya berpisah,
Kevin dibawa ayahnya pergi sedangkan ibunya kembali ke kota Surabaya. Reza
menangis saat itu, dia seperti ditinggalkan ibunya sendiri padahal bukan, Kevin
masih bersekolah di tempat yang sama tapi perilakunya semakin tidak terkendali.
Kevin kerap kali dihukum karena membolos, belum lagi kabar-kabar negatif
darinya mulai berdatangan. Hingga suatu saat Raina menemukan Kevin pingsan di
tengah jalan. Kevin demam tinggi dan terus mengigau menyebut nama ibunya,
sedangkan sang ayah tidak dapat dihubungi. Raina mengurus Kevinhingga sembuh, Kevin merasa berhutang budi dan menyesal
menjauhi Raina. Mereka pun kembali akrab, sering pulang bersama, mengerjakan
tugas bersama, membuat benih-benih cinta di hati keduanya timbul. Namun, Raina
masih ragu dengan perasaanya apalagi dia banyak mendengar kabar yang tidak mengenakan
tentang Kevin .
“Hai, gadis
koala. Aku ingin bicara denganmu sebentar,” ujar Kevin saat Raina sedang
mengerjakan tugas di kelas. Semua mata tertuju pada kedua remaja itu, beberapa
siswi bahkan mengancam Raina jika terus bersama Kevin.
“Bicara saja,
aku akan mendengarkannya dengan baik.” Raina bersikap acuh dan meneruskan
tulisan di bukunya. Kevin merasa jengkel dan akhirnya menarik tangan gadis itu
dari sana lalu, mengajaknya ke lapangan basket.
“Kamu mau apa
sih, Vin? Malu tahu ... aku jadi dilihatin anak-anak lain, aku takut nanti pa—“
“Raina Putri
Maharani maukah kamu jadi pacarku?” Kevin berlutut dan menatap Raina lalu
__ADS_1
tersenyum mirip pangeran di cerita dongeng yang melamar putri cantik. Semua
mata melihat ke arah mereka, Raina berusaha menutup wajahnya yang memerah meski
jantungnya mau tidak mau bergemuruh layaknya ombak di lautan.
“A-apa maksudmu,
Vin. Ayolah! Jangan becanda, lihat semua menatap ke arah kita, aku malu.” Raina
gugup, jujur saja dari sejak dulu Raina menyimpan perasaan suka pada Kevin tapi
dia tidak mau berspekulasi kalau itu
cinta bisa saja hanya kagum atau sayang terhadap teman.
“Apa aku
terlihat membual? Aku benar-benar ‘nembak’kamu loh, hari ini di depan semua
orang supaya kamu percaya. Aku sudah lama ingin mengutarakan semuanya tapi baru
kali aku berani, mau ‘kan jadi pacarku?” tanya Kevin sekali lagi. Raina bingung
harus menjawab apa, sebagian siswi melotot tajam seakan menyuruhnya ‘Tolak saja dia atau kamu kubunuh!’ sebagian
lainnya mendukung Raina agar menerima pernyataan cinta Kevin. Raina menarik
napas panjang dan mengangguk. Kevin dan teman-temannya bersorak, menyampaikan
selamat pada keduanya.
“Makasih, Rai.
Aku bahagia kamu mengangguk bukan menggeleng.” Kevin meraih tangan Raina dan
menciumnya.
“I-iya, aku juga
c-cinta sama kamu, Vin.” Rasanya Raina ingin tenggelam di lumpur saat itu juga,
bisa-bisanya dia bilang cinta pada Kevin dengan terbata-bata dan pipi semerah
cerry. Hari itu merupakan sejarah pertama kalinya Raina jatuh cinta, cinta
pertama dan semua terwujud dengan hati yang sama. Mereka pun jadi perbincangan
hangat di antara siswa dan siswi lainnya yang merasa hubungan mereka tidak akan
bertahan lama.
“Paling semingu
udah gitu putus.”
“Iya, benar.
Kalian semua tahu ‘kan Kevin? Playboy, pemain cinta, ceweknya aja banyak.”
“Kasihan si
Raina, Cuma jadi pelarian saja.”
“Iya, palingan
bentar lagi dia mewek karena ditinggal Kevin.”
Raina hanya bisa
menahan segala rasa di dadanya agar tidak terpengaruh ucapan orang lain
terhadap hubungan mereka berdua. Rasanya itu tidak mungkin, Kevin memang badboy dan kerap kali mendengar banyak
masalah tapi untuk
mempermainkan hatinya, Raina pikir itu tidak akan mungkin. Raina percaya
seratus persen padanya, apalagi Kevin benar-benar sosok kekasih idaman yang
sangat perhatian, dia memperlakukan Raina bak putri raja.
“Vin, ke mana
saja kamu sudah tiga hari tidak masuk?” tanya Raina saat melihat wajah Kevin di
gerbang sekolah. Sudah tiga hari pacarnya itu tidak hadir tanpa izin atau kabar
apa pun, Kevin terlihat kurang tidur jelas matanya mengantuk.
“Tidak ke
mana-mana.” Pendek tapi, membuat Raina sedikit emosi.
teman-teman kamu yang urakan?”
“Apa-apaan kamu,
Rai? Jangan bicara seperti itu. Memang sejak kemarin aku sibuk ada acara.”
“Acara apa?
Jangan bohong, Vin. Bahkan ponselmu tidak dapat dihubungi.” Kevin enggan
menjawab dan memilih meninggalkan Raina. Semua orang menatapnya dan mulai
berbicara yang tidak-tidak tentang hubungan mereka. Kevin mulai berubah lagi
dan itu entah sudah berapa kali, Raina kerap melihatnya dengan cewek lain tapi,
dia selalu berpikir positif. Beberapa hari lalu dia melihat Kevin masuk ke
mobil dengan seorang gadis berwajah blasteran,
yang diperkirakan masih SMP kelas 8 hanya saja gadis itu memang cantik dan
berani.
“Sudah aku
bilang ‘kan, Rai? Kamu enggak percaya. Dia cuma mau main-main sama kamu, enggak
serius.”
“Iya, benar.
Teman kami pun sudah banyak jadi korban ke-playboyannya Kevin.”
Bukan hanya satu
dua orang saja, sering kali Raina mendapat omongan-omongan seperti itu.
Sekarang hari ulang tahunnya, dia pikir Kevin akan mengucapkan selamat padanya
malah dia terlihat meninggalkan sekolah diam-diam di saat jam pelajaran. Raina
hanya bisa menahan air matanya agar tidak terjatuh saat itu. Sepulang sekolah
seperti biasanya, Raina memasak dan membersihkan rumah. Suara ponsel berdering
menandakan pesan masuk ke nomornya.
From: Kevin
Rai, aku mau ketemu kamu. Ada yang ingin aku katakan
sama kamu.
From : Raina
Ketemu di mana?
From : Kevin
Di jalan Mawar, tunggu saja aku di sana. Nanti
kujemput.
From : Raina
Oke, aku akan menunggumu.
Raina tersenyum
lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celana jeans. Dia berharap kalau sore itu Kevin akan mengajaknya makan
malam bersama di luar, lalu mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Raina
buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, menyiapkan makan malam untuk ayah lalu
mandi dan berdandan secantik mungkin. Setelah ayah pulang, dia berpamitan dan
menunggu di tempat yang sudah Kevin janjikan, meskipun udara sore terasa dingin
dan awan bergulung di angkasa, tapi Raina memaksa menunggu Kevin di tempat yang
dijanjikan. Satu menit berlalu , Raina masih berpikir positif mungkin Kevin
masih di jalan. Satu jam berlalu, Raina masih mencoba berpikir positif dan menunggu
Kevin dengan setia, rintik air hujan mulai berjatuhan menimpa kepala dan
tubuhnya. Raina masih terpaku menunggu Kevin datang dan membawa diapergi dari sana, hujan
__ADS_1
deras turun mengguyur bumi dan Raina masih diam dengan air mata membasahi pipi.
“Rai?” Hatinya
bahagia, dia berbalik berharap Kevin datang seperti di drama Korea favoritnya.
Membawakan payung dan tersenyum hangat padanya tapi ya itu hanya akan ada di drama Korea. Wiwi yang
datang menghampirinya dengan wajah penuh rasa cemas.
Raina berbalik lalu mengambil kunci dari tasnya. Dia
mengacuhkan Kevin yang berdiri di belakangnya. Raina terburu-buru dengan
perasaan kalut hingga tubuhnya gemetar dan susah untuk mencari kunci di tas.
Air matanya mengalir, baru saja dia merasa bahagia dengan orang lain. Kenapa
Kevin harus datang? Seperti hendak menghancurkan segalanya.
“Sial!”
Raina berhasil
mengambil kunci itu dan terburu-buru membuka pintu rumahnya. Sebuah tangan
kekar meraih tubuh Raina dan memeluknya dari belakang, “Rai, maafkan aku.”
Tubuh Raina
bergetar menahan segala rasa yang berkecamuk di dada. Dia tidak mau seperti
ini, kenapa? Kenapa begitu lemah dengan orang yang telah menyakitinya? Raina
berusaha melepaskan pelukan Kevin yang terasa semakin erat. Dia merasakan
tetesan air hangat membasahi punggungya, Kevin menangis tetapi untuk apa?
Menyesal dengan semua perbuatannya?
“Lepaskan aku,
Vin. Tidak ada yang perlu dimaafkan, kumohon lepaskan aku. Aku enggak mau Ayah
lihat.” Raina melembut, perlahan Kevin melonggarkan pelukannya dan melepaskan
Raina.
“Rai, lihatlah
aku sebentar saja. Kumohon, Rai ... aku sangat merasa berdosa besar padamu.”
Raina tidak segera membalikkan tubuhnya dan menatap Kevin dia memilih masuk ke
rumah,menutup pintu dan
membiarkan Kevin berteriak memanggil namanya.
“Rai, buka
pintunya! Biarkan aku masuk, akan kujelaskan semuanya. Rai, aku mohon sekarang
ini aku sangat membutuhkan dirimu. Hanya kamu yang aku punya dan percaya.”
Kevin mengetuk pintu rumah Raina berkali-kali, berharap gadis itu akan
memaafkannya lalu membiarkan dia masuk dan menjelaskan semuanya.
‘Maafkan aku, Vin. Hatiku terlalu sakit buat percaya
padamu.’Raina mengunci pintu rumahnya lalu
masuk ke kamar dan menangis sekencang mungkin, melampiaskan segala amarah dan
benci yang menggelayuti relung hati. Kevin masih terdengar memanggil namanya
tapi, kemudian suara mesin mobil bergaung dan pergi meninggalkan halaman rumah.
“Ibu ... kenapa
sakit rasanya. Ibu ... andai dirimu masih ada.” Raina menangis memeluk tubuhnya
sendiri berharap sebuah keajaiban datang padanya.
Suara motor sang ayah dan suara Reza yang berceloteh membuat Raina tersadar.
Dia menghapus air matanya, lalu mencuci wajah dan buru-buru membuka pintu untuk
. Reza berteriak senang lalu menghambur memeluk kakaknya, “Kakak, aku kangen.”
Reza terisak, dia seperti seorang anak
yang rindu pada ibunya, karena ditinggal pergi.
“Kakak juga
kangen sama kamu, Reza. Oh, iya Kakak punya oleh-oleh loh buat kamu.” Mata Reza
berbinar lalu berlari menuju kamar Raina dengan penuh gembira. Raina memeluk ayahnya
lalu mencium punggung tangan sang ayah, “Ayah baik-baik saja ‘kan?”
“Tentu saja,
mana mungkin Ibu mertuamu membiarkan ayah dan adikmu kelaparan.” Ayah tertawa
sambil menggoda putrinya dengan menyebut Mama Djiwha ibu mertua. Raina
menggembungkan pipinya tapi rona merah menjalar hingga membuat ayahnya semakin
kencang tertawa. Mereka lalu bersama-sama ke ruang tengah, Reza tampak
kerepotan membawa tas-tas berisi oleh-oleh dari kamar Raina. Dengan tergesa dia
membukanya satu per satu, Raina juga tidak tahu apa isinya karena itu pemberian
Mamanya Djiwha, oleh-oleh asli dari Bali untuk ayah dan adiknya hanya sedikit
karena dia tidak punya uang.
“Hore! Ini ‘kan
mobil-mobilan canggih yang bisa jadi robot, ya ampun ... makasih, Kak.” Reza
melompat-lompat girang. Raina sendiri kaget melihat hadiah yang diberikan
Mamanya Djiwha, harganya pasti sangat mahal.
“Rai, kamu ...
uang dari mana? Itu pasti mahal sekali harganya.” Ayah menatap Raina dengan
wajah penasaran dan kaget.
“Emh ... itu ...
aku ....”
“Raaai, kamu
enggak melakukan hal-hal yang negatif selama di Bali ‘kan sama putra bungsu
Mahardika?” tanya ayah dengan raut wajah cemas dan curiga.
“Tidak, Ayah.
Jangan berpikir macam-macam, itu semua pemberian Mama Djiwha saat aku mau
pulang. Oleh-oleh dariku hanya kaos ini saja dan beberapa aksesoris khas Bali.”
Raina membuka paper bag bergambar khas Bali lalu memberikan sebuah kaos
bertulisakan I Love Bali pada ayahnya.
“Rai, Ayah jadi
enggak enak sama mereka. Kenapa bisa sebaik itu sama kita, apa benar kamu dan
Djiwha punya hubungan khusus lebih dari sekadar teman?”
“Ayah, tidak
usah berpikir macam-macam. Raina dan Djiwha hanya teman, tidak lebih.” Raina
mengenggam tangan ayahnya dan tersenyum, dia tidak mau ayahnya berpikir yang
tidak-tidak.
“Rai, apakah
kamu sudah bertemu dengan Ke—“
“Sudah, Ayah.
Jangan pikirkan itu, aku sedang tidak ingin membahasnya.” Raina memotong
perkataan ayah, pasti ayah akan bertanya apakah dia sudah bertemu Kevin , Raina
sudah tahu kalau Kevin bolak-balik terus ke rumah selama dia di Bali. Tuhan
maaf pemaaf kenapa umatnya tidak? Pertanyaan itu terus berlanjut di benak
Raina, memang harusnya dia melupakan semua rasa sakitnya tapi, itu terlalu
__ADS_1
sulit.