
Aku memiliki seorang kakak laki-laki.
Juno dan aku harus saling mengandalkan selama tiga belas tahun. Alasannya, karna kami telah kehilangan orangtua kami. Sejak saat itu Juno yang baru berusia delapan belas tahun hampir putus asa dengan impian untuk menjadi seorang penyanyi karna harus menghidup adiknya yang baru berusia dua belas tahun.
Aku yang saat itu sudah mengerti akan kelanjutan hidup kami dengan berani berkata, “Oppa, aku akan berusaha dengan baik, jadi jangan khawatirkan tentang diriku. Lanjutkanlah mimpimu”
“Apa maksudmu?" Tanya Juno, dia berusaha untuk memberikanku senyuman manisnya. Tapi aku tahu, dia sangat terluka dengan kondisi kami saat ini. Kehilangan orangtua, harus bertanggung jawab atas hidup adik perempuannya dan mungkin merelakan mimpinya diusia muda.
“Aku bilang lanjutkan mimpimu, kau telah berusaha untuk masuk ke agensi terkenal. Kau kira aku tidak tahu, kalau kau berencana untuk menyerah karna diriku. Jangan khawatirkan aku, karna aku juga akan berusaha untuk diriku” seorang anak yang baru kehilangan orangtuanya berusaha meyakinkan kakak laki-lakinya untuk tidak menyerah akan mimpinya, terdengar lucu bukan?
Dengan keyakinan dari diriku, Juno berhasil meraih mimpinya, dia menjadi seorang penyanyi yang handal. Namanya dikenal seluruh negri, aku hampir bisa mendengar suaranya kemanapun aku pergi.
Karna keberhasilan Juno jugalah, aku bisa hidup dengan baik tanpa kekurangan. Hanya sjaa aku tidak merasa nyaman kalau ada orang yang tahu kalau Juno adalah kakakku. Sejujurnya aku merasa dengan orang tahu siapa kakakku, masa depanku akan sedikit terganggu. Mereka mungkin berpikir apapun yang aku miliki atau apa yang aku lakukan itu karna bantuan dari nama Juno. Bahkan beberapa teman sekelasku yang tahu bahwa aku memiliki hubungan dengan Juno, mulai mendekatiku dengan tujuan lain.
Itu sebabnya setelah aku menyelesaikan SMA, aku memutuskan untuk pergi ke New York untuk melanjutkan studiku.
Tidak semudah yang kalian bayangkan, aku butuh waktu setidaknya enam bulan untuk meyakinkan Juno. Setelah diterima di Universitas di Manhattan dan mendapatkan izin dari Juno, aku berangkat ke New York.
Ahh ada kabar baik yang harus kusampaikan pada kalian, Juno yang bersinar didunianya, bagaimana denganku?
Hmm tentu saja aku juga mulai bersinar diduniaku, setahun yang lalu dengan keisenganku yang luar biasa aku memenangkan kontes menulis lirik lagu, aku rasa Juno menurunkan sedikit talentanya padaku.
Setelah menyelesaikan studiku aku memutuskan untuk bekerja dengan produser musik ternama di Amerika. Sam produser musik yang selalu berhasil mendapatkan penghargaan melalui karyanya. Alih-alih hanya menulis lirik, aku meningkatkan kemampuanku dengan menambahkan aransemen dalam lirik yang aku tulis.
__ADS_1
Tentu saja Juno juga sangat menentang pekerjaanku saat ini, awalnya dia berpikir bahwa aku akan Kembali ke Korea setelah menyelesaikan pendidikanku. Aku juga tidak menyangka akan masuk dalam dunia musik sama seperti dia, hanya saja setelah kutekuni ternyata cukup menyenangkan. Bisa menumpahkan apa yang kurasakan dan kupikirkan dalam sebuah lirik lalu ditambah dengan aransemen, dan dinyanyikan dengan baik oleh penyanyi. Setelah dipublikasikan, banyak orang yang terhibur dan merasa dikuatkan, itu menjadi alasan terbesarku untik melanjutkan pilihan ini.
Juno yang menentang keputusanku untuk tidak kembali ke Korea. Aku mengatakan “Jika aku gagal aku akan pulang” dengan janji itulah Juno mengizinkanku untuk tinggal lebih lama di New York, dengan syarat aku tetap harus pulang minimal satu tahun sekali untuk peringatan kematian orangtua kami.
Tidak butuh waktu lama untuk aku dikenal, lagu-lagu yang kutulis diproduksikan dengan sangat baik oleh Sam. Aku mulai sibuk dengan kontrak yang kudapatkan, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku hebat dalam bidang ini, semua ini berkat Sam.
Tidak bisa dipungkiri Sam seperti dewa didunia musik, dia dapat dengan jeli melihat lagu-lagu yang berpontensi dan memilih penyanyi yang sesuai dengan lagu tersebut.
Pekerjaan yang kudapat karna keberuntungan ini tidak selalu berjalan dengan baik, ada kalanya aku benar-benar kehilangan ide, “apa yang harus kutulis sekarang” berkerja dibawah tekanan bukan hal mudah, Sam beberikan PR tentang berapa lagu yang harus kuciptakan dalam sebulan. Belum lagi jika ada kontrak yang sudah aku sepakati. Kadang dengan agensi musik lainnya atau dengan rumah produksi film. Mau tidak mau aku harus berkerja dengan extra, “aku kira aku akan hidup dengan mudah sekarang, ternyata tidak. Keisengan telah menjeratku kedalam kehidupan yang lebih sulit” kataku sambil menatap layar komputer, berharap aku bisa menemukan ide untuk lirikku.
“Joa, jika saat ini aku harus memilih memaksakan otakku yang sudah buntu atau pergi tidur, aku akan memilih untuk tidur” saut Alan yang sejak tadi duduk disudut studioku.
Alan, dia adalah roommate sekaligus asistenku. Walaupun lebih muda dua tahun dariku, Alan sangat bisa diandalkan dalam perkerjaannya Dialah yang akan me-review setiap lirik yang aku tulis sebelum diserahkan, alasan untuk mengurangi kesalahan dalam penulisan.
“Bisakah kau diam, aku sedang berkonsentrasi” balasku dengan ogah sambil mengambil puplenku.
“ Apa maksudmu dengan berkonsentrasi, sudah setengah jam kau hanya duduk dan menatap kosong keyboardmu” jelas Alan dengan ketus.
Seperti yang aku katakan tadi, walau dia lebih muda dariku, jiwanya terlalu dewasa, ada kalanya aku selalu kalah saat kami berdebat.
“Diamlah” jawabku malas
“ Ah.. Joa, apa kau ada janji besok?” tanya Alan
__ADS_1
“Um.. Tidak ada yang bisa kulakukan besok selain masuk kembali ke ruangan ini, dan duduk ditempat ini” aku benar-benar tidak berniat untuk berbicara.
“Aku akan pergi menemuni seseorang besok, bergabunglah denganku”
“Seorang pria atau seorang wanita?” aku langsung menatap Alan yang berada disudut studio dan menatap dia dengan senyuman menggoda, pertanyaanku cukup wajar. Alan seorang gay, kalau dia akan menemuni seorang wanita aku akan ikut, hitung-hitung mencari udara segar diluar, tapi kalau dia akan menemuni seorang pria, sorry aku lebih memilih untuk tinggal dirumah.
“Pria” jawab Alan singkat
“Oh hoo, I’m good, pergilah bersenang-senang” kataku sambil tersenyum.
“Kau gila? Aku akan menemuni sepupuku”
“Sepupu? Jangan bilang si nomor 5?”
“Heh, dia punya nama, intinya bergabunglah dengan kami besok” kata Alan sambil beranjak keluar studio
“Aku akan tidur sekarang, aku harap kau juga tidur agar besok tidak terlambat”
“Dasar gila, siapa yang setuju pergi dengan dirinya” bisiku
Sejak berada di New York, Juno menyewakan sebuah rumah di lingkungan universitasku, selama ini aku hidup sendiri karna tidak terlalu nyaman jika harus hidup bersama orang asing. Alasan kecocokanlah membuatku memilih untuk tinggal sendiri. Tapi sejak Alan berkerja untukku, aku mengajaknya untuk tinggal bersamaku, rumahku memiliki beberapa kamar kosong, salah satunya sudah kujadikan studio untuk bekerja, lalu membiarkan Alan menggunkan ruangan lainnya.
“Aku rasa Alan benar,sebaiknya aku tidur sekarang”
__ADS_1