A Tears

A Tears
Chapter 5


__ADS_3

Melalui jendela besar yang beda dibelakang rumah akan terlihat sebuah taman yang memiliki sebuah danau buatan. Jalan menuju danau bisa di akses melalui pintu dibelakang rumah, lalu berjalan menyelusuri jalan setapak yang telah disediakan, kita akan dimanjakan dengan pemandangan rumput hijau dan langit yang biru. Ini salah satu ikon dari lingkungan yang kami tinggali, hampir semua penghuni menghabiskan waktu luang mereka disekitaran danau. Banyak dari mereka yang berolahraga saat pagi hari, berpiknik disiang hari, dan menikmati sunset saat sore hari.


Setelah membersihkan diri siang itu,Joa kembali berbaring diranjang sambil memeriksa ponsel miliknya kalau-kalau Luke membalas pesannya tadi.


"Okay" balas luke singkat. Sebenarnya sikap Luke sedikit berubah sejak tiga bulan terakhir ini, setiap kali Joa bertanya apakah dia sedang bermasalah, Luke selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Walau Joa cukup khawatir, tetapi dengan memegang janji di awal hubungan mereka, Joa berusaha tidak memikirkannya dan memilih untuk percaya pada perkataan Luke. Mereka berkomitmen dengan saling percaya, sadar memiliki tanggungjawab atas pekerjaan. Luke setahun lebih tua dari Joa. Itu mengapa Joa sangat mengandalkan Luke saat mereka mulai berkencan, Luke yang paling diandalkan oleh Joa.


Berbeda dnwgan


Jam dinding menujukan pukul tiga sore, aku buru-buru keluar dari kamar. Kevin sudah menungguku diruang santai langsung tersenyum saat melihat aku berjalan mendekatinya.


"Kita akan berangakat sekarang?" tanyanya


"Sebentar, mari ambil beberapa minuman dan camilan untuk dinikmati didanau" kataku. Aku mulai membuka kulkas dan memasukkan beberapa camilan kedalam tas piknikku. "Ayo" kataku


"Kau selalu berada dirumah?" tanya Kevin sambil mengambil tas piknik dari tanganku, aku yang cukup terkejut dengan tindakkannya harus menghentikan langkaku. Tersadar Kevin juga berhenti karna diriku, aku kembali berjalan. "Iya, pekerjaanku tidak memaksa aku harus berada dikantor. Tidak seperti Alan yang wajib pergi bekerja, aku hanya sesekali berada dikantor untuk rekaman atau rapat untuk persiapan perilisan lagu" jawabku.


Kevin tetap bersikap santai berjalan disampingku, "Ahh, semalam kau berkata kau sudah beberpa kali menonton pertandingan basket diKorea"


"Benar, uhm.. Sekitar tiga tahun lalu, temanku mengajakku pergi menonton secara langsung" jelasku


"Kau sudah mengenalku sejak itu?" Kevin cukup penasaran.


Aku tertawa "Tidak, aku belum mengenalmu saat itu. Alan memberitahuku tahun lalu, saat dia mengetahui aku sering pergi menonton saat di Korea" jelasku


"Bagaimana kesanmu?" tanya Kevin lagi


"Kesan? Tentang... Ahh tentang dirimum?" Kevin langsung mengangguk


"Uhm.. Bolehkah aku jujur? Kau terlihat arogan saat dipertandingan, kau juga terlibat sombong saat mulai cetak angka" raut wajah kuberubah saat menjelaskan kesanku tetang Kevin.


"Mereka bilang itu pesonaku" jawabnya singkat

__ADS_1


"Hah? Kau serius?" tanyaku sambil tertawa.


Cerita Alan tentang Kevin berbanding terbalik dengan apa yang kulihat saat dipertandingan. Tapi sekarang aku bisa menjamin Alan yang katakan Alan adalah faktanya. Kevin tidak terlalu tampan, tapi dia punya pesona yang menawan, senyumannya terasa hangat.


Kami memutuskan untuk duduk dikursi yang sediakan tepat didepan danau.


"Sebenarnya, Alan memberitahuku alasan aku berlibur sendiri karna kau baru saja putus dari pacarmu" aku mengatakan hal yang kuketahui dengan hati-hati berharap aku tidak menyakiti perasaan Kevin.


"Alan juga memintaku untuk mengiburmu. Tapi aku bukan orang yang baik dalam berkata-kata" sambungku.


"Benar, aku merasa hanya butuh waktu untuk berfikir. Aku menjalani hubungan yang cukup lama dengan mantan pacarku. Dia juga orang yang mendukung pekerjaanku sejak awal, jadi aku tidak percaya saat dia meninggalkanku" jelas Kevin


"Kau sudah terlihat jauh lebih baik dari semalam. Kau juga banyak tersenyum hari ini" kataku


"Benarkah?"


"Yapp.. Kau pasti bisa melewatinya, kau akan menemukan orang yang akan menerimamu apa adanya, percayalah" berharap perkatakanku dapat menghibur Kevin.


Sore itu terasa cukup panjang, mungkin karna ini musim panas. Kami memutuskan untuk kembali sebelum mulai gelap, Alan mengatakan dia dalam perjalanan pulang dan sudah membeli makan malam untuk kami.


"Danaunya sangat luar biasa" kata Kevin


Aku hanya tersenyum mendengar komentar Kevin.


"Aku tidak yakin dengan ini, awalnya aku kira kau orang yang dingin, namum sepertinya aku salah besar" sambung Kevin


"Kau tidak salah, aku memang cukup tertutup dengan orang yang baru kukenal. Aku hanya memiliki sedikit teman, sebagian dari mereka adalah orang yang sudah lama kukenal. Dan hanya bisa menunjukan sisiku pada mereka" jelasku


"Apakah aku sudah menjadi bagian dari mereka?" tanya Kevin.


Aku menatap Kevin dengan kecewa dan berkata "Baru tadi siang kau katakan, aku seperti teman yang sudah lama tidak kau jumpai, sekarang kau bertanya apakah aku temanmu? Wahh aku cukup kecewa"

__ADS_1


Kevin memegang kepalanya dan tertawa "Benar juga, kau ini temanku. Maafkan aku teman" imbunya


Lampu dirumah sudah menyala, menadakan Alan sudah tiba dirumah.


"Kalian sudah sampai, ayo makan" sambut Alan.


Tanpa menunggu kami menikmati makan malam kami bersama layaknya keluarga, ini suasana yang sudah lama tidak kunikmati, aku menjadi sedikit terharu.


"Kevin, ayo kita pergi ke klub setelah makan malam" ajak Alan. Alan adalah seorang pencinta dunia malam


"Klub? Kau tidak bekerja besok?" tanya Kevin. Alan dia cukup gila, dalam seminggu dia akan pergi ke klub sebanyak lima kali. Dia pergi bekerja saat pagi hari dan berpesta pada malam hari, keesokan harinya dia akan pergi bekerja di jam yang sama tanpa masalah.


"Tentu saja aku akan bekerja. Ayolah, karna sudah sampai di NY kau harus menikmati dunia malamnya setidaknya satu kali" jelas Alan


Aku hanya tersenyum, Kevin seolah tidak bisa menolak ide sepupunya yang gila.


Alan dengan cepat menghabiskan makan malamnya, dan bersiap untuk berpesta. Memakai pakaian yang msngkilap, aku harap dia tidak membaw kevin ke klub khusus gay.


"Tinggalkan saja, aku akan membereskanya. Kau perlu bersiap-siap sekarang, sebelum Alan mengomel" kataku saat melihat Kevin mulai akan mencuci piring.


"Kau tidak ikut?" tanya Kevin


Aku menggeleng kepalaku menandakan aku tidak akan bergabung dengan kegiatan mereka malam itu.


"Aku tidak suka berada dikeramaian" jelasku


"Kau serharusnya memberitahuku, apa yang harus kulakukan sekarang?"


Kevin terlihat menggemaskan saat disudutkan pada situasi yang tidak dia inginkan


"Pergi bersenang-senang" jawabku

__ADS_1


__ADS_2