Abcdefg

Abcdefg
Dimana bintang itu?


__ADS_3

***JAKARTA PUSAT, KEDIAMAN BARON


“Tuan muda, tolong bangun. Tuan besar telah menunggu di bawah"  Bi ijah mengetuk pelan pintu kamarku sembari membangunkannya dari luar kamar


“Emmmh" Aku jawab dengan lengguhan dari dalam kamar, menggeliat sebentar lalu turun dari kasur.


Mendengar responku dari dalam kamar bi ijah beranjak dari depan pintu kamar. Ku bersihkan diriku. Ah... sebelumnya perkenalkan aku Fabian Baron. Anak tunggal dari dari keluarga Baron dan akan menjadi pewaris perusahaan satu satunya.


 Selesai membersihkan badan, bergegas aku menuruni tangga menuju lantai bawah. Disana sudah ada seorang pria yang sudah beranjak umur duduk menyantap sarapannya. beliau adalah Ayahku


“Selamat pagi Ayah" Ucapan selamat pagi keluar dari mulutku. Ini sedikit berbeda, ucapan ini dari seorang anak ke ayah tetapi juga terkesan seperti bawahan kepada atasannya


Dia hanya melirikku sebentar sebelum melanjutkan menyantap hidangannya. Salah seorang pembantu menarik kursi makanku mempersilahkan aku duduk. Aku masih menatap Ayah, di lubuk hatiku masih berharap ucapan balasan.


“Hari ini kamu ada ulangan kan? Ayah mendengarnya dari wali kelas mu" Dia sibuk dengan santapan hidangan paginya. tidak mengindahkan salam dariku


“Iya Yah" Kujawab singkat sambil memakai serbet makan. Itu bukan balasan ucapan selamat pagi yang kuharapkan


“Aku tidak ingin mendengar nilai kamu kurang dari 95 dari guru mu nanti! Aku tidak menyukai anak yang bodoh!” Suara itu terdengar dingin dan tegas, penuh penekanan


“Baik Ayah"


“Pulang dari sekolah nanti, aku sudah menyewa guru untuk kamu belajar tentang perusahaan. Besok malam kita akan bertemu keluarga Dermot, kami telah setuju menjodohkan kamu dan putrinya"


Dia mengatakan itu dengan wajah santai! tidak peduli sama sekali akan reaksi anak semata wayangnya


“Ayah! Aku baru kelas 3 SMP!” Aku tersentak kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin masalah seperti itu dia memutuskan sendiri tanpa menanyai pendapatku?!


“PRANKK"


Bunyi gelas pecah itu sukses membuat aku dan para pekerja tersentak kaget


“APA KAMU SEKARANG SUDAH BERANI MEMBANTAHKU?!!” Ayah melotot marah kepadaku


Dia beranjak dari kursiku berjalan ke arahku. Aku menelan ludah dengan susah, tenggorokanku rasanya tercekat


“AKU MELAKUKAN INI UNTUK MU!! DASAR ANAK TAK TAHU BALAS BUDI!!!  APA KAU BEGINI KERENA WANITA YANG KAU SEBUT IBU ITU HA?!!!”


Di mencengkram pipiku dengan kasar. Wajahnya hanya berbeda beberapa centi dari ku. Matanya melotot marah kepadaku


Kutelan ludahku kasar, tolong beri aku sedikit keberanian


“tolong jangan mengungkit Ibu" Suaraku pelan sangat pelan, tapi dengan jarak seperti ini aku sangat yakin dia mendengarku


Ayah tersenyum sebentar. Bulu tengkukku meremang. Dia hempaskan tangannya dengan kasar. Berjalan pergi ke arah dinding yang tergantung rotan. Sudah bisa menebaknya bukan?

__ADS_1


Dia menyuruhku  posisi push up.


“ CTAR”


 kugigit bibirku menahan sakit. Bunyi itu berbunyi berkali kali. 3 mendarat di punggungku, 2 di pahaku, dan 3 mendarat di betisku. Seperti merasa cukup dengan itu semua, dia menghempaskan rotan panjang itu ke lantai.


Punggungnya berbalik arah, dia berjalan pergi dari sini. Aku bersusah payah duduk. Bunyi mobil terdengar di telingaku. Ah... Ayah sudah pergi kerja. Bibi berlari histeris ke arahku, memapahku masuk kedalam kamar.


Aku melewati para pekerja dirumah yang menundukkan wajahnya, tidak ada yang berani menatap wajahku.


“Aku tidak apa apa bi"  semoga saja dengan kalimat singkat beserta senyum tipisku bisa menenangkan dia.


Bibi menyeka hidungnya, kuyakinkan dia bahwa aku baik baik saja.  Aku ingin sendiri, kuminta bibi keluar dari kamar. Beliau keluar dari kamarku dengan wajah tak yakin.  Kuhela nafas berat. Ini sudah 11 tahun Ayah memukuliku, tapi setiap kali dia memukulku aku tetap ketakutan


Hari ini aku absen sekolah. Padahal ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Tak mengapa, Ayah akan memberi sejumlah uang ke pihak sekolah untuk memberi nilai yang sempurna untukku


Mataku teralih ke foto ibu diatas meja belajarku. Ini sudah tahun ke 4 ibu pergi meninggalkanku untuk selamanya. Sejak kehilangan sosok yang selalu mendukungku, aku kehilangan makna hidup.


Aku tidak lagi mempunyai semangat untuk hidup dan bahkan aku aku tidak mengetahui tujuanku hidup ku apa


“Dimana letak bintang yang ibu katakan itu?”


“Siapa bintang hidupku?”


“Apakah aku berhak atas hidupku sendiri?”


Sudahlah…. Hentikan pertanyaan pertanyaan bodoh itu. Kini aku hanya berharap malam akan cepat datang. Hanya disaat malam aku bisa jujur pada diriku.


JAKARTA PUSAT, TEMPAT TINGGAL CARINA


Carina Bellatrix, itu namaku dan tahun ini aku akan menginjak 16 tahun. Aku sedang bekerja sepulang dari ujian kenaikan kelas. Jika kalian  bertanya “bukankah itu tugas seorang ayah?”


Itu benar, tetapi juga salah di keluargaku. Semejak ibu pergi untuk selamanya, Ayah sibuk dengan keluarga barunya dan melupakan kewajiban akan nafkahnya pada kami


“ KAKAKKKK…” Suara anak kecil berteriak ini mengagetkanku. Ini suara yang membuat semangat hidupku kembali lagi


“Bella… jangan lari dek!” Ku tekuk lututku menyamakan tinggi tubuhku dengan dirinya


Bella Bellatrix, adik ku satu satunya dan sekaligus penyemangat hidupku. Orang yang kulindungi sepenuh hati. Aku berjarak 5 tahun darinya


“Ada apa dek?” kupangku dia diatas pahaku


“ aku mendapat peringkat 1 lagi, kata bu guru kalau aku dapat nilai bagus bisa buat orang tua senang terus buat mereka semangat kerja. Karna ibu sudah gak ada aku kasih nilaiku kakak”  Dia dengan bangga memamerkan kertas yang berisi angka angka itu ke hadapan ku


Hatiku sakit  bersamaan dengan rasa  sesak mendengar pernyataan polosnya itu

__ADS_1


“kenapa kamu gak menunjukkannya sama papa?” kucoba memancing dia, berteka teki dengan diriku sendiri jawaban apa yang dia buat


“Papa  gak pernah nafkahin kita! gak pernah juga nyapa kita! Aku kayak gak punya papa"  Bibirnya terangkat ke atas


Dengan wajah lugunya itu dia mengatakan hal yang tidak cocok untuk anak seumuran dirinya. Rasa sesak didada menggerogotiku jauh lebih dalam.


 Aku memerankan 3 peran sekaligus untuknya, sebagai seorang ayah, ibu dan sekaligus kakaknya.


“karna adekku yang cantik ini dapat peringkat satu, ayok kakak ajak  jajan ice cream ” kugandeng tangannya keluar rumah


Sedikit kuceritakan tentang diriku. Dulu aku berniat putus sekolah, dan hanya berniat menyokolahkan adekku saja. Namun aku teringat nasehat ibunda agar tidak menyerah untuk belajar dalam keadaan apapun.


Aku menghilangkan niat putus sekolah. Tapi bagaimana?


Umurku kini 15 tahun, sejak ditinggal ibunda diumur 12, semejak kepulangan ibu, aku bekerja sebagai pembantu dikediaman nyonya marthe, selama 6 bulan lamanya. Dan saat itu adekku berusia 7 tahun


Lalu saat itu bagaimana dengan  Ayah?  ia sibuk dengan selingkuhannya. Dulu dia berniat menitipi kami di panti asuhan. Tapi panti asuhan menolak karena beranggapan ayah kami masih bisa menghidupi kami berdua. Sanak keluarga pun tidak ada yang menerima


 Lalu setelah itu? Setelah kejadian itu, ayah sama sekali tidak memberiku uang untuk makan atau hanya membeli susu untuk adekku. Ia menyuruhku bekerja dan mengklaim bahwa umurku udah bisa untuk bekerja


Nyonya marthe memberi ku pekerjaan, namun beliau menyusul ibunda setelah 3 bulan  aku bekerja. 2 putra dan 1 putrinya yang sudah dewasa memperlakukanku lebih buruk dari binatang.


Aku sempat berpikiran untuk keluar dari pekerjaanku, tapi bagaimana? Aku tidak memiliki pekerjaan untuk menghidupkan adekku. Sampai ke 2 putranya berniat melecahkan ku, akhirnya aku keluar setelah 6 bulan bekerja disana.


Keajaiban datang. Seorang pria paruh baya melihatku kelaparan. Dia memberi ku tumpangan dirumahnya asalkan aku bekerja sebagai pembantu. Aku menerimanya. Istrinya memperlakukan kami sangat baik


Aku mengetahui bahwa istrinya tidak bisa hamil. Dia berancana mengadopsi kami,  namun aku menolak. Saat itu aku berpikir bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas budi mereka


3 bulan aku bekerja di kediaman mereka, suatu saat pria yang bernama reka itu berbincang denganku. Aku kaget mendengar bahwa selama ini aku diberi gaji. Saat itu aku berpendapat bahwa diberi makan dan timpat tinggal saja sudah lebih dari cukup


Dia tertawa saat mendengarku berkata seperti itu. Dia berpikir bahwa gaji aku selama ini lebih baik ditangannya untuk sementara. Dia meinta izin untuk menginvestasikan uangku ke dalam saham namun dengan nama kepemilikan namaku


Aku saat itu tidak terlalu paham tentang saham dan investasi mengizinkannya. Sedikit sedikit setelah itu aku mengetahui tentang apa itu saham. Namun sayang 2 setengah tahun kemudian keluarganya harus pergi ke kampung untuk menjaga orang tua mereka yang sudah tua


Pak reka memberiku uang hasil investasi dari gaji 2 setengah tahun yang ditahan. Saat itu aku terkaget melihat jumlah uangnya. Dan saat ini aku sedang berusaha membuka usaha ku sendiri


Keluarga yang baik hati itu mengatakan kepadaku sebelum berpamitan bahwa aku harus berjanji untuk menelfon mereka jika aku membutuhkan sesuatu


Dan kini aku berharap ini menjadi lembaran hidup yang baru bagiku dan adekku


Ibunda, apa aku bisa menemukan letak bintang yang engaku sebutkan?


Diamana keberadaan bintangku***?


 

__ADS_1


__ADS_2