
Sejak kehilangan orangtuaku, aku selalu berusaha untuk tidak menempatkan diri dalam posisi bergantung pada orang lain, bahkan Juno.
Aku selalu berusaha melakukan segala sesuatu sendirian, tinggal dirumah sendiri karna Juno harus banyak berlatih sebelum debutnya, masak makanan dan makan sendiri, bahkan menghadapi keadaan yang sulit sendiri.
Aku ingat sejak aku kehilangan orangtuaku, teman-teman mulai mengasihaniku, beberapa diantara mereka bahkan berbagi kotak makan siangnya denganku. Tapi suatu hari aku menghadapi kenyataan yang lebih pahit bagi seorang anak berusia dua belas tahun, dilorong toilet disekolah aku mendengar teman-temanku membicarakan diriku. Tentang kesulitan mereka untuk menghiburku, berbagi bekal mereka bahkan mereka takut mengalami hal yang sama denganku jika terus menerus bergaul denganku.
Saat itu juga, aku menyadari bahwa aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.
Aku memaksakan diri untuk menjadi orang dewasa sebelum waktunya, aku menolak saat mereka ingin berbagi bekal mereka karna aku tahu mereka hanya terpaksa. Aku meninggalkan teman-temanku karna jika tidak mereka yang akan kesulitan untuk berpura-pura baik padaku.
Aku mulai menyukai kesendirian, menjadi sedikit tidak khawatir, aku tidak keberatan saat oranglain membicarakan diriku. Aku selalu berkata pada diriku sendiri "Ini lebih baik, mereka tidak perlu memaksakan diri begitu juga dengan diriku"
Aku yang saat itu sudah menentukan arah kehidupanku berusaha yang terbaik dalam pendidikanku. Jika aku baik dalam nilaiku, aku tidak akan diganggu disekolah, aku menambah kesan dingin dalam diriku, jadi orang-orang tidak memberanikan diri mendekatiku. Aku mempertahankan sikapku seperti ini sampai aku lulus SMA, aku dicap sebagai anak yang antisosial disekolah. Tentu saja aku tidak keberatan, aku yang menginginkan keadaan ini.
Saat aku pindah ke NY, perlahan keadaan mengubah sedikit sikapku, aku mulai menjalin pertemanan bahkan berkencan. Ini suatu kemajuan untuk diriku sendiri. Juno juga merasakan perubahanku sejak kedatanganku ke NY, dia selalu mengatakan, "Kau jauh terlihat lebih bahagia saat ini"
Badanku terasa begitu berat, aku melirik ke arah jam, pukul sepuluh pagi. Seolah belum merasa puas untuk tidurku yang sudah cukup lama, aku mengambil ponsel dibawah bantalku"
Memeriksa beberapa pesan dilayar ponsel dengan mata setengah terbuka. Alan memberitahuku bahwa dia harus pergi kekantor untuk bekerja dan menitipkan Kevin padaku, "Ahh kau kira dia anak kecil?" pikirku
Pesan lain datang dari Luke, aku memaksa mataku terbuka, "Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan. Aku akan menghubungimu malam ini" tulisnyaa
Aku mulai mengetik dilayar ponselku, "Selamat pagi juga. Aku harap kita bisa berbicara, ada hal yang harus kuberitahu padamu"
Sejak Luke magang kami tidak banyak berhubungan. Luke terlalu sibuk untuk magangnya begitu juga diriku yang sibuk dengan pekerjaanku. Kami berkomitmen untuk saling percaya dan saling menjaga, selalu memberitahu masalah yang kami hadapi agar bisa saling membantu.
"Aku belum menceritakan tentang Kevin pada Luke" kataku pada diriku sendiri
__ADS_1
Teringat kembali pada pesan Alan, Alan tidak akan bersama kami seharian. Jika dia pergi kekantor dia pasti akan kembali larut malam. Aku menjadi sedikit ragu untuk menemuni Kevin. Perlahan aku membuka pintu kamarku, Kevin sedang duduk diruang santai sendirian.
"Hai.." sapaku
"Hai, kau baru bangun?" Kevin membalas sapaanku, bisa terlihat dari raut wajahnya dia juga khawatir situasi canggung ini.
Sambil berjalan ke arah dapur, aku berkata "Iya, aku tidur terlalu larur semalam. Kau tidur dengan baik? Apa kamarnya nyaman?"
Kevib mulai menghampiriku, "Kamarnya sangat nyaman, trimakasih sudah mengizinkanku menginap disini"
"Tidak masalah, aku dan Alan sudah terlalu bosan hidup berdua. Kau sudah sarapan?" tanyaku
"Ahh.. Aku dan Alan sudah sarapan. Kami membuatkan sandwich untukmu" kata Kevin, dia mulai membuka penutup makan diatas meja dan menyodorkannya padaku.
"Thankyou.. Pasta semalam?" aku ingat mereka menawarkan pasta saat aku keluar dari studioku, aku cukup lapar jadi butuh makanan lain selain sandwich.
Seketika aku langsung berdiri "Aku akan memanaskanya, kau duduklah"
"Kau makanlah sandwichmu. saat kau menyelesaikan sandwich, pastanya sudah panas"
Mataku mulai gemetar, "Aku tidak boleh merepotkan oranglain" bisikku
"Tidak merepotkan, anggap saja sebagai ganti karna sudah mengizikanku tinggal disini" saut Kevin
Sedikit terkejut karna Kevin mendengarkan bisikkanku, aku mulai duduk dan melahap sandwich. "Apa rencanamu hari ini?"
"Uhmm.. Sejujurnya aku sudah sering berlibur ke NY, dan memutuskan mengakhiri perjalananku disini. Jadi aku berpikir untuk sedikit bersantai sebelum kembali" kata Kevin sambil meletakan pasta yang baru dipanaskan didepanku. "Thankyou"
__ADS_1
"Semoga kau menyukainya" kata Kevin sambil mengambil kursi dan duduk didepanku.
"Aku tidak pilih-pilih saat makan" kataku sambil tersenyum
Selama empat tahun setelah orangtua kami meninggal, aku dan Juno harus bertahan hidup dengan uang asuransi yang ditinggalkan orangtua kami. Setelah keluar dari rumah yang disewakan orangtua kami, kami berdua pindah kesebuah rumah kecil dipinggir kota Seoul. Kamar itu hanya memiliki satu kamar tidur, aku menempati kamar tersebut dan Juno tidur diruang tamu. Kami makan berusaha agar tidak kelaparan, makan seadaanya, berusaha mendapatkan sedikit uang lebih dari part time yang kamu kerjakan.
Makanan terakhirku ada saat makan siang semalam, jadi tidak butuh waktu lama untukku menghabiskan makanan yang disediakan Kevin.
"Jika kau bosan dirumah saja, pergilah kesekitan danau. Kau bisa melihat pemandangan langit disana. Ahh.. Aku sarankan sore hari, terlalu panas jika keluar sekarang" aku memberi saran agar Kevin tidak terlalu bosan, lingkungan tempat tinggalku memang cukup bagus untuk dipamerkan.
"Benarkah, ayo pergi bersama sore ini" ajak Kevin.
"Okay" sautku. Aku mulai bersiap membereskan piring yang aku gunakan, sambil melihat kearah Kevin, "Kau tahu, aku bukan tipe orang yang mudah akrab dengan seseorang. Tapi karna Alan sangat sering menceritakan tentangmu dan aku juga sering melihatmu saat menonton pertandingan, aku merasa seperti.. Uhm.. Kita sudah cukup kenal" kataku. Mata Kevin mulai mengikutiku, dia mengangguk setuju.
"Sebenarnya aku merasakan hal yang sama. Karna Alan sering menceritakan dirimu, aku merasa seperti bertemu dengan teman lama, serius" jawab Kevib malu, aku hanya tersenyum mendengar perkatakan Kevin. Ini seperti lelucon pikirku.
"Awalnya aku tidak yakin untuk menginap disini" kata Kevin
"Benarkah?"
"Ya, aku hanya tidak yakin apakah aku cukup senang dengan diriku, bagaimanapun ini pertemuan pertama kita, secara resmi" jelas Kevin.
Aku merasa geli dengan perkataan Kevin dan tertawa, "Resmi?" Kevin berusaha menjelaskan maksudnya, tapi aku mengangkat lenganku, "Aku mengerti maksudmu, kita baru berkenal semalam. Sebenarnya aku senang Alan mengajakmu kesini, rumah ini terlalu besar untuk ditinggali dua orang"
Tiba-tiba aku menyadari penampilanku, masih memakai piayama, belum membasuh wajahku. "Memalukan" pikirku dalam hati. "Baiklah, aku seharusnya tidak keluar dari kamar dengan penampilan seperti ini, sebaiknya aku kembali kekamar sekarang. Sebaikanya kau juga beristirahat sekarang" jelasku.
"Okay, kita akan kedanau sore ini" Kevin mencoba memastikan ajakannya barusan.
__ADS_1