
Sejak awal perkenalanku dengan Alan, dia jelaskan mengatakan bahwa dia orang yang senang berpesta. Dia juga mengakui bahwa dia seorang gay, tentu saja aku tidak keberatan tentang dirinya dan hobinya. Tapi saat memutuskan untuk tinggal bersamaku, aku memberitahu Alan beberapa peraturan yang harus disetujui, pertama dia tidak boleh mengadakan pesta dirumah dan peraturan kedua Alan tidak boleh boleh terlalu sering membawa pacaranya ke rumah. Alasanku cukup berdasar, agar Juno tidak khawatir atau menjadi marah. Alan menyanggupi peraturan tersebut, dia bahkan tidak pernah mengajak diriku ke klub karna tahu aku kurang nyaman jika harus berada dalam keramaian. Selama tinggal bersama, Kevin adalah satu-satunya tamu Alan yang dibawa kerumah.
Rumah berubah menjadi sunyi saat mereka meninggalkan aku. Tepat setelah aku selesai membereskan dapur, ponselku berbunyi. Nama Luke terpampang dilayar ponselku.
"Haii" kataku sambil tersenyum. Sudah cukup lama kami tidak berbicara, mungkin sekitar lima hari. Hanya mendengar suara Luke jantungku langsung berdetak kencang.
"Kau sedang sibuk?" tanya Luke, suaranya terdengar tidak biasa.
"Yaa, aku tidak sibuk. Banyak yang ingin kuberitahu padamu" sambungku. Tetapi Luke tidak bersuara, hatiku cukup perih dengan respon Luke. Aku tahu ada yang tidak beres dengan Luke.
"Luke?"
"Maafkan aku" katanya
"Tentang apa? Apa yang terjadi?" tanyaku. Kami hampir tidak pernah bertengkar, kami menjalin hubungan kami dengan baik. Kami bahkan sudah menata masa depan kami. Luke bahkan berjanji saat dia menyelesaikan magangnya, dia akan kembali ke NY dan tinggal bersamaku. Tapi kurasa hal itu tidak akan terjadi sekarang, aku mengerti situasi saat ini, aku tidak bodoh. Pasti ada sesuatu yang Luke sembunyikan dariku. Aku menjadi bertanya-tanya masalah apa yang sebenarnya dihadapi Luke sampai sikapnya berubah.
"Aku rasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita" kata Luke. Rasanya seperti sebuah bongkahan batu jatuh tepat diatasku. Tenggorkanku terasa kering, pikiranku mulai melayang, "dimana letak kesalahannya" sambil memahan suaraku agar tetap tenang, aku bertanya "Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" aku merasa mataku mulai memerah.
"selama berbulan-bulan sikapmu berubah, aku tahu ada yang salah, tapi kau selalu mengatakan segalanya baik-baik saja" jelasku
Saat itu aku mendengar, Luke menangis. Aku tidak mengerti sebenarnga apa yang terjadi.
__ADS_1
"Joa, maafkan aku" Luke masih menangis disisi yang jauh, suaranya terdengar sangat menyedihkan.
"Aku tahu, kau sudah memikirkannya sebelum mengatakan semua ini. Aku akan menghargai keputusanmu, setidaknya beritahu aku apa yang terjadi" suaraku mulai bergetar, pikiranku kosong, yang kudengar hanya suara tangisan Luke.
Butuh waktu lama bagi Luke untuk tenang, aku berusaha dengan sabar menunggu jawab dari Luke, "Empat bulan yang lalu, kau ingat aku pergi berpesta setelah menyesaikan operasi pertamaku" aku coba untuk mengingat. Empat bulan lalu, tepatnya diawal musim semi. Luke memberitahuku bahwa dia sangat bahagia karna telah menyelesaikan operasi pertamanya dengan baik. Dia juga mengatakan akan pergi berpesta dengan rekan kerjanya.
"Aku melakukan kesalahan disana. Joa, aku sangat mabuk sampai-sampai aku tidak sadar saat terbangun aku berada di apartemen Michelle. Aku kira aku hanya menginap disana" jantungku serasa berhenti. Michelle adalah mahasiswa kedokteran yang sedang magang dirumah sakit yang sama dengan Luke. Aku beberapa kali bertemu dengan Michelle saat aku berkunjung ke tempat Luke. Dia gadis yang cantik, bahkan sangat cantik dimataku. Dia ramah dan mempesona, aku rasa siapa saja yang melihatnya pasti akan jatuh cinta dengan pesonanya.
Luke tidak bisa menahan emosinya, dia masih menangis "Dia hamil.."
Aku mulai menarik nafasku dengan kekuatanku berharap aku bisa menahan air mataku. Aku mulai menatap sekelilingku, "kosong". Aku tidak mampu menjawab Luke.
Aku mulai menangis, hubungan yang sudah kujaga dengan baik hancur karna satu kesalahan Luke. Ini terlalu tiba-tiba, aku tidak berpikir untuk mengalami kejadian ini, bagaimana mungkin hubunganku dengan Luke harus berakhir seperti ini.
"Baiklah. Aku mengerti, aku harap segala sesuatu berjalan dengan baik begitu pula dengan juga proses bersalinan Michelle" kataku.
Luke mulai menangis lagi, aku tahu dia tidak mengharapkan hal ini terjadi. Satu hal yang dia tahu, dia harus memilih dan bertanggung jawab atas tindakannya.
"Joa..." suaranya terdengar begitu pilu, dia melanjutkan "Aku sampai detik ini, aku masih begitu mencintaimu. Aku selalu berjanji untuk menjagamu. Bagaimana bisa aku menyakitimu dengan cara seperti ini. Maafkan aku Joa, aku benar-benar minta maaf"
Kata-kata Luke begitu menyakitimu perasaanku, aku tidak lagi bisa menahan emosiku. Tentu saja aku tahu, bahkan siapapun yang melihat kami akan tahu bahwa Luke sangat mencintaiku. Dia selalu ada untukku, membantu dan memberi kekuatan untukku. Dia juga yang mengubah hidupku, aku menjadi sosok yang lebih ceria berkat dirinya. Aku bahkan selalu mengandalkan Luke bahkan dalam hal tekecil.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyaku. Luke terdiam, bahkan dia langsung berhenti menangis.
"Luke, aku tanya apa yang harus kulakukan sekarang?" teriakanku mengisi kekosongan rumah malam itu. Harapan ku tentang masa depanku sudah hancur, apa yang harus kulakukan tanpa Luke dihidupku.
"Maafkan aku, sungguh Joa" suara Luke terdengar lemah.
"Aku kira kita masih bisa menyelesaikan masalah kita seperti biasanya. Tapi kali ini, tidak ada cara untuk memperbaikinya, bukan?"
Suara tangisan Luke terdengar kembali, terus menerus meminta maaf.
"Luke, kita sudah tahu apa yang akan terjadi sekarang, saat ini,. Jadi mari kita akhiri saja. Kau harus segera melupakan aku. Semoga kau bahagia" bibirku bergetar.
"Joa.. Sejak pertemuaan kita pertama kali sampai saat ini, aku masih sangat mencintaimu. Maafkan aku"
Segera aku memutuskan sambungan telepon. Aku tidak bisa lebih lama lagi mendengar suara Luke, aku berusaha untuk berjalan kembali kekamarku, mengunci pintu. Aku kembali menangis malam itu, serasa akan meledak. Hal yang selama ini kupendam ikut mengalir dalam tangisku. Semua kenanganku bersama Luke muncul dalam pikiranku, bagaimana cara dia menatapku, memelukku, mencium dan menyentuhku. Semua masih terasa begitu nyata bagiku. Aku juga mulai teringat akan orangtuaku. Jika mereka ada saat ini, akankah aku merasa sesakit ini? Perasaan rindu, kecewa dan rasa sakit berkali-kali menusuk kedalam hatiku.
Setahun setelah kematian orangtuaku, tepatnya di malam saat musim dingin. Aku terbangun dari tidurku, aku mendengar suara Juno di ruang tamu, terdengar seperti menangis, berusaha mengendalikan suaranya. Tapi karna itu sudah cukup larut, aku bisa mendengar suara Juno dengan sangat jelas. Juno seperti sedang mengeluh pada dirinya sendiri, bagaimana hidupnya sangat sulit. Juno harus pergi bersekolah, pergi latihan bernyanyi dan harus mengambil part-time saat ada waktu yang kosong. Dia mulai menyalahkan orangtua kami "kenapa kalian meninggalkan kami"
Sejak hari pemakaman Juno berhenti menangis, kurasa dia terus menahannya sampai malam itu dia tidak bisa lagi membendung segala. Aku juga menangis malam itu, aku juga merasakan hidup yang sangat berat tanpa orangtua kami. Aku sering menangis dihadapan Juno, mengatakan aku merindukan ibu, mengatakan bagaimana segala sesuatu menjadi sangat sulit, tapi dia hanya memelukku dengan tenang.
Tapi malam itu, setelah sekian lama, aku kembali mendengar Juno menangis. Aku keluar dari kamarku, memeluk Juno dengan erat "Maafkan aku" kataku. Sejak malam itu aku tidak bisa menangis lagi, walau aku sedang sakit, kesulitan dalam kehidupan sosialku, bahkan saat aku merindukan orangtuaku. Semua itu tidak bisa melebihi rasa sakit saat melihat Juno dengan pilunya menangis.
__ADS_1