
Petemuan singkat dengan Mark sangat membuatku bahagia. Aku terus menerus tersenyum saat teringat Mark yang memakai seragam militernya dan berlagak dewasa. "Bocah sombong yang kutemui tujuh tahun lalu sudah besar sekarang, tapi kenapa sifatnya belum berubah"
Lamunanku harus terhenti saat ada sambungan telepon yang masuk ke ponselku. Nomor tidak dikenal.
"Halo" jawabku hati-hati.
"Joa?"
"Yaa?" tanyaku lagi. Suaranya tidak terdengar asing.
"Aku Kevin" suarnya denger dari sisi yang lain. Aku tidak berpikiran bahwa Kevin akan menghubungiku, kami bahkan tidak sempat bertukar nomor telepon saat berada di NY. Pasti dari Alan, pikirku.
"Hai..." jawabku
"Aku dengar dari Alan, kau sedang berada di Seoul sekarang. Jadi aku meminta nomormu, berharap kau tidak keberatan" jelasnnya
"Tentu saja tidak. Apa kabarmu?" tanyaku
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Yaa, aku juga baik" imbuku
"Begini, sebenarnya sore ini akan ada pertandingan antar klub. Kau punya waktu?"
"Benarkah?" tanyaku. Pertandingan antara klub basket yang diakui di Korea sedang berlansung selama enam bulan. Di mulai dari musim gugur sampai awal musim semi. Aku biasanya pergi menonton dengan Mark, tapi karna saat ini Mark sedang bertugas, aku tidak berpikir untuk menonton sendiri.
"Sebenarnya aku sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul" tanyaku. Aku berpikir lagi, apa aku harus menerima tawaran Kevin, toh aku tidak ada kegiatan lain setelah ini. Tapi jika harus sendiri rasanya akan canggung.
"Pertandingannya akan dimulai pukul tiga sore ini, kau mau datang menonton?" jelas Kevin
"Um.." aku sedikit ragu.
"Aku belum membeli tiket, apa aku masih bisa membelinya?" aku memutuskan untuk pergi menonton lalu pulang saat pertandingan selesai.
"Ahh.. Aku akan mengirimkan e-tiket, masuk bisa masuk dengan memperlihatkan itu pada petugas. Aku akan berada dilapangan pukul satu siang, jadi masuklah jika kau sampai" jelas kevin
"Baiklah, kau membutuhkan sesuatu?" tanyaku, karna sudah disiapkan tiket oleh Kevin, aku berpikir bisa langsung membalas kebaikannya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Datanglah saja, dan dukung aku" katanya
"Okay, Thanks" jawabku
Aku tidak menyangkah akan banyak penonton yang datang sore itu, kursi hampir terisi semua. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti klub mana yang terbaik, selama ini aku hanya menemani Mark dan menghabiskan waktu kosongku.
Tapi suatu hari Jeff menarik perhatianku, sejak saat itu aku menjadi penggemar Jeff.
Tiket yang diberikan Kevin, membuat aku bisa duduk tepat dibelakang klub yang digawangi Kevin. Dengan hati-hati aku duduk dikursi kosong, berharap itu kursi itu tidak ada pemiliknya.
Kevin terlihat sedang melakukan pemanasannya dengan fokus, Jeff pemain favoritku juga berada di dalam lapangan. "Aku bisa melihat Jeff dalam jarak yang sangat dekat" maklum saja jika aku datang dengang Mark, kami selalu memilih kursi paling belakang agar memudahkan kami keluar terlebih dahulu dan untuk tidak menarik perhatian kalau Mark sedang disana.
Tiba-tiba mata kami bertemu, sontak Kevin langsung melampaikan tangannya kearahku. Sekarang rekan-rekannya mulai mencari siapa yang sedang disapa oleh Kevin.
Aku mengangkat sedikit tanganku lalu menurunkan dan tersenyum. Demi apapun, aku tidak suka dengan perhatian seperti ini.
Pertandingan dimulai tepat pukul tiga sore, walau ini sudah memasuki pertengahan musim gugur, situasi didalam studium seperti musim panas. Semua pemain bermain dengan baik, dan para penonton tidak berhenti terus berteriak mendukung klub kesayangan mereka.
Kevin sangat fokus pada pertandingannya, dia selalu terlihat seperti pria kasar dan angkuh saat berada dilapangan. Ini membuat kesan pertamaku kurang baik padanya, tapi pertemuan kami di NY mengubah pandanganku terhadap Kevin. Dia orang yang ceria juga serius diwaktu bersamaan.
Hari itu, klub yang digawangi Kevin berhasil keluar sebagai pemenang. "Wah pertandingan yang luar biasa"
"Apa?" tanyaku terkejut. Aku mengikutinya tanpa tahu kemana aku akan dibawa.
Melewati pintu yang dimaksud, terihat lorong panjang. Lorong itu menyatukan banyak ruangan, seperti ruangan untuk pemain, ruang kesehatan dan lainnya. Banyak orang berada disana mereka semua terlihat sibuk.
Aku berdiri dengan canggung disudut lorong panjang itu menunggu Kevin. Terlihat para wartawan yang meliput pertandingan hari itu sedang menunggu para pemain agar bisa diwawancara. Terlihat juga para keluarga dari pemain, anak-anak mereka sedang berlarian, ada juga gadis-gadis cantik yang berkelompok, aku rasa mereka adalah pacar pemain hari itu. Sepertinya semua orang saling mengenal disini.
Tidak ada yang memperhatikanku, semua orang sibuk dengan urusan mereka. Aku memijat-mijat tanganku tidak sabar menunggu Kevin.
"Hei.." Kevin mengejutkanku, dia masih menggunakan jerseynya, badannya masih penuh keringat berlari ke arahku
"Ayo ikut aku. Aku akan memperkenalkanmu pada Jeff" jelas Kevin, dia segera berbalik arah dan berjalan.
Aku langsung menarik lengan Kevin.
"Apa?" tanyaku. Memang aku penggemar Jeff. Namun aku tidak pernah berencana untuk berkenalan dengannya. Aku khawatir jika mengenalnya secara pribadi, ekspetasiku akan berbeda dengan kenyataan.
__ADS_1
"Hah? Bukannya kau mengidolakan Jeff"
"Iya, aku mengidolakan dirinya. Tapi aku tidak pernah berpikir untuk mengenalnya secara pribadi" jelasku.
Kevin masih binggung menatapku, "Lain waktu. Aku akan mempersiapkan diri untuk menemuni Jeff"
Sebenaranya rencanaku hari ini hanya untuk pergi menemuni Mark, aku bahkan tidak merias diri. Walaupun ada sedikit keinginan untuk menyapa Jeff, tapi tidak hari ini.
"Wahh, irinya. Kau bahkan mau mempersiapkan diri untuk menemuninya" kata Kevin. Dia menatapku, lalu menatap tanganku yang masih memegang lengannya, buru-buru langsung kulepaskan. "Maaf" kataku, "Kau sudah melihatku saat aku bangun tidur, sekarang lebih baik bukan?" tanyaku.
Aku tidak masuk kegolongan orang cantik. Aku lebih nyaman dengan penampilan biasa saja karna terlalu malas untuk merias diri.
Aku melihat sekeliling, semua gadis tampak sangat cantik. Aku mengutuk diriku sendiri, seharusnya aku lebih memperhatikan penampilanku. Aku bahkan melewatkan kesempatan untuk menyapa Jeff dengan penampilan ini.
Kevin hanya tersenyum. Baru saja Kevin ingin berbicara, seorang gadis yang tinggi dan ramping mendekati kami. "Kevin" teriaknya. Semua orang yang berada di lorong tersebut langsung melihat ke arah kami. "Aku menonton pertandinganmu, kau sangat luar biasa" kata gadis tersebut. Dia bertingkah sangat imut dan bersuara nyaring.
"Aku sudah menunggumu, ayo makan bersama" ajak gadis tersebut.
Kevin menatapku, begitu juga gadis tersebut. Akan tahu diri, aku langsung mundur "Ahh.. Aku harus pulang sekarang" sambil tersenyum pada mereka. Tanpa menunggu respon dari Kevin aku langsung berjalan menjauhi mereka.
Kali ini Kevin menahanku. Dia menarik lenganku dan membawaku kesudut lorong dimana tidak banyak orang disana.
"Kenapa langsung pergi" tanyanya.
"Ahh, sepertinya aku mengganggumu. Kau bahkan masih menggunakan jersey, temanmu juga sepertinya sudah menunggumu" jelasku
Kevin menghela nafasnya "Jangan pergi begitu saja" katanya, "Makan malamlah bersama kami, setelah itu aku akan mengantarmu pulang"
"Aku bawa mobil sendiri. Sebenarnya aku harus segera pulang. Aku tidak terlalu hafal jalanan dan ini sudah gelap" jelasku.
"Aku akan mengantarmu" katanya
Aku menatap Kevin dan tersenyum, "Tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri keparkiran. Udara diluar cukup dingin, kau harus ganti baju sekarang" berharap Kevin melepaskan tangannya dari lenganku, aku mulai berjalan. Tapi dia masih menahanku. "Apa?" tanyaku.
"Tunggulah disini. Aku akan mengantarmu pulang" katanya sambil melepaskan tangannya.
"Heii, tidak perlu. Maksudku, aku tidak hafal jalan tapi ada GPS. Temanmu juga sudah menunggu. Jangan membuatku merasa bersalah padanya. Okay" jelasku.
__ADS_1
Aku berjalan menjauhi Kevin yang masih menatapku. Aku melambaikan tanganku berulang kali, agar dia tidak mengkhawatirkanku.