A Bad Boy And Sleeping Beauty

A Bad Boy And Sleeping Beauty
A Conflict


__ADS_3

Raina menunduk


sedih, dia baru saja kehilangan ibu. Adiknya baru saja lahir dan dia tidak bisa


mendapat dekapan kasih sayang sang ibu.


Raina menutup wajah dan menangis tersedu-sedu, dipeluknya boneka beruang hadiah


pemberian almarhum saat ulang tahun beberapa bulan lalu. Dokter tidak bisa


menyelamatkan keduanya dan atas permintaan ibu, Reza lahir ke dunia ini tanpa


bisa menyentuh kasih sayang ibu. Awan mendung di atas langit, seakan ikut


berduka untuk Raina. Dia masih kecil baru kelas 6 SD dan harus membantu ayahnya mengurus


Reza, andai nenek atau kakeknya masih ada mungkin dia akan terbantu dengan


kehadiran mereka. Ayah harus membagi tugasnya dengan baik. Seperti sebuah takdir saja tetangga baik


hati yang juga baru saja melahirkan anaknya meninggal dan sangat terpukul tapi


saat melihat Reza dia  bersedia


menyusuinya.


“Jangan


menangis, gadis koala.” Sebuah tepukan di pundak Raina membuatnya berhenti


menangis dan melihat siapa yang datang dan duduk di sampingnya.


“Kevin? Ada


apa?” tanya Raina mengusap air mata yang meleleh di pipinya, Kevin  adalah anak pertama keluarga Rahardi yang baru


saja pindah kemudian snag ibu  melahirkan adik laki-laki yang hanya sesaat


melihat dunia kemudian meninggal karena kelainan jantung. Mereka melihat Reza


dan merasa kasihan, akhirnya ibu Kevin mau menyusui Reza. Keluarga Raina sangat


berhutang budi pada keluarga Kevin.


“Jangan


menangis, Reza ‘kan sudah punya Ibuku. Jangan khawatir,” ujar Kevin mencoba


menghibur gadis yang sering ketiduran di mana saja.


“Tapi ... aku


ingat Ibu, aku rindu sama Ibu.” Raina kembali menangis, Kevin berdiri dari


tempat duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Raina.


“Ayok! Aku ajari


caranya tertawa dan bahagia!” seru Kevin, dia menarik tangan Raina dan


membawanya berlari. Mereka sampai di sebuah bukit kecil hijau yang ditumbuhi


bunga-bunga berwarna putih di bawahnya terlihat jelas lapangan golf dengan para cady dan pemain yang hilir mudik


mengejar bola mereka. Kevin dan Raina duduk bersampingan, gadis itu tampak


kelelahan karena ditarik Kevin, “Capek, Rai?” tanya Kevin tersenyum.


“Lumayan, huft


... buat apa kamu ajak aku ke sini?” Raina balik bertanya, napasnya tersengal


dan keringat membanjiri tubuhnya.


“Bagaimana


sekarang?”


“Apanya?”


“Ya, perasaanmu.


Masih sedih? Masih ingat Ibumu?”


“Hm, lumayan ...


kamu menyuruhku melupakan Ibuku, Vin?” Raina menarik napas dan membuangnya


perlahan, dia menatap orang-orang yang tengah bermain golf tapi pikirannya


melayang jauh entah ke mana.


“Tidak. Bukan


seperti itu, Rai. Aku tidak akan menyuruh seseorang untuk melupakan orang yang


dicintainya, apalagi Ibunya sendiri. Aku hanya mau, kamu meneruskan hidupmu,


Rai. Bukankah itu juga yang ingin Ibumu lihat?” tanya Kevin. Raina terdiam


cukup lama, memang benar apa yang dikatakan Kevin, apakah dia akan selamanya


bersedih, murung dan membuat ayahnya khawatir. Padahal saat ini Reza lebih


membutuhkan perhatian dan kasih sayang, meski ada Ibunya Kevin tetap saja Reza


adalah adiknya, Raina harus bisa mengasuh dan membantu ayah.


“Kamu benar,


Vin. Aku tidak seharusnya terus menangis, mungkin Ibuku melihat dari sana dan


aku yakin dia juga tidak mau melihat aku seperti ini,” ujar Raina.


“Kamu tenang


saja, Rai. Aku akan selalu ada di sampingmu selamanya. Kita ‘kan sahabat?” ujar


Kevin mengacungkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya pada kelingking Raina.


Kevin tidak


pernah mengingkari janjinya, hingga mereka dewasa dan menginjak usia remaja. Ke


mana-mana mereka selalu bersama, hingga Kevin perlahan berubah. Mereka jarang


bertemu, Kevin setiap hari keluar rumah dan kembali pagi buta. Raina sangat


sedih melihat perubahan dari Kevin, meski di sekolah sering bertemu tapi, Kevin lebih sering dikerumuni gadis-gadis


hingga susah untuk mendekati dan bicara dengannya. Sampai suatu ketika Raina


mendengar kabar jika kedua orang tuanya Kevin akan bercerai, Raina jadi tahu


kenapa Kevin bersikap seperti itu. Raina merasa bersalah sebagai sahabat


mengapa dia sampai tidak tahu masalah itu? Setelah kedua orang tuanya berpisah,


Kevin dibawa ayahnya pergi sedangkan ibunya kembali ke kota Surabaya. Reza


menangis saat itu, dia seperti ditinggalkan ibunya sendiri padahal bukan, Kevin


masih bersekolah di tempat yang sama tapi perilakunya semakin tidak terkendali.


Kevin kerap kali dihukum karena membolos, belum lagi kabar-kabar negatif


darinya mulai berdatangan. Hingga suatu saat Raina menemukan Kevin pingsan di


tengah jalan. Kevin demam tinggi dan terus mengigau menyebut nama ibunya,


sedangkan sang ayah tidak dapat dihubungi. Raina mengurus Kevinhingga sembuh, Kevin merasa berhutang budi dan menyesal


menjauhi Raina. Mereka pun kembali akrab, sering pulang bersama, mengerjakan


tugas bersama, membuat benih-benih cinta di hati keduanya timbul. Namun, Raina


masih ragu dengan perasaanya apalagi dia banyak mendengar kabar yang tidak mengenakan


tentang Kevin .


“Hai, gadis


koala. Aku ingin bicara denganmu sebentar,” ujar Kevin saat Raina sedang


mengerjakan tugas di kelas. Semua mata tertuju pada kedua remaja itu, beberapa


siswi bahkan mengancam Raina jika terus bersama Kevin.


“Bicara saja,


aku akan mendengarkannya dengan baik.” Raina bersikap acuh dan meneruskan


tulisan di bukunya. Kevin merasa jengkel dan akhirnya menarik tangan gadis itu


dari sana lalu, mengajaknya ke lapangan basket.


“Kamu mau apa


sih, Vin? Malu tahu ... aku jadi dilihatin anak-anak lain, aku takut nanti pa—“


“Raina Putri


Maharani maukah kamu jadi pacarku?” Kevin berlutut dan menatap Raina lalu

__ADS_1


tersenyum mirip pangeran di cerita dongeng yang melamar putri cantik. Semua


mata melihat ke arah mereka, Raina berusaha menutup wajahnya yang memerah meski


jantungnya mau tidak mau bergemuruh layaknya ombak di lautan.


“A-apa maksudmu,


Vin. Ayolah! Jangan becanda, lihat semua menatap ke arah kita, aku malu.” Raina


gugup, jujur saja dari sejak dulu Raina menyimpan perasaan suka pada Kevin tapi


dia tidak mau berspekulasi kalau itu


cinta bisa saja hanya kagum atau sayang terhadap teman.


“Apa aku


terlihat membual? Aku benar-benar ‘nembak’kamu loh, hari ini di depan semua


orang supaya kamu percaya. Aku sudah lama ingin mengutarakan semuanya tapi baru


kali aku berani, mau ‘kan jadi pacarku?” tanya Kevin sekali lagi. Raina bingung


harus menjawab apa, sebagian siswi melotot tajam seakan menyuruhnya ‘Tolak saja dia atau kamu kubunuh!’ sebagian


lainnya mendukung Raina agar menerima pernyataan cinta Kevin. Raina menarik


napas panjang dan mengangguk. Kevin dan teman-temannya bersorak, menyampaikan


selamat pada keduanya.


“Makasih, Rai.


Aku bahagia kamu mengangguk bukan menggeleng.” Kevin meraih tangan Raina dan


menciumnya.


“I-iya, aku juga


c-cinta sama kamu, Vin.” Rasanya Raina ingin tenggelam di lumpur saat itu juga,


bisa-bisanya dia bilang cinta pada Kevin dengan terbata-bata dan pipi semerah


cerry. Hari itu merupakan sejarah pertama kalinya Raina jatuh cinta, cinta


pertama dan semua terwujud dengan hati yang sama. Mereka pun jadi perbincangan


hangat di antara siswa dan siswi lainnya yang merasa hubungan mereka tidak akan


bertahan lama.


“Paling semingu


udah gitu putus.”


“Iya, benar.


Kalian semua tahu ‘kan Kevin? Playboy, pemain cinta, ceweknya aja banyak.”


“Kasihan si


Raina, Cuma jadi pelarian saja.”


“Iya, palingan


bentar lagi dia mewek karena ditinggal Kevin.”


Raina hanya bisa


menahan segala rasa di dadanya agar tidak terpengaruh ucapan orang lain


terhadap hubungan mereka berdua. Rasanya itu tidak mungkin, Kevin memang badboy dan kerap kali mendengar banyak


masalah tapi untuk


mempermainkan hatinya, Raina pikir itu tidak akan mungkin. Raina percaya


seratus persen padanya, apalagi Kevin benar-benar sosok kekasih idaman yang


sangat perhatian, dia memperlakukan Raina bak putri raja.


“Vin, ke mana


saja kamu sudah tiga hari tidak masuk?” tanya Raina saat melihat wajah Kevin di


gerbang sekolah. Sudah tiga hari pacarnya itu tidak hadir tanpa izin atau kabar


apa pun, Kevin terlihat kurang tidur jelas matanya mengantuk.


“Tidak ke


mana-mana.” Pendek tapi, membuat Raina sedikit emosi.


teman-teman kamu yang urakan?”


“Apa-apaan kamu,


Rai? Jangan bicara seperti itu. Memang sejak kemarin aku sibuk ada acara.”


“Acara apa?


Jangan bohong, Vin. Bahkan ponselmu tidak dapat dihubungi.” Kevin enggan


menjawab dan memilih meninggalkan Raina. Semua orang menatapnya dan mulai


berbicara yang tidak-tidak tentang hubungan mereka. Kevin mulai berubah lagi


dan itu entah sudah berapa kali, Raina kerap melihatnya dengan cewek lain tapi,


dia selalu berpikir positif. Beberapa hari lalu dia melihat Kevin masuk ke


mobil dengan seorang gadis berwajah blasteran,


yang diperkirakan masih SMP kelas 8 hanya saja gadis itu memang cantik dan


berani.


“Sudah aku


bilang ‘kan, Rai? Kamu enggak percaya. Dia cuma mau main-main sama kamu, enggak


serius.”


“Iya, benar.


Teman kami pun sudah banyak jadi korban ke-playboyannya Kevin.”


Bukan hanya satu


dua orang saja, sering kali Raina mendapat omongan-omongan seperti itu.


Sekarang hari ulang tahunnya, dia pikir Kevin akan mengucapkan selamat padanya


malah dia terlihat meninggalkan sekolah diam-diam di saat jam pelajaran. Raina


hanya bisa menahan air matanya agar tidak terjatuh saat itu. Sepulang sekolah


seperti biasanya, Raina memasak dan membersihkan rumah. Suara ponsel berdering


menandakan pesan masuk ke nomornya.


From: Kevin


Rai, aku mau ketemu kamu. Ada yang ingin aku katakan


sama kamu.


From : Raina


Ketemu di mana?


From : Kevin


Di jalan Mawar, tunggu saja aku di sana. Nanti


kujemput.


From : Raina


Oke, aku akan menunggumu.


Raina tersenyum


lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celana jeans. Dia berharap  kalau sore itu Kevin akan mengajaknya makan


malam bersama di luar, lalu mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Raina


buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, menyiapkan makan malam untuk ayah lalu


mandi dan berdandan secantik mungkin. Setelah ayah pulang, dia berpamitan dan


menunggu di tempat yang sudah Kevin janjikan, meskipun udara sore terasa dingin


dan awan bergulung di angkasa, tapi Raina memaksa menunggu Kevin di tempat yang


dijanjikan. Satu menit berlalu , Raina masih berpikir positif mungkin Kevin


masih di jalan. Satu jam berlalu, Raina masih mencoba berpikir positif dan menunggu


Kevin dengan setia, rintik air hujan mulai berjatuhan menimpa kepala dan


tubuhnya. Raina masih terpaku menunggu Kevin datang dan membawa diapergi dari sana, hujan

__ADS_1


deras turun mengguyur bumi dan Raina masih diam dengan air mata membasahi pipi.


“Rai?” Hatinya


bahagia, dia berbalik berharap Kevin datang seperti di drama Korea favoritnya.


Membawakan payung dan tersenyum hangat padanya tapi ya  itu hanya akan ada di drama Korea. Wiwi yang


datang menghampirinya dengan wajah penuh rasa cemas.


Raina berbalik  lalu mengambil kunci dari tasnya. Dia


mengacuhkan Kevin yang berdiri di belakangnya. Raina terburu-buru dengan


perasaan kalut hingga tubuhnya gemetar dan susah untuk mencari kunci di tas.


Air matanya mengalir, baru saja dia merasa bahagia dengan orang lain. Kenapa


Kevin harus datang? Seperti hendak menghancurkan segalanya.


“Sial!”


Raina berhasil


mengambil kunci itu dan terburu-buru membuka pintu rumahnya. Sebuah tangan


kekar meraih tubuh Raina dan memeluknya dari belakang, “Rai, maafkan aku.”


Tubuh Raina


bergetar menahan segala rasa yang berkecamuk di dada. Dia tidak mau seperti


ini, kenapa? Kenapa begitu lemah dengan orang yang telah menyakitinya? Raina


berusaha melepaskan pelukan Kevin yang terasa semakin erat. Dia merasakan


tetesan air hangat membasahi punggungya, Kevin menangis tetapi untuk apa?


Menyesal dengan semua perbuatannya?


“Lepaskan aku,


Vin. Tidak ada yang perlu dimaafkan, kumohon lepaskan aku. Aku enggak mau Ayah


lihat.” Raina melembut, perlahan Kevin melonggarkan pelukannya dan melepaskan


Raina.


“Rai, lihatlah


aku sebentar saja. Kumohon, Rai ... aku sangat merasa berdosa besar padamu.”


Raina tidak segera membalikkan tubuhnya dan menatap Kevin dia memilih masuk ke


rumah,menutup pintu dan


membiarkan Kevin berteriak memanggil namanya.


“Rai, buka


pintunya! Biarkan aku masuk, akan kujelaskan semuanya. Rai, aku mohon sekarang


ini aku sangat membutuhkan dirimu. Hanya kamu yang aku punya dan percaya.”


Kevin mengetuk pintu rumah Raina berkali-kali, berharap gadis itu akan


memaafkannya lalu membiarkan dia masuk dan menjelaskan semuanya.


‘Maafkan aku, Vin. Hatiku terlalu sakit buat percaya


padamu.’Raina mengunci pintu rumahnya lalu


masuk ke kamar dan menangis sekencang mungkin, melampiaskan segala amarah dan


benci yang menggelayuti relung hati. Kevin masih terdengar memanggil namanya


tapi, kemudian suara mesin mobil bergaung dan pergi meninggalkan halaman rumah.


“Ibu ... kenapa


sakit rasanya. Ibu ... andai dirimu masih ada.” Raina menangis memeluk tubuhnya


sendiri berharap sebuah keajaiban datang padanya.


Suara motor sang ayah  dan suara  Reza yang berceloteh membuat Raina tersadar.


Dia menghapus air matanya, lalu mencuci wajah dan buru-buru membuka pintu untuk


. Reza berteriak senang lalu menghambur memeluk kakaknya, “Kakak, aku kangen.”


Reza  terisak, dia seperti seorang anak


yang rindu pada ibunya, karena ditinggal pergi.


“Kakak juga


kangen sama kamu, Reza. Oh, iya Kakak punya oleh-oleh loh buat kamu.” Mata Reza


berbinar lalu berlari menuju kamar Raina dengan penuh gembira. Raina memeluk ayahnya


lalu mencium punggung tangan sang ayah, “Ayah baik-baik saja ‘kan?”


“Tentu saja,


mana mungkin Ibu mertuamu membiarkan ayah dan adikmu kelaparan.” Ayah tertawa


sambil menggoda putrinya dengan menyebut Mama Djiwha ibu mertua. Raina


menggembungkan pipinya tapi rona merah menjalar hingga membuat ayahnya semakin


kencang tertawa. Mereka lalu bersama-sama ke ruang tengah, Reza tampak


kerepotan membawa tas-tas berisi oleh-oleh dari kamar Raina. Dengan tergesa dia


membukanya satu per satu, Raina juga tidak tahu apa isinya karena itu pemberian


Mamanya Djiwha, oleh-oleh asli dari Bali untuk ayah dan adiknya hanya sedikit


karena dia tidak punya uang.


“Hore! Ini ‘kan


mobil-mobilan canggih yang bisa jadi robot, ya ampun ... makasih, Kak.” Reza


melompat-lompat girang. Raina sendiri kaget melihat hadiah yang diberikan


Mamanya Djiwha, harganya pasti sangat mahal.


“Rai, kamu ...


uang dari mana? Itu pasti mahal sekali harganya.” Ayah menatap Raina dengan


wajah penasaran dan kaget.


“Emh ... itu ...


aku ....”


“Raaai, kamu


enggak melakukan hal-hal yang negatif selama di Bali ‘kan sama putra bungsu


Mahardika?” tanya ayah dengan raut wajah cemas dan curiga.


“Tidak, Ayah.


Jangan berpikir macam-macam, itu semua pemberian Mama Djiwha saat aku mau


pulang. Oleh-oleh dariku hanya kaos ini saja dan beberapa aksesoris khas Bali.”


Raina membuka paper bag bergambar khas Bali lalu memberikan sebuah kaos


bertulisakan I Love Bali pada ayahnya.


“Rai, Ayah jadi


enggak enak sama mereka. Kenapa bisa sebaik itu sama kita, apa benar kamu dan


Djiwha punya hubungan khusus lebih dari sekadar teman?”


“Ayah, tidak


usah berpikir macam-macam. Raina dan Djiwha hanya teman, tidak lebih.” Raina


mengenggam tangan ayahnya dan tersenyum, dia tidak mau ayahnya berpikir yang


tidak-tidak.


“Rai, apakah


kamu sudah bertemu dengan Ke—“


“Sudah, Ayah.


Jangan pikirkan itu, aku sedang tidak ingin membahasnya.” Raina memotong


perkataan ayah, pasti ayah akan bertanya apakah dia sudah bertemu Kevin , Raina


sudah tahu kalau Kevin bolak-balik terus ke rumah selama dia di Bali. Tuhan


maaf pemaaf kenapa umatnya tidak? Pertanyaan itu terus berlanjut di benak


Raina, memang harusnya dia melupakan semua rasa sakitnya tapi, itu terlalu

__ADS_1


sulit.


__ADS_2