A Tears

A Tears
Chapter 2


__ADS_3

Selama lima tahun di New York, aku lebih banyak menghabiskan waktuku sendiri. Tentu saja aku memiliki beberapa teman dari jurusanku. Sejujurnya aku bukan tipe orang yang suka bertemu dengan orang baru, menurutku daripada terus bertemu dengan orang baru hanya akan menambah masalah, kami harus saling mengenal dan saling memahami. Butuh waktu lama untuk kami sampai ketahap tersebut.


Lebih baik menjalin hubungan panjang dengan orang-orang yang sudah sejak lama kita kenal.


Aku sesekali pergi ke acara perkumpulan mahasiwa Asia, karna sifatku aku tidak bisa terlalu bebaur dengan orang-orang disana. Aku hampir mengenal setiap mereka, kami sering sekedar berbicang atau pergi makan bersama. Tapi aku menolak untuk menjalani hubungan lebih jauh seperti sahabat.


Ada kalanya aku juga berusaha membuka diri, beberapa dari mereka mulai mengasihani latar belakangku, sebulan kemudian saat aku menghadiri acara tersebut, hampir setengah dari mereka mengetahui kalau aku seorang yatim piatu. Inilah alasan terbesar aku engga menghabiskan waktuku untuk berteman dengan orang-orang baru, mereka akan mendekatimu, bertanya dengan latar belakangmu, saat mereka merasa itu adalah kisah menarik, mereka akan memberitahu kenalan mereka yang lain.


Berbeda dengan orang Asia, aku lebih memilih berteman dengan orang yang berasal Amerika atau Eropa. Mereka tidak terlalu tertarik dengan latar belakangmu. Saat kau berpikir dan sepaham mereka tidak akan menuntut lebih. Aku dan beberapa teman Amrik-Eropaku, lebih banyak menghabiskan waktu untuk pergi berwisata, saat musim panas mereka akan mengajakku untuk pergi ke negara lain di Amerika, kadang mereka juga akan mengajaku mengambil part time di pantai saat musim panas, mau di area ski saat musim dingin.


Setelah aku lulus dan bekerja, aku lebih menjadi anti sosial, aku sesekali menemuni teman-temanku dan lebih nyaman kemana-mana sendiri. Inilah alasan kenapa Alan selalu mengajakku sekedar untuk makan atau menemuni beberapa kenalannya.


“Joa, kau sudah bersiap-siap?” tanya Alan.


“Tentu saja, walau aku seorang anak rumahan, aku tidak pernah terlambat untuk hal-hal seperti ini” kataku dengan keangkuhan.


“Joa, ada yang harus kuberitahu sebelum kita menemuni Kevin” wajah Alan seketika serius membuat bulu kudukku berdiri.


“Apa, jangan membuatku takut” jawabku sambil menatap Alan serius


Dengan nada serius Alan berkata “Kevin, dia baru saja putus dari pacarnya”


Seolah-olah telah tertipu dengan perkatakan Alan, aku menatapnya dengan sedikit wajah kesal


“Seriously, lalu apa hubungannya denganku”


“Aku hanya berharap kau bisa menghiburnya” jawab Alan santai


“Kau benar-benar gila Alan. Kenapa aku harus menghiburnya, bagaiman caraku menghiburnya?”


“Aku sudah berpikir cukup lama untuk ini. Orang yang baru putus harus segera bertemu dengan orang baru untuk melupakan mantan pacarnya”


“Maksudmu orang baru itu aku? Kau benar-benar sudah gila Alan Kim. Kau mungkin lupa aku sudah punya pacar” jawabku dengan suara yang berusaha menahan emosiku.

__ADS_1


Alan langsung menutup mulutnya dan berkata “Upps.. Kau masih berhubungan dengan pria itu? Kukira kalian sudah putus”


Tidak ada yang bisa kukatakan, aku memang sedang berpacaran dengan seorang pria, Luke.


Dua tahun lalu saat musim panas, kami pergi berlibur ke Argentina, dia seoranh mahasiswa kedokteran, sebelum memulai magangnya, dua memutuskan untuk berlibur bersama kami.


Luke berasal London, sejak berumur 15 tahun ia harus pindah ke Amerika karna pekerjaan Ayahnya. Sejak awal petemuan kami, aku cukup tertarik dengan Luke, seorang pemuda dengan mata hijau dan kulit putih. Menurutku dia sangat tampan, hal lain yang kuketahui ternyata Luke sangat bisa diandalkan, dialah yang selalu menemaniku saar liburan kami. Saat kami menyelesaikan liburan kami, aku tidak bisa berhenti memikirkan Luke, aku sadar bahwa aku sudah mencintai Luke.


Tiga bulan sejak kepulangan kami dari Argentina, Luke mengajakku bertemu. Kami berjanji akan bertemu di Battery Park, diujung selatan Manhattan. Sambil duduk menunggu sunset, Luke menyatakan perasaannya. Sama seperti diriku, dia juga tertarik denganku sejak di Argentina. Sudah satu tahun sepuluh bulan kami berkencan, saat inu Luke sedang menyelesaikan magangnya, kami terpaksa harus menjalin hubungan jarak jauh sejak kami berkencan.


“Kau benar-benar cari mati Alan” jawabku ketus


“Intinya, kita harus membantu Kevin melupakan mantan pacarnya Joa”


Sambil memasang muka malas aku berkata “Tolonglah dia bukan anak kecil”


“Kevin telah menjalin hubungan dengan mantannya sejak SMA, kau tahu alasan mereka putus? Karna Kevin tidak lebih kaya dari pacarnya saat ini” jelas Alan


“Kau serius, bukannya Kevin seorang Atlet? Dia masuk kedalam tim nasional setidaknya dia bercukupan bukan?” Setahuku, Kevin sepupu Alan ada pemuda yang bisa dikatakan sukses, dia bahkan terpilih sebagai pemain timnas diusia muda.


Kami tiba di kawan midtown, tempat yang cukup ramai turis dari berbagai negara. Sambil memerhatikan beberpa orang-orang yang berjalan disana. Aku dan Alan memasuki sebuag restoran Korea-Prancis, perpaduan dari kedua negara membuat interior restoran tersebut sangat indah. Kevin dia cukup mudah ditemukan, seorang pemuda korea yang sedang duduk disudut restoran dengan koper besarnya. Dia langsung berdiri, "tinggi sekali dia" sejujurnya aku sudah beberapa kali melihat Kevin dipertandingan klub saat aku berada di Korea, tapi aku tidak menyangkah dia sangat tinggi saat ditemui langsung.


"Alan!!" sapa kevin sambil melambaikan tangannya.


Kevin cukup tampan, dia memiliki senyuman yang menawan, juga pembawaan yang tampak bijak. Mungkin karna dia atlet.


"Hyung!! Harusnya kau tunggu saja dibandara, aku akan menjemputmu" kata Alan sambi memeluk sepupu kebangganya. Sejak Alan pindah kerumahku, hal yang paling sering dia bicarakan adalah Kevin, atlet muda yang masuk dalam timnas cabang bola basket. Sejak saat itu aku seolah sangat mengenal Kevin walau ini pertemuai pertama kami.


"Ahh Hyung, perkenalkan Joa, aku bekerja untuk dia, kami juga tingga bersama" jelas Alan


"Hallo, Joa" sapaku


"Haii, aku kevin senang bertemu denganmu" jawab Kevin sembari duduk dikursinya.

__ADS_1


"Kau sudah memesan makanan? Tanya Alan sambil melihat sekeliling


"Aku sudah memesan beberpa menu, kalian mau menambah yang lain?" tanya Kevin


"Kami akan menunggu makanannya datang dan memutuskan apakah akan menambah atau tidak" kata Alan


Aku yang sejak tadi hanya diam karna tidak tahu harus memulai dari mana untuk masuk kedalam pembicaraan mereka, sampai akhirnya Kevin menyadari dan berkata "Alan, dia cukup sering membicarakan dirimu"


"Ahh.. benarkah? Aku berharap dia memberikan hal yang baik" kataku sambil melihat Alan yang sedang mengatur makanan dimeja.


Sadarkan tatapanku, Alan melihatku sambil tersenyum "Tentu saja aku menceritakan ha yang baik. Oh Kevin, Joa juga menyukai basket, dia juga cukup sering menonton pertandingan saat berada di Korea"


"Benarkah? Beritahu aku saat kau kembali ke Korea, aku akan memberikan tiket VIP untukmu, kau bisa menikmati pertandingan dari kursi yang strategis" jelas Kevin


"Thankyou, aku menghargainya. Aku benar-benar akan menghubungimu" jawabku sambil tersenyum


"Joa, beritahu kami siapa pemain favoritmu" pintah Alan, Kevin berhenti untuk menghabiskan makananya dan menunggu jawabku


"Pemain favorit? Tentu saja Jeff, nomor punggung dua" jawabku langsung sambil membentuk simbol V dengan jariku


"Jeff, dia pemain yang hebat. Kami juga berada di klub yang sama" jelas Kevin, terlihat jelas dia sedikit kecewa dengan jawabanku. Tapi apa yang dia harapkan, aku hanya berkata jujur.


Alan yang duduk disampingku, juga menujukan expresi yang kecewa, "kita sepakat akan menghiburnya" jelasnya dengan tatapan matanya.


"Ahh, berapa lama kau akan berada di New York?" tanyaku


"sekitar lima hari" jawabnya. Aku melirik ke koper besar milik kevin, "cuma lima hari kenapa bawaanya sangat banyak"


Seolah tahu apa yang aku pikirkan, Kevin menjelaskan "Aku sudah mengunjungi beberapa negara sebelum tiba di New York"


"Ahh.." seolah mengerti bahwa ini negara terakhirnya sebelum kembali ke Korea.


"Kau akan menginap dimana? Kami bisa mengantarmu setelah ini" Alan yang terkejut dengan pertanyaanku langsung memegang lenganku. "Joa, aku benar-benar lupa memberitahumu. Aku menawarkan Kevin untuk tinggal bersama kita"

__ADS_1


...


__ADS_2