Abcdefg

Abcdefg
Keputusan


__ADS_3

Kulihat sang adek melambaikan tangan kearahku, berteriak menyuruhku masuk. Aku melangkahkan kakiku dengan berat, memaksakan diriku untuk tersenyum, namun sedetik kemudian aku menunduk.


Pertahananku hancur. Setetes air mata mengalir pelan dipipiku. Tuhan seperti memihakku, langit malam perlahan menurunkun rintik rintik air yang kemudian menjadi deras. Langit malam kini menurunkan rintik rintik air, menyembunyikan fakta bahwa ada dua orang yang kini sedang menangis di bawah rintik hujan


Ya menangislah, menanangsilah malam ini, tidak apa apa, semua pasti akan baik baik saja.


Aku berjalan sampai berada di depan adekku.


“bella, maaf, kamu kelamaan nunggu kakak ya?” Kutekuk lututku menyajarkan tinggi kami, memaksakan senyum ku teetap berada diwajahku. Ah....Aku tidak bisa! Malam ini pertahananku benar benar hancur.


Aku menarik lengannya, kubawa dia dalam pelukanku. Bella keheranan melihat kondisiku, nalurinya berkata bahwa dia harus menghiburku. Kemudian ia memelukku hangat. Aku menangis di pelukannya hingga merasa lega


“kakak gak apa apa bel, jangan memasang wajah seperti itu” jahil kucubit pipinya untuk menenengkannya. Mataku masih sembab. Aku tuntun dia masuk ke dalam rumah


“Kakak kenapa? Ada apa? Kenapa kakak nangis? Apa kakak sakit?” Dia menghujani ku dengan pertanyaan pertanyaan. Raut wajahnya nampak sangat cemas.


‘hahahaha” aku tertawa kecil mencubit pipi nya


“ Kakak tidak apa apa. Tadi kakak memang menangis, tapi setelah kakak menangis, kakak baik baik saja” Kupegang pundaknya meyakinkan bahwa aku baik baik saja


‘HUAAAAA!!!!!!!!” Suara bella menangis kencang membuatku sangat kaget


“EHH….. maksudkuu…. Aduh kok malah nangis?” Aku sangat kaget, kenapa dia menangis?


“Kamu kenapa nangis?” okeh…. Malam ini adikku berhasil membuatku panik


"Ka...kakak.....na..ngis,.....ja..di....Bella....S..s..sedih" Dia sengekukan menjawab pertanyaanku


Aku benar benar tak menyangka dia bakal menangis karena itu, bagiku itu hal sepele untuk ditangisi, ahhh.. terserah lahh.. mungkin bagi dia itu bukan hal biasa. Kuraih tangannya dan kubawa dia dalam pelukanku.

__ADS_1


"Tidak apa apa" Aku berucap pelan


Seperti tirai panggung yang terbuka, bintang bintang malam mulai kelihatan, awan yang menutupi bulan pun mulai bergerak kesamping memperlihatkan bentuk bulan yang bersinar paling cerah malam ini,


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Aku memasuki gerbang rumah. kutengok parkiran yang sudah ada penghuninya, mobil ayah sudah bertengger disitu. Sedikit berlari kecicil aku memasuki rumah. kubuka pintu masuk, ada ayah yang duduk dengan kaki diangkat sedang membaca koran


“Aku pulang”  Tidak ada balasan dari salam ku. Tidak terlalu kupedulikan, aku berjalan didepan dia dengan santai. Ku naiki tangga menuju kamar. Aku membuka pintu itu dan pemandangan pertama kulihat adalah kamar yang suram


Kunyalakan lampu kamar dan kulepas jaket beserta aerphone yang masih menggantung di leherku. ku lepas juga topi dan kacamata hitam pemberian gadis bernama Carina itu. Aku merangkak diatas kasur, menyibak tirai jendela.


Malam ini malam indah. Bintang dan bulan yang selalu menjadi teman setiaku di malam hari bersinar dengan terang hari ini. Dan ini kali pertama aku tersenyum begitu lebar. ibu, ini hari yang saaangat luar biasa. Aku menangis hari ini, dan aku juga tertawa hari ini.


Ini kali pertama ada perempuan yang merayakan ulang tahunku selain ibu. Aku sangat bahagia malam ini. Aku merasa beban dipundakku lenyap begitu saja, aku nerasa berjalan di awang awang


*6 tahun yang lalu


"IBUUU!!! Lihat ini!!" Fabian kecil berlari mendakati ibunya.


Wanita itu tersenyum lembut, sembari mengatakan


"Ada apa nak?" suaranya begitu lembut. Sangat enak didengar telinga


"INI! Bunganya cantik!! Warnya putih dan lembut! Ini seperti Ibu!" Fabian dengan mata yang berbinar itu menyodorkan bunga bewarna putih itu ke ibunya.


"Iya ini sangat cantik" Wanita itu mengambilnya dari tangan Fabian


"Fabian, Bunga ini namanya Dendelions. Bunga ini bermakna Cinta yang sederhana dan kuat dalam kerapuhan"

__ADS_1


Fabian kecil yang mendengarnya hanya bersorak gembira dan mengangguk senang


Itu kenangan saat aku masih 11 tahun bersama ibu.


Kuambil hp dari atas meja, tidak ada notif. Entah itu dari teman temanku atau kerabat ku. Aku sangat tidak nyaman melihat wajah mereka dan sikap mereka yang terus menempel di sisiku hanya karna menilaiku aku punya semuanya. Mereka berpikir aku bodoh menuruti apa yang mereka minta, tapi bagiku mereka lebih bodoh.


Aku menuruti keinginan mereka yang menginginkan uang, perhiasan, akesoris, dan barang barang branded lainnya. Aku tifak kekuranagan uang. Tapi bagi mereka yang selalu ingin diatas itu tidak akan cukup


Tidak itu perempuan atau pun laki laki, mereka mendekati ku dan menyanjungku secara berlebihan. Aku menuruti perkataan mereka, ikut serta dengan permainan yang mereka buat.


Tapi tidak ada yang tahu bukan? Puluhan informasi penting telah kudapatkan. Mereka memandangku sebagai anak pendiam, penurut dan anak yang bodoh. Mereka bermain dengan uangku dan aku bermain dengan pikiran mereka


Cukup adil bukan?


Aku cukup lelah malam ini. Aku berbaring di kasur,menarik selimut sampai didadaku. Kalimat kalimat yang dilontarkan gadis cantik tadi terngiang ngiang di otakku. Kembali kj duduk bersandar diatas ranjang


Apa selama ini aku tidak berusaha keluar dari zona ini? Ahh… itu tidak mungkin. Tenang saja, aku sudah berusaha. Aku kembali membaringkan tubuhku, menarik kembali selimut ke dadaku


AH! INI MENYEBALKAN! TERNYATA MEMANG TIDAK BISA BERBOHONG KEPADA DIRI SENDIRI!! Seberapa pun aku berusaha sekuat tenaga meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah berusaha itu tidak akan berhasil! Kuingat kembali masa kecilku sampai detik ini. Apa aku pernah berusaha keluar dari keluar dari zona ini?


Kuhela nafas panjang. Tidak ternyata! Bahkan aku tidak mengingat kapan aku pernah berusaha keluar dari zona ini. Kenapa aku pasrah? Apa aku hidup untuh Ayah? Kenapa aku hidup bukan untuk diriku sendiri? Apa yang sudah kulakukan untuk diriku sendiri selama aku hidup?


TIDAK! AKU TIDAK PERNAH HIDUP UNTUK DIRIKU SENDIRI, ATAS KEHENDAK KU SENDIRI,  ATAS KEMAUAN KU SENDIRI, ATAS KESENANGAN KU SENDIRI. Tidak satapun. Umurku 16 tahun dan aku hidup untuk kepuasan ayahku


Ibu, aku harus bagaimana? Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana cara aku terbebas dari ini? Lalu yang terakhir, apa aku bisa melakukannya ibu?


Kutarik selimut sampai ke dadaku, tak ada cara terpikir bagiku untuk keluar dari zona ini kecuali “melawan”. Pukul 00.00 berdentang tepat dimana aku memutuskan untuk hidup dengan kemauan ku sendiri. Entah apa yang menantiku disana, tapi aku ingin bebas


Kuharap bintang itu cepat kutemukan

__ADS_1


__ADS_2