
Sudah lima bulan sejak Luke memutuskan hubungan denganku. Sejak saat itu aku sendiri tidak berniat mencari tahu bagaimana keadaanya dan apa yang dilakukan Luke sekarang. Begitu juga dengan Luke, dia juga tidak mencari atau menghubungiku sejak malam musim panas itu.
Sekarang musim gugur sudah tiba, udara mulai dingin. Aku masih berusaha untuk melewati kesulitanku. Tidak mudah bagiku untuk melupakan Luke begitu saja. Ada kalanya aku sangat membenci dirinya tapi ada saatnya juga aku merindukan sosoknya. Bagaimana pun, aku masih berusaha.
Alan dan Sam akhirnya mengetahui masalah ku, bagaimana tidak, hampir semua lagu yang kutulis memiliki lirik yang sangat menyedihkan dan membungkusnya dengan nada yag riang. Sam selalu mengatakan lagu yang ku buat terdengar mengerikan, "Bagaimana mungkin kau menulis lagu seperti ini, jika ingin menulis lagu yang sedih guna kan nada yang sedih untuk musiknya" jelasnyya
Aku hanya ingin menulis lagu sesuai dengan apa yang kurasa, tapi seperti nya aku terlalu memaksakan diiri.
Sampai suatu hari, Sam memintaku untuk datang ke agensi. Aku mengira hanya akan ada rapat seperti biasanya, memilih lagu yang akan dirilis serta memilih penyanyi mana yang akan kami ajak untuk melanjutkan proyek tersebut. Tapi seperti nya aku salah besar.
"Joa, aku kira kau butuh waktu untuk beristirahat" katanya
"Kenapa?" tanya ku. Alan yang berada di ruangan yang sama hanya terdiam mendengar perkataan Sam.
Aku masih binggung dengan situasi ini, dan mulai berpikir apakah aku sudah melakukan kesalahan.
"Tidak, hanya saja kami berpikir kalau kau butuh waktu untuk berlibur" jelas Sam. Aku yang masih binggung menatap Sam lalu Alan.
Alan mulai menatapku dan berkata "Joa, kami tahu apa yang terjadi antara dirimu dan Luke. Tidak semua. Hanya fakta bahwa kalian berpisah" Alan memeriksa expresiku dan melanjutkan, "Tidakkah kau berpikir situasi mu berpengaruh pada pekerjaan mu? Lagumu terdengar sangat gelap. Seperti tidak ada harapan. Ini sangat berbeda dengan jenis lagu yang biasa kau tulis" jelas Alan.
"Seburuk itu?" tanya ku. Aku tidak berpikir perasaanku akan berpengaruh dalam pekerjaanku. Jika Sam mengatakan buruk, berarti itu benar. Sam hampit tidak pernah salah dalam menilai sebuah lagu.
"Aku tahu, kau mungkin tidak ingin membicarakan masa kamu pada kami. Jadi aku dan Alan menawarkanmu untuk pergi berlibur. Melupakan masalahmu dan mencari suasana baru. Saat kau sudah tenang tulislah lirik. Kau bisa bekerja dimana saja, bukan? Kau bisa kembali kapan saja" Jelas Sam.
Butuh waktu lama bagiku untuk berpikir, akankah liburan dibutuhkan.
"Okay, aku akan pergi berlibur. Sebelumnya aku harus meminta maaf pada kalian. Aku butuh waktu untuk memberitahu aku dan Luke sudah putus, alasanya... Alasanya karna dia akan menikahi wanita lain" aku menjelaskan dengan suara yang datar, "Mungkin mereka sudah menikahi dan menunggu anak pertama mereka lahir"
__ADS_1
Sudah tidak ada yang harus kusembunyikan, Alan dan Sam harus tahu apa yang membuat ku tidak fokus berkerja.
Mereka hanya terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang aku katakan. "Saat Kevin berada disini bukan? Malam itu?" tanya Alan,
"Maafkan aku Joa, seharusnya aku langsung bertanya walau kau mungkin tidak menyukainya. Seharusnya aku menghiburmu" jelas Alan
"Tidak perlu meminta maaf" sautku sambil tersenyum, tidak ingin membuat keadaan menjadi canggung aku berkata,
"Aku boleh berlibur bukan?" tanyaku lagi,
Sam menatapku dan tersenyum "Pergillah berlibur"
Dalam perjalanan aku terus berpikir "Kemana aku harus berlibur". Tapi suara Alan memecahkan lamunanku "Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Kita bahkan tinggal bersama, bagaimana mungkin akku bisa membiarkanmu melewati situasi yang sulit sendiri. Aku benar-benar minta maaf" Alan terlihat menyesal, sejujurnya aku bersyukur Alan sangat bersabar untuk tidak bertanya padaku tentang apapun sejak hari itu. "Sudahlahh kenapa kau merasa bersalah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Menurutmu kemana aku harus berlibur? " tanya ku pada Alan.
"Kau sudah memberitahu Juno?" tanyanya lagi
Seolah mengerti dengan keputusanku, Alan berkata "Pulanglah ke Korea"
"Wahh.. Aku juga berpikir untuk kembali ke Korea. Haruskah aku pulang, lalu berlibur ke kota-kota kecil disana? " tanyaku
Alan setuju "Itu ide yang bagus, kita orang Korea tapi tidak pernah kemana pun selain kota kelahiran kita" katanya sambil tertawa. Berbeda denganku yang datang ke NY untuk belajar dan akhirnya bekerja, Alan sudah menetap bersama keluarganya di Amerika sejak dia berusia tujuh tahun.
Mendengar kometar Alan aku tertawa, aku setuju dengan Alan. Aku sendiri tidak banyak melakukan perjalanan di Korea, aku hanya pernah berkunjung kebeberapa kota seperti Pulau Jeju dan Busan.
"Aku harus memberitahu Juno terlebih dahulu, dia tidak akan senang jika aku tiba-tiba pulang" kataku.
..
__ADS_1
Kurang dari seminggu aku langsung melakukan perjalanan pulang kampung. Aku memberitahu Juno dan beberapa teman bahwa aku mungkin akan menetap lebih lama di Korea dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
Juno tentu saja sangat senang mendengar rencanaku, tanpa bertanya alasanku dia langsung mengatur jadwalnya agar bisa menjemputku di bandara.
Selama penerbangan yang memakan waktu dua belas jam, aku membuat tekad untuk bersenang-senang setiap hari, aku dan melupakan Luke sepenuhnya. Tiba di Korea, Owen manager Juno sudah menungguku di terminal kedatangan. "Wahh.. Dia masih bertahan jadi manager Juno, padahal dia sangat tampan, seharusnya dia juga jadi seleb" pikirku.
Owen sendiri sudah berkerja dengan Juno sejak awal debut Juno. Memiki usia yang sama dengan Juno membuat mereka cepat akrab. Owen memiliki hati yang baik dan sangat bekerja keras, itu juga alasan Juno tidak berniat mengganti managernya.
"Bagaimana penerbangannya?" tanya Owen
"Menyenangkan, aku terus tertidur. Bagaimana kabarmu?" tanyaku juga pada Owen.
"Seperti biasa, masih sibuk mengikuti jadwal kakakmu" senyumnya.
Ahh senyuman Owen terasa meruntuhkan hidup, memiliki warna kulit yang putih, mata yang besar hidup yang mancung, membuat ku pernah menyukai Owen dimasa remajaku. Dulu Owen seruing menjemputku saat aku harus pulang larut malam sepulang kursus, teman-teman sekelasku berpikir bahwa Owen adalah pacarku. Tapi harapanku harus pupus saat dia mengenalkan pacarnya tiga tahun lalu, 'Sayang sekali" pikirku.
Owen menunjukan sebuah mobil yang terparkir dibasment bandara, saat aku membuka pintu mobil dan Juno dengan senyumannya yang lebar meyambutku kedalam pelukannya.
Belum setahun sejak aku kembali ke Korea untuk peringatan kematian orangtua kami, tapi aku merasa sudah lama tidak bertemu dengan Juno. Mungkin karna ada sedang dalam kondisi yang sulit.
"Aku tidak menyangka kau akan menjemputku hari ini" kataku
"Tentu saja aku harus menjemputku" jawab Juno santai. "Kau akan tinggal lebih lama disini?" tanya Juno
"Yapp, Sam tidak memberi batasan waktu untukku" jawabku
"Bagus, tidak perlu kembali kesana" senyuman Juno terpancar, aku turut berbahagia untuknya.
__ADS_1