
Alexa adalah satu-satunya teman baikku di NY. Dia mahasiswa di jurusan yang sama denganku. Berbanding terbalik denganku yang sulit akrab dengan orang, Alexa sangat ramah, dia berteman dengan siapa saja. Hampir semua mahasiswa yang masuk di tahun yang sama denganku mengenal siapa Alexa.
Dia jugalah yang pertama mendekatiku, menawarkan diri untuk membantuku selama awal kepindahanku ke NY. Dia mulai mengajakku pergi berlibur dan akhirnya sejak saat itu kami memutuskan untuk menjadi teman yang saling mendukung. Tentu saja aku sangat bersyukur memiliki Alexa sebagai temanku.
Tidak ada yang bersuara sejak kami masuk kedalam mobil Alexa. Aku tidak tahu harus berkata apa pada Alexa, yang kutahu Luke pasti sudah memberitahu Alexa tentang apa yang terjadi diantara kami.
"Kau baik-baik saja?" Alexa mulai berbicara.
"Yaa" kataku. Aku memaksa untuk tersenyum.
Mendadak Alexa mulai menangis "Bagaimana mungkin kau baik-baik saja, pacarmu menghamili wanita lain" suaranya meninggi diikuti dengan tangisanya. Aku hanya bisa terdiam, teringat kembali dengan perkataan Luke. Aku hanya bisa tersenyum "Aku sudah menangis semalaman, aku tidak yakin akan menemanimu menangis malam ini" kataku. Alexa memarkirkan mobil disebuah taman, dan menatapku dengan air matanya yang masih mengalir, menunggu aku berbicara.
Aku tidak pernah mencertikan kisah menyedihkanku pada oranglain, aku tidak ingin orang-orang menganggap aku adalah orang yang lemah. Jadi saat ini sangat sulit bagi untuk memulai pembicaraan ini, "Aku tidak yakin dengan diriku, seperti aku kehabisan tenaga. Aku tidak bisa berpikir dengan baik, aku tidak nafsu untuk makan, aku hanya ingin berdiam diri" jelas ku. Air mata Alexa masih terus mengalir, mungkin dia bisa merasakan apa yang kurasakan.
"Kau tahu, tidak pernah terpikir hal seperti ini akan terjadi dalam hidupku. Pacar yang ku cintai akan meninggalkan aku, alasanya dia menghamili wanita lain dalam keadaan mabuk. Pernahkah kau memikirkan hal ini" alu masih berusaha untuk tertawa saat menjelaskan hal ini. Alexa masih dalam diam dan aku melanjutkan. "Dia terus menerus mengatakan dia mencintaiku, aku mulai berpikir jika dia mencintaiku mengapa tidak suruh wanita itu untuk mengugurkan kandunganya. Aku sangat jahat bukan?"
Alexa menggeleng kepalanya dan memelukku "Tidak ada yang salah dengan mu sayang" katanya. Pelukan Alexa membuatku menangis, berbeda dengan tangisanku semalam, kali ini lebih tenang.
"Kau tahu, begitu banyak hal yang sudah kami lalui bersama. Sekarang semuanya tidak berarti lagi, aku bertanya-tanya, apakah dia merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan?" Alexa melepaskanku dari pelukannya.
"Semalam setelah dia memberithuku. Aku bertanya padanya, apa yang harus kulakukan sekarang", sambil menahan tangisanku aku berkata kembali "Seharusnya dia menemuni agar aku melihat dirinya untuk terakhir kali, bukannya memutuskan semua hanya melalui sambungan telepon"
Aku sangat putus asa, aku berharap Luke berada bersamaku sekarang. Alexa kembali memelukku tanpa mengatakan sepata kata pun.
Anehnya setelah mencertikan isi hatiku pada Alexa, hatiku sedikit tenang seperti sedikit beban terangkat dari tubuhku. Alexa membawa ku pergi ke Apartmentnya, "menginplah malam ini" katanya.
Saat aku terbangun keesokan hari nya, Alexa sudah berangkat kerja dan meninggalkan aku sendiri. Aku mulai berusaha bangun, mata masih terasa perih. Dengan tenang aku duduk di sofa pink milik Alexa, aku memutuskan untuk merelakan Luke. Bagaimanpun dia memang harus bertanggung jawab dengan tindakannya baik dia sengaja maupun tidak. Kalau pun Michelle tidak hamil saat ini, aku juga tidak yakin akan menerima Luke yang sudah tidur dengan rekan kerjanya. "Ini akan sulit, tapi kau sudah melalui hal yang lebih sulit dari ini. Jadi berusahalah Joa, kau pasti bisa" kataku pada diriku sendiri.
Aku mengambil ponselku, mencari nama Juno. Sejak semalam dia sudah menghubungi ku, pasti dia khwatir aku tidak mengangkat telepon bahkan tidak membalas pesannya.
"Joa?" suara Juno membuatku tersenyum
__ADS_1
"Juno, apa yang sedang kau lakukan" tanyaku
"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kau sendiri sedang apa? Aku menghubungimu sejak semalam tapi kau tidak mengangkat teleponku" aku langsung merasa bersalah karna sudah membuat Juno khawatir.
"Maafkan aku, aku bekerja seharian" jelas ku. Aku merasa belum waktunya menceritakan hubunganku dengan Luke yang sudah berakhir.
"Kau baik-baik saja?" tanya Juno
"Tentu saja aku baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan diriku, aku bisa mengurus diriku dengan baik. Sebaiknya bapak penyanyi tolong jaga kesehatan dan jangan lupa makan" kataku sambil becanda.
"Kau tidak terdengar baik-baik saja" balas Juno. Juno satu-satunya orang yang tidak bisa kubohongi, mungkin karna kami terikat karna darah. Dia bisa mengetahui ada yang salah dengan diriku hanya dengan mendengar suara ku.
"Umm, aku akan memberithahumu nanti" kataku singkat,
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Pastikan kau cukup makan dan tidur, jangan berkerja terlalu keras. Tanpa kau berkerja, aku bisa menghidupi mu" jelas Juno.
Setelah mengakhri sambungan telepon dari Juno, aku bergegas untuk pulang, masih banyak yang harus kulakukan, aku tidak bisa terus berada disini.
"Hai,," kataku
Tidak ada jawaban dari Kevin, tapi dia cukup terlihat khawatir. Sebelum dia bertanya, aku mengatakan "Aku baik-baik saja" sambil tersenyum. "Kenapa kau selalu berada dirumah, bukankah kau sedang berlibur" kataku sambil tertawa.
Kevin hanya tersenyum. Aku yakin dia sangat penasaran dengan masalah ku. Tapi karna kami belum cukup dekat, dia tidak yakin apakah dia bisa bertanya tentang masalah ku. "Aku akan membuatkan makan siang untukmu" kata Kevin.
"Ahh.. Kevin, ayo makan di luar hari ini. Aku akan mandi sebentar, lalu ayo pergi bersama" kataku.
Siang itu kami memutuskan menikmati ramen sebagai makan siang kami. Restoran kecil tapi nyaman untuk menikmati makan siang kami, aku menatap Kevin yang ada didepan ku.
"Ada apa" katanya
"Tidak, aku hanya berfikir seharusnya kau tidak terus berada dirumah"
__ADS_1
"Ini mungkin terdengar tidak sopan, tapi kau sungguh baik-baik saja" tanya Kevin
"Alan juga sangat mengkhawatirkan mu" jelasnya lagi.
"Aku baik-baik saja sekarang. Maaf membuat kalian khwatir" kataku. Kevin tersenyum "Syukur lah kalau kau baik-baik saja sekarang"
"Adakah tempat yang ingin kau kunjungi?" tanyaku. Kevin akan kembali ke Korea besok, setidaknya aku bisa menemaninya jika ia ingin pergi kesuatu tempat.
Kevin berfikir keras sambil nenghabiskan makanan nya. "Haruskah kita bersantai disebuah taman, aku terdapat banyak taman di Manhattan" jelasnya
Memang betul banyak taman indah di Manhattan, tapi aku tidak me nyangka tempat yang ingin dikunjungi Kevin sebelum kembali adalah sebuah taman. "Baiklah, kita akan ke taman. Tapi tidak sekarang, masih terlalu panas" kataku
Kami memutuskan duduk di restoran ramen sedikit lebih lama, karna itu bukan jam sibuk, tidak banyak pelanggan yang makan disana.
"Apa kegiatan mu selain menulis lagu?" tanya Kevin
"Tidak banyak, aku mengambil beberapa kursus gitar dan bass untuk pekerjaan ku"
"Kau berolahraga" tanyanya lagi.
Aku tersenyum "Tidak, aku tidak baik dalam olahraga. Tapi aku sangat menikmati saat melihat pertandingan olahraga" jelasku
"Ahh tapi dari semuanya, aku senang berenang. Sudah setahun aku juga kursus menyelam" jelas ku lagi
"Wahh, ternyata kau punya banyak kegiatan" kata Kevin
"Sejujurnya selama ini aku selalu dipenuhi teman, penggemar dan perhatian. Aku selalu menikmati hal-hal seperti itu. Saat aku putus dengan mantan pacarku, aku langsung melarikan diri ke Amerika. Awalnya aku ragu, apakah aku bisa sendiri. Tapi setelah satu bulan berjalan sendiri, aku jadi menghargai waktuku, tanpa oranglain. Aku kira aku bisa mengerti dirimu" jelas Kevin
"Namum saat aku tiba disini kau dan Alan sangat memperhatikanku, bahkan mengajak ku pergi ke danau. Ternyata sangat menyenangkan saat seseorang menemaniku" katanya,
Aku menatapa Kevin, memiringkan kepalaku, aku sedikit kebingungan dengan perkataannya bagusan, "Ah, aku juga senang bisa menemamimu" balas ku.
__ADS_1
"Trimakasih Joa, aku harap kau selalu bahagia" senyuman Kevin terasa hangat, perkataannya memberikan aku sedikit kekuatan.